Karya Ringkas, Kaya Makna: Kajian Kitab Tauhid Tipis Anggitan Imam Abi Laits As-Samarqondi

darulmarif.net – Indramayu, 05 November 2026 | 10.00 WIB

Di era tsunami informasi digital yang bergerak lesat, generasi muda saat ini sering kali menghadapi krisis kedirian dan kebisingan dalam ruang batin mereka. Media sosial menampilkan narasi pencapaian yang tak terbatas, yang ironisnya sering berakhir dengan kecemasan massal dan kehilangan tujuan hidup. Dalam kondisi yang sangat terfragmentasi ini, kembali mengkaji warisan intelektual Islam klasik—atau yang dikenal sebagai kitab Turats—bukan lagi sekadar nostalgia masa lalu, melainkan menjadi kebutuhan dasar untuk menemukan kembali jangkar spiritual yang kuat.

Salah satu permata tersembunyi yang menawarkan resep ketenangan berpikir adalah kitab Masail Abi Laits As-Samarqandi (yang di Indonesia dikenal melalui syarahnya, Qothrul Ghoits fi Syarhi Masail Abi Laits karya ulama besar Nusantara, Syekh Muhammad Nawawi bin Umar Al-Bantani Al-Jawi).

Kitab ini menyajikan paradoks yang menarik: secara fisik sangat tipis (wajiz), namun berasal dari kedalaman ilmu seorang ulama abad ke-4 Hijriah, Al-Faqih Abu Laits As-Samarqondi—Imamul Huda yang juga menulis tafsir monumental Bahrul ‘Ulum. Di tangan beliau, rumusan akidah yang biasanya njlimet dan penuh perdebatan filsafat yang kering, berhasil dikristalisasi menjadi rangkaian kalimat yang jelas, taktis, dan puitis.

Profil Pengarang: Sang Maestro dari Transoxiana

Mengulas kedalaman kitab ini tentu tidak dapat dipisahkan dari tokoh besar di balik penyusunannya. Kitab matan yang singkat ini disusun oleh Al-Faqih Al-‘Alim Al-‘Allamah Abu Laits As-Samarqondi, seorang ulama multitalenta kelas dunia yang wafat sekitar tahun 373 H / 375 H. Nama lengkapnya adalah Nasr bin Muhammad bin Ahmad bin Ibrohim as-Samarqondi, dan beliau lahir serta dibesarkan di Samarkand (sekarang bagian dari Uzbekistan), sebuah pusat peradaban intelektual yang menghasilkan banyak pemikir besar Islam pada masa kejayaan jalur sutra.

Di kalangan peneliti kitab-kitab Turats, beliau dikenal sebagai Imamul Huda (Imam Petunjuk) karena sanad keilmuannya yang tajam dan berakar kuat pada Madzhab Fiqih Imam Hanafi, serta kemampuannya dalam menggabungkan ilmu syariat dengan pendekatan sufistik yang menyentuh hati. Selain menciptakan kitab teologi model saku ini, Imam Abu Laits juga merupakan penulis dari kitab-kitab legendaris yang sangat dikenal di dunia pesantren, seperti kitab pembersih jiwa Tanbihul Ghofilin dan tafsir al-Qur’an otoritatif Bahrul ‘Ulum. Dedikasi ilmiah dan ketulusan spiritual yang dimilikinya membuat karya-karyanya—termasuk Masail Abi Laits yang relatif tipis ini—mampu melintasi batas waktu, geografis dan sekat madzhab, sehingga tetap abadi dibaca dan dijelaskan oleh ulama Nusantara berabad-abad kemudian.

Puncak Sastra dalam Ketegasan Teologi

Keunikan pertama kitab ini terletak pada metodologinya. Abu Laits tidak menyusun bab secara teoretis yang kaku, melainkan menggunakan pendekatan sosiologis-edukatif berbasis masalah (problem-based learning). Beliau merancang dialog imajiner deduktif menggunakan pola frasa فَإِنْ قِيلَ لَكَ (“Maka jika dikatakan kepadamu…”) yang kemudian dijawab secara definitif dengan kata  فَالْجَوَابُ (“Maka jawabannya…”).

