Sebuah Cerpen: Halaman yang Tak Selesai Dibaca

darulmaarif.net – Indramayu, 31 Oktober 2026 | 20.00 WIB

Di Pondok Pesantren Darul Ma’arif Kaplongan, ada satu kebiasaan yang hampir tidak pernah berubah: sebelum adzan Subuh selesai berkumandang, Ustadz Syamsuri sudah berada di saf depan masjid jami’ Al-Mukhlishin.

Bahkan, beberapa santri pernah berseloroh setengah gurau bahwa jam dinding masjid seharusnya mengikuti waktu kedatangan beliau, bukan sebaliknya.

Ustadz Syamsuri bukan pengasuh pesantren, bukan pula orang yang paling tinggi jabatannya. Namun, di antara para santri, namanya punya tempat tersendiri di hati para santri. Ia mengajar banyak kitab kuning, mulai dari kitab fikih dasar Safinatun Najah sampai kitab njlimet khas gaya bahasa Fathul Mu’in. Dan, baginay Tafsir Jalalain anggitan al-‘Allamah Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin asy-Syuyuthi menjadi salah satu kitab tafsir yang paling disukainya.

Jika sedang menerangkan sebuah ayat, ia bisa menghabiskan waktu hampir satu jam hanya untuk menjelaskan satu tafsiran lafadz. Bukan karena ia tidak tahu harus melanjutkan ke mana, melainkan karena menurutnya, satu kata dalam Al-Qur’an kadang lebih luas daripada seluruh isi kepala manusia.

Santri-santri mengenalnya sebagai sosok yang tegas, tetapi tidak galak. Ia bisa memarahi santri yang tidur saat pengajian, lalu lima menit kemudian membuat seluruh kelas dipenuhi gelak tawa.

Suatu malam saat dirosah misalnya, seorang santri tertangkap mengantuk ketika ia menjelaskan bab thoharah.

“Faris, kamu tidur?”

Santri itu tersentak. “Tidak, Kang.”

“Lalu kenapa matamu merem?”

“Saya lagi menghayati penjelasan Kang Syam.”

“Kalau begitu, hayati juga penjelasan saya dengan mata terbuka. Alloh sudah memberi kita dua mata, bukan untuk disimpan di dalam kelopak matamu.” Seraya mencontohkan ekspresi wajah humoris dengan intonasi nada khas Jawa Timuran sana.

Seluruh kelas terbahak-bahak.

Begitulah Syamsuri. Ia tahu kapan harus keras, kapan harus melucu, dan kapan harus diam.

Tetapi ada satu hal yang tidak diketahui siapa pun.

Setiap kali malam semakin larut, setelah santri kembali ke kamar dan lampu-lampu asrama mulai memadam, ia sering duduk sendirian di serambi masjid. Bukan untuk mengajar, bukan pula untuk membaca kitab.

Ia hanya duduk. Termenung.

Kadang menatap halaman pesantren yang mulai sepi. Kadang memandang langit yang berselimut awan. Kadang memejamkan mata, tetapi tidak benar-benar pulas.

Ada sesuatu yang terasa hilang dalam dirinya.

Ia tidak tahu sejak kapan perasaan itu muncul. Mungkin beberapa tahun lalu. Mungkin jauh sebelum itu.

Ia masih mengajar. Kadang masih mengimami badal sholat jama’ah menggantikan Kyai. Masih membaca wiridan. Masih bangun sepertiga malam. Masih mengulang-ulanh hafalan dan membuka kitab-kitabnya.

Namun, semakin hari, ibadah terasa seperti sesuatu yang ia kerjakan dengan sangat terampil, tetapi semakin sulit ia rasakan.

Seperti seorang juru masak yang hafal seluruh resep masakan, tetapi sudah lama tidak menikmati hidangan. Terasa hambar, dan bikin separuh nafsu makan hilang.

Pernah suatu malam, setelah menyelesaikan sholat tahajud, ia berdoa cukup lama.

“Ya Alloh, jangan Engkau biarkan hatiku jauh dari-Mu.”

“قرّبني إليك قرب المحبّ، لاقرب المحتاج… “

Kalimat itu terucap berulang kali.

