7 Nasehat Untuk Orangtua Yang Sedang Memondokkan Anaknya

darulmaarif.net – Indramayu, 30 November 2022 | 10.00 WIB

IMG 20220826 WA0048

Tak ada bekal yang lebih mahal dari nasehat untuk anak-anak kita di pesantren. Di bawah bimbingan pondok pesantren, tak lantas menghapus kewajiban kita sebagai orangtua dalam mengarahkan hidup dan kehidupan mereka.

Namun, bagaimanapun mereka hanyalah anak-anak, banyak hal tak dipahami para santri, kecuali setelah menjadi alumni. Sayangnya, sudah terlambat bagi orangtua jika disadari setelah lulus nanti.

Akibatnya, banyak orangtua yang menyesal setelah anaknya pulang dari pesantren, “kenapa baru saya sadari?”. Setidaknya, sebelum semua itu terjadi, orangtua harap terus memberikan nasihat untuk anak selama mereka di pondok pesantren.

Inilah perlunya sharing nasehat supaya anak-anak santri tidak menderita penyesalan setelah jadi alumni. Berikut ini 5 nasehat untuk orangtua yang sedang memondokkan anaknya di pesantren.

Mungkin sebagian orangtua merasa sedih, rindu berat, kenapa anak saya mondok. Kata orang, pondok pesantren itu ‘penjara suci’, gak enak, gak asyik, gak sebabas seperti di luar, di pondok gak bisa main hp, apalagi sosmed, dsb.

Orangtua perlu niat dan alasan yang kuat kenapa anaknya dikirim ke pondok pesantren. Ayah-bunda pasti sangat sayang anak-anaknya, memondokkan anaknya tentu merupakan salah satu bentuk cinta orang tua kepada anak.

Dengan segala harapan orangtua, bahwa pesantren itu tempat terbaik untuk pendidikan. Dari sana banyak lahir Ulama dan tokoh bangsa yang berperan untuk umat Islam dan negeri kita Indonesia tercinta.

Ayah-bunda juga berharap kelak anak-anaknya jadi orang besar yang hatinya dipenuhi ilmu yang bermanfaat luas.

Ketahuilah ayah-bunda, setiap anak diciptakan dengan tujuan dan tugas mulia di dunia. Ayah-bunda diberi amanat oleh Alloh untuk mengantarkan anak-anaknya menuju gerbang masa depan yang gemilang, menjadi jembatan bagi anak agar terus membekali mereka dengan belajar, belajar dan belajar.

  1. Jalan Jihad Anak

Memondokkan anak ke pondok pesantren merupakan salah satu jalan jihad fii sabilillah, yaitu dalam rangka memerangi kebodohan agar kelak anak-anak kita menjadi anak yang cerah masa depannya.

(مَن خرَج في طَلَبِ العِلمِ، كان في سَبيلِ اللَّهِ حَتَّى يرجِعَ (رواه الترمذي

“Siapa yang keluar dari rumahnya untuk mencari ilmu, sejatinya ia sedang jihad di jalan Alloh sampai ia pulang.” (H.R Imam at-Tirmidzi)

  1. Tegarlah

Ayah-bunda tidak perlu sia-siakan jalan perjuangan anak dengan sedih, galau, dan gelisah. Tegarlah dan terus support anak-anak kita di pesantren dengan doa-doa dan kerelaan hati orangtua.

Yakinlah, berpisah dari anak bukanlah kesedihan. Anak tak akan pernah sendiri, atau terlantar di pesantren. Alloh selalu bersama anak-anak yang berjuang menuntut ilmu-Nya. Ridlo dan bangga lah kepada anak-anak kita yang belum tentu punya nasib sama bisa mesantren seperti anak-anak lain diluar sana.

  1. Ini Jalan Jihad

Nasihatilah anak untuk serius saat belajar, karena waktu senggang untuk santai bermain pasti datang. Ajarilah mereka untuk tabah, berikan pahaman pada anak bahwa kita sedang berjihad di jalan Alloh? Sungguh tak ada jihad yang main-main. Semoga Allah memberilan anak-anak kita kefutuhan ilmu dan hidayah.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِين .العنكبوت: ٦٩

“Orang-orang yang berjihad di jalan kami (Alloh), pasti akan Kami berikan petunjuk. Sungguh Allah bersama orang yang maksimal berusaha.” (Q.s al-Angkabut: 69)

  1. Bersahabat Karena Alloh

Sekali lagi, di pondok pesantren anak ayah-bunda tak akan sendiri. Ada banyak teman, kaka senior, asatidz/asatidzah yang akan menemani dan membimbing hari-hari anak kita dalam belajar Lihatlah bahwa mereka tak pernah gusar, tak risau, dan selalu riang gembira.

