Bahasa Kasih Sayang Seorang Murobbi, Ini Rahasia Tarbiyah Rosululloh SAW bagi Anak-anak yang Terluka (Bagian V)

darulmaarif.net – Indramayu, 18 Agustus 2026 | 16.00 WIB

Penulis: Ust. Ade Reza Muhammad, Lc.

“Ilmu akan masuk melalui telinga, tetapi kasih sayang masuk melalui hati. Dan hati selalu lebih dahulu membuka pintu sebelum akal menerima pelajaran.”

Dalam tradisi pesantren, seorang ustaz tidak pernah diposisikan hanya sebagai penyampai materi. Ia adalah murobbi, yaitu pendidik yang menumbuhkan (robba yurobbī) seluruh potensi manusia—akalnya, jiwanya, akhlaknya, dan hubungannya dengan Alloh SWT.

Karena itu, keberhasilan seorang murabbi tidak hanya diukur dari berapa banyak kitab yang telah dikhatamkan santrinya, melainkan dari sejauh mana ia mampu menanamkan adab, membangkitkan harapan, dan membentuk karakter.

Imam Abu Hamid Muhammad al-Ghozali dalam al-Adabu fid Din dalam Majmu’ah Rasail menjelaskan bahwa seorang guru hendaknya memandang murid seperti anaknya sendiri. Ia mengajar karena mengharap ridho Alloh, bukan semata-mata penghormatan manusia.

آداب العالم: لزوم العلم، والعمل بالعلم، ودوام الوقار، ومنع التكبر وترك الدعاء به، والرفق بالمتعلم، والتأنى بالمتعجرف، وإصلاح المسألة للبليد، وبرك الأنفة من قول لا أدري، وتكون همته عندالسؤال خلاصة من السائل لإخلاص السائل، وترك التكلف، واستماع الحجة والقبول لها وإن كانت من الخصم

Artinya: “Adab orang alim (guru), yakni: tidak berhenti menuntut ilmu, bertindak dengan ilmu, senantiasa bersikap tenang, tidak sombong dalam memerintah atau memanggil seseorang, bersikap lembut terhadap murid, tidak membanggakan diri, mengajukan pertanyaan yang bisa dipahami orang yang lamban berpikirnya, merendah dengan mengatakan, ‘Saya tidak tahu,’ bersedia menjawab secara ringkas pertanyaan yang diajukan penanya yang kemampuan berpikirnya masih terbatas, menghindari sikap yang tak wajar, mendengar dan menerima argumentasi dari orang lain meskipun ia seorang lawan.” (al-Adabu fid Din dalam Majmu’ah Rasail Lil Ghozali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, t.th., halaman 431)

Pandangan ini menunjukkan bahwa hubungan guru dan murid dalam Islam dibangun di atas rasa tanggung jawab dan kasih sayang, bukan sekadar kewajiban profesional.

Nilai inilah yang sejak dahulu menghidupi pesantren-pesantren di Nusantara. Para kiai bukan hanya dihormati karena keluasan ilmunya, tetapi juga karena ketulusan mereka mengasuh para santri.

Bahasa Pertama: Mengenal Nama, Mengenal Hati

Rosululloh SAW memiliki kebiasaan yang sangat sederhana tetapi penuh makna: beliau mengenali para sahabatnya secara personal.

Beliau memanggil mereka dengan nama yang baik, bahkan memberikan kunyah (nama panggilan yang mulia) kepada sebagian anak-anak.

Ketika Rosululloh SAW memanggil,

“Yā Abā ‘Umair…”

beliau tidak sedang mengajarkan fikih atau akidah. Beliau sedang menunjukkan bahwa seorang anak layak dihargai sebagai pribadi.

Di pesantren, memanggil santri dengan namanya bukan perkara sepele.

Bayangkan seorang santri baru yang berasal dari pelosok desa. Ia masih canggung, belum memiliki teman dekat, dan merasa asing di lingkungan baru.

Kemudian seorang ustaz menyapanya,

“Bagaimana kabarnya, Faiq?”

Mungkin hanya lima detik.

Namun lima detik itu membuat seorang anak merasa bahwa dirinya dikenal.

Dalam dunia pendidikan, tidak ada perhatian yang terlalu kecil.

Bahasa Kedua: Mendengar Sebelum Menasihati

Salah satu kekeliruan yang sering terjadi dalam pendidikan adalah keinginan untuk segera memberikan jawaban.

Padahal, tidak semua anak membutuhkan jawaban.

Sebagian hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.

Alloh SWT sendiri mengabadikan dialog-dialog para nabi dengan kaumnya dalam Al-Qur’an. Ini menunjukkan bahwa komunikasi adalah bagian penting dari dakwah dan pendidikan.

Musyrif yang baik tidak selalu menjadi orang yang paling banyak berbicara.

Ia justru menjadi orang yang paling siap mendengar.

Ketika seorang santri berkata,

“Saya kangen rumah.”

Jangan buru-buru menjawab,

“Santri harus kuat.”

Barangkali yang ia butuhkan bukan kalimat motivasi.

Tetapi seseorang yang berkata,

“Saya mengerti. Rindu kepada orang tua itu manusiawi.”

Empati bukan berarti melemahkan mental anak.

Empati adalah jembatan menuju nasihat.

Bahasa Ketiga: Menghargai Proses, Bukan Hanya Prestasi

Dalam kehidupan pesantren, penghargaan sering diberikan kepada santri yang juara.