Namun, ketika selesai, ia justru bertanya dalam hati:

Apakah aku benar-benar sedang mencari-Mu, atau sedang mencari perasaan bahwa aku telah menjadi orang yang dekat dengan-Mu?

Ia segera menggelengkan kepala.

Pertanyaan semacam itu terasa tidak pantas bagi seorang ustadz yang telah menghabiskan puluhan tahun hidupnya untuk agama.

Ia lalu mengambil tasbih dan melanjutkan wiridan.

Seolah-olah dengan menambah hitungan, ia bisa menghentikan pikirannya sendiri.

Kejadian itu bermula pada suatu sore selepas pengajian ngaji pasaran Tafsir Jalalain.

Seorang santri bernama Faiq Maulidan datang menghampirinya. Anak itu dikenal pendiam, berbadan gempal, sedikit aneh, tetapi cukup cerdas. Ia lebih sering ditemukan membaca kitab di sudut perpustakaan daripada bermain sepak bola bersama teman-temannya.

“Kang, saya mau ngasih sesuatu buat Kang Syam.”

Syamsuri sedang merapikan kitab-kitabnya.

“Apa? Nilai ujianmu tah Iq?”

“Bukan, Kang.”

“Kalau uang kas kelas, langsung serahkan aja kepada bendahara pondok. Saya sudah terlalu sering ditagih Ustadzah Iyoh.”

Faiq tersenyum tipis. Ia kemudian mengeluarkan sebuah kitab tua dari dalam tasnya.

Sampulnya berwarna cokelat gelap. Sudut-sudutnya mengelupas. Beberapa halaman tampak menguning, bahkan ada bagian yang pinggirnya mulai lapuk dimakan usia.

Di sampul tertulis:

Sirrul Asrar.

Karya Syekh Abdul Qodir al-Jailani.

Syamsuri memandang kitab itu sebentar.

“Kamu dapat dari mana ini kitab?”

“Dari rumah, Kang. Peninggalan kakek. Kata Bapak, kitab ini dulu sering dibaca oleh beliau.”

“Kenapa diberikan kepada saya?”

Faiq tidak langsung menjawab.

“Karena saya pikir Kang Syam akan lebih memahami isinya.”

Syamsuri tertawa kecil.

“Kalau begitu, kamu salah alamat. Saya ini sudah cukup pusing ngajarin kalian baca kitab gundul yang halaman pertamanya saja belum tentu kalian hafal.”

Faiq tidak ikut tertawa.

“Kang, boleh saya tanya satu hal?”

“Ya, apa tuh?.”

“Apa iya orang yang sudah lama beribadah masih mungkin merasa jauh dari Alloh?”

Tangan Syamsuri berhenti merapikan kitab.

Pertanyaan itu sederhana. Tetapi entah mengapa, ia merasa seperti baru saja mendengar sesuatu yang selama ini berusaha ia hindari.

“Semua manusia bisa merasa jauh,” jawabnya akhirnya. “Karena kedekatan kepada Alloh bukan perkara umur atau lamanya seseorang beribadah.”

Faiq mengangguk.

“Lalu, gimana caranya mengetahui bahwa kita benar-benar dekat?”

Syamsuri menatapnya.

“Itu pertanyaan yang harus kamu pelajari sendiri.”

Faiq menunduk, lalu berpamitan.

Kitab tua itu tertinggal di atas meja.

Syamsuri memasukkannya ke dalam tas tanpa niat membacanya malam itu.

Ia merasa sudah cukup akrab dengan kitab-kitab tasawuf. Puluhan tahun mengajar, membaca, dan mengkaji. Ia mengenal istilah-istilah tentang maqomat, ahwal, zuhud, wara’, dan ma’rifat.

Apa lagi yang belum ia ketahui?

Namun, malam itu, ketika hendak mengambil kitab untuk membaca selepas Isya, tangannya justru meraih Sirrul Asrar.

Ia membuka halaman pertama.

Lalu halaman berikutnya.

Tidak ada yang istimewa pada awalnya. Sampai ia menemukan pembahasan tentang tobat.

Ia membaca perlahan.

