Kisah Super Inspiratif KH. Hasyim Asy’ari, Pendiri Nahdlatul Ulama

darulmaarif.net – Indramayu, 07 Maret 2023 | 16.00 WIB

Penulis: Ust. Ikhsan Dwi Sanktiaji

Sebagai warga Nahdlatul Ulama, tentu tidak asing jika kita membicarakan salah satu sosok kyai yang sangat menginspirasi, kharismatik dan termasuk tokoh penting dalam pilar agama maupun bangsa, yaitu Hadrlotussyekh KH. Hasyim Asy’ari. Bernama lengkap KH. Hasyim Asy’ari atau Muhammad Hasyim begitulah sebutan nama kecil pemberian orang tuanya. Lahir di Desa Gedang, sebelah timur Jombang pada tanggal 24 Dzulqo’dah 1287 H atau bertepatan dengan 14 Februari 1871 M. KH. Hasyim Ay’ari memiliki seorang ayah yang berasal dari daerah demak dan juga seorang pendiri pesantren keras di Jombang beliau Bernama Asy’ari, sedangkan ibunya Bernama Halimah putri seorang kyai yang menjadi pendiri dan pengasuh pesantren Gedang, beliau Bernama kyai usman. KH.Hasyim Asy’ari merupakan anak ketiga dari sepuluh bersaudara. Semenjak di kandungan beliau sudah terlihat tanda-tandanya akan menjadi kyai besar dan panutan banyak orang, saat mengandung nyai Halimah melihat tanda-tanda yang sangat jelas, pada suatu malam nyai Halimah bermimpi bulan jatuh dan hinggap di perutnya dan KH. Hasyim Asy’ari berada di kandungan selama 14 bulan yang mana lebih lama dari bayi yang ada di kandungan sebagaimana mestinya.

Sejarah Pendidikan KH. Hasyim Asy’ari

Berlatar belakang dari keluarga pendiri pesantren maka tak heran KH. Hasyim Asy’ari juga mengenyam Pendidikan di Lembaga pesantren. Hasyim Asy’ari kecil belajar langsung dengan ayahnya dan juga kakek nya, kiai usman. Bakat dan kecerdasannya dalam bidang keagamaan sudah terlihat sejak kecil di usia 13 tahun di bawah asuhan langsung dari ayahnya, beliau mempelajari dasar-dasar ilmu tauhid, fiqh, tafsir dan hadits. Pada umur 15 tahun beliau berkelana mencari dan menimbah ilmu di berbagai pesantren diantaranya yaitu Pesantren Wonokoyo-Probolingga, Pesantren Langitan-Tuban, Pesantren Trenggilis-Semarang, Pesantren Kademangan Bangkalan Madura dan Pesantren Siwalan-Surabaya. Di Bangkalan beliau belajar tata bahasa, sastra Arab, fiqh dan sufisme dari Kiai Khalil selama 3 bulan. Sedangkan di Siwalan, beliau lebih memfokuskan pada bidang fiqh selama 2 tahun dengan Kiai Ya’kub. KH. Hasyim Asy’ari yang kemudian dinikahkan oleh kyai Ya’kub dengan putrinya yaitu Khadijah. Tidak beberapa lama setelah pernikahan, Allah memberi kesempatan kepada KH. Hasyim Asy’ari, istri dan mertuanya untuk berangkat ke mekkah dan bermukim disana. Setelah bermukim lumayan lama di mekkah akhirnya KH. Hasyim Asy’ari dan nyai Khodijah di karuniai seorang putra yang diberi nama Abdulloh, beberapa lama setelah melahirkan, istri dari KH. Hasyim Asy’ari meninggal dunia. Belum sampai 40 hari setelah istri tercinta meninggalkan beliau anak yang baru lahir tersebut mengikuti ibunya pulang ke rahmatulloh, kesedihan tersebut dirasakan oleh KH. Hasyim Asy’ari namun tidak bertahan lama kesedihan tersebut Kemudian KH. Hasyim Asy’ari memanfaatkan kesempatan berada di mekkah dengan menimba ilmu dengan ulama-ulama terkenal seperti syekh Muhammad bin ‘Umar Nawawi Al-bantani, syekh Mahfudz dari Termas, syekh Ahmad Khatib dari Sambas dan masih banyak yang lainnya.

