SMP NU Darul Ma’arif Kaplongan Perkuat Pembelajaran Mendalam, Guru Jadi Inspirator

darulmaarif.net – Indramayu, 02 September 2026 | 11.00 WIB

Pewarta: Usth. Putri Levia Septi Hidayati, S.Pd.

Pendidikan di lingkungan Pondok Pesantren Darul Ma’arif Kaplongan Indramayu terus diarahkan untuk menjawab perubahan karakter dan kebutuhan belajar generasi masa kini. Salah satunya melalui penguatan implementasi pembelajaran mendalam (deep learning) di SMP NU Darul Ma’arif.

Pendampingan Sekolah Model yang berlangsung pada Rabu, 2 September 2026, menjadi ruang bagi para guru untuk merefleksikan praktik pembelajaran sekaligus mencari strategi agar proses belajar semakin kontekstual, aktif, dan bermakna bagi peserta didik.

Dalam pendampingan tersebut, guru didorong tidak sekadar berperan sebagai penyampai materi, tetapi menjadi “sutradara” pembelajaran yang mampu merancang skenario belajar bersama murid.

Konsep tersebut menekankan pentingnya pembelajaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Murid tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi dapat diajak memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai ruang belajar agar memperoleh lebih banyak pengalaman dan praktik langsung.

Pendekatan ini dinilai relevan dengan karakter peserta didik saat ini yang sebagian besar berasal dari generasi Z dan Alpha. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang lekat dengan teknologi digital dan dunia maya. Kondisi tersebut menuntut sekolah untuk menghadirkan pola pembelajaran yang lebih variatif dan melibatkan murid secara aktif.

“Guru menjadi sutradara yang menulis skenario rangkaian pembelajaran bersama murid secara kontekstual,” demikian salah satu poin dalam pendampingan Sekolah Model di SMP NU Darul Ma’arif.

Menjawab Tantangan Generasi Digital

Fenomena menurunnya rentang fokus peserta didik juga menjadi salah satu perhatian dalam pendampingan. Karena itu, murid perlu memperoleh ruang untuk melakukan berbagai aktivitas mandiri sebagai bagian dari penguatan otonomi belajar.

Di lingkungan Pondok Pesantren Darul Ma’arif Kaplongan, pendekatan semacam ini menjadi penting karena pendidikan tidak hanya diarahkan pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga pembentukan kemampuan santri untuk berpikir, berkomunikasi, berkolaborasi, dan menghadapi persoalan kehidupan nyata.

Salah satu strategi yang ditekankan ialah memperbanyak kegiatan berbasis proyek, seperti Problem-Based Learning (PBL) dan Project-Based Learning (PjBL).

Melalui pembelajaran berbasis masalah dan proyek, murid didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan keterampilan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS). Pada saat yang sama, mereka juga memperoleh pengalaman literasi serta kesempatan berinteraksi dengan lingkungan sosial yang lebih luas.

Pendekatan tersebut diharapkan menjadi bekal bagi peserta didik ketika kelak terjun dan berkontribusi di tengah masyarakat.

Belajar dari Lingkungan Sekitar

Praktik pembelajaran kontekstual juga telah dilakukan oleh guru SMP NU Darul Ma’arif. Salah satunya melalui pembelajaran IPA yang mengajak peserta didik melakukan identifikasi nilai gizi jajanan di kantin sebagai alternatif sarapan santri di sekolah.

Kegiatan tersebut mendapatkan apresiasi dalam pendampingan karena menghubungkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari peserta didik.

Pembelajaran tidak berhenti pada teori yang terdapat dalam buku, tetapi membawa murid untuk mengamati, menganalisis, dan memahami persoalan yang mereka jumpai secara langsung.

Pendekatan tersebut juga membuka ruang bagi penerapan pembelajaran diferensiasi, dengan strategi pengelompokan murid yang dapat dilakukan secara homogen maupun heterogen sesuai kebutuhan dan kondisi pembelajaran.

Satu Perencanaan, Beragam Pendekatan

Dalam diskusi, BA. Faisal Hasri, S.Kom., turut mengangkat persoalan teknis terkait jumlah rombongan belajar di SMP NU Darul Ma’arif yang relatif banyak.

Pertanyaannya, apakah setiap hasil identifikasi karakteristik murid harus dibuatkan perencanaan pembelajaran tersendiri?

Pendampingan memberikan penjelasan bahwa guru dapat menggunakan satu perencanaan pembelajaran untuk satu angkatan dengan topik yang sama, sesuai capaian pembelajaran secara umum. Namun, ketika proses pembelajaran berlangsung, guru dapat memberikan alternatif pendekatan atau perlakuan yang berbeda sesuai kondisi peserta didik.