Juara hafalan.
Juara pidato.
Juara lomba.

Padahal perjuangan terbesar sering dilakukan oleh santri yang tidak pernah naik panggung.

Ada santri yang selama tiga bulan berusaha bangun sebelum adzan Subuh.

Ada yang berjuang menghilangkan kebiasaan berkata kasar.

Ada yang perlahan belajar mengendalikan emosinya.

Semua itu adalah prestasi.

Rosululloh SAW selalu memberikan apresiasi terhadap setiap perkembangan kebaikan para sahabat.

Beliau mendoakan mereka.

Memberikan pujian yang proporsional.

Membangkitkan optimisme.

Tidak heran jika para sahabat tumbuh menjadi generasi yang percaya diri sekaligus rendah hati.

Pesantren pun perlu menjadi tempat yang menghargai proses, bukan hanya hasil.

Bahasa Keempat: Hadir pada Saat yang Paling Dibutuhkan

Kasih sayang bukan diukur dari seberapa sering seseorang berbicara.

Tetapi dari kapan ia hadir.

Ada beberapa momen yang sangat menentukan bagi kehidupan seorang santri.

Ketika ia sakit.

Ketika gagal ujian.

Ketika mendapat hukuman.

Ketika keluarganya tertimpa musibah.

Ketika hari kunjungan tetapi tidak ada seorang pun yang datang.

Pada saat-saat seperti inilah seorang murabbi diuji.

Rosululloh SAW dikenal selalu hadir ketika para sahabat menghadapi kesulitan.

Beliau menjenguk orang sakit.

Menghibur yang berduka.

Menyemangati yang gagal.

Mendoakan yang sedang mengalami musibah.

Inilah wajah pendidikan Islam yang sesungguhnya.

Bahasa Kelima: Mendoakan Secara Diam-Diam

Ada satu bentuk kasih sayang yang tidak pernah diketahui oleh seorang anak.

Yaitu doa gurunya.

Para ulama salaf sering mengatakan bahwa keberkahan ilmu bukan hanya berasal dari kecerdasan murid.

Tetapi juga dari doa guru.

Imam Abdullah bin al-Mubarok pernah menegaskan bahwa adab lebih didahulukan daripada banyaknya ilmu. Ungkapan beliau yang masyhur,

نحن إلى قليل من الأدب أحوج منا إلى كثير من العلم

Artinya: “Kita lebih membutuhkan sedikit adab daripada banyak ilmu.”

Ungkapan ini mengingatkan bahwa pendidikan sejati tidak hanya mengisi kepala, tetapi juga membentuk hati. Salah satu bentuk adab seorang guru adalah mendoakan muridnya dengan tulus, terutama ketika murid itu sedang berada dalam masa sulit.

Boleh jadi, doa yang dipanjatkan seorang ustaz di sepertiga malam menjadi sebab Allah membukakan jalan hidayah bagi santrinya.

Pesantren Melahirkan Manusia, Bukan Sekadar Lulusan

Salah satu tantangan pendidikan modern adalah kecenderungan mengukur keberhasilan melalui angka.

Berapa nilai ujian.

Berapa jumlah hafalan.

Berapa piala yang diraih.

Padahal tujuan pendidikan Islam jauh lebih besar.

Alloh SWT berfirman,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا • وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

Artinya: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams Ayat 9–10)

Ayat ini mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan bukan hanya lahirnya manusia yang cerdas, tetapi manusia yang memiliki jiwa yang bersih, akhlak yang mulia, dan hati yang dekat kepada Allah.

Karena itu, tugas pesantren tidak berhenti pada mencetak santri yang mampu membaca kitab kuning atau menghafal Al-Qur’an.

Pesantren dipanggil untuk melahirkan manusia yang kelak mampu menjadi rahmat bagi keluarganya, masyarakatnya, bahkan bangsanya.

Jangan Sampai Ada Anak yang Merasa Sendiri

Setiap tahun ribuan anak datang ke pesantren dengan membawa koper, kitab, dan harapan.

Namun tidak sedikit yang juga membawa kecemasan, kehilangan, dan luka yang tidak terlihat.

Mereka mungkin tidak pernah menceritakannya.

Mereka tetap mengikuti pelajaran.

Tetap tersenyum.

Tetap bercanda bersama teman-temannya.

Tetapi jauh di dalam hati, mereka sedang menunggu satu hal yang sederhana.

Seseorang yang benar-benar peduli.

Barangkali Allah tidak meminta setiap ustaz menyelesaikan seluruh persoalan hidup santrinya.

Namun Alloh memberi kesempatan kepada setiap pendidik untuk menjadi sebab pulihnya hati seorang anak.

Karena itu, jangan pernah meremehkan sapaan setiap pagi.

Jangan menganggap sepele tepukan di bahu.

Jangan merasa doa yang dipanjatkan selepas tahajud tidak berarti.

Boleh jadi, semua perhatian kecil itu menjadi jalan Allah menyelamatkan masa depan seorang santri.

Sebab pada akhirnya, sebagaimana dicontohkan Rosululloh SAW, pendidikan yang paling membekas bukanlah pendidikan yang paling keras, melainkan pendidikan yang paling penuh kasih sayang.

Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam.

Share:

More Posts

script>
Info Pendaftaran Santri BaruAda pertanyaan? Chat kami sekarang! 😊