Redaksi matan dari Imam Abu Al-Laits Al-Samarqondi di atas tidak hanya kokoh secara teologis, tetapi juga memiliki arsitektur kebahasaan yang sangat indah dan simetris jika dibedah menggunakan ilmu Balaghoh (Retorika Bahasa Arab), khususnya cabang Ilmu Badi’ (keindahan ritme dan struktur) dan Ilmu Ma’ani (keselarasan makna). Simak salah satu kutipan paling monumental dalam kitab ini saat beliau membedah status keimanan;

مسألة: إذا قيل لك: الإيمان مخلوق أو غير مخلوق؟ فالجواب أن تقول: الإيمان هداية من الله تعالى، والتصديق بالقلب بما جاء به النبي صلى الله عليه وسلم من عند الله تعالى، والإقرار باللسان. فالهداية صنع الرب، وهو قديم. والتصديق والإقرار فعل العبد وهو محدث، وكل ما جاء من القديم يكون قديماً، وكل ما جاء من المحدث يكون محدثاً.

Artinya: “(Masalah: Jika ditanyakan kepadamu: “Apakah iman itu makhluk (ciptaan) atau bukan makhluk?” Maka jawabannya adalah kamu mengatakan: “Iman adalah hidayah (petunjuk) dari Alloh Ta’ala, pembenaran di dalam hati terhadap apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam dari sisi Alloh Ta’ala, serta pengakuan dengan lisan. Maka, hidayah itu adalah perbuatan Tuhan dan ia bersifat qodim (terdahulu/tanpa awal). Sedangkan pembenaran dan pengakuan itu adalah perbuatan hamba dan ia bersifat muhdats (baru/ada setelah ketiadaan). Setiap apa yang berasal dari yang qodim maka ia bersifat qodim, dan setiap apa yang berasal dari yang muhdats maka ia bersifat muhdats.”

Dimensi pertama diletakkan pada sisi hidayah sebagai perbuatan Tuhan (shun‘ur Robb) yang bersifat qodim (tanpa awal) karena bersumber langsung dari pancaran Irodah dan Qodho’ (ketetapan) Alloh yang azali. Sebaliknya, dimensi kedua ditempatkan pada manifestasi praktis hamba berupa pembenaran hati (tashdiq) dan pengakuan lisan (ikrar) yang dinilai sebagai perbuatan makhluk (fi‘lul ‘abd), sehingga secara logis berstatus muhdats (baru diadakan dari ketiadaan). Keindahan teks ini tidak hanya terletak pada ketajaman logikanya, tetapi juga pada arsitektur balaghohnya yang memukau.

Imam Abu Al-Laits memanfaatkan teknik thibaq (antitesis) yang kontras serta struktur muqobalah yang presisi untuk memisahkan batas antara Sang Pencipta dan hamba secara instan. Ditambah dengan untaian ritme sajak muwazi yang menghasilkan musikalitas harmonis pada setiap akhir frasanya, matan ini ditutup dengan gaya ijaz qoshr—sebuah kesimpulan universal yang ringkas namun mengunci logika—bahwa setiap yang bersumber dari yang qodim akan bermuara pada sifat Qadim (Alloh), dan setiap yang lahir dari yang muhdats (Makhluk) akan tetap menjadi muhdats.

Kendati Syekh Nawawi Al-Bantani memberikan catatan kritis bahwa pemisahan ini merupakan bentuk tasamuh (penyederhanaan bahasa) karena hidayah sejatinya adalah pemicu dan bukan organ dari iman itu sendiri, struktur narasi ini tetap berhasil menjadi sebuah bangunan argumen yang fasih, rasional, dan mudah diserap oleh para santri.