Bersahabatlah dengan anak-anak kita, ambil hatinya dengan mengambil hikmah dan manfaat dari santri dan pesantren.

Ajarkan anak untuk tawadlu’, menghormati yang lebih tua dan menghargai yang lebih muda. Nasehati anak-anak kita untuk tidak berteman lantaran fisik, harta, karena anak si fulan, dan lain sebagainya.

Semuanya masa depan anak kita, jadikan kehidupan mereka sebagai santri menjadi bagian dari cerita hidup mereka kelak nanti. Ayah-bunda ajari anak-anak kita untuk ikhlas mesantren karena Alloh dan berbakti kepada orangtua. Siapa sangka, kelak di akhirat salah seorang anak yang ayah-bunda pesantrenkan dapat menolong kita dari kobaran siksa api neraka, bi idznillah.

Allah berfiman dalam sebuah hadits Qudsi:

أين المتحابُّون في جلالي؟ اليوم أُظلُّهم في ظلِّي، يوم لا ظلَّ إلا ظلِّي

(رواه البخاري)

“Di manakah orang-orang yang saling mencintai karena Aku?” Undang Allah. “Hari ini akan Kunaungi mereka, di saat tak ada tempat bernaung kecuali naungan-Ku.” (H.R Imam Bukhori)

  1. Jangan Berbuat Dzolim

Nasehatilah anak agar tidak berbuat dzolim baik kepada teman maupun kepada yang lain, yakinkan mereka bahwa belajar di pondok pesantren hanya sementara. Jauhilah perbuatan dzolim dan aniaya.

Ajarkan kepada anak agar jangan bermusuhan, memukul orang, atau bullying dengan menyakiti teman. Hindari konflik sejauh mungkin. Jika anak kita salah, tegur ia untuk segera minta maaf. Jangan malu untuk mengakui kesalahan.

Jika anak meminjam barang milik teman, segera dikembalikan.

Ayah-bunda tentu tak mau terbebani rasa bersalah kelak setelah anak menjadi alumni. Minta maaf setelah lulus dan berpisah, akan sangat menyulitkan.

(الظلم ظلمات يوم القيامة (رواه أحمد

“Kedzoliman adalah penderitaan, penyesalan, kehinaan dan kegelapan di hari kiamat.” (H.R Imam Ahmad)

  1. Lihat Pribadi Kita

Teruslah tingkatkan pribadi kita sebagai ornagtua. Seperti pepatah bilang, “buah jatuh tak jauh dari pohonnya.” Apa yang kita tanam dan bekali kepada anak, itu yang akan menjadi cerminan attitude (karakter) anak di kemudian hari. Jangan pernah bandingkan anak-anak kita dengan anak orang lain, sebab anak kita punya kelebihan yang tentu berbeda dengan anak orang lain.

Bercerminlah pada diri ayah-bunda. Apakah ayah-bunda sudah memberikan teladan yang lebih baik untuk anak? Mendidik mereka untuk tidak meninggalkan sholat, menghormati tetangga, menjauhi perbuatan maksiat, dan lain sebagainya.

Ayah-bunda harus selalu antusias mensupport anak agar belajar yang giat selama di pondok pesantren.

Pulang liburan, mereka bisa ambil kursus dan les private tertentu sebagai tambahan belajarnya. Anak-anak kita punya hak dan kesempatan menjadi orang pintar dan sukses!

(احرص على ما ينفعك، واستعن بالله ولا تعجز (رواه المسلم)

“Semangatlah demi meraih kebaikan untuk dirimu. Mintalah pertolongan pada Allah, jangan menyerah. (H.R Imam Muslim)

  1. Kenali Passion Anak

Meski tujuan utama belajar di pondok pesantren adalah pendidikan ilmu agama Islam, tak mengapa jika anak mendalami beberapa life skills lain di sela waktu senggang mereka.

Bagaimanapun ahli dalam suatu bidang ilmu, anak-anak kita juga perlu memiliki keterampilan, sebagai modal agar dapat hidup mandiri kelak nanti.

Karena ada ‘izzah (kemuliaan diri) dan muru’ah (kehormatan diri) yang harus dijaga.

اليدُ العُليا خيرٌ منَ اليدِ السُّفلى (رواه البخاري)

“Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah.” (H.R Imam Bukhori)

Share:

More Posts

script>
Info Pendaftaran Santri BaruAda pertanyaan? Chat kami sekarang! 😊