darulmaarif.net – Indramayu, 17 September 2026 | 10.00 WIB
Kepergian orang tua sering kali meninggalkan penyesalan yang mendalam. Ketika ibu atau ayah masih hidup, mungkin banyak kesempatan untuk berbakti yang terasa biasa saja. Namun, setelah mereka wafat, barulah muncul kerinduan sekaligus pertanyaan: masih bisakah seorang anak berbakti kepada orang tua yang telah meninggal dunia?
Pertanyaan semacam ini juga disampaikan oleh seorang awam yang ingin belajar. Ia mengaku baru terpikir bagaimana cara mendoakan ibunya setelah sang ibu meninggal dunia. Bahkan, ia merasa dirinya bukan anak yang saleh dan bukan pula ahli ibadah.
Dalam ajaran Islam, pintu berbakti kepada orang tua tidak langsung tertutup setelah mereka meninggal dunia. Seorang anak masih dapat melakukan berbagai bentuk kebaikan yang bermanfaat bagi orang tuanya, terutama dengan mendoakan, memohonkan ampunan, menyambung silaturahmi, menjaga hubungan dengan kerabat dan sahabat mereka, serta bersedekah atas nama mereka.
Tidak Harus Menjadi Anak Saleh untuk Mendoakan Orang Tua
Salah satu bentuk bakti yang paling mudah dilakukan setelah orang tua wafat adalah mendoakannya.
Doa tidak harus menggunakan bahasa Arab. Seseorang dapat berdoa dengan bahasa Indonesia, Jawa, Sunda, Inggris, atau bahasa lain yang ia pahami. Yang terpenting adalah ketulusan dan maksud doa tersebut.
Misalnya:
“Ya Alloh, sayangilah ibuku dengan rahmat-Mu. Ampunilah ibuku dengan sebesar-besarnya ampunan-Mu. Tempatkanlah ibuku di tempat yang mulia di sisi-Mu.”
Sebelum dan sesudah berdoa, dianjurkan mengawali dengan hamdalah dan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Yang tidak kalah penting, seseorang tidak perlu merasa bahwa dirinya terlalu banyak dosa sehingga tidak pantas mendoakan orang tuanya. Selama seorang anak masih seorang Muslim, ia tetap dapat memanjatkan doa untuk orang tuanya yang telah meninggal.
Imam Syarofudsin Yahya An-Nawawi menjelaskan dalam Al-Adzkar:
أجمع العلماء على أن الدعاء للأموات ينفعهم ويصلهم ثوابه
Artinya: “Para ulama telah sepakat bahwa doa untuk orang-orang yang telah meninggal memberikan manfaat kepada mereka dan pahalanya sampai kepada mereka.”
Dalam ibaroh tersebut juga disebutkan:
ما الميت في قبره إلا كالغريق المغوث، ينتظر دعوة تلحقه من ابنه أو أخيه أو صديق له، فإذا لحقته كانت أحب من الدنيا وما فيها
Artinya: “Keadaan orang yang telah meninggal di dalam kuburnya tidak lebih seperti orang yang tenggelam yang sangat membutuhkan pertolongan. Ia menunggu doa yang sampai kepadanya dari anaknya, saudaranya, atau sahabatnya. Ketika doa itu sampai kepadanya, doa tersebut lebih ia sukai daripada dunia dan segala isinya.”
Karena itu, jangan berhenti mendoakan orang tua hanya karena merasa diri belum menjadi anak yang saleh.
Ziarah Kubur Juga Menjadi Bentuk Berbakti
Selain mendoakan dari rumah, seorang anak juga dapat berziarah ke makam orang tuanya dan mendoakannya.
Dalam I’anatut Thalibin disebutkan:
فقد روى الحاكم عن أبي هريرة رضي الله عنه: من زار قبر أبويه أو أحدهما في كل جمعة مرة غفر الله له، وكان بارا بوالديه
Artinya: “Diriwayatkan oleh Al-Hakim dari Abu Hurairah RA: Barang siapa menziarahi makam kedua orang tuanya atau salah satunya setiap hari Jumat satu kali, Alloh mengampuninya dan ia termasuk orang yang berbakti kepada kedua orang tuanya.”
Dalam riwayat yang dikutip dalam kitab tersebut juga disebutkan berbagai keutamaan ziarah kubur orang tua.
Namun, yang terpenting dari ziarah bukan sekadar mendatangi makam, melainkan mengingat kematian, mendoakan ahli kubur, dan memperbarui hubungan batin seorang anak dengan orang tuanya melalui doa.
Membaca Al-Qur’an dan Menghadiahkan Pahala untuk Orang Tua
Selain doa, membaca Al-Qur’an lalu menghadiahkan pahalanya kepada orang yang telah meninggal juga dibahas oleh para ulama.
