SMA NU Kaplongan Perkuat Pembelajaran Mendalam, Hadirkan Ruang Aman bagi Remaja di Era Digital

darulmaarif.net – Indramayu, 02 September 2026 | 09.00 WIB

Pewarta: Ust. M. Ibnu Riziq, S.Pd.

Di tengah kekhawatiran orang tua terhadap perubahan perilaku remaja akibat penggunaan gawai dan pengaruh lingkungan digital, pendidikan tidak lagi cukup hanya berbicara tentang nilai ujian, ranking, atau target akademik.

Banyak orang tua kini memiliki kegelisahan yang jauh lebih mendasar: bagaimana memastikan anak mereka tetap memiliki arah ketika memasuki fase remaja, ketika dunia di luar rumah menawarkan begitu banyak pengaruh yang tidak selalu mudah dikendalikan.

Kegelisahan semacam itu menjadi salah satu konteks penting dalam pengembangan pendidikan di SMA NU Kaplongan, yang berada dalam ekosistem pendidikan Pondok Pesantren Darul Ma’arif Kaplongan Indramayu.

Sekolah tidak hanya diarahkan sebagai tempat mengejar prestasi akademik, tetapi juga sebagai ruang pendidikan yang membantu peserta didik membangun kembali kebiasaan, kedisiplinan, kemandirian, kemampuan berpikir, dan karakter.

Pendekatan tersebut mengemuka dalam kegiatan Pendampingan Sekolah Model yang berlangsung pada Rabu, 2 September 2026. Dalam kegiatan tersebut, para pendidik mendapatkan penguatan mengenai implementasi pembelajaran mendalam (deep learning) sekaligus bagaimana menciptakan pengalaman belajar yang lebih kontekstual dan bermakna bagi peserta didik.

Orang Tua Tak Lagi Sekadar Mengejar Nilai

Ada perubahan cara pandang yang semakin terasa dalam memilih pendidikan untuk anak.

Orang tua tidak selalu datang ke pesantren karena ingin anaknya mendapatkan nilai akademik sempurna. Sebagian justru datang karena merasa frustrasi menghadapi kebiasaan anak yang semakin sulit dikendalikan.

Gawai menjadi salah satu persoalan yang paling sering muncul. Remaja dapat menghabiskan waktu berjam-jam dengan telepon pintar, media sosial, gim, maupun berbagai konten digital. Di luar itu, lingkungan pergaulan juga menjadi faktor yang tidak mudah diawasi orang tua ketika anak mulai memasuki usia remaja.

Dalam kondisi seperti itu, pesantren dapat hadir bukan sekadar sebagai lembaga yang menawarkan pendidikan agama, melainkan sebagai ruang perlindungan dan pembentukan kembali kebiasaan hidup remaja.

Bagi SMA NU Kaplongan, pendidikan kemudian ditempatkan dalam konteks yang lebih luas: bagaimana sekolah dan pesantren dapat memberikan lingkungan yang membantu anak bertumbuh secara sehat, terarah, dan bertanggung jawab.

Kepala SMA NU Kaplongan, Ade Reza Muhammad, Lc., melihat bahwa tantangan pendidikan saat ini memang tidak berhenti pada persoalan kemampuan akademik.

“Orang tua sekarang tidak hanya mencari sekolah yang bisa membuat anaknya mendapatkan nilai 100. Mereka juga mencari lingkungan yang bisa menjaga anaknya, membentuk kebiasaan yang baik, dan memberikan arah ketika anak mulai berhadapan dengan tantangan zaman,” ujar Ade Reza.

Menurutnya, pendidikan harus mampu menjawab keresahan orang tua terhadap kehidupan anak di era digital.

“Ketika anak terlalu dekat dengan HP, kemudian waktunya banyak tersita untuk dunia maya, sekolah dan pesantren harus mampu menghadirkan lingkungan alternatif. Anak perlu kembali mengalami interaksi nyata, belajar bersama teman, berkomunikasi dengan guru, beraktivitas, dan bertanggung jawab terhadap rutinitasnya,” katanya.

Pesantren sebagai Ruang Reset Kebiasaan Remaja

Dalam konteks tersebut, keberadaan pesantren menjadi salah satu kekuatan penting SMA NU Kaplongan.

Peserta didik tidak hanya menjalani aktivitas pembelajaran formal, tetapi juga berada dalam lingkungan pendidikan yang memiliki ritme kehidupan lebih terstruktur.

Bangun, belajar, beribadah, berinteraksi, mengikuti kegiatan, beristirahat, dan menjalankan tanggung jawab sehari-hari menjadi bagian dari proses pendidikan.

Lingkungan semacam ini dapat menjadi ruang untuk “reset” kebiasaan bagi remaja.

Bukan berarti pesantren diposisikan sebagai tempat yang memutus anak dari perkembangan teknologi. Sebaliknya, teknologi tetap menjadi bagian dari kehidupan modern yang harus dipahami dan digunakan secara bijak.