Sejarah dan Cerita Berdirinya Nahdlatul Ulama

Pada awalnya, KH. Abdul Wahab Chasbullah. sekitar tahun 1924 menggagas pendirian Jam’iyyah yang langsung disampaikan kepada Kiai Hasyim Asy’ari untuk meminta persetujuan. Namun, Kiai Hasyim tidak lantas menyetujuinya, beliau terlebih dahulu melakukan sholat istikharah untuk meminta petunjuk kepada Allah SWT. Hasil dari istikharah Kyai Hasyim Asy’ari dikisahkan oleh KH.R As’ad Syamsul Arifin, mengungkapkan petunjuk hasil dari istikharah Kiai Hasyim Asy’ari justru tidak jatuh di tangannya untuk mengambil keputusan, melainkan diterima oleh Syaikhuna KH. Cholil Bangkalan, yang juga guru Mbah Hasyim dan Mbah Wahab. Dari petunjuk tersebut, Kiai As’ad yang ketika itu menjadi santri Mbah Cholil berperan sebagai mediator antara Mbah Cholil dan Mbah Hasyim. Ada dua petunjuk yang harus dilaksanakan oleh Kiai As’ad sebagai penghubung atau washilah untuk menyampaikan amanah Mbah Cholil kepada Mbah Hasyim.
Setibanya di Tebuireng, Kiai As’ad Syamsul Arifin Situbondo. Menyampaikan tasbih yang dikalungkan oleh dirinya dan mempersilakan KH. Hasyim Asy’ari untuk mengambilnya sendiri dari leher As’ad. Bukan bermaksud As’ad tidak ingin mengambilkannya untuk Kiai Hasyim Asy’ari, melainkan As’ad tidak ingin menyentuh tasbih sebagai amanah dari mbah Cholil Bangkalan kepada KH Hasyim Asy’ari. Sebab itu, tasbih tidak tersentuh sedikit pun oleh tangan As’ad selama berjalan kaki dari Bangkalan ke Tebuireng. Setelah tasbih diambil, Kiai Hasyim Asy’ari bertanya kepada As’ad: “Apakah ada pesan lain lagi dari Bangkalan?” spontan As’ad hanya menjawab: “Ya Jabbar, Ya Qahhar”, dua asmaul husna tarsebut diulang oleh As’ad hingga tiga kali sesuai pesan sang guru. Setelah mendengar lantunan itu, Kiai Hasyim Asy’ari kemudian berkata, “Allah SWT telah memperbolehkan kita untuk mendirikan jam’iyyah”. akhirnya NU juga berangkat dari sejarah pembentukan Komite Hijaz, Problem keagamaan global yang dihadapi para ulama pesantren ialah ketika Dinasti Saud di Arab Saudi ingin membongkar pesarean Baginda Nabi Muhammad Saw karena menjadi tujuan ziarah seluruh Muslim di dunia yang dianggap bid’ah oleh Salafi Wahhabi. Selain itu, Raja Sa’ud juga ingin menerapkan kebijakan untuk menolak praktik bermazhab (anti madzhab) di wilayah kekuasaannya (Nejd dan Hijaz). Karena ia hanya ingin menerapkan faham Wahhabi sebagai mazhab resmi kerajaan.

Ketawadlu’an KH. Hasyim As’ari

Sikap dan tingkah laku KH. Hasyim Asyari mencerminkan seorang yang berilmu dan dekat dengan agama. Diantara sikap beliau dari sekian kemuliaan akhlaknya yang patut untuk diteladani dan dijadikan contoh adalah sikap beliau yang tawadhu dan hormat kepada guru-guru beliau. 

Di ceritakan suatu hari Syaikhona KH. Cholil Bangkalan mengalami kesedihan yang amat sangat sehingga tidak dapat disembunyikan di wajah beliau. Hasyim Asy’ari yang waktu itu menjadi santri beliau bertanya apa gerangan masalah yang membuat beliau begitu sedih. Ternyata cincin istrinya yang amat beliau sayang jatuh ke dalam WC. Kyai Hasyim tidak ragu-ragu untuk menghilangkan kesedihan gurunya. Hasyim membersihkan septic-tank supaya dapat menemukan cincin itu. Ternyata usaha beliau tidak sia-sia dan dapat menemukan cincin tersebut. 
Diceritakan pula saat Hasyim Asy’ari sudah menjadi ulama yang dikenal dan berpengaruh, pada setiap bulan Ramadhan banyak kiai dari pesantren lain mengaji terutama ilmu hadits kepada KH. Hasyim Asyari di Pesantren Tebuireng. Ternyata di antara mereka terdapat beberapa kiai yang menjadi pengasuh pesantren tempat KH. Hasyim Asyari pernah menimba ilmu. Melihat hal itu, KH. Hasyim Asyari merasa keberatan jika kemudian mereka menjadi muridnya KH. Hasyim Asyari. Tetapi para kiai itu tetap berkeras untuk mengaji kepada KH. Hasyim Asyari. Karena KH. Hasyim Asyari juga tidak bisa membatasi dan menghalangi siapapun untuk belajar agama maka disepakati antara keduanya, KH. Hasyim Asyari tidak mau dipanggil kyai oleh para kyai sepuh itu tadi. Ketentuan berikutnya adalah para kiai sepuh itu tidak perlu bersusah payah memasak dan mencuci baji karena akan dilayani oleh para pengurus Pesantren Tebuireng. Suatu malam, salah seorang dari kiai sepuh itu terbangun dan melihat ada seseorang sedang mengumpulkan baju-baju kotor milik para kiai sepuh. Sekilas tampak orang tersebut mirip KH. Hasyim Asyari. Karena penasaran maka kiai sepuh itu mengikuti orang tersebut. Ternyata orang tersebut mencuci baju para kiai sepuh dan setelah didekati ternyata orang itu adalah KH. Hasyim Asy’ari sendiri.
Dari cerita-cerita KH. Hasyim Asy’ari diatas kita dapat mengambil pelajaran bahwasannya sehebat dan sepintar apapun kita, kita harus tetap memiliki sifat tawadhu dan jangan pernah sombong atas apa yang kita miliki.
Sekian cerita KH. Asy’ari yang dapat saya tulis.

Semoga bermanfaat.