Imam Husain Al-Mahalli dalam Kasyful Litsam menjelaskan:
يحصل ثواب القراءة للميت بمجرد قصده بها وهو مذهب الأئمة الثلاثة، وكذا القراءة بحضرة الميت أو بنية القارئ ثواب قراءته له أو بدعائه له عقب القرائة
Artinya: “Pahala bacaan Al-Qur’an dapat sampai kepada orang yang telah meninggal dengan semata-mata meniatkannya untuknya. Ini merupakan pendapat tiga imam mazhab. Demikian pula membaca Al-Qur’an di hadapan mayit, atau seseorang membaca Al-Qur’an dengan niat menghadiahkan pahala bacaannya kepadanya, atau dengan berdoa setelah membaca agar pahala bacaan tersebut sampai kepadanya.”
Salah satu doa yang dapat dibaca adalah:
اللهم أوصل ثواب ما قرأناه إلى فلان
Artinya: “Ya Alloh, sampaikanlah pahala dari apa yang telah kami baca kepada Fulan.”
Jika yang dimaksud adalah orang tua, nama orang tua dapat disebutkan secara khusus. Doa tersebut juga dapat dilanjutkan dengan permohonan agar pahalanya disampaikan kepada seluruh kaum Muslimin yang telah meninggal dunia.
Berbakti Setelah Orang Tua Wafat: Apa yang Harus Dilakukan?
Rosululloh SAW juga memberikan petunjuk yang sangat jelas mengenai bentuk bakti kepada orang tua setelah keduanya meninggal dunia.
Dalam hadits riwayat Abu Dawud dari Abu Usaid Malik bin Rabi’ah As-Sa’idi RA, disebutkan:
عن أبي أسيد مالك بن ربيعة الساعدي قال بينا نحن عند رسول الله صلى الله عليه وسلم إذ جاءه رجل من بني سلمة فقال يا رسول الله هل بقي من بر أبوي شيء أبرهما به بعد موتهما؟ قال نعم الصلاة عليهما والاستغفار لهما وإنفاذ عهدهما من بعدهما وصلة الرحم التي لا توصل إلا بهما وإكرام صديقهما
Artinya: “Dari Abu Usaid Malik bin Rabi’ah As-Sa’idi RA, ia berkata: Ketika kami sedang berada di sisi Rosululloh SAW, datanglah seorang laki-laki dari Bani Salamah. Ia bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah masih ada bentuk bakti kepada kedua orang tua yang dapat aku lakukan setelah keduanya meninggal dunia?’ Rosululloh SAW menjawab, ‘Ya. Mendoakan keduanya, memohonkan ampun untuk keduanya, melaksanakan janji atau wasiat keduanya setelah mereka wafat, menyambung silaturahmi yang tidak tersambung kecuali melalui keduanya, dan memuliakan sahabat keduanya.'” (HR. Imam Abu Dawud)
Hadits ini menunjukkan bahwa bakti kepada orang tua tidak berhenti ketika mereka meninggal dunia.
Dalam Syarah Riyadhus Sholihin dijelaskan bahwa kata الصلاة عليهما dalam hadis tersebut maksudnya bukan melaksanakan salat untuk orang tua, melainkan mendoakan mereka.
يعني الدعاء لهما وليس المراد صلاة الجنازة بل المراد الدعاء
Artinya: “Yang dimaksud adalah mendoakan keduanya. Bukan yang dimaksud salat jenazah, melainkan doa.”
Dengan demikian, setidaknya ada beberapa bentuk bakti yang dapat terus dilakukan seorang anak setelah orang tuanya wafat:
- Mendoakan orang tua.
- Memohonkan ampunan untuk mereka.
- Melaksanakan wasiat atau amanah mereka yang sesuai syariat.
- Menyambung silaturahmi dengan kerabat yang dahulu mereka jaga.
- Memuliakan sahabat-sahabat orang tua.
- Bersedekah atas nama mereka.
- Membaca Al-Qur’an dan menghadiahkan pahalanya menurut pendapat ulama yang membolehkannya.
- Berziarah ke makam dan mendoakan mereka.
Bagaimana Jika Orang Tua Meninggal dalam Keadaan Murka?
Ada pula persoalan yang lebih berat: bagaimana jika orang tua meninggal dunia dalam keadaan marah kepada anaknya? Apakah masih ada kesempatan untuk mendapatkan keridaan mereka setelah meninggal?
Imam Abu Laits As-Samarqandi menjelaskan bahwa seorang anak masih dapat berusaha mendapatkan keridaan orang tuanya dengan beberapa cara.