Hidayah di sini merujuk pada Kehendak (Irodah) dan Ketetapan (Qodho’) Alloh di zaman azali untuk memberi petunjuk kepada seorang hamba. Karena Iradah dan Qadha’ adalah sifat Zat Allah, dan semua sifat Allah itu qadim (tidak bermula dan tidak diciptakan), maka hidayah dari sudut pandang ini bukanlah makhluk. Jika kita menyebut hidayah itu makhluk, secara logis kita menganggap sifat Allah itu baru, dan itu mustahil dalam tauhid.

Ketika iman terjawantahkan dalam bentuk tindakan manusia—yaitu hati yang membenarkan (tashdiq) dan lidah yang berucap (ikrar)—maka itu adalah af’alul ‘ibad (perbuatan hamba). Manusia adalah makhluk yang baru ada (dari ketiadaan menjadi ada). Secara logika, apa pun yang lahir dari sesuatu yang baru (makhluk), maka hasilnya pasti baru (muhdats) dan berstatus sebagai makhluk. Manusia berikhtiar menggerakkan hatinya untuk percaya, dan tindakan memilih itu diciptakan oleh Alloh pada saat itu juga.

Membumikan Logika Lewat Analogi Cahaya

Ketika teks tipis ini menyeberangi lautan dan mendarat di pesantren-pesantren Nusantara, Syekh Nawawi Al-Bantani melihat adanya ruang kosong yang subur untuk dikembangkan. Beliau sadar bahwa pelajar membutuhkan gambaran logis agar tidak terjebak pada pemikiran fatalisme (pasrah buta) ala Kaum Jabbariyah atau sebaliknya, pemikiran libertarianisme yang merasa paling jumawa atas nasibnya sendiri seperti keyakinan ala kaum Qodariyah.

Dalam Qothrul Ghoits misalnya, Syekh Nawawi memperluas kutipan “Iman itu Makhluk atau Bukan” di atas menggunakan metafora yang sangat membumi: Analogi Cahaya Matahari dan Penglihatan Mata. Kutipan lengkapnya sebagai berikut:

(مسألة): (إذا قيل لك: الإيمان مخلوق أو غير مخلوق؟)
(فالجواب) أن تقول: (الإيمان هداية من الله تعالى، والتصديق بالقلب بما جاء به النبي صلى الله عليه وسلم من عند الله تعالى، والإقرار) بالشهادتين (باللسان. “فالهداية” صنع الرب، وهو قديم. والتصديق والإقرار) كل منهما (فعل العبد وهو محدث) بفتح الدال، أي: موجود بعد العدم (وكل ما جاء من القديم يكون قديماً) غير مخلوق (وكل ما جاء من المحدث يكون محدثاً) وقال الشيخ أبو معين النسفي: لا يقال إن الإيمان مخلوق أو غير مخلوق، بل يقال: إن الإيمان من العبد الإقرار باللسان والتصديق بالقلب ومن الله تعالى الهداية والتوفيق. وقال بعضهم: لا يجوز أن يكون الإيمان اسماً للهداية والتوفيق، وإن كان لا يوجد إلا بهما لأن العبد مأمور به والأمر إنما يكون فيما هو داخل تحت قدرة العبد، وما كان كذلك يكون مخلوقاً. وقال الباجوري: الصواب أن الإيمان مخلوق لأنه إما تصديق بالجنان أو هو مع الإقرار باللسان، وكل منهما مخلوق، وما يقال من إنه قديم باعتبار الهداية خروج عن حقيقة الإيمان على أن الهداية حادثة، نعم إن نظرنا إلى أن الإيمان بالقضاء الأزلي صح أن يقال إنه قديم، اهـ. وقال محمد الخليلي نقلاً عن الشمس الرملي: “الإيمان” عند جمهور المحققين: تصديق القلب بما علم ضرورة مجيء الرسول صلى الله عليه وسلم به من عند الله تعالى، وأما الإقرار باللسان فإنما هو شرط لإجراء الأحكام في الدنيا. وقيل: إنه الإقرار والتصديق معاً. وقيل: إنه الإقرار

Artinya: “(Masalah): (Jika ditanyakan kepadamu: “Apakah iman itu makhluk [ciptaan] atau bukan?”)

