“Bukanlah anak muda yang mengatakan, ‘Inilah ayahku.’ Akan tetapi, anak muda adalah yang mengatakan, ‘Inilah aku.’” — Ungkapan yang populer dinisbatkan kepada Sayyidina Ali bin Abi Tholib
Ada masa ketika menjadi muda berarti berani menentang keadaan. Ada pula masa ketika keberanian justru diuji oleh kemampuan untuk tidak ikut-ikutan. Sebab, tidak semua yang ramai layak diikuti, tidak semua yang viral pantas dibenarkan, dan tidak semua yang disebut kemajuan membawa manusia ke arah yang lebih baik.
Hari ini, Rabu, 28 Oktober 2026, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Sumpah Pemuda. Sebuah peristiwa bersejarah yang mengingatkan kita bahwa Indonesia tidak lahir hanya dari kesepakatan para pemimpin, tetapi juga dari keberanian anak-anak muda untuk membayangkan sebuah bangsa yang melampaui sekat suku, bahasa, dan daerah.
Pada 28 Oktober 1928, para pemuda mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia. Mereka belum memiliki kemewahan teknologi seperti generasi sekarang. Namun, mereka memiliki sesuatu yang tidak kalah penting: kesadaran bahwa masa depan tidak boleh dibiarkan berjalan tanpa arah.
Hampir seabad kemudian, tantangannya berubah. Pemuda tidak lagi hanya berhadapan dengan kolonialisme dalam bentuk penjajahan fisik. Mereka juga berhadapan dengan banjir informasi, budaya konsumtif, persaingan global, krisis keteladanan, dan godaan untuk mengukur harga diri melalui pengakuan orang lain.
Lantas, bagaimana Islam memandang peran pemuda? Apakah masa muda sekadar masa untuk menikmati kebebasan, mengejar kesuksesan, dan mengumpulkan pengalaman? Ataukah ada tanggung jawab yang lebih besar di balik energi dan kesempatan yang dimilikinya?
Al-Qur’an dan hadits Nabi memberikan jawaban yang menarik: masa muda bukan hanya fase pertumbuhan manusia, melainkan kesempatan untuk membentuk iman, memperjuangkan kebenaran, dan menghadirkan manfaat bagi kehidupan.
Pemuda dan Keberanian Memihak Kebenaran
Al-Qur’an mengisahkan sekelompok pemuda yang memilih mempertahankan iman di tengah masyarakat yang menyimpang. Mereka dikenal sebagai Ashabul Kahfi, para penghuni gua yang kisahnya diabadikan dalam Surah Al-Kahfi.
Alloh SWT berfirman:
نَّحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُم بِٱلْحَقِّۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى
Artinya: “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (QS. Al-Kahfi Ayat 13)
Ada kata yang patut diperhatikan dalam ayat tersebut, yakni fityah, bentuk jamak dari fata yang berarti pemuda. Al-Qur’an tidak memperkenalkan mereka melalui kekayaan, kedudukan, atau kekuatan politik. Mereka dikenalkan melalui iman.
Di tengah masyarakat yang menekan keyakinan mereka, para pemuda itu tidak menjadikan keadaan sebagai alasan untuk menyerah. Mereka mengambil sikap, meskipun pilihan tersebut mengandung risiko.
Imam Ibnu Katsir, ketika menafsirkan ayat ini, menjelaskan keistimewaan para pemuda tersebut dalam mempertahankan iman. Kisah mereka menunjukkan bahwa usia muda tidak menghalangi seseorang untuk memiliki keteguhan prinsip dan keberanian menghadapi kebatilan.
Dalam sejarah dakwah Rosululloh SAW, semangat itu juga dapat ditemukan pada para sahabat yang menerima Islam ketika masih muda. Ali bin Abi Tholib, Zaid bin Haritsah, dan Mus’ab bin ‘Umair merupakan beberapa tokoh yang memperlihatkan bagaimana keyakinan dapat mengubah arah kehidupan seseorang sekaligus memberi pengaruh kepada masyarakat.
