Makin Ngalim Makin Jauh dari Alloh: Ngeri-Ngeri Sedap Warning Rosululloh untuk Para Penuntut Ilmu

darulmaarif.net – Indramayu, 25 Juli 2026 | 09.00 WIB

Dunia pesantren memiliki ruh yang jauh berbeda dengan institusi pendidikan pada umumnya. Di dalam bilik-bilik kamar dan serambi masjid, para santri tidak sekadar diajarkan untuk menumpuk wawasan kognitif semata. Lebih dari itu, pesantren adalah kawah candradimuka tempat ditempanya karakter, adab, dan spiritualitas. Ada sebuah kaidah luhur yang kerap disuarakan oleh para kyai sejak zaman dahulu, sebuah sanad nasihat yang menjadi fondasi utama dalam kehidupan bermakna:

العلم بالتّعلّم، والبركة بالخدمة، والمنفعة بالطّاعة

Artinya: “Ilmu didapatkan dengan cara belajar, keberkahannya dengan cara berkhidmah, dan manfaatnya dengan ketaatan.”

Nasihat ini bukan sekadar pemanis lisan, melainkan kompas penunjuk arah yang sangat krusial, terutama pada fase pertama perjalanan seorang penuntut ilmu, yaitu ta’allum atau tholabul ilmi.

Menatap fenomena hari ini, tantangan terbesar bagi seorang santri maupun pencari ilmu modern bukanlah keterbatasan fasilitas, melainkan pergeseran orientasi dalam hati mereka.

Tiga Golongan Pencari Ilmu dalam Kacamata Imam Al-Ghozali

Dalam kitab monumentalnya, Bidayatul Hidayah, Hujjatul Islam Imam Al-Ghozali memetakan para pencari ilmu ke dalam tiga kelompok besar. Peta spiritual ini menjadi cermin retak yang sangat tajam bagi kita semua untuk memeriksa kembali, ada di posisi manakah niat kita saat ini?

Golongan pertama adalah mereka yang menjadikan ilmu sebagai bekal murni menuju akhirat (zādun ilal ma’ād).

رجل طلب العلم ليتخذه زاده إلى المعاد

Kelompok inilah yang melangkah dengan ketulusan mutlak demi mengharapkan keridaan Alloh semata. Di dalam tradisi pesantren, golongan ini diibaratkan seperti seorang musafir yang hendak melakukan perjalanan jauh dari Indramayu menuju Jakarta. Sepanjang jalan, ia pasti akan melewati kota Subang, Karawang, dan kota-kota lainnya tanpa perlu sengaja ia cari. Begitulah analogi akhirat dan dunia; barang siapa yang menaruh akhirat sebagai tujuan utamanya, maka dunia secara otomatis akan ikut bersimpuh mengikuti di belakangnya. Mereka inilah golongan yang beruntung, selamat di dunia dan nikmat di akhirat.

Golongan kedua merupakan kelompok yang menuntut ilmu demi menopang urusan keduniawian semata (liyasta’īna bihi ‘alā hayātihil ‘ājilah).

ورجل طلبه ليستعين به على حياته العاجلة

Keberadaan mereka sangat mengkhawatirkan. Ilmu diburu hanya demi selembar ijazah, status sosial, prestise, jabatan, atau karier yang mapan lainnya. Imam Abu Hamid Muhammad Al-Ghozali memperingatkan bahwa nasib golongan ini berada di ujung tanduk. Apa yang mereka kejar di dunia belum tentu berhasil digapai, sementara di akhirat mereka terancam hampa pahala. Kerugian terbesar akan menimpa jika ajal menjemput sebelum kesadaran itu kembali dan pintu taubat telanjur tertutup.

Golongan ketiga adalah mereka yang telah terperangkap dalam tipu daya setan (istahwada ‘alaihisy-syaithān).

ورجل ثالث استحوذ عليه الشيطان

Ilmu yang dimiliki justru diubah menjadi senjata untuk menumpuk kemewahan harta, memamerkan kedudukan yang tinggi, serta menyombongkan diri di hadapan sesama manusia. Golongan ini berada dalam situasi yang paling kritis dan memprihatinkan karena hati mereka kian mengeras serta makin menjauh dari pancaran hidayah Alloh SWT.

Kondisi golongan ketiga ini dipertegas oleh sabda baginda Rosululloh SAW melalui riwayat Abu Dzar Al-Ghifari:

مَنِ ازدادَ عِلماً ولَم يَزدَدْ هُدىً، لَم يَزدَدْ مِنَ اللَّهِ إلّا بُعداً

Artinya: “Barangsiapa yang bertambah ilmunya namun tidak bertambah hidayahnya, maka tidak ada yang bertambah padanya kecuali jarak yang semakin jauh dari Alloh.” (Al-Hadits, dikutip dari kitab Bidayatul Hidayah: Al-Ghozali, Darul Fikr: Beirut, 2016)

Sebuah ironi yang sangat menakutkan ketika kedekatan dengan kitab suci dan literatur agama justru menjadi hijab yang menjauhkan seorang hamba dari Sang Pencipta.

Harmoni Niat Antara Santri dan Wali Santri

Penting untuk diingat bahwa pelurusan niat dalam menuntut ilmu ini tidak boleh dibebankan kepada pundak santri sendirian.

Keberhasilan transfer ilmu dan keberkahan di pesantren menuntut adanya keselarasan frekuensi spiritual yang intim antara santri di dalam pondok dengan orang tua (wali santri) yang berada di rumah. Ketika orang tua melepas anaknya dengan keikhlasan lillah, membebaskan niat dari sekadar gengsi duniawi, maka pancaran energi positif itu akan mempermudah sang anak dalam menyerap setiap butir keteladanan dan ilmu dari gurunya.

Oleh karena itu, setiap kali melangkah masuk melewati gerbang pesantren, sebuah pertanyaan reflektif harus terus digaungkan di dalam sanubari: “Apa sebenarnya yang sedang engkau cari di tempat ini?” Apakah hati kita terpikat oleh kemegahan arsitektur gedungnya? Apakah kita terbuai oleh kelengkapan fasilitasnya? Atau kita hanya sekadar mencari lingkungan pertemanan untuk bersenang-senang semata?

Biarlah nurani terdalam kita masing-masing yang menjawabnya. Namun, ingatlah selalu bahwa ilmu yang sejati hanya akan berakar kuat pada jiwa yang bersih, bertunas melalui khidmah yang tulus, dan berbuah manis dalam ketaatan yang konsisten.

Semoga kita tidak termasuk golongan yang merugi, melainkan menjadi para pencari ilmu yang senantiasa dinaungi oleh keberkahan dan kemanfaatan yang abadi.

Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam.

script>
Info Pendaftaran Santri BaruAda pertanyaan? Chat kami sekarang! 😊