Mendidik dengan Kasih Sayang, Ini Rahasia Tarbiyah Rosululloh SAW
bagi Anak-anak yang Terluka (Penutup)
darulmaarif.net – Indramayu, 19 Agustus 2026 | 10.00 WIB
Penulis: Ust. Ade Reza Muhammad, Lc.
“Seorang guru mungkin tidak akan dikenang karena semua pelajaran yang pernah ia sampaikan. Namun ia akan selalu dikenang karena cara ia memperlakukan murid-muridnya.”
Di penghujung perjalanan pembahasan ini, kita kembali pada satu pertanyaan mendasar: apa sebenarnya tujuan seorang pendidik di pesantren?
Apakah sekadar memastikan santri mampu membaca kitab kuning? Apakah cukup jika mereka hafal ribuan bait nadzom? Apakah selesai ketika mereka memperoleh ijazah dan kembali ke masyarakat?
Jawaban Al-Qur’an dan Hadits Nabi menunjukkan bahwa tujuan pendidikan jauh lebih agung daripada itu.
Pendidikan adalah proses menanam iman, menumbuhkan adab, menyucikan jiwa, dan membentuk manusia yang mengenal Tuhan-nya.
Karena itu, keberhasilan seorang ustaz tidak hanya diukur dari berapa banyak murid yang cerdas, tetapi dari berapa banyak hati yang berhasil ia hidupkan.
Alloh SWT mengingatkan,
هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ
Artinya: “Tidak ada balasan bagi kebaikan selain kebaikan pula.” (QS. Ar-Rahman Ayat 60)
Ayat ini mengandung pesan yang dalam bagi setiap pendidik. Kebaikan yang ditanam hari ini mungkin tidak langsung terlihat hasilnya. Namun setiap senyuman, setiap nasihat yang lembut, dan setiap doa yang tulus akan kembali kepada pelakunya dalam bentuk keberkahan yang mungkin tidak pernah disangka.
Warisan Seorang Guru Bukan Gedung, tetapi Manusia
Banyak bangunan megah berdiri di dunia.
Sebagian akan runtuh dimakan zaman.
Banyak buku ditulis.
Sebagian akan hilang bersama waktu.
Namun ada satu warisan yang terus hidup melampaui usia seseorang.
Yaitu manusia yang tumbuh menjadi baik karena pernah dididik dengan kasih sayang.
Imam asy-Syafi’i pernah berpesan,
مَنْ عَلَّمَنِي حَرْفًا صِرْتُ لَهُ عَبْدًا
Ungkapan yang populer ini sering dikutip untuk menggambarkan betapa besarnya jasa seorang guru. Terlepas dari perbedaan pandangan mengenai status penisbatannya kepada Imam asy-Syafi’i, makna yang terkandung di dalamnya sejalan dengan akhlak Islam yang sangat memuliakan orang-orang yang mengajarkan ilmu dan adab.
Di pesantren, jasa seorang guru tidak diukur dari seberapa lama ia mengajar.
Tetapi dari seberapa dalam ia meninggalkan bekas di hati murid-muridnya.
Amal Jariyah Itu Bernama Santri
Rosululloh SAW bersabda,
إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Artinya: “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Imam Muslim)
Hadits ini sering dibaca dalam konteks pendidikan. Seorang ustaz mungkin tidak memiliki harta yang banyak untuk diwakafkan. Namun setiap ilmu yang diajarkan dengan ikhlas, setiap adab yang ditanamkan, dan setiap hati yang berhasil diarahkan kepada Alloh SWT akan terus mengalirkan pahala selama manfaatnya masih dirasakan.
Lebih dari itu, ketika seorang santri tumbuh menjadi ayah yang baik, ibu yang salehah, guru yang amanah, atau pemimpin yang adil, maka jejak pendidikan gurunya turut mengalir dalam setiap kebaikan yang ia lakukan.
Inilah makna ilmu yang melahirkan amal jariyah.
Ketika Seorang Santri Mengingat Gurunya
Bayangkan seorang santri yang telah meninggalkan pesantren selama dua puluh tahun.
Ia mungkin telah menjadi dosen.
Dokter.
Petani.
Pengusaha.
Atau seorang ayah yang sederhana.
Suatu hari anaknya bertanya,
“Ayah, mengapa Ayah selalu sabar kepada kami?”
Mungkin ia akan menjawab,
“Karena dulu ustadzku juga sabar kepadaku.”
Anaknya bertanya lagi,
“Mengapa Ayah selalu membiasakan salat berjamaah?”