Ada penjelasan mengenai tobat lahir dan batin. Tentang dosa-dosa yang tampak dan kelalaian hati yang sering tersembunyi di balik aktivitas lahiriah. Kutipan dalam kitabnya seperti ini:

فالتّوبة على نوعين: توبة العامّ ، وتوبة الخاصّ.
فتوبة العامّ: أن يرجع من المعصية إلى الطّاعة ، ومن الذّميمة إلى الحميدة، ومن الجحيم إلى الجنّة، ومن راحة البدن إلى مشقّة النّفس بالذّكر والجهد والسّعي القويّ.
وتوبة الخاصّ: أن يرجع بعد حصول هذه التّوبة من الحسنات إلى المعارف، ومن المعارف إلى الدّرجات، ومن الدّرجات إلى القربة، ومن القربة واللّذّات النّفسانيّة إلى اللّذّات الرّوحانية، وهو ترك ما سوى اللّه تعالى والأنس به، والنّظر إليه بعين اليقين.
وهؤلاء المذكورات من كسب الوجود ، وكسب الوجود ذنب كما قيل: وجودك ذنب لا يقاس به ذنب آخر كما قالوا: « حسنات الأبرار سيئات المقرّبين، وسيّئات المقرّبين حسنات الأبرار

Artinya: “Taubat ada dua jenis: taubat umum dan taubat khusus. Taubat umum adalah kembali dari kedurhakaan kepada ketaatan, dari perbuatan tercela kepada perbuatan terpuji, dari neraka kepada surga, dan dari kenyamanan jasmani kepada penderitaan jiwa melalui dzikir, usaha, dan perjuangan. Sedangkan taubat khusus adalah kembali, setelah mencapai taubat ini, baik dari amal baik kepada ilmu, dari ilmu kepada tingkatan spiritual, dari tingkatan spiritual kepada kedekatan dengan Tuhan, maupun dari kedekatan dengan Tuhan dan kesenangan duniawi kepada kesenangan spiritual. Ini termasuk meninggalkan segala sesuatu selain Alloh Yang Maha Kuasa dan menemukan ketenangan di dalam Dia, serta memandang-Nya dengan mata keyakinan.

Hal-hal yang disebutkan ini berasal dari perolehan eksistensi, dan perolehan eksistensi adalah dosa, sebagaimana telah dikatakan: “Keberadaanmu adalah dosa yang tidak dapat dibandingkan dengan dosa lainnya,” sebagaimana mereka berkata: “Amal baik orang-orang sholih adalah dosa orang-orang yang dekat dengan Alloh, dan dosa orang-orang yang dekat dengan Alloh adalah amal baik orang-orang sholih.” (Abdul Qodir Al-Jailani, Sirrul Asror, [DKI: Beirut], hal. 23)

Ia berhenti. Membaca ulang. Kemudian bergegas mengulanginya sekali lagi.

Pada pembacaan ketiga, matanya tidak lagi bergerak mengikuti baris-baris tulisan. Ia justru terpaku pada satu gagasan:

Bahwa seseorang tidak hanya perlu bertobat dari perbuatan buruk, tetapi juga dari kelalaian yang membuat hatinya tidak hadir ketika menghadap Alloh.

Syamsuri menutup kitabnya.

Lalu membukanya kembali.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, sebuah pelajaran terasa seperti sedang mengadili dirinya sendiri.

Hari-hari berikutnya berubah.

Bukan secara kasatmata. Syamsuri tetap mengajar seperti biasa. Ia masih mengenakan sarung dan peci hitam. Masih berjalan melewati asrama dengan langkah yang sama. Masih mengoreksi bacaan santri dan sesekali mengomel karena sandal berserakan di halaman masjid.

Namun, ada sesuatu yang mulai mengganggunya.

Setiap kali mengajar tentang ikhlas, ia teringat dirinya sendiri.

Ketika menjelaskan riya, ia bertanya apakah selama ini ada bagian kecil dalam hatinya yang diam-diam menikmati penghormatan para santri.

Ketika menerangkan tentang tawakal, ia justru teringat betapa sering ia merasa kecewa apabila orang lain tidak menghargai pendapatnya.

Bahkan, ketika mengimami sholat, muncul pertanyaan yang paling menakutkan:

Apakah aku sedang menghadap Alloh, atau sedang menjalankan peran sebagai orang yang menghadap Alloh?

Ia berusaha mengusir pikiran itu.