Dengan demikian, fleksibilitas tetap menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Pengelompokan peserta didik pun dapat dilakukan secara homogen maupun heterogen secara natural.

Mengajarkan Murid untuk Berpikir Lebih Dalam

Pembelajaran mendalam juga tidak terlepas dari kemampuan metakognitif. Guru didorong memberikan pengalaman konkret agar murid terbiasa mengembangkan cara berpikir secara bertahap.

Contoh sederhana yang diberikan adalah menggunakan benda yang berada di sekitar peserta didik, seperti botol plastik.

Pertama, murid diajak berpikir secara faktual dengan mengenali benda tersebut. Selanjutnya, mereka diarahkan berpikir secara fungsional dengan memahami kegunaannya.

Tahap berikutnya adalah berpikir secara prosedural, yakni memahami bagaimana benda tersebut digunakan. Setelah itu, murid diajak memasuki tahap metakognitif dengan mencari kemungkinan lain dari pemanfaatan benda tersebut.

Botol plastik, misalnya, tidak hanya dipahami sebagai wadah air, tetapi dapat dipikirkan kembali untuk berbagai fungsi lain seperti bahan daur ulang, pot, hingga alat olahraga sederhana.

Cara tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran mendalam dapat dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana. Kuncinya adalah bagaimana guru mampu membangun rasa ingin tahu dan mendorong murid untuk melihat sebuah objek dari berbagai perspektif.

Dari Sekolah Model untuk Sekolah di Sekitarnya

Status Sekolah Model tidak hanya dimaknai sebagai pencapaian internal. Ekosistem pembelajaran yang inovatif dan reflektif diharapkan dapat memberikan dampak lebih luas.

Dalam pendampingan disebutkan bahwa satuan pendidikan dapat menjadi pusat praktik baik. Setelah melalui tahapan pembelajaran, evaluasi, dan perbaikan, praktik tersebut dapat diimbaskan kepada sekolah-sekolah di sekitar.

Salah satu mekanisme yang dapat dilakukan ialah Teaching Experimental Training (TET) melalui forum diskusi MGMP. Guru dapat mengembangkan inovasi pembelajaran, mengujicobakannya dalam proses belajar, mengevaluasi hasilnya, kemudian memperbaiki bagian yang masih kurang efektif.

Menanggapi kondisi MGMP pusat Indramayu yang belum aktif secara maksimal, BA. Faisal Hasri, S.Kom., menanyakan kemungkinan pelaksanaan pengimbasan TET secara internal.

Pendampingan memberikan ruang bahwa kegiatan tersebut diperbolehkan. Dengan demikian, SMP NU Darul Ma’arif dapat terus mengembangkan budaya berbagi praktik baik dari lingkungan internal sekolah sebelum kemudian didiseminasikan kepada satuan pendidikan lainnya.

Guru Perlu Terus Belajar dan Berefleksi

Penguatan kapasitas guru menjadi bagian penting dalam perjalanan SMP NU Darul Ma’arif sebagai Sekolah Model.

Para pendidik didorong untuk menjalankan proses inkuiri kolaboratif, refleksi berkala, dan diskusi dengan teman sejawat. Ketiganya menjadi ruang untuk menyegarkan kembali perspektif guru sekaligus menemukan solusi atas berbagai persoalan pembelajaran.

Dalam konteks pendidikan pesantren, budaya tersebut memiliki arti penting. Lingkungan pendidikan tidak hanya membutuhkan guru yang menguasai materi, tetapi juga pendidik yang bersedia terus belajar, mengevaluasi praktiknya, dan beradaptasi dengan perubahan zaman.

Pada akhirnya, pengembangan Sekolah Model dilakukan secara bertahap melalui analisis kesenjangan untuk meningkatkan level satuan pendidikan, mulai dari Pra-Berkembang, Berkembang, Maju, hingga Unggul.

Bagi Pondok Pesantren Darul Ma’arif Kaplongan Indramayu, proses tersebut menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan pendidikan yang tidak tercerabut dari realitas kehidupan santri.

Pembelajaran diharapkan tidak hanya membuat murid mengetahui sesuatu, tetapi juga mampu memahami, mengalami, merefleksikan, dan menggunakan pengetahuan tersebut untuk menyelesaikan persoalan di kehidupan nyata.

Dengan guru sebagai inspirator, lingkungan sebagai sumber belajar, dan murid sebagai subjek aktif pembelajaran, SMP NU Darul Ma’arif Kaplongan terus membangun ekosistem pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan karakter pendidikan pesantren.

Semoga bermanfaat.

Share:

More Posts

script>
Info Pendaftaran Santri BaruAda pertanyaan? Chat kami sekarang! 😊