Dalam Durrotun Nashihin disebutkan:
سئل الامام الفقيه ابو الليث السمرقندي عن الوالدين إذا ماتا ساخطين على الولد هل يمكن أن يرضيهما بعد وفاتهما؟ قيل يمكن بثلاثة أشياء: أولها أن يكون صالحا.. والثاني أن يصل قرابتهما أو أصدقاءهما.. والثالث أن يستغفر لهما ويدعو لهما ويتصدق لهما
Artinya: “Imam ahli fikih Syekh Abu Laits As-Samarqondi ditanya mengenai kedua orang tua yang meninggal dalam keadaan murka kepada anaknya: apakah anak tersebut masih dapat membuat keduanya rida setelah kematian mereka? Dijawab: bisa dengan tiga perkara. Pertama, hendaknya ia menjadi anak yang saleh. Kedua, hendaknya ia menyambung hubungan dengan kerabat dan sahabat kedua orang tuanya. Ketiga, hendaknya ia memohonkan ampun untuk keduanya, mendoakan keduanya, dan bersedekah untuk keduanya.” (Durrotun Nasihin, hal. 47)
Penjelasan serupa juga dikutip dalam Ghiza’ul Albab fi Syarhi Mandzhumatil Adab:
فإن سأل سائل أن الوالدين إذا ماتا ساخطين على الولد هل يمكنه أن يرضيهما بعد وفاتهما، قيل له بل يرضيهما بثلاثة أشياء، أولها أن يكون الولد صالحا في نفسه ; لأنه لا يكون شيء أحب إليهما من صلاحه. والثاني : أن يصل قرابتهما وأصدقاءهما . والثالث : أن يستغفر لهما ويدعو لهما ويتصدق عنهما
Artinya: “Jika seseorang bertanya, apabila kedua orang tua meninggal dalam keadaan murka kepada anaknya, apakah anak tersebut masih dapat membuat keduanya rida setelah kematian mereka? Dijawab: ia dapat berusaha membuat keduanya rida dengan tiga perkara. Pertama, menjadi anak yang saleh dalam dirinya, karena tidak ada sesuatu yang lebih disukai kedua orang tua daripada kesalehan anaknya. Kedua, menyambung hubungan dengan kerabat dan sahabat mereka. Ketiga, memohonkan ampun untuk keduanya, mendoakan keduanya, dan bersedekah untuk keduanya.”
Pesan ini sangat dalam. Perubahan diri seorang anak menjadi lebih baik bukan hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri, tetapi juga menjadi bentuk bakti kepada orang tua yang telah tiada.
Anak Saleh yang Mendoakan Orang Tua
Rosululloh SAW bersabda:
إذا مات المسلم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له
Artinya: “Apabila seorang Muslim meninggal dunia, terputus amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”
Dalam I’anatut Tholibin dijelaskan bahwa penyebutan “anak saleh” tidak berarti doa dari selain anak tidak bermanfaat bagi mayit. Justru doa orang lain juga dapat memberikan manfaat. Penyebutan anak dalam hadis tersebut merupakan bentuk dorongan agar seorang anak tidak melupakan kewajibannya mendoakan orang tua.
وقوله أي مسلم، أي أن المراد بالصالح: المسلم، فأطلق الخاص وأراد العام
Artinya: “Yang dimaksud dengan ‘saleh’ adalah Muslim. Disebutkan secara khusus, tetapi yang dimaksud secara umum.”
Dan dijelaskan pula:
وقوله: يدعو له أي لأبيه بنفسه، أو بتسبب في دعاء الغير لأبيه
Artinya: “Sabda Nabi ‘mendoakannya’, maksudnya anak itu mendoakan ayahnya sendiri, atau menjadi sebab orang lain mendoakan ayahnya.”
Artinya, seorang anak tidak perlu menunggu dirinya menjadi manusia sempurna untuk mulai mendoakan orang tuanya.
Jangan Menunggu Menjadi Saleh untuk Mendoakan Ibu
Bagi seseorang yang baru kehilangan ibunya, mungkin muncul perasaan bersalah: “Saya bukan anak yang saleh. Ibadah saya juga masih jauh dari sempurna. Apakah doa saya akan sampai kepada Ibu?”
Jangan biarkan perasaan tersebut membuat doa berhenti.
Justru setelah orang tua wafat, salah satu bentuk bakti yang dapat terus dilakukan adalah lmemperbaiki diri, memperbanyak doa, memohonkan ampun untuk orang tua, menjaga silaturahmi yang dahulu mereka jaga, menghormati sahabat mereka, serta bersedekah atas nama mereka.l
Jika dahulu belum sempat membahagiakan ibu, masih ada kesempatan untuk berbakti melalui doa.
Jika dahulu belum sempat meminta maaf, perbanyak istighfar dan doa untuknya.
Jika dahulu belum mampu menjadi anak yang baik, maka mulai sekarang jadilah anak yang lebih baik.
Sebab, kematian orang tua bukan akhir dari bakti seorang anak.
Selama seorang anak masih hidup, ia masih memiliki kesempatan untuk mengirimkan doa, memohonkan ampunan, melakukan amal kebaikan, dan menjaga nama baik serta hubungan yang dahulu dijaga oleh kedua orang tuanya.
Semoga setiap doa yang dipanjatkan seorang anak menjadi sebab turunnya rahmat dan ampunan Alloh SWT kepada ayah dan ibunya yang telah mendahuluinya.
Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam.