Tetapi pikiran tersebut semakin kuat.

Suatu siang, ketika mengajar Tafsir Jalalain, ia salah membaca satu baris.

Kesalahan kecil.

Namun, bagi santri yang mengenalnya, itu kejadian langka.

“Kang, sepertinya yang dibaca tadi bukan bagian itu,” ujar seorang santri.

Syamsuri terdiam.

Ia memeriksa kitabnya. Benar. Ia keliru membaca.

“Bagus,” katanya sambil tersenyum tipis. “Berarti kalian masih punya harapan jadi orang alim. Jangan terlalu cepat percaya kepada guru. Guru juga manusia, bukan mesin fotokopian DM Mart.”

Santri kembali tertawa.

Namun, setelah pengajian selesai, ia tidak langsung meninggalkan ruangan.

Ia duduk lama memandangi kitab yang terbuka.

Dulu, ia menikmati ketika santri mampu memahami pelajarannya. Ia merasa bahagia ketika seseorang datang meminta penjelasan. Ia merasa berguna.

Tetapi sekarang, ia mulai curiga bahwa kebahagiaan itu mungkin bercampur dengan sesuatu yang lain.

Ia menyukai dirinya sendiri ketika dipanggil ustadz.

Ia menyukai cara santri menundukkan kepala ketika ia lewat.

Ia menyukai ketika seseorang berkata bahwa penjelasannya lebih mudah dipahami daripada penjelasan guru lain.

Dan yang paling menyakitkan, ia menyadari bahwa selama ini ia mungkin lebih takut kehilangan kehormatan sebagai guru ngaji daripada kehilangan kedekatan bersama Alloh.

Ia teringat sebuah istilah yang pernah diajarkannya sendiri: hijab.

Tabir.

Ia selalu menjelaskan kepada santri bahwa dosa dapat menjadi tabir yang menghalangi hati dari datangnya cahaya kebenaran Ilahi.

Kini ia membaca kembali pembahasan tentang hijab gelap dan hijab cahaya dalam kitab yang diberikan Faiq.

Maksiat bisa menggelapkan hati.

Tetapi amal yang membuat seseorang silau oleh dirinya sendiri juga bisa menjadi tabir.

Ia memandang kedua telapak tangannya.

Tangan yang telah bertahun-tahun memegang kitab. Tangan yang mengangkat takbir. Tangan yang membolak-balik halaman tafsir satu persatu.

Tiba-tiba ia merasa tidak mengenal pemilik tangan itu.

Pada malam Jumat, selepas Isya, guyuran hujan turun cukup deras membasahi seluruh asrama.

Sebagian besar santri telah kembali ke kamar. Beberapa pengurus masih berkeliling memastikan tidak ada yang berkeliaran di luar asrama.

Syamsuri sedang duduk di kamar pojok pesantren.

Kitab Sirrul Asror terbuka di hadapannya.

Ia membaca satu bagian tentang mengenal diri sebagai jalan untuk mengenal Tuhan.

Lama ia terdiam.

Di luar, suara hujan menghantam genting.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki.

Pelan.

Berhenti.

Kemudian terdengar suara seseorang memanggil.

“Ustadz Syamsuri…”

Ia menoleh.

Tidak ada siapa-siapa.

Mungkin santri yang lewat.

Ia kembali membaca.

Beberapa menit kemudian, suara itu terdengar lagi.

“Ustadz…”

Kali ini lebih dekat.

Syamsuri berdiri. Ia membuka pintu perpustakaan.

Lorong kosong.

Lampu di ujung koridor berkedip sekali, lalu kembali menyala.

“Siapa?”

Tidak ada jawaban.

Ia melangkah keluar.

Di dekat rak buku paling ujung, sebuah kitab tergeletak di lantai. Ia yakin tadi tidak ada kitab di sana.

Ia mengambilnya.

Ternyata Tafsir Jalalain.

Kitab itu terbuka pada halaman yang pernah ia ajarkan beberapa hari sebelumnya.

Ia hendak menutupnya ketika melihat sesuatu.

Ada tulisan kecil di bagian pinggir halaman.

Tulisan tangan.

Apakah orang yang mengajarkan cahaya pernah memeriksa gelap di dalam dirinya sendiri?