(Maka jawabannya) kamu katakan: (Iman adalah hidayah [petunjuk] dari Alloh Ta’ala, pembenaran di dalam hati terhadap apa yang dibawa oleh Nabi SAW dari sisi Alloh Ta’ala, serta pengakuan) dengan dua kalimat syahadat (dengan lisan). “Maka, hidayah itu” adalah perbuatan Tuhan dan ia bersifat qadim (terdahulu/tanpa awal). (Sedangkan pembenaran dan pengakuan itu) masing-masing dari keduanya (adalah perbuatan hamba dan ia bersifat muhdats) dengan huruf dal yang difathah (muhdatsun), artinya: ada setelah sebelumnya tiada. (Dan setiap apa yang berasal dari yang qadim maka ia bersifat qadim) yakni bukan makhluk (dan setiap apa yang berasal dari yang muhdats maka ia bersifat muhdats).

Dan Syekh Abu Ma’in al-Nasafi berkata: “Tidak boleh dikatakan bahwa iman itu makhluk atau bukan makhluk. Melainkan harus dikatakan: Sesungguhnya iman yang berasal dari hamba adalah pengakuan dengan lisan dan pembenaran dengan hati, sedangkan yang berasal dari Alloh Ta’ala adalah hidayah dan taufik.”

Dan sebagian ulama berkata: “Tidak boleh menjadikan iman sebagai nama bagi hidayah dan taufik, meskipun iman itu tidak akan ada kecuali dengan keduanya. Karena hamba itu diperintah (untuk beriman), sedangkan perintah itu hanyalah berlaku pada apa yang masuk di bawah kuasa (kemampuan) hamba. Dan apa saja yang kondisinya demikian, maka ia pasti makhluk (ciptaan).”

Dan Imam al-Bajuri berkata: “Yang benar adalah bahwa iman itu makhluk, karena iman itu adakalanya berupa pembenaran dengan hati, atau pembenaran hati yang disertai pengakuan dengan lisan, dan masing-masing dari keduanya adalah makhluk. Adapun pendapat yang menyatakan bahwa iman itu qadim ditinjau dari sisi hidayah, maka itu adalah keluar dari hakikat iman, lagipula hidayah itu sendiri bersifat hadits (baru/makhluk). Benar, jika kita memandang bahwa iman itu berdasarkan ketentuan (qadha’) yang azali, maka sah-sah saja dikatakan bahwa ia qadim. Selesai kutipan.”

Dan Muhammad al-Khalili berkata seraya menukil dari Asy-Syams al-Romli: “Iman menurut mayoritas ulama peneliti (muhaqqiqin) Adalah pembenaran hati terhadap apa yang telah diketahui secara pasti (dhoruri) dibawa oleh Rosululloh SAW dari sisi Alloh Ta’ala. Adapun pengakuan dengan lisan hanyalah menjadi syarat bagi berlakunya hukum-hukum (islam) di dunia. Dan ada yang berpendapat: Sesungguhnya iman itu adalah pengakuan dan pembenaran secara bersamaan. Dan ada pula yang berpendapat: Sesungguhnya iman itu adalah pengakuan (saja).”

Syekh Nawawi menjelaskan bahwa hidayah Alloh itu ibarat sinar matahari di langit—ia mutlak, bersumber dari luar, dan berada di luar kendali manusia (ghoiru makhluq). Namun, keputusan manusia untuk membuka kelopak matanya, menangkap cahaya tersebut, dan mengenali objek di depannya adalah perbuatan manusia itu sendiri (makhluq). Seseorang tidak akan bisa melihat tanpa adanya sinar matahari, namun sinar matahari seterang apa pun tidak akan berguna jika manusia sengaja memejamkan matanya.