Mus’ab bin ‘Umair, misalnya, berasal dari lingkungan yang berkecukupan di Makkah. Namun, setelah menerima Islam, ia bersedia menghadapi perubahan besar dalam kehidupannya. Rosululloh SAW kemudian mengutusnya ke Madinah untuk mengajarkan Islam sebelum hijrah. Dakwahnya ikut membuka jalan bagi pertumbuhan masyarakat Muslim di kota tersebut.
Sejarah ini mengajarkan satu hal: pemuda tidak harus menunggu tua untuk memberi arti bagi kehidupan. Yang dibutuhkan bukan semata-mata usia, melainkan keberanian mengambil tanggung jawab dan kesediaan mempertahankan nilai yang diyakini benar.
Tetapi keberanian pun perlu diperiksa. Sebab, tidak setiap perlawanan adalah perjuangan, sebagaimana tidak setiap perbedaan pendapat merupakan kebatilan. Dalam Islam, keberanian harus berjalan bersama ilmu, adab, dan keadilan. Tanpa ketiganya, semangat muda dapat berubah menjadi amarah yang kehilangan arah.
Masa Muda: Kekuatan yang Tidak Bertahan Selamanya
Alloh SWT mengingatkan manusia bahwa kekuatan fisik merupakan bagian dari perjalanan hidup yang terus berubah.
Dalam Al-Qur’an disebutkan:
ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ
Artinya: “Alloh, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Ar-Rum Ayat 54)
Ayat ini mengajak manusia memahami bahwa kekuatan bukan sesuatu yang abadi. Manusia bermula dari kelemahan, tumbuh menjadi kuat, kemudian kembali mengalami kelemahan.
Masa muda berada pada fase ketika tenaga, kesempatan, dan kemampuan untuk belajar umumnya berkembang pesat. Namun, semua itu bukan jaminan bahwa seseorang akan tumbuh menjadi pribadi yang bijaksana.
Seseorang bisa memiliki tubuh yang kuat, tetapi lemah ketika berhadapan dengan godaan. Bisa memiliki kecerdasan tinggi, tetapi tidak sanggup mengendalikan ucapan. Bisa pula menguasai teknologi, tetapi menggunakannya untuk menyebarkan kebencian atau mempermalukan orang lain.
Di sinilah persoalan masa muda menjadi lebih dalam daripada sekadar persoalan usia. Kekuatan fisik perlu diarahkan oleh kejernihan berpikir, sementara kecerdasan perlu disertai tanggung jawab moral.
Maka, pertanyaan penting bagi pemuda bukan hanya, “Apa yang bisa saya capai ketika masih muda?” Melainkan juga, “Apa yang sedang saya bangun dengan seluruh kemampuan yang saya miliki?”
Sebab, masa muda pada akhirnya akan berlalu. Yang tertinggal ialah watak yang dibentuk, ilmu yang diamalkan, hubungan yang dijaga, dan manfaat yang pernah diberikan.
Menjaga Takwa di Tengah Godaan Zaman
Masa muda sering kali berhadapan dengan pergulatan batin. Keinginan untuk diterima lingkungan, dorongan mencari kesenangan, rasa ingin tahu, dan hasrat memperoleh pengakuan dapat memengaruhi keputusan seseorang.
Namun, tidak tepat jika seluruh anak muda dianggap tidak stabil atau mudah terjerumus dalam kemaksiatan. Setiap manusia memiliki pergulatan dan proses pendewasaan masing-masing. Justru, Islam memberikan penghargaan khusus kepada mereka yang mampu menjaga iman dan mengendalikan diri di tengah godaan.
Rosululloh SAW bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ، الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ، اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ.
Artinya: “Dari Abu Hurairah RA, Rosululloh SAW bersabda, ‘Ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan Alloh pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya: pemimpin yang adil; pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Alloh; seseorang yang hatinya terpaut pada masjid; dua orang yang saling mencintai karena Alloh, berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya; seorang laki-laki yang diajak berzina oleh perempuan yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu ia berkata, “Sesungguhnya aku takut kepada Alloh”; seseorang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan tangan kanannya; dan seseorang yang mengingat Alloh dalam kesendirian hingga kedua matanya bercucuran air mata.’” (HR. Imam al-Bukhori dan Muslim)
Perhatikan bagaimana hadits ini menempatkan pemuda yang tumbuh dalam ibadah sebagai salah satu golongan yang memperoleh kemuliaan pada hari kiamat.
