Oase: Kala Mesin Pandai Berbicara, Apa yang Tersisa dari Manusia?

darulmaarif.net – Indramayu, 11 Agustus 2026 | 10.00 WIB

Belakangan ini, dunia pendidikan Islam dan pesantren dihadapkan pada gelombang besar disrupsi teknologi berupa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) seperti ChatGPT. Dahulu, memahami teks kitab kuning membutuhkan proses yang panjang dan melelahkan: mencari makna gandul, menelusuri syarah, membuka kamus, hingga sowan bertanya kepada kiai. Kini, mesin mampu menerjemahkan dan merangkum argumentasi fikih dalam hitungan detik.

Kemudahan ini patut disyukuri. Namun, ada pertanyaan filosofis yang mendasar: ketika mesin semakin mampu mengambil alih pekerjaan kognitif, apa yang sebenarnya membuat kita tetap menjadi manusia?

Ilmu, Adab, dan Keteladanan yang Tak Tergantikan

Di era digital, informasi menjadi sangat murah dan instan. Namun, tradisi pesantren mengajarkan bahwa banyaknya informasi tidak selalu berbanding lurus dengan keberkahan ilmu. Ilmu bukan sekadar tumpukan memori di kepala, melainkan menyangkut adab, niat, amal, dan perubahan diri.

Imam az-Zarnuji dalam Ta‘lim al-Muta‘allim menegaskan:

اعْلَمْ أَنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ لَا يَنَالُ الْعِلْمَ وَلَا يَنْتَفِعُ بِهِ إِلَّا بِتَعْظِيمِ الْعِلْمِ وَأَهْلِهِ، وَتَعْظِيمِ الْأُسْتَاذِ وَتَوْقِيرِهِ

Artinya: “Ketahuilah, pencari ilmu tidak akan memperoleh ilmu dan manfaatnya kecuali dengan mengagungkan ilmu dan ahlinya, serta menghormati guru.” (Az-Zarnuji, Ta‘limul Muta‘allim Thariqut Ta‘allum, fasal Fi Ta‘dzimil ‘Ilmi wa Ahlihi, hal. 21-22)

Imam Burhanuddin az-Zarnuji menegaskan bahwa ilmu hanya bisa diraih dan bermanfaat melalui jalan ta’zhim—mengagungkan ilmu dan menghormati gurunya. Mesin mungkin bisa memberikan jawaban yang fasih secara bahasa, tetapi ia tak sanggup menjadi teladan. Mesin bisa menjelaskan dalil tentang sifat tawadhu’ dan ikhlas, tetapi ia tak memiliki hati yang bergetar (khashyah) karena takut kepada Allah. Di sinilah posisi kiai, ustadz, dan guru tak akan pernah bisa digantikan oleh algoritma manapun.

Imam Abu Hamid Muhammad al-Ghozali memiliki perhatian yang sangat kuat terhadap hubungan antara ilmu, hati, dan amal.

Dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, pada Kitab al-‘Ilm, Hujjatul Islam Imam Abu Hamid Muhammad al-Ghozali menegaskan:

إِذِ الْعِلْمُ عِبَادَةُ الْقَلْبِ، وَصَلَاةُ السِّرِّ، وَقُرْبَةُ الْبَاطِنِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى

Artinya: “Sesungguhnya ilmu adalah ibadah hati, sholat batin, dan sarana mendekatkan diri secara batin kepada Alloh Ta‘ala.” (Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad. Ihya’ ‘Ulum al-Din. Beirut: Dar al-Ma‘rifah)

Imam Al-Ghozali melanjutkan bahwa sebagaimana ibadah lahir membutuhkan kesucian lahir, aktivitas ilmu juga membutuhkan kebersihan batin dari akhlak tercela.

Menjaga Tradisi Sanad dan Tabayyun

Pesantren mewariskan tradisi sanad (mata rantai keilmuan) yang memuat etos pertanggungjawaban moral dan akademis. Seorang santri dituntut mengetahui asal-usul sebuah ilmu.

