Seni Mengasuh di Pesantren: Bangun Relasi Sebelum Memberi Koreksi

darulmaarif.net – Indramayu, 18 September 2026 | 10.00 WIB

Penulis: Ust. Ade Reza Muhammad, Lc.

Dunia kepengasuhan pesantren sering kali menuntut ketegasan. Seorang musyrif (pembimbing kamar/asrama) memikul tanggung jawab besar untuk menjaga kedisiplinan ratusan santri. Namun, tidak jarang pola komunikasi yang terbangun justru bersifat transaksional dan instruksional. Setiap kali musyrif datang, yang terdengar hanyalah rentetan kalimat perintah:
“Bangun!”, “Ayo cepat ke masjid!”, “Jangan ribut!”, atau “Rapikan kamar!”.

Jika kedekatan hanya dirajut saat santri melakukan pelanggaran, maka secara psikologis akan muncul benteng defensif di hati mereka. Setiap kali melihat siluet sang musyrif, pikiran pertama yang terbersit di benak santri adalah:

“Saya salah apa lagi hari ini?”.

Agar setiap untaian nasihat didengar dan diterima dengan lapang dada, seorang pengasuh harus memahami satu kaidah utama: Bangun relasi emosional secara hangat sebelum melayangkan koreksi.

Menyapa Dunia Santri Saat “Senggang”

Kesalahan
Komunikasi terbaik bukan berhulu pada saat konflik, melainkan pada momen-momen tenang. Duduklah bersama mereka ketika tidak ada aturan yang dilanggar. Sapa mereka, tanyakan kabar keluarganya di rumah, selami hobi mereka, dan kenali dunia masa muda mereka. Ketika santri merasa diakui eksistensinya sebagai manusia—bukan sekadar objek disiplin—di situlah rasa percaya (trust) akan mekar. Nasihat mengalir mulus hanya dari hati orang yang dipercayai.

Kelembutan dan Fleksibilitas dalam Mendidik (Al-Rifq)

Dalam kitab At-Tibyan fii Adabi Hamalatil Qur’an karya Imam Nawawi, guru atau pembimbing ditekankan untuk meniru sifat kasih sayang sebagaimana yang diajarkan oleh Rosululloh SAW. Beliau menuliskan:

وَيَنْبَغِي أَنْ يُؤَدَّبَ الْمُتَعَلِّمُ عَلَى التَّدْرِيْجِ بِالْآدَابِ السَّنِيَّةِ، وَالشِّيَمِ الْمَرْضِيَّةِ، وَرِيَاضَةِ نَفْسِهِ بِالدَّقَائِقِ الْخَفِيَّةِ، وَيُعَوِّدَهُ الصِّيَانَةَ فِيْ جَمِيْعِ أُمُوْرِهِ الْبَاطِنَةِ وَالْجَلِيَّةِ، وَيُحَرِّضَهُ بِأَقْوَالِهِ وَأَفْعَالِهِ الْمُتَكَرِّرَاتِ عَلَى الْإِخْلَاصِ وَالصِّدْقِ وَحُسْنِ النِّيَّاتِ، وَمُرَاقَبَةِ اللهِ تَعَالَى فِيْ جَمِيْعِ اللَّحَظَاتِ، وَيُعَرِّفَهُ أَنَّ لِذَلِكَ تَتَفَتَّحُ عَلَيْهِ أَنْوَارُ الْمَعَارِفِ، وَيَنْشَرِحُ صَدْرُهُ، وَيَتَفَجَّرُ مِنْ قَلْبِهِ يَنَابِيْعُ الْحِكَمِ وَاللَّطَائِفِ، وَيُبَارَكُ لَهُ فِيْ عِلْمِهِ وَحَالِهِ، وَيُوَفَّقُ فِيْ أَفْعَالِهِ وَأَقْوَالِهِ