Syamsuri membeku.

Ia mengenali tulisan itu.

Tulisan tangannya sendiri.

Ia memeriksa sekali lagi.

Benar. Bentuk hurufnya, cara menulis huruf mim, bahkan kebiasaan menarik garis kecil di akhir kalimat.

Tetapi ia tidak ingat entah kapan pernah menuliskan kalimat tersebut.

Jantungnya mulai berdegup lebih cepat.

Ia membawa kitab itu ke meja.

Dibolak-baliknya halaman lain.

Tidak ada tulisan tambahan.

Ia mencoba berpikir rasional. Mungkin ia pernah mencatat sesuatu ketika mengajar dan lupa.

Tetapi mengapa kalimat itu terasa begitu dekat?

Seperti sesuatu yang pernah ia pikirkan, tetapi tidak pernah berani ia ucapkan.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Faiq.

Kang, maaf ganggu waktunya. Saya ingin nanya tentang kitab yang kemarin Kang.

Syamsuri membalas:

Besok aja ya Iq. Wis bengi (sudah malam).

Beberapa detik kemudian, balasan masuk.

Baik, Kang. Tapi ada satu hal yang ingin saya sampaikan. Sebelum kakek meninggal, beliau pernah berpesan agar kitab itu diberikan kepada seseorang yang sudah lama mengajar di pondok, tapi mungkin lupa bertanya kepada dirinya sendiri.

Syamsuri membaca pesan itu berulang kali.

Ia mengetik:

Siapa yang dimaksud kakekmu?

Pesan terkirim.

Tidak ada balasan.

Ia menunggu.

Satu menit.

Dua menit.

Kemudian ponselnya kembali bergetar.

Saya juga nggak tahu, Kang.

Syamsuri mengembuskan napas panjang.

Ia menutup kitab, lalu memasukkannya ke dalam tas.

Tetapi sebelum keluar dari kamar, ia menoleh sekali lagi ke arah rak paling ujung.

Entah mengapa, ia merasa ada seseorang yang sedang berdiri di sana.

Seseorang yang sangat dikenalnya.

Sejak malam itu, tidur Syamsuri tidak lagi nyenyak.

Ia beberapa kali terbangun sebelum tengah malam. Bukan karena mimpi buruk, melainkan karena sebuah pertanyaan yang terus berputar di kepalanya.

Bagaimana jika selama ini aku hanya sibuk membangun citra sebagai orang bejubah sholih?

Ia mencoba mengingat perjalanan hidupnya.

Masa kecilnya.

Hari-hari pertama belajar mengaji di Lirboyo.

Perjuangannya memahami kitab-kitab gundul.

Malam-malam ketika ia tidur di atas tikar dengan lampu patromak.

Hari ketika seorang guru memujinya karena berhasil membaca satu halaman kitab tanpa kesalahan.

Ia mengingat semuanya.

Namun, ada satu hal yang terasa janggal.

Semakin ia mengingat masa lalu, semakin banyak kenangan yang membuatnya malu.

Ia pernah merasa bangga ketika dipuji.

Pernah kesal ketika santri lebih menyukai pengajian guru lain.

Pernah memperpanjang doa ketika mengetahui ada orang yang memperhatikannya.

Pernah merasa tersinggung karena seseorang tidak menyalaminya ketika berpapasan.

Pernah menganggap dirinya lebih memahami agama dibandingkan orang lain.

Hal-hal kecil.

Tidak semuanya merupakan dosa yang jelas. Sebagian mungkin hanya lintasan hati manusia.

Tetapi mengapa semuanya terasa seperti sedang menumpuk menjadi satu beban?

Malam itu ia membuka kembali Sirrul Asror.

Ia membaca lebih lama daripada biasanya.

Sampai pada satu bagian, ia menemukan kalimat yang membuat tangannya berhenti.

Ia membaca sekali.

Lalu sekali lagi.

Dadanya terasa sesak.

Bukan karena kalimat itu menyatakan dirinya sebagai orang munafik. Bukan pula karena kitab tersebut sedang memberikan vonis atas ibadahnya.

