darulmaarif.net – Indramayu, 01 Maret 2025 | 08.00 WIB

Ramadan merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Meski demikian ada beberapa golongan yang diperbolehkan uzur untuk tidak berpuasa, salah satunya adalah ibu yang sedang menyusui.
Menurut mazhab Syafii, ibu yang sedang menyusui khawatir akan adanya dloror (bahaya) yang pasti, maka baginya boleh berbuka dan berkewajiban untuk mengqodlo puasanya di lain waktu. Kekhawatiran itu baik kembali pada dirinya ibu yang hamil sendiri dan atau beserta anaknya.
Akan tetapi, jika kekhawatiran adanya dloror karena faktor anaknya saja, maka ia berkewajiban qodlo dan membayar fidyah. Besaran fidyahnya adalah sebesar 1 mud atau 6,75 ons beras setiap harinya.
Mengenai perincian hukum puasa ibu yang menyusui tersebut, dijelaskan dalam kitab Hasyiyah al-Qulyubi:
(وَأَمَّا الْحَامِلُ وَالْمُرْضِعُ فَإِنْ أَفْطَرَتَا خَوْفًا) مِنْ الصَّوْمِ. (عَلَى نَفْسِهِمَا) وَحْدَهُمَا أَوْ مَعَ وَلَدَيْهِمَا كَمَا قَالَهُ فِي شَرْحِ الْمُهَذَّبِ (وَجَبَ) عَلَيْهِمَا (الْقَضَاءُ بِلَا فِدْيَةٍ) كَالْمَرِيضِ. ((أَوْ) (عَلَى الْوَلَدِ) أَيْ وَلَدِ كُلٍّ مِنْهُمَا (لَزِمَتْهُمَا) مَعَ الْقَضَاءِ (الْفِدْيَةُ فِي الْأَظْهَرِ)
Artinya: “Perempuan Hamil dan Menyusui ketika tidak berpuasa karena khawatir pada diri mereka, atau khawatir pada diri mereka dan bayi mereka (seperti yang diungkapkan dalam kitab Syarh al-Muhadzab), maka wajib mengqodlo puasanya saja, tanpa perlu membayar fidyah, seperti halnya bagi orang yang sakit. Sedangkan ketika khawatir pada kandungan atau bayi mereka, maka wajib mengqadha’i puasa sekaligus membayar fidyah menurut qoul al-Adzhar.”(Syihabuddin al-Qulyubi, Hasyiyah al-Qulyubi ‘ala al-Mahalli, juz 2, hal. 76).
Dalam kitab I’anatuth Tholibin juga diterangkan bahwa ibu menyusul diperbolehkan tidak berpuasa bilamana dengan berpuasa tersebut khawatir membahayakan baik pada dirinya sendiri atau pada anaknya, bahkan bila sudah pasti menimbulkan bahaya maka hukumnya harom berpuasa.
: .فللمريض ثلاثة أحوال : إن توهم ضرر يبيح التيمم كره له الصوم وجاز له الفطر وإن تحقق الضرر المذكور أو غلب على ظنه أو انتهى به العذر إلى الهلاك أو ذهاب منفعة عضو حرم الصوم و وجب الفطر وإن كان المرض خفيفا بحيث لا يتوهم فيه ضررا يبيح التيمم حرم الفطر و وجب الصوم مالم يخف الزيادة وكالمريض الحصادون والملاحون والفعلة ونحوهم، ومثله الحامل والمرضع ولو كان الحمل من زنا أو شبهة ولو بغير آدمي حيث كان معصوما أو كانت المرضع مستأجرة أو متبرعة ولو لغير آدمي. نهاية الزين ص : ١٧٢
Orang menyusui yang tidak berpuasa wajib qodlo’ dan bayar fidyah bila mana tidak berpuasanya karena menimbulkan efek negatif pada anaknya, bila menimbul efek negatif pada dirinya sendiri atau menimbulkan efek negatif pada dirinya sendiri dan anaknya maka wajib qodlo’ saja tanpa bayar fidyah.
:ويجب المد مع القضاء على حامل ومرضع أفطرتا للخوف على الولد_واحترز بقوله للخوف على الولد عما إذا أفطرتا خوفا على أنفسهما أن يحصل لهما من الصوم مبيح تيمم فإنه يجب عليهما القضاء بلا فدية كالمريض المرجو البرء وإن انضم لذلك الخوف على الولد لأنه وقع تبعا. إعانة الطالبين ٢/٢٤١-
Sedangkan dalam dalam Kitab Al Majmu’: Juz 6/267 harusnya kaffarot terdapat tiga pendapat;
وفى الكفارة ثلاثة أوجه (قال) في الام يجب عن كل يوم مد من الطعام وهو الصحيح لقوله تعالي (وعلي الذين يطيقونهفدية) قال ابن عباس نسخت هذه الآية وبقيت للشيخ الكبير والعجوز والحامل والمرضع إذا خافتا أفطرتا وأطعمتا كل يوم مسكينا (والثاني) ان الكفارة مستحبةغير واجبة وهو قول المزني لانه افطار بعذر فلم تجب فيه الكفارة كافطار المريض (والثالث) يجب علي المرضع دون الحامل لان الحامل أفطرت لمعنى فيها فهى كالمريض والمرضع أفطرت لمنفصل عنها فوجب عليها الكفارة
Artinya:
- Menurut Qoul shohih seperti yang tertulis dalam kitab “Al-Umm” wajib kaffaroh 1 hari 1 mud;
- Hukum kaffarohnya tidak wajib/sunnah, dan ini pendapat imam muzanni karena wanita tadi berbuka di karnakan uzdur maka hukumnya seperti orang sakit;
- Wajib kaffarot pada orang yang menyusui dan tidak wajib bagi orang hamil karena orang hamil mudorotnya ada pada dirinya maka hukumnya sama dengan orang sakit sedang orang menyusui mudorotnya terpisah dari dirinya maka dia wajib kaffaroh.
Demikian penjelasan terkait hukum puasa Ramadhan bagi ibu yang menyusui. Saran dari kami, ibu yang menyusui agar selalu menjaga kondisi kesehatan dirinya dan anaknya selama bulan Ramadhan. Jika masih kuat berpuasa, alangkah lebih baiknya tetap berpuasa. Namun, jika ada kendala kesehatan atau kekhawatiran mengganggu kesehatan ibu atau anaknya, boleh untuk tidak berpuasa (diqodlo di lain waktu). Segeta konsultasi ke dokter bila ada keluhan kesehatan saat ibu menyusui berpuasa.
Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam.