darulmaarif.net – Indramayu, 24 Februari 2026 | 02.00 WIB
Bulan Ramadhan bukan hanya madrasah ruhani bagi orang dewasa, tetapi juga menjadi ruang pendidikan iman bagi anak-anak. Di tengah masyarakat, kita kerap menyaksikan anak kecil bersemangat ikut berpuasa—ada yang puasa penuh, ada pula yang “puasa bedug” hingga waktu Dzuhur atau Ashar.
Pertanyaannya, bagaimana sebenarnya hukum puasa Ramadhan bagi anak kecil? Dan apakah mereka mendapatkan pahala puasa?
Para ulama sepakat (ijma’) bahwa anak yang belum baligh tidak terkena kewajiban syari’at (ghoiru mukallaf). Hal ini berdasarkan hadis Nabi SAW:
رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ … وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ
Artinya: “Diangkat pena (tidak dicatat dosa) dari tiga golongan… dan dari anak kecil hingga ia bermimpi (baligh).” (HR. Imam Abu Dawud)
Namun demikian, puasa anak kecil yang sudah tamyiz (mampu membedakan baik dan buruk) adalah sah dan bernilai sunnah.
Dalam Hasyiyah al-Bajury disebutkan:
قَالَ أَبُو إِسْحَاقَ: يَلْزَمُهُ أَنْ يَنْوِيَ صَوْمَ فَرْضِ رَمَضَانَ، لِأَنَّ صَوْمَ رَمَضَانَ قَدْ يَكُونُ نَفْلًا فِي حَقِّ الصَّبِيِّ فَافْتَقَرَ إِلَى نِيَّةِ الْفَرْضِ لِيَتَمَيَّزَ عَنْ صَوْمِ الصَّبِيّ
(الباجوري ١/٢٨٧)
Artinya: “Abu Ishaq berkata, anak kecil harus berniat puasa fardhu Ramadhan, karena puasa Ramadhan bagi anak bisa bernilai sunnah, sehingga perlu niat fardhu agar berbeda dari puasa biasa anak kecil.” (Hasyiyah Al-Bajury, Juz I, hal. 287)
Dalam kitab I’anatuth Tholibin juga dijelaskan:
قوله البلوغ فلا يجب على الصبي ثم إن كان مميزا صح منه وإلا فلا (إعانة الطالبين ٢/٢٢٠)
Artinya: “Baligh adalah syarat wajib puasa. Maka puasa tidak wajib bagi anak kecil. Jika ia sudah tamyiz, maka puasanya sah; jika belum, maka tidak sah.” (I’anatuth Tholibin, Juz II, hal. 220)
Dan ditegaskan pula:
فلا يجب على صبي أي وإن صح منه إذ لا تلازم بين الصحة والوجوب (إعانة الطالبين ٢/٢٢٢)
Artinya: “Puasa tidak wajib atas anak kecil, meskipun sah dilakukan. Karena sah dan wajib itu tidak selalu berkaitan.” (I’anatuth Tholibin, Juz II, hal. 222)
Imam al-‘Aini dalam kitab ‘Umdatul Qori’ Syarh Shohih Bukhori menegaskan:
أجمع العلماء أنه لا تلزم العبادات والفرائض إلا عند البلوغ ولكن أكثر العلماء استحسنوا تدريب الصبيان على العبادات رجاء البركة (عمدة القاري ١٧/١٦)
Artinya: “Para ulama sepakat bahwa ibadah dan kewajiban tidaklah mengikat kecuali setelah baligh. Namun mayoritas ulama menganjurkan melatih anak-anak beribadah demi mengharap keberkahan.” (‘Umdatul Qori’, Juz 16, hal. 17)
Dengan demikian, puasa anak kecil hukumnya sunnah dan sah jika sudah tamyiz, tetapi tidak wajib.
Kapan Anak Dilatih Berpuasa?
Sebagian ulama Syafi’iyyah menganjurkan mulai usia 7 tahun, sebagaimana latihan shalat. Dalam Fathul Bari disebutkan bahwa anak diperintahkan berpuasa jika sudah mampu (athaqahu).