Justru karena ia menyadari sesuatu yang lebih mengerikan:

Selama ini ia selalu sibuk menilai kualitas ibadah orang lain, tetapi hampir tidak pernah berani mengakui bahwa dirinya sendiri masih penuh dengan ketidaktahuan tentang isi hatinya.

Ia menutup kitab.

“Ya Alloh, ya kariim…”

Suaranya nyaris tidak terdengar.

Ia menangis sesenggukan seorang diri.

Bukan tangisan panjang seperti dalam kisah-kisah para wali yang sering ia ceritakan kepada santri. Hanya beberapa tetes air mata yang jatuh tanpa suara.

Ia tidak tahu apakah tangisan itu pertanda penyesalan, ketakutan, atau justru bentuk lain dari keinginan untuk merasa istimewa.

Pikiran terakhir itu membuatnya berhenti menangis.

Bahkan dalam tangisan pun ia masih sempat mencurigai dirinya sendiri.

Ia tertawa kecil.

Tawa yang terdengar begitu asing.

“Ya Alloh, ternyata aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya menangis dengan benar.”

Pagi berikutnya, Syamsuri tidak datang paling awal ke masjid.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, seorang santri yang bertugas membersihkan masjid justru mendapati tempat biasa Ustadz Syamsuri masih kosong ketika adzan Subuh berkumandang.

Santri itu berlari ke kantor pengurus.

“Kang Syamsuri belum datang!”

Kabar itu segera menyebar.

Beberapa santri mengira beliau sakit. Yang lain menduga beliau sedang ada urusan keluarganya di rumah.

Namun, tidak ada yang tahu bahwa malam itu Syamsuri hanya tidur sekitar satu jam.

Ia baru keluar dari kamarnya menjelang matahari terbit.

Wajahnya pucat.

Matanya sembap.

Seorang santri menghampirinya.

“Kang, apa lagi sakit?”

“Kenapa?”

“Wajah Kang Syam seperti orang habis kehilangan sesuatu.”

Syamsuri tersenyum hambar.

“Mungkin memang sedang mencari sesuatu.”

“Apa, Kang?”

Ia memandang santri itu cukup lama.

“Entahlah. Kalau ketemu, nanti tak kabari.”

Santri tersebut mengangguk, lalu pergi.

Syamsuri berjalan menuju masjid.

Di dalam, beberapa santri sedang membaca Al-Qur’an. Ia duduk di saf paling belakang.

Tidak seperti biasanya, ia tidak membuka kitab.

Ia hanya memandangi sajadahnya sendiri.

Ia merasa aneh berada di tempat yang selama ini menjadi pusat kehidupannya.

Tempat yang dahulu selalu membuatnya tenang.

Kini justru menjadi tempat yang membuatnya berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan paling sulit.

Beberapa menit kemudian, Faiq datang.

Ia duduk di sebelahnya.

“Kang Syam.”

Syamsuri menoleh.

“Iya iq, kenapa?”

“Sudah dibaca Kang kitabnya?”

“Sudah.”
Gimana isinya?”

Syamsuri menghela napas.

“Sepertinya saya perlu membacanya lebih banyak lagi Iq.”

Faqih mengangguk.

“Apakah ada yang sulit dipahami?”

Syamsuri tersenyum tipis.

“Ada.”

“Apa, Kang?”

Syamsuri menatap kitab tua yang dibawa Faqih.

“Diri sendiri.”

Faiq tidak menjawab.

Mereka duduk dalam diam.

Lalu Faiq berkata pelan, “Kang, kakek saya dulu juga pernah mengatakan hal yang sama.”

Syamsuri menoleh cepat.

“Hah, maksude priben (maksudnya gimana)?”

Faiq membuka tasnya dan mengeluarkan selembar kertas tua.

Kertas itu terlipat empat. Warnanya kekuningan, dengan beberapa bagian yang mulai rapuh.

“Ini saya temukan di dalam sampul kitab. Saya sebenarnya belum sempat memberikannya.”

Syamsuri menerima kertas tersebut.

Di sana tertulis sebuah kalimat:

Jangan takut ketika engkau menemukan keburukan dalam dirimu. Takutlah ketika engkau merasa sudah tidak memiliki sesuatu pun yang perlu diperbaiki.

Di bawahnya terdapat tanggal dan sebuah nama.

Syamsuri membaca nama itu.