Ia tersenyum,
“Karena aku pernah dididik oleh orang-orang yang tidak pernah bosan membangunkanku untuk salat Subuh.”
Tanpa disadari, kasih sayang seorang guru sedang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Inilah pendidikan yang sesungguhnya.
Jangan Pernah Meremehkan Perhatian Kecil
Bagi seorang ustadz, menyapa santri mungkin hanya memerlukan beberapa detik.
Bagi seorang santri yang sedang kehilangan perhatian, sapaan itu bisa menjadi alasan untuk bertahan.
Bagi seorang musyrif, mengajak makan bersama mungkin hanya menghabiskan satu jam.
Bagi santri yang tidak pernah dijenguk keluarganya, satu jam itu bisa menjadi kenangan yang tidak akan pernah hilang.
Bagi seorang guru, mendoakan murid setelah salat mungkin hanya beberapa menit.
Namun bagi murid itu, doa tersebut bisa menjadi sebab Allah membukakan pintu hidayah sepanjang hidupnya.
Islam mengajarkan bahwa tidak ada kebaikan yang terlalu kecil.
Rosululloh SAW bersabda,
لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا
Artinya: “Janganlah engkau meremehkan sedikit pun suatu kebaikan.” (HR. Imam Muslim)
Boleh jadi, kebaikan yang paling besar di sisi Alloh justru lahir dari perhatian yang menurut manusia tampak sederhana.
Pesantren yang Dirindukan
Pesantren yang hebat bukan hanya dikenal karena bangunannya megah.
Bukan pula semata-mata karena banyaknya santri.
Atau karena prestasi yang diraih.
Pesantren akan selalu dikenang apabila setiap orang yang pernah tinggal di dalamnya merasa,
“Di tempat itulah aku belajar menjadi manusia.”
Belajar menghormati guru.
Belajar mencintai ilmu.
Belajar hidup sederhana.
Belajar saling menolong.
Dan yang terpenting,
belajar bahwa Islam adalah agama yang penuh kasih sayang.
Itulah warisan yang tidak akan lapuk dimakan zaman.
Refleksi untuk Para Ustadz dan Musyrif
Barangkali Allah tidak akan bertanya kepada kita,
“Berapa banyak kitab yang berhasil kamu khatamkan bersama santrimu?”
Namun kita patut merenungkan pertanyaan lain.
Apakah ada santri yang pulang dari pesantren dengan hati yang lebih tenang karena kehadiran kita?
Apakah ada anak yang kembali percaya kepada dirinya karena pernah kita semangati?
Apakah ada santri yang menemukan jalan menuju Allah karena pernah kita peluk saat ia merasa sendiri?
Jika jawabannya “ya”, maka mungkin itulah salah satu amal yang kelak paling kita syukuri di hadapan Alloh SWT.
Rosululloh SAW membangun peradaban bukan hanya dengan wahyu yang beliau sampaikan, tetapi juga dengan kasih sayang yang beliau hadirkan.
Beliau tidak hanya mengajarkan manusia cara beribadah kepada Alloh SWT.
Beliau juga mengajarkan bagaimana mencintai manusia karena Alloh SWT.
Pesantren adalah tempat paling mulia untuk meneruskan warisan tersebut.
Di sanalah ilmu diwariskan.
Adab dibiasakan.
Akhlak ditumbuhkan.
Dan hati anak-anak dirawat agar tetap hidup dalam cahaya iman.
Maka, wahai para ustadz, musyrif, guru, dan seluruh pengasuh pesantren, jangan pernah merasa bahwa perhatian kecil yang Anda berikan tidak berarti.
Boleh jadi, santri tidak akan mengingat seluruh pelajaran yang pernah Anda sampaikan.
Namun mereka akan mengingat siapa yang pertama kali mengusap air mata mereka ketika rindu rumah, siapa yang membangunkan mereka dengan kelembutan saat Subuh, siapa yang tetap percaya kepada mereka ketika melakukan kesalahan, dan siapa yang tidak pernah lelah mendoakan mereka di setiap sujudnya.
Karena pada akhirnya, ilmu akan membentuk kecerdasan, tetapi kasih sayang akan membentuk manusia.
Dan dari tangan para murabbi yang penuh cinta itulah lahir generasi yang tidak hanya alim dalam ilmu, tetapi juga lembut dalam akhlak, kokoh dalam iman, serta menjadi rahmat bagi keluarga, masyarakat, dan umat.
Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam.