Persoalannya adalah bagaimana anak tidak menjadi objek dari teknologi.

Mereka perlu dididik agar mampu menjadi subjek yang mengendalikan teknologi, bukan sebaliknya.

Karena itu, pendidikan di SMA NU Kaplongan diarahkan untuk membangun keseimbangan antara kemampuan akademik, kecakapan digital, karakter, spiritualitas, kemampuan sosial, dan kemandirian.

Guru Bukan Sekadar Penyampai Materi

Pendampingan Sekolah Model juga menegaskan perubahan posisi guru dalam proses pembelajaran.

Guru tidak lagi cukup berperan sebagai penyampai materi di depan kelas. Guru didorong menjadi “sutradara pembelajaran”, yakni sosok yang mampu merancang pengalaman belajar bersama peserta didik.

Pembelajaran dirancang agar lebih dekat dengan kehidupan nyata.

Peserta didik tidak hanya duduk mendengarkan penjelasan, mencatat, kemudian mengerjakan soal. Mereka diberi kesempatan untuk mengamati, bertanya, mencoba, menganalisis, berdiskusi, memecahkan masalah, dan merefleksikan pengalaman.

Ade Reza menilai pendekatan tersebut penting karena karakter generasi yang sedang dihadapi sekolah telah mengalami perubahan.

“Anak-anak kita tumbuh di tengah arus informasi yang sangat besar. Kalau pembelajaran hanya satu arah, mereka mudah kehilangan perhatian. Karena itu guru harus mampu membuat pembelajaran menjadi pengalaman yang mereka rasakan, bukan sekadar materi yang mereka hafalkan,” jelasnya.

Dengan pendekatan tersebut, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari kemampuan peserta didik menjawab soal, tetapi juga dari kemampuan mereka memahami persoalan dan mengambil keputusan dalam kehidupan nyata.

Belajar dari Persoalan yang Dekat dengan Santri

Konsep pembelajaran mendalam mendorong guru menggunakan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar.

Praktik tersebut salah satunya terlihat dalam pembelajaran IPA yang mengajak peserta didik mengidentifikasi nilai gizi jajanan di kantin sebagai alternatif sarapan santri di sekolah.

Materi yang sebelumnya mungkin hanya ditemukan dalam buku pelajaran kemudian dihubungkan dengan sesuatu yang setiap hari mereka lihat.

Peserta didik dapat mengamati makanan, mengidentifikasi kandungan gizinya, membandingkan pilihan makanan, kemudian menarik kesimpulan mengenai kebiasaan sarapan yang lebih baik.

Pembelajaran semacam itu membuat pengetahuan menjadi lebih hidup.

Anak tidak hanya mengetahui bahwa makanan memiliki kandungan gizi tertentu, tetapi memahami hubungan antara apa yang mereka pelajari dengan keputusan yang mereka ambil setiap hari.

Dari Faktual hingga Metakognitif

Pembelajaran mendalam juga menempatkan kemampuan berpikir sebagai bagian penting dari proses pendidikan.

Peserta didik dilatih bergerak dari pemahaman faktual menuju pemikiran yang lebih kompleks.

Benda sederhana seperti botol plastik dapat menjadi contoh.

Pada tahap awal, peserta didik mengenali benda tersebut secara faktual. Kemudian mereka berpikir secara fungsional dengan memahami kegunaannya.

Selanjutnya, mereka diajak berpikir prosedural: bagaimana benda tersebut digunakan.

Pada tahap yang lebih tinggi, peserta didik diarahkan untuk berpikir secara metakognitif dengan mempertanyakan kemungkinan pemanfaatan lain dari benda tersebut.

Botol plastik tidak berhenti sebagai wadah air. Ia dapat dipikirkan sebagai bahan daur ulang, pot tanaman, media pembelajaran, hingga alat olahraga sederhana.

Dari satu benda sederhana, peserta didik belajar melihat banyak kemungkinan.

Di sinilah pembelajaran mendalam bekerja: mendorong anak untuk tidak berhenti pada jawaban pertama.

PBL dan PjBL untuk Membentuk Anak yang Mampu Menghadapi Dunia Nyata

SMA NU Kaplongan juga didorong untuk memperbanyak pembelajaran berbasis masalah dan proyek melalui Problem-Based Learning (PBL) serta Project-Based Learning (PjBL).

Model tersebut memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menghadapi persoalan, mencari informasi, berdiskusi, menyusun solusi, dan menghasilkan karya.

Proses tersebut sekaligus melatih Higher Order Thinking Skills (HOTS), literasi, komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas.

Bagi pendidikan pesantren, pengalaman semacam ini menjadi semakin penting karena santri kelak tidak hanya hidup di ruang kelas.

Mereka akan kembali ke tengah masyarakat dengan berbagai persoalan nyata.