Wajahnya berubah.

Ia mengenal nama tersebut.

Nama seorang guru yang dulu pernah mengajarinya membaca kitab ketika masih di pesantren Pati, Kajen.

Seorang guru yang sudah meninggal puluhan tahun lalu.

Tetapi bukan itu yang membuatnya gemetar.

Di bawah nama tersebut ada satu kalimat lagi, ditulis dengan tinta yang lebih baru.

Untuk muridku yang kelak menjadi guru bagi banyak orang.

Syamsuri menatap Faiq.

“Siapa yang menulis ini?”

Fauq menggeleng.

“Saya juga gak tau, Kang. Tulisan itu sudah ada sejak saya menemukan kitabnya.”

“Apakah kakekmu kenla guru saya?”

“Kayaknya sih enggak Kang.”

Syamsuri kembali memandangi kertas tersebut.

Ia merasa seperti sedang membaca pesan yang ditujukan kepadanya bertahun-tahun sebelum ia sendiri menyadari bahwa ia membutuhkannya.

Namun, satu hal yang membuatnya semakin gelisah adalah tanggal pada kertas itu.

Tanggal tersebut lebih tua daripada tahun kelahiran Faiq.

Dan lebih tua daripada tahun ketika Syamsuri pertama kali mengajar di pesantren.

Malam itu, Syamsuri kembali ke perpustakaan.

Hujan tidak turun. Udara Kaplongan terasa lengang. Dari kejauhan terdengar suara santri yang masih mengulang-ulang hafalan.

Ia membawa Sirrul Asror, Tafsir Jalalain, dan kertas tua pemberian Faiq.

Ia duduk di tempat yang sama seperti malam sebelumnya.

Kali ini, ia tidak merasa takut.

Atau setidaknya, ia berusaha untuk tidak takut.

Ia membuka kitab tua itu pada bagian yang sebelumnya telah dibacanya berulang kali.

Tentang tobat.

Tentang hati.

Tentang hijab yang tidak selalu datang dalam bentuk dosa yang terlihat.

Ia membaca perlahan.

Kemudian menutup mata.

Tidak ada keinginan untuk menambah rakaat. Tidak ada keinginan memperpanjang wirid. Tidak ada pula hasrat untuk menjadi lebih alim daripada kemarin.

Untuk pertama kalinya, ia ingin berdoa tanpa memikirkan bagaimana doa itu terdengar.

“Ya Alloh, aku tidak tahu apakah selama ini aku telah mengenal-Mu dengan benar. Aku hanya tahu bahwa aku terlalu sering merasa telah mengenal-Mu.”

Ia berhenti.

Air matanya kembali jatuh.

“Aku mengajari orang lain tentang ikhlas, tetapi aku tidak tahu berapa banyak bagian dari diriku yang masih mengharapkan pujian. Aku mengajari mereka tentang tawaduk, tetapi mungkin aku terlalu lama menikmati penghormatan.”

Ia menunduk.

“Kalau selama ini aku keliru, jangan biarkan kekeliruanku menjadi jalan bagi orang lain untuk tersesat.”

Ia tidak melanjutkan doanya.

Hanya diam.

Lama sekali.

Sampai terdengar suara langkah kaki di luar perpustakaan.

Kali ini jelas.

Seseorang berjalan mendekati pintu.

Syamsuri mengangkat kepala.

“Siapa?”

Tidak ada jawaban.

Ia berdiri.

Pintu perpustakaan sedikit terbuka. Padahal ia yakin telah menutupnya sejak masuk.

Ia melangkah mendekat.

Di ambang pintu tidak ada siapa-siapa.

Namun, di lantai terdapat sebuah benda.

Selembar kertas.

Ia mengambilnya.

Tulisan di atasnya membuat seluruh tubuhnya mendadak kaku.

Ustadz Syamsuri, jika malam ini Anda telah selesai membaca kitab itu, jangan lupa membuka halaman terakhir.

Ia menoleh ke arah meja.

Kitab Sirrul Asror masih terbuka.

Halaman terakhirnya tampak sedikit terangkat, seolah baru saja dibalik seseorang.

Syamsuri kembali duduk.

Tangannya gemetar ketika membuka halaman tersebut.