Urgensi sanad telah ditegaskan oleh Imam Muslim melalui perkataan yang sangat masyhur:

الإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ، وَلَوْلَا الإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

Artinya: “Sanad merupakan bagian dari agama. Seandainya tidak ada sanad, niscaya setiap orang akan mengatakan apa saja yang ia kehendaki.” (Syarofuddin yahya An-Nawawi, Sryah Shohih Muslim, Juz I, hal. 47)

لَمْ يَكُونُوا يَسْأَلُونَ عَنِ الْإِسْنَادِ، فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ قَالُوا: سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ، فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ، وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلَا يُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ

Artinya: “Dulu mereka (para ulama di masa sahabat), tidaklah bertanya tentang sanad. Ketika terjadi fitnah, mereka berkata: “Sebutkanlah nama para perawi (hadits) kalian. Untuk dilihat (apakah berasal dari) Ahlussunnah, sehingga diambil (diterima) haditsnya. Dan dilihat (apakah berasal dari) ahlul bid’ah, sehingga tidak diambil hadits mereka.”

Budaya sanad ini menemukan urgensinya di era AI. Sering kali mesin menyajikan jawaban yang tampak ilmiah, namun nyatanya keliru atau tidak bisa diverifikasi ujung pangkalnya (halusinasi AI). Kehadiran kecerdasan buatan semestinya tidak membuat santri malas, melainkan harus memicu semangat tahqiq (penelitian) dan tabayyun (verifikasi) yang lebih kritis. Menemukan jawaban cepat itu mudah, namun melacak kebenaran pada sumber aslinya adalah tradisi yang harus dipertahankan.

Membaca AI dengan Kacamata Maqashidus Syari‘ah

Islam memiliki instrumen untuk merespons zaman, salah satunya maqashid al-syari‘ah (tujuan syariat). Imam al-Ghazali dalam al-Mustashfa menyebutkan lima pilar perlindungan bagi kemaslahatan manusia: menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.

Imam al-Ghozali dalam al-Mustashfa min ‘Ilmil Ushul menjelaskan:

وَمَقْصُودُ الشَّرْعِ مِنَ الْخَلْقِ خَمْسَةٌ: وَهُوَ أَنْ يَحْفَظَ عَلَيْهِمْ دِينَهُمْ، وَنَفْسَهُمْ، وَعَقْلَهُمْ، وَنَسْلَهُمْ، وَمَالَهُمْ، فَكُلُّ مَا يَتَضَمَّنُ حِفْظَ هَذِهِ الْأُصُولِ الْخَمْسَةِ فَهُوَ مَصْلَحَةٌ، وَكُلُّ مَا يُفَوِّتُ هَذِهِ الْأُصُولَ فَهُوَ مَفْسَدَةٌ، وَدَفْعُهَا مَصْلَحَةٌ

Artinya: “Tujuan syariat bagi manusia ada lima, yaitu menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Segala sesuatu yang mengandung penjagaan terhadap lima prinsip pokok tersebut merupakan maslahat; sedangkan segala sesuatu yang menghilangkan prinsip-prinsip tersebut merupakan mafsadat, dan mencegah mafsadat tersebut merupakan maslahat.” (Al-Ghozali, Al-Mustashfa min ‘Ilm al-Ushul, juz I, hlm. 286–287, pembahasan al-maslahah, untuk konsep penjagaan agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta)

Dalam tradisi maqashidus syari‘ah, teknologi tidak dinilai hanya dari kecanggihannya, tetapi dari maslahat dan mafsadat yang ditimbulkannya. Imam Abu Ishaq al-Syathibi menjelaskan dalam al-Muwafaqat:

فَإِنَّ الشَّرِيعَةَ إِنَّمَا وُضِعَتْ لِمَصَالِحِ الْخَلْقِ فِي الدَّارَيْنِ، وَهَذِهِ الْمَصَالِحُ لَا تَعْدُو أَنْ تَكُونَ ضَرُورِيَّةً أَوْ حَاجِيَّةً أَوْ تَحْسِينِيَّةً