Artinya: “Dan Seyogianya seorang pelajar dididik secara bertahap dengan adab-adab yang luhur dan karakter yang terpuji, serta dilatih jiwanya pada hal-hal detail yang samar (menjaga kelembutan budi pekerti). [Pendidik] hendaknya membiasakannya untuk menjaga diri (muru’ah) dalam segala urusannya, baik yang tersembunyi maupun yang nyata. Ia juga harus memotivasi sang pelajar melalui perkataan dan perbuatannya yang berulang-ulang agar senantiasa ikhlas, jujur, berniat baik, serta merasa diawasi oleh Alloh Ta’ala di setiap waktu. Selain itu, pendidik perlu memahamkan kepadanya bahwa dengan sebab (adab) itulah akan dibukakan baginya cahaya-cahaya ma’rifat (pengetahuan), dilapangkan dadanya, dipancarkan dari hatinya mata air hikmah dan kelembutan spiritual, diberkahi ilmu dan keadaannya, serta diberi taufik (kemudahan) dalam segala perbuatan dan perkataannya.” (Syarofuddin Yahya An-Nawawi, At-Tibyan fii Adabi Hamalatil Qur’an, Hlm. 41)

Apabila instruksi selalu disampaikan dengan ketegangan tanpa adanya sentuhan syafaqah (kasih sayang) di luar jam formal, maka tahapan pembentukan karakter (tadrij) ini akan terhambat oleh rasa benci santri terhadap pengasuhnya.

Metode Pendekatan Personal (Ego-Friendly Approach)

Syekh Syekh ‘Ali bin Muhammad Al-Laitsy dalam kitabnya ‘Uyunul Hikam wal Mawa’idz mengingatkan bahwa menyentuh hati seseorang menuntut kita untuk mengerti kondisi psikologis mereka secara personal:

فَإِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ جَذْبًا، وَجَذْبُ الْقُلُوبِ بِالْإِحْسَانِ وَالْإِكْرَامِ

Artinya: “Sesungguhnya segala sesuatu itu memiliki daya tarik, dan daya tarik hati (agar condong serta patuh) adalah dengan jalan berbuat baik (ihsan) dan memuliakan (ikram).” (Syekh ‘Ali bin Muhammad Al-Laitsy Al-Wasithy, hal. 402)

Menyapa santri, mendengarkan keluh kesah mereka, dan membersamai mereka saat santai merupakan bentuk nyata dari ihsan dan ikram pengasuh yang mengikat hati santri agar patuh saat dinasihati.

Menyampaikan Nasihat Tanpa Menjatuhkan Mental

Imam Abu Hamid Muhammad Al-Ghozali di dalam masterpiece-nya, Ihya ‘Ulumuddin, menjabarkan strategi penting saat membimbing murid atau anak asuh. Beliau menekankan bahwa sindiran atau pendekatan persuasif (termasuk obrolan santai dari hati ke hati) jauh lebih membekas dibanding teguran verbal yang konfrontatif:

أَنْ يزجر الْمُتَعَلِّمَ مِنْ أَخْلَاقٍ السُّوءِ بِطَرِيقِ التَّعْرِيضِ مَا أَمْكَنَ وَلَا يُصَرِّحَ، وَبِطَرِيقِ الرَّحْمَةِ لَا بِطَرِيقِ التَّوْبِيخِ

Artinya: “Hendaknya pmelarang menegur anak didik dari akhlak buruk dengan cara isyarat/sindiran (pendekatan halus) sedapat mungkin, dan tidak menyampaikannya secara terang-terangan (menghakimi); disalurkan atas dasar kasih sayang (rahmah), bukan dengan cara mencerca/memojokkan (tawbiikh).” (Imam Al-Ghozali, Ihya ‘Ulumuddin, Jilid 1, Kitabul ‘Ilm, hal. 57)

Ketika jembatan komunikasi (rahmah) sudah terbangun lewat interaksi harian yang positif, santri tidak akan memandang teguran musyrif sebagai sebuah ancaman atau cercaan, melainkan sebagai bentuk perlindungan dari orang tua kedua mereka di pesantren.

Mengasuh santri bukan sekadar menegakkan pasal-pasal pelanggaran di buku tata tertib. Mengasuh adalah mentransfer nilai. Sebelum tangan kita mengoreksi tindakan mereka yang salah, pastikan hati kita sudah mendekap jiwa mereka dengan ketulusan. Mulai hari ini, mari ubah pola asuh kita: perbanyak sapaan hangat di waktu luang, agar teguran kita berwibawa di waktu pelanggaran.

Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam.

Share:

More Posts

script>
Info Pendaftaran Santri BaruAda pertanyaan? Chat kami sekarang! 😊