Fatwa Musyrid Thoriqot Samaniyah, Syekh Dr. Muhammad Hasan (Suriah) juga menegaskan pentingnya latihan secara bertahap:
ﺇﺫﺍً ﺻﻮﻡ ﺍﻟﺼﺒﻲ ﺫﻛﺮﺍً ﺃﻡ ﺃﻧﺜﻰ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﺒﻠﻮﻍ ﻏﻴﺮ ﻭﺍﺟﺐ ﻟﺤﺪﻳﺚ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠَﻪ “ﺭﻓﻊ ﺍﻟﻘﻠﻢ ﻋﻦ ﺛﻼﺛﺔ ﻭﻓﻴﻪ .. ﻋﻦ ﺍﻟﺼﺒﻲ ﺣﺘﻰ ﻳﺤﺘﻠﻢ “( ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ ) ﺑﻞ ﻫﻮ ﻣﺴﺘﺤﺐ ﻳﻌﻮﺩ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﺒﻲ، ﻓﺪﻟﺖ ﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﻋﻠﻰ ﻣﺸﺮﻭﻋﻴﺔ ﺗﻌﻮﻳﺪ ﺍﻷﻃﻔﺎﻝ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ ﻟﻤﻦ ﻻ ﻳﺆﺛﺮ ﻋﻠﻴﻪ، ﺣﺘﻰ ﻳﻄﻴﻘﻮﻧﻪ، ﻓﻤﻦ ﺑﻠﻎ ﻣﻨﻬﻢ ﺍﻟﺴﺎﺑﻌﺔ ﻣﻦ ﻋﻤﺮﻩ ﻓﻌﻠﻰ ﻭﻟﻴﻪ ﺃﻥ ﻳﻌﻮﺩﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ ﺣﺘﻰ ﻳﻄﻴﻘﻪ ﻓﻴﻤﺎ ﺑﻌﺪ، ﻭﻟﻴﻜﻦ ﺫﻟﻚ ﺑﺎﻟﺘﺪﺭﻳﺞ، ﻓﻤﺜﻼً ﺍﻟﻴﻮﻡ ﺍﻷﻭﻝ ﻳﺼﻮﻡ ﺟﺰﺀﺍً ﻣﻦ ﺍﻟﻨﻬﺎﺭ، ﻭﻓﻲ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻛﺬﻟﻚ، ﻭﻓﻲ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ﻧﺼﻒ ﺍﻟﻨﻬﺎﺭ، ﻭﻫﻜﺬﺍ ﺣﺘﻰ ﻳﺘﻌﻮﺩ ﺍﻟﻄﻔﻞ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ ﻭﻳﺄﻟﻔﻪ، ﻭﻋﻠﻰ ﻭﻟﻲ ﺍﻷﻣﺮ ﻣﻦ ﺃﺏ ﺃﻭ ﺃﻡ ﺃﻥ ﻳﺴﺘﺨﺪﻣﻮﺍ ﺍﻟﻠﻌﺐ ﻭﺍﻟﻘﺼﺺ ﻣﻊ ﺍﻷﻃﻔﺎﻝ ﺣﺘﻰ ﻳﻨﺴﻮﺍ ﺍﻟﺮﻏﺒﺔ ﺇﻟﻰ ﺍﻷﻛﻞ ﻭﺍﻟﺸﺮﺏ، ﻭﻟﻬﺬﺍ ﺟﺎﺀ ﻓﻲ ﺑﻌﺾ ﺭﻭﺍﻳﺎﺕ ﻣﺴﻠﻢ ﻗﺎﻟﺖ : ﻓﺈﺫﺍ ﺳﺄﻟﻮﻧﺎ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ ﺃﻋﻄﻴﻨﺎﻫﻢ ﺍﻟﻠﻌﺒﺔ ﺗﻠﻬﻴﻬﻢ ﺣﺘﻰ ﻳﺘﻤﻮﺍ ﺻﻮﻣﻬﻢ . ﻭﻻ ﺑﺄﺱ ﻓﻲ ﺗﺪﺭﻳﺐ ﺍﻟﺼﻐﺎﺭ ﻋـﻠﻰ ﺍﻟﺼﻮﻡ ــ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﻃﻮﻳﻼً ﻭﺣﺎﺭﺍً ـ ﺑﺄﻥ ﻳﺘﺴﺤﺮ ﺍﻟﻄﻔﻞ ﻣﻊ ﺃﺳـﺮﺗﻪ ﺛﻢ ﻳﻤﺴـﻚ ﺣﺘﻰ ﺍﻟﻈﻬﺮ، ﻓﺘﻌﻄﻰ ﻟـﻪ ﻭﺟﺒـﺔ، ﺛﻢ ﻳﻤﺴـﻚ ﺑﻌﺪﻫﺎ ﺣﺘﻰ ﺍﻹﻓﻄﺎﺭ، ﻭﻳﺴـﻤﻮﻧﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺸـﺎﻡ ( ﺩﺭﺟﺎﺕ ﺍﻟﻤﺌﺬﻧﺔ ) ، ﻭﻫﺬﺍ ﻷﻃﻔﺎﻝ ﻣﺎ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﺴﺎﺑﻌﺔ ﺇﻥ ﻭﺟﺪﺕ ﻋﻨﺪﻫﻢ ﺍﻟﺮﻏﺒﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻮﻡ ﻭﺗﻘﻠﻴﺪ ﺍﻟﻜﺒﺎﺭ، ﻭﺍﻟﻬﺪﻑ ﻣﻨﻪ ﻫﻮ ﺍﻟﺘﺪﺭﻳﺐ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﻣﺴﺎﻙ ﻭﺍﻻﻣﺘﻨﺎﻉ ﻋﻦ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ ﻭﺍﻟﺸﺮﺍﺏ ﻣﺪﺓ ﻣﺤﺪﺩﺓ
Artinya: “Adapun puasa bagi laki-laki atau perempuan yang belum baligh itu tidak wajib berdasarkan hadist Rosululloh: ‘Qolam (pena) diangkat dari tiga orang diantaranya bagi anak sehingga iihtilam.’ (HR. Imam Abu Dawud). Bahkan puasa anak yang belum baligh disunnahkan bila anak tersebut membiasakan puasa. Dalil hadist atas disyariatkannya puasa bagi anak yang belum baligh sehingga kuat berpuasa. Pada anak yang sudah mencapai umur 7 tahun maka bagi orang tua hendaknya membiasakan anaknya untuk berpuasa sehingga kuat berpuasa, akan tetapi secara perlahan-lahan atau bertahap sebagai contoh sebagian hari puasa (1/3 hari puasa) dihari pertama dihari kedua juga begitu di hari ketiga puasa setengah hari sehingga anak tersebut membiasakannya.