Artinya: “Sesungguhnya syariat ditetapkan untuk kemaslahatan makhluk di dunia dan akhirat. Kemaslahatan tersebut tidak keluar dari tiga tingkatan: kebutuhan yang bersifat primer (dharūriyyāt), kebutuhan yang bersifat sekunder (hājiyyāt), dan kebutuhan penyempurna (tahsīniyyāt).” (Abu Ishaq Ibrahim bin Musa al-Syathibi, al-Muwafaqat, tahqiq Abu ‘Ubaidah Masyhur bin Hasan Ali Salman, Dar Ibn ‘Affan, cet. I, 1417 H/1997 M)

Lebih lanjut, beliau menegaskan:

وَهَذِهِ الضَّرُورِيَّاتُ الْخَمْسُ هِيَ: حِفْظُ الدِّينِ، وَالنَّفْسِ، وَالنَّسْلِ، وَالْمَالِ، وَالْعَقْلِ

“Lima perkara primer tersebut adalah menjaga agama, jiwa, keturunan, harta, dan akal.” (al-Muwafaqat, tahqiq Abu ‘Ubaidah Masyhur bin Hasan Ali Salman, Dar Ibn ‘Affan, cet. I, 1417 H/1997 M)

Karena itu, AI dapat dipandang sebagai kemaslahatan apabila membantu menjaga dan mengembangkan kelima hal tersebut. Sebaliknya, ketika teknologi digunakan untuk merusak agama, menipu manusia, mengganggu kesehatan jiwa, melemahkan akal, atau merugikan harta, maka kecanggihannya tidak otomatis menjadikannya bernilai positif.

Kerangka ini sangat relevan untuk menyikapi teknologi. Jika AI mempermudah santri mengakses ilmu dan meluaskan dakwah, maka ia mendatangkan maslahat. Sebaliknya, jika AI dipakai untuk memalsukan hadits, plagiarisme, atau membuat akal manusia tumpul, ia menjadi mafsadat. Parameter kemajuan teknologi tidak diukur dari sekadar “seberapa canggih”, melainkan “seberapa manusiawi kehidupan yang dihasilkannya”.

Prinsip TAQWA-AI dalam Pendidikan

Agar kita tidak menolak teknologi secara ekstrem, namun tidak juga menerimanya membabi buta, pesantren dapat memegang prinsip etis TAQWA-AI:

  • Tauhid: Jadikan teknologi sekadar alat, bukan kebenaran absolut. Segala kecerdasan tetap berada di bawah kekuasaan Allah SWT.
  • Amanah: Setiap klik dan pemanfaatan AI memiliki konsekuensi moral yang kelak dimintai pertanggungjawaban.
  • ‘Aql dan ‘Ilm: Gunakan AI sebagai pendukung akal, bukan pengganti proses berpikir dan membaca.
  • Wasathiyyah: Bersikaplah moderat. Ambil kemanfaatan teknologinya, mitigasi risiko buruknya.
  • Akhlak: Tundukkan kecerdasan mesin pada nilai akhlak; jangan gunakan untuk menipu atau merendahkan martabat manusia.

Ancaman sesungguhnya di era ini bukanlah mesin yang berubah menjadi manusia, melainkan manusia yang cara hidupnya mulai menyerupai mesin—hanya mengejar kecepatan, terobsesi pada efisiensi, enggan berproses, dan kehilangan dimensi spiritual.

Pesantren tidak perlu memilih antara kitab kuning atau AI. Keduanya bisa didudukkan secara proporsional. Biarkan mesin merangkum dan menerjemahkan, tetapi urusan kearifan akal, kejernihan hati, dan keluhuran budi pekerti biarlah tetap menjadi urusan manusia. Sebab, manusia dimuliakan bukan sekadar karena kepandaiannya menyerap informasi, melainkan karena kesanggupannya mempertanggungjawabkan ilmu tersebut kepada Tuhannya.

Semoga Bermanfaat. Wallohu a’lam.

Share:

More Posts

script>
Info Pendaftaran Santri BaruAda pertanyaan? Chat kami sekarang! 😊