Ibadah di sini tidak seharusnya dipersempit menjadi gerakan ritual semata. Ibadah memang mencakup sholat, puasa, dzikir, dan berbagai bentuk penghambaan kepada Alloh. Namun, kesadaran kepada-Nya juga semestinya tercermin dalam cara seseorang mencari ilmu, menjaga amanah, memperlakukan orang lain, dan menggunakan kekuasaannya.
Seorang pemuda yang menolak menyontek ketika teman-temannya menganggap kecurangan sebagai hal biasa sedang belajar menjaga integritas. Seorang santri yang menahan diri dari menyebarkan fitnah di media sosial sedang berlatih mengendalikan lisan dalam bentuk yang baru. Seseorang yang menolak korupsi, manipulasi, atau penyalahgunaan kepercayaan karena takut kepada Allah sedang menerjemahkan takwa ke dalam kehidupan nyata.
Godaan zaman boleh berubah bentuk, tetapi kebutuhan manusia untuk mengendalikan diri tetap sama.
Takwa, dengan demikian, bukan sikap menjauh dari kehidupan. Takwa justru menjadi kompas agar seseorang dapat menjalani kehidupan tanpa kehilangan arah.
Dari Sumpah Pemuda ke Tanggung Jawab Kebangsaan
Sumpah Pemuda bukan sekadar peristiwa sejarah yang diulang setiap Oktober. Ia adalah pengingat bahwa persatuan membutuhkan kesediaan untuk melampaui kepentingan diri dan kelompok.
Para pemuda pada 1928 memperlihatkan bahwa perbedaan latar belakang tidak harus berakhir dalam perpecahan. Mereka datang dari lingkungan dan organisasi yang beragam, tetapi menemukan cita-cita bersama sebagai sebuah bangsa.
Dalam perspektif Islam, semangat tersebut sejalan dengan ajaran untuk saling mengenal, bekerja sama dalam kebaikan, dan menegakkan keadilan. Cinta tanah air pun menemukan maknanya ketika diwujudkan melalui tanggung jawab, bukan sekadar slogan.
Pemuda hari ini memiliki ruang perjuangan yang berbeda. Ada yang bekerja di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, teknologi, kebudayaan, pelayanan publik, dan dakwah. Tidak semuanya harus menjadi pejabat atau tokoh terkenal. Sebuah bangsa juga dibangun oleh orang-orang yang bekerja dengan jujur, mendidik dengan sungguh-sungguh, merawat lingkungan, dan membantu masyarakat menyelesaikan persoalan sehari-hari.
Di tengah perkembangan teknologi digital, tanggung jawab itu semakin nyata. Satu unggahan dapat menyebarkan pengetahuan, tetapi juga dapat melanggengkan prasangka. Sebuah video dapat membuka ruang dialog, tetapi dapat pula memicu permusuhan. Teknologi pada dasarnya menyediakan alat; manusialah yang menentukan ke mana alat itu diarahkan.
Karena itu, pemuda Muslim perlu memiliki kecakapan digital sekaligus kedewasaan moral. Tidak cukup hanya cepat mengikuti tren. Mereka juga harus mampu memeriksa kebenaran informasi, menghormati perbedaan, menjaga privasi, dan menolak menjadikan penghinaan sebagai hiburan.
Bangsa yang besar tidak hanya memerlukan generasi yang cakap menggunakan teknologi, tetapi juga generasi yang tahu kapan harus berbicara, kapan harus mendengar, dan kapan harus mengakui kesalahan.
Santri dan Tugas Merawat Masa Depan
Di lingkungan pesantren, pembicaraan tentang pemuda memiliki dimensi tersendiri. Santri tidak hanya belajar membaca kitab, memahami fikih, atau menghafal materi keagamaan. Mereka juga belajar hidup bersama, menghormati guru, menjaga disiplin, mengelola waktu, dan menempatkan kepentingan bersama di atas kenyamanan pribadi.
Pendidikan semacam ini penting karena pengetahuan tanpa akhlak dapat kehilangan arah, sedangkan semangat tanpa ilmu dapat berubah menjadi tindakan yang gegabah.