Dan bagi wali (orangtua) bapak atau ibu hendaknya menyuruh pembantunya untuk memberikan mainan dan menceritakan dongeng sehingga lupa dari keinginan makan dan minum dan dari itu disebutkan disebagian riwayat muslim: bila anak yang belum baligh itu meminta makanan maka berikanlah mainan untuk dibuat permainan sehingga anak menyempurnakan puasanya dan tidak mengapa untuk latihan puasa bagi anak dikala hari itu panas dan panjang misal anak itu sahur bersama keluarga puasa hingga dzuhur diwaktu dzuhur berikanlah makan sekali kemudian menahan lapar sampai waktu berbuka dan orang-orang Syiria menamakan puasa tersebut derajat al mu’dzanah. Adapun ini untuk anak yang belum mencapi umur 7 tahun bila ditemukan dalam dirinya sifat suka pada puasa dan ikut kebiasaan dan kumpul dengan orang dewasa adapun ini sebagai latihan bagi anak yang belum baligh untuk menahan dan mencegah makan dan minum dimasa yang ditentukan batasannya.”
Apakah Anak Kecil yang Berpuasa Mendapatkan Pahala?
Dalam kitab Nasha’ihid Diniyyah disebutkan:
وأعمال الطفل من الطاعات التي تكون قبل البلوغ في صحائف أبويه من المسلمين… والمرجو أن يكون لهما مثل ثوابه بعد البلوغ (النصائح الدينية ص ٢٢-٢٣)
Artinya: “Amal ketaatan anak sebelum baligh tercatat dalam catatan amal kedua orang tuanya yang Muslim. Dan diharapkan setelah baligh, orang tua tetap mendapatkan pahala yang sama atas kebaikan anaknya.” (Nashoihid Diniyyah, hal. 22-23)
Ibnu Baththol berkata:
أجمع العلماء أنه لا تلزم العبادة والفرائض إلا عند البلوغ ولكن أكثر العلماء استحسنوا تدريب الصبيان على العبادات رجاء البركة وأن من فعل ذلك منهم مأجور
Artinya: “Ulama sepakat ibadah tidak wajib kecuali setelah baligh. Namun mayoritas ulama memandang baik melatih anak beribadah demi keberkahan, dan orang tua yang melakukannya mendapat pahala.”
Maka dapat disimpulkan bahwa pertama, anak kecil yang berpuasa mendapat pahala sebagai bentuk amal kebaikan. Kedua, orang tua juga mendapatkan pahala atas bimbingan dan pendidikan tersebut. Ketiga, setelah anak baligh, ia memperoleh pahala sendiri, dan orang tua tetap mendapat pahala atas didikan yang baik.
Dalam Al-Qur’an, Alloh SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim Ayat 6)
Masa kanak-kanak bukan fase taklif (beban hukum), tetapi fase persiapan. Kebiasaan yang ditanam sejak kecil akan melekat kuat hingga dewasa. Maka membiasakan anak berpuasa bukan sekadar tradisi, melainkan investasi spiritual jangka panjang.
Puasa Ramadhan bagi anak kecil memang tidak wajib, tetapi sah dan sunnah jika sudah tamyiz. Lebih dari itu, ia adalah sarana pendidikan ruhani yang sangat efektif. Anak belajar sabar, disiplin, dan merasakan makna ibadah sejak dini.
Di balik wajah polos anak yang menahan lapar hingga adzan Maghrib, tersimpan doa dan pahala bagi kedua orang tuanya. Maka, melatih anak berpuasa bukan semata-mata membentuk kebiasaan, tetapi menanam fondasi takwa yang kelak akan menjadi penopang hidupnya.
Ramadhan adalah madrasah, tempat latihan mental bagi anak-anak. Dan orang tua adalah guru pertamanya.
Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam.