Di sana terdapat sebuah catatan kecil yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Tulisan tangan yang sama dengan tulisan pada Tafsir Jalalain.

Tulisan tangannya sendiri.

Ia membaca perlahan:

Ada orang yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mencari Alloh, tetapi tidak pernah selesai mencari dirinya sendiri.

Di bawahnya terdapat kalimat lain.

Lebih pendek.

Lebih mengganggu.

Dan ada orang yang begitu sibuk mengajarkan jalan menuju Tuhan, sampai lupa bertanya: siapa sebenarnya yang sedang berjalan?

Syamsuri menutup kitab.

Dadanya naik turun.

Ia berdiri, kemudian berjalan menuju jendela perpustakaan.

Di luar, halaman pesantren tampak kosong.

Namun, dari arah masjid, ia melihat seseorang sedang duduk di serambi.

Sosok itu mengenakan sarung dan peci hitam.

Posturnya sedikit membungkuk.

Kedua tangannya memegang sebuah kitab.

Syamsuri menyipitkan mata.

Sosok itu mengangkat kepala.

Dan untuk sesaat, ia merasa sedang menatap dirinya sendiri.

Ia mundur satu langkah.

Ketika kembali melihat ke arah serambi, sosok tersebut telah menghilang.

Ia bergegas keluar dari perpustakaan.

Tidak ada siapa pun di sana.

Hanya sebuah kitab terbuka di atas sajadah.

Syamsuri mendekat.

Itu Tafsir Jalalain miliknya.

Pada halaman yang terbuka, terdapat catatan kecil yang ditulis dengan tinta hitam.

Besok pagi, ajarkan kembali tentang ikhlas.

Ia mengusap wajah.

Mungkin ia terlalu lelah.

Mungkin pikirannya sedang mempermainkannya.

Mungkin ada santri yang sedang mengerjainya.

Tetapi ketika ia membalik halaman berikutnya, napasnya tertahan.

Di bagian bawah halaman terdapat satu kalimat yang membuatnya tidak sanggup bergerak:

Jangan sampai engkau mengira bahwa tangismu malam ini adalah bukti bahwa engkau telah ikhlas.

Ia menatap tulisan itu lama sekali.

Kemudian perlahan memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu apakah harus merasa lega karena mulai menyadari kekurangan dirinya, atau justru takut karena bahkan kesadaran itu pun mungkin masih menyimpan kesombongan.

Adzan Subuh belum terdengar.

Pesantren masih tidur.

Di hadapannya, kitab-kitab tersusun rapi. Ilmu yang telah dipelajarinya selama puluhan tahun seolah berdiri sebagai saksi bisu.

Syamsuri mengambil tasbih dari saku bajunya.

Ia memegangnya sebentar.

Lalu meletakkannya kembali.

Ia tidak tahu harus memulai dari mana.

Pagi nanti, para santri akan menunggunya di kelas Tafsir Jalalain. Mereka akan duduk bersila, membuka kitab, menyiapkan pena, dan menunggu penjelasan darinya sebagaimana hari-hari sebelumnya.

Mereka akan memanggilnya Ustadz.

Mereka akan menganggapnya sebagai orang yang memahami banyak hal.

Tetapi malam itu, di tengah perpustakaan yang sunyi, Syamsuri hanya ingin menemukan satu jawaban.

Jika ibadah bisa menjadi tabir ketika hati lalai, lalu bagaimana seseorang mengetahui bahwa dirinya telah benar-benar hadir di hadapan Alloh—tanpa diam-diam merasa bahwa ia sudah sampai?

Ia menatap kitab tua itu sekali lagi.

Halaman terakhirnya masih terbuka.

Namun, di sudut paling bawah, ada satu baris tulisan yang sebelumnya tidak ada.

Tulisan itu tampak basah.

Seperti baru saja ditulis.

Jangan berhenti membaca, Syamsuri. Masih ada satu halaman yang belum engkau temukan.

Dan entah mengapa, malam itu ia merasa bahwa yang paling ia takuti bukanlah menemukan halaman tersebut.

Melainkan menemukan siapa yang menulisnya.

Tamat.

Share:

More Posts

script>
Info Pendaftaran Santri BaruAda pertanyaan? Chat kami sekarang! 😊