Namun, pesantren juga tidak boleh berhenti pada kebanggaan terhadap tradisi. Tantangan generasi muda menuntut kemampuan untuk menghubungkan khazanah keilmuan Islam dengan persoalan nyata masyarakat. Pemahaman kitab kuning perlu berdialog dengan perkembangan ekonomi, pendidikan, teknologi, lingkungan, dan kehidupan sosial.
Santri yang memahami fikih muamalah, misalnya, dapat ikut membangun praktik ekonomi yang jujur. Santri yang menguasai ilmu agama sekaligus literasi digital dapat menyebarkan dakwah yang mencerahkan. Santri yang terbiasa hidup sederhana dapat menjadi contoh bahwa keberhasilan tidak selalu harus diukur melalui kemewahan.
Di sinilah pendidikan pesantren menemukan salah satu peran strategisnya: membentuk generasi yang berakar pada nilai agama, terbuka terhadap pengetahuan, dan siap mengabdi kepada masyarakat.
Bagi santri Darul Ma’arif Kaplongan Indramayu dan generasi muda Indonesia pada umumnya, Hari Sumpah Pemuda dapat menjadi kesempatan untuk bertanya kembali: sudahkah ilmu yang dipelajari membawa manfaat bagi orang lain? Sudahkah kecakapan yang dimiliki digunakan untuk memperbaiki keadaan? Dan sudahkah keberagamaan tercermin dalam sikap sehari-hari?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak harus dijawab dengan pidato besar. Terkadang, jawabannya justru dimulai dari hal sederhana: belajar dengan sungguh-sungguh, menghormati orang tua dan guru, menjaga kebersihan, menolong teman, bersikap jujur, serta menggunakan media sosial secara bertanggung jawab.
Menjadi Muda, Menjadi Berguna
Pada akhirnya, masa muda bukan hanya tentang apa yang dapat dilakukan seseorang, melainkan juga tentang apa yang bersedia ia pertanggungjawabkan.
Islam tidak mengajarkan pemuda untuk memadamkan semangatnya. Islam mengajarkan agar semangat itu memiliki arah. Keberanian perlu disertai kebijaksanaan, kecerdasan perlu dibimbing kejujuran, dan cita-cita perlu dijalankan bersama kepedulian kepada sesama.
Kisah Ashabul Kahfi mengajarkan keteguhan iman. Ayat tentang perubahan fase kehidupan mengingatkan bahwa kekuatan fisik tidak berlangsung selamanya. Hadits tentang tujuh golongan yang memperoleh naungan Alloh menegaskan keutamaan pemuda yang menjaga ibadah dan takwa. Sementara Sumpah Pemuda mengingatkan bahwa masa depan bangsa membutuhkan kesediaan untuk bersatu dan bekerja bagi kepentingan bersama.
Maka, ukuran keberhasilan generasi muda tidak cukup dilihat dari seberapa cepat mereka terkenal, seberapa tinggi jabatan yang diraih, atau seberapa banyak pengikut yang dimiliki. Ada ukuran lain yang lebih mendasar: apakah kehadirannya membuat kehidupan menjadi lebih baik?
Sebab, bangsa tidak hanya membutuhkan pemuda yang ingin mengubah dunia. Bangsa juga membutuhkan pemuda yang bersedia memulai perubahan dari dirinya sendiri.
Dan barangkali, di situlah makna terdalam Hari Sumpah Pemuda: bukan sekadar merayakan usia muda, melainkan mengingatkan bahwa masa depan selalu meminta sesuatu dari mereka yang sedang memilikinya.
Selamat Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026.
Beriman dalam keyakinan, berilmu dalam pemikiran, berakhlak dalam tindakan, dan bermanfaat bagi bangsa.
Semoga Bermanfaat. Wallohu a’lam.
Referensi
- Al-Qur’an, Surah Al-Kahfi [18]: 13.
- Al-Qur’an, Surah Ar-Rum [30]: 54.
- Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an al-‘Azhim, tafsir Surah Al-Kahfi ayat 13, tt. 2000, juz IX, hlm. 109.
- Al-Bukhori, Shahih al-Bukhori, hadits no. 660; Muslim, Shahih Muslim, hadits no. 1031.
- Ikrar Sumpah Pemuda, Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928.



