darulmaarif.net – Indramayu, 20 Agustus 2026 | 10.00 WIB
Fenomena mukbang ekstrem dan glorifikasi wisata kuliner mewah di media sosial hari ini sering kali menjebak kita dalam budaya hedonisme modern. Makanan tidak lagi dipandang sebagai penyambung hidup, melainkan panggung pamer status sosial. Akibatnya, banyak orang kehilangan kendali diri, mengalami kekosongan spiritual, hingga mengerasnya hati akibat perut yang terus-menerus dimanjakan.
Persoalan ini sebenarnya adalah penyakit lama yang pernah melanda peradaban besar dunia. Menariknya, resep obatnya ternyata sama, baik di bilik pesantren maupun di istana kekaisaran Romawi kuno.
Imam Al-Ghozali membicarakannya dalam bahasa tasawuf. Marcus Aurelius, Kaisar Romawi sekaligus filsuf Stoik, membicarakannya melalui filsafat pengendalian diri.
Keduanya hidup pada zaman yang berbeda dan berasal dari tradisi pemikiran yang berbeda. Namun, ada satu pesan yang terasa sangat dekat dengan kehidupan kita hari ini. Mari kita lanjutkan sampai selesai!
Tirani Syahwat Perut Menurut Imam Al-Ghozali
Di lingkungan pesantren, masalah perut bukan sekadar urusan gizi, melainkan gerbang utama penentu keselamatan spiritual. Imam Al-Ghozali dalam kitabnya Ihya ‘Ulumuddin, tepatnya pada bab Kitab Kasru asy-Syahwatain (Mematahkan Dua Syahwat), mengidentifikasi perut sebagai akar dari segala kerusakan akhlak.
Beliau menegaskan hal berikut:
أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ أَعْظَمَ الْمُهْلِكَاتِ لِابْنِ آدَمَ شَهْوَةُ الْبَطْنِ، فَبِهَا أُخْرِجَ آدَمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَحَوَّاءُ مِنْ دَارِ الْقَرَارِ إِلَى دَارِ الذُّلِّ وَالِافْتِقَارِ، إِذْ نُهِيا عَنِ الشَّجَرَةِ فَغَلَبَتْهُمَا شَهْوَاتُهُمَا حَتَّى أَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا.
Artinya: “(Amma ba’du); Sesungguhnya perkara yang paling membinasakan bagi anak Adam adalah syahwat perut. Karena syahwat perut pulalah, Nabi Adam ‘alaihis salam dan Sayyidah Hawa dikeluarkan dari negeri yang kekal (surga) menuju negeri yang penuh kehinaan dan kefakiran (dunia). Ketika keduanya dilarang mendekati pohon (Khuldi), syahwat mereka mengalahkan keduanya hingga mereka memakannya, lalu tampaklah aurat mereka.” (Abu Hamid Muhammad Al-Ghozali, Ihya Ulumuddin, Jilid III, Halaman 80, Cetakan [Darul Ma’rifah: Beirut], tt. 2004)
Al-Ghozali menyusun rantai sebab-akibat spiritual yang sangat presisi:
- Perut kenyang memicu bangkitnya syahwat kemaluan.
- Dominasi kedua syahwat ini melahirkan gila harta dan kedudukan (hubbul jah wal mal) demi memuaskannya.
- Dari sana, muncullah penyakit hati kronis seperti ria, takabbur, dan hasad (dengki).
Dekonstruksi Ilusi: Logika Stoik Sang Kaisar Romawi
Uniknya, jauh sebelum Imam Al-Ghozali menulis kitabnya, seorang Kaisar Romawi abad ke-2 Masehi sekaligus filsuf Stoik, Marcus Aurelius, menghadapi ujian yang sama di kota Roma. Di tengah budaya pesta pora aristokrat Romawi (convivium) yang gemar memamerkan makanan eksotis nan mahal, Marcus Aurelius menggunakan taktik mental yang mirip dengan tafakkur ala santri.
Marcus menulis:
“How good