Karena itu, pendidikan perlu menyiapkan mereka bukan hanya untuk menjawab soal ujian, tetapi juga untuk menjawab persoalan kehidupan.

Satu Perencanaan, Beragam Perlakuan

Dalam pendampingan, persoalan teknis mengenai jumlah rombongan belajar juga menjadi bagian diskusi.

Dengan jumlah peserta didik yang cukup banyak dan karakter yang beragam, guru tentu menghadapi kebutuhan belajar yang berbeda.

Namun, perbedaan karakter tersebut tidak selalu berarti guru harus membuat perencanaan pembelajaran yang sepenuhnya berbeda untuk setiap kelompok.

Satu perencanaan pembelajaran dapat digunakan dalam satu angkatan dengan topik dan capaian pembelajaran yang sama.

Dalam praktiknya, guru dapat memberikan alternatif pendekatan, pengelompokan, maupun perlakuan berdasarkan kondisi peserta didik.

Dengan demikian, pembelajaran diferensiasi dapat berjalan secara fleksibel.

Peserta didik dapat dikelompokkan secara homogen maupun heterogen sesuai kebutuhan, tanpa kehilangan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

Sekolah Model Harus Menjadi Pusat Praktik Baik

Status Sekolah Model tidak berhenti sebagai predikat.

SMA NU Kaplongan diharapkan dapat menjadi ruang tumbuhnya berbagai praktik pembelajaran yang kemudian dapat dibagikan kepada lingkungan pendidikan yang lebih luas.

Salah satu mekanisme yang dapat dikembangkan ialah Teaching Experimental Training (TET) melalui forum diskusi dan MGMP.

Guru dapat mencoba sebuah inovasi pembelajaran, mengimplementasikannya di kelas, melihat hasilnya, melakukan refleksi, kemudian memperbaikinya.

Praktik baik tersebut selanjutnya dapat menjadi bahan pembelajaran bagi guru lain.

Dalam konteks SMA NU Kaplongan, budaya berbagi tersebut dapat dimulai dari lingkungan internal sebelum kemudian diimbaskan kepada satuan pendidikan lain di sekitarnya.

Guru Harus Menjadi Inspirator

Pada akhirnya, pembelajaran mendalam bukan hanya persoalan metode.

Ia berkaitan dengan cara guru memandang peserta didik.

Anak bukan sekadar angka dalam daftar nilai. Mereka adalah individu yang sedang tumbuh dan membutuhkan pendampingan.

Karena itu, guru dituntut untuk terus belajar, melakukan refleksi, berdiskusi dengan teman sejawat, serta memahami perubahan karakter peserta didik.

Ade Reza menegaskan bahwa posisi guru dalam pendidikan modern justru semakin penting.

“Guru tidak boleh berhenti belajar. Kalau anak-anak berubah, cara kita mendidik juga harus berkembang. Tetapi nilai-nilai dasarnya tetap kita jaga. Kita ingin anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak, mandiri, dan mampu menghadapi kehidupan,” tutur Ade Reza.

Memberikan Ketenangan bagi Orang Tua

Pada titik inilah pendidikan SMA NU Kaplongan menemukan relevansinya.

Pesantren bukan sekadar tempat untuk mengejar gelar, nilai, atau prestasi.

Ia dapat menjadi ruang aman bagi orang tua yang sedang mencari lingkungan pendidikan yang mampu membantu anaknya keluar dari kebiasaan yang kurang baik.

Di tengah kekhawatiran terhadap penggunaan HP yang berlebihan, paparan konten digital, dan pengaruh lingkungan pergaulan, orang tua membutuhkan keyakinan bahwa anaknya berada di lingkungan yang mendidik.

Ketenangan itu lahir bukan karena anak dijauhkan sepenuhnya dari dunia luar, melainkan karena anak dipersiapkan untuk kembali menghadapi dunia luar dengan karakter dan kemampuan yang lebih matang.

SMA NU Kaplongan bersama Pondok Pesantren Darul Ma’arif Kaplongan berikhtiar menghadirkan ekosistem tersebut.

Guru menjadi inspirator. Pesantren menjadi lingkungan pembentuk kebiasaan. Pembelajaran menjadi pengalaman. Dan peserta didik ditempatkan sebagai subjek yang aktif dalam proses pendidikan.

Dengan demikian, tujuan pendidikan tidak berhenti pada pertanyaan “berapa nilai anak?”

Tetapi bergerak kepada pertanyaan yang jauh lebih penting:

“Menjadi manusia seperti apa anak kita setelah menyelesaikan pendidikannya?”

Bagi orang tua, jawaban atas pertanyaan itulah yang pada akhirnya memberikan ketenangan.

Dan bagi SMA NU Kaplongan, pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu membuat peserta didik tidak hanya pintar menghadapi ujian, tetapi juga siap menghadapi kehidupan.

Semoga bermanfaat.

Share:

More Posts

script>
Info Pendaftaran Santri BaruAda pertanyaan? Chat kami sekarang! 😊