Hubungan antara hidayah Alloh yang qodim (tanpa awal) dan iman hamba yang muhdats (baru/makhluk) dapat dianalogikan seperti cahaya matahari yang menerangi ruangan gelap. Cahaya matahari yang memancar secara mandiri dari luar merupakan representasi hidayah Alloh yang qodim, yang bertindak sebagai sebab utama pemicu datangnya petunjuk. Sementara itu, peristiwa berubahnya status ruangan dari gelap menjadi benderang merupakan gambaran bagi iman hamba (tashdiq dan ikrar) yang bersifat muhdats, karena ia adalah sebuah kondisi baru yang tercipta di dalam ruang lingkup makhluk. Melalui analogi ini, logika teologis para ulama menjadi sangat jernih: iman manusia terjadi karena adanya pancaran hidayah Alloh yang qodim, namun sebagai sebuah manifestasi respons atau “pantulan cahaya” yang mewujud di dalam hati manusia, eksistensi iman itu sendiri secara hakikat tetaplah sebuah entitas baru yang berstatus sebagai makhluk.

Relevansi Kontekstual bagi Pelajar Modern

Bagi para santri, pelajar dan mahasiswa masa kini, dialektika teologis ini berubah menjadi panduan yang sangat berguna untuk kesehatan mental dan pengelolaan stres.

Dunia modern menuntut kita untuk selalu mencapai kesuksesan, mengendalikan semua variabel, dan bertanggung jawab sepenuhnya atas hasil akhir. Ketika kita gagal, kita merasa hancur. Melalui analogi kitab ini, pelajar diajarkan untuk memetakan hidup dengan proporsional. Kerja keras, belajar, dan merencanakan strategi adalah bagian dari Tashdiq dan Tha’ah (usaha manusia yang bersifat makhluk). Namun, hasil akhir, kestabilan emosi, dan keberhasilan sejati adalah bagian dari Hidayah dan Taufik (hak mutlak Alloh).

Selain itu, kitab ini juga mengajarkan kita semua untuk tidak membuang energi pada hal-hal di luar kendali mereka (takdir/ketetapan Tuhan), melainkan untuk fokus pada apa yang bisa mereka kendalikan: “kelopak mata” usaha mereka sendiri.

Melalui kitab Masail Abi Laits, kita belajar bahwa kedalaman pemikiran tidak diukur dari seberapa tebal buku yang ditulis, melainkan dari seberapa jelas rumusan tersebut dapat menjawab kegelisahan umat. Melalui kitab yang tipis ini, dengan tambahan syarah yang humanis, mengingatkan pelajar bahwa menjadi berilmu adalah tentang menemukan keseimbangan: bergerak gesit dengan usaha maksimal di bumi, namun tetap menjaga hati agar selalu terhubung dengan ketetapan Alloh Ta’ala yang ada Lauhul Mahfudz.

Identitas Kitab

Judul: Masail Abi Laits As-Samarqondi atau Masail As-Samarqondi
Judul Arab: مسائل أبي الليث السمرقندي
Pengarang: Syekh Al-Imam Abu Laits Nashr bin Muhammad bin Ibrahim Al-Khithab Al-Samarqondi
Bidang: Tauhid
Madzhab: Hanafi
Jenis: Matan
Bahasa: Arab
Tema: Dasar-dasar Tauhid
Syarah: Qothrul Ghoits fi Syarhi Masail Abi Laits karya Syekh Nawawi bin Umar Al-Bantani.

Semoga Bermanfaat. Wallohu a’lam.

Share:

More Posts

script>
Info Pendaftaran Santri BaruAda pertanyaan? Chat kami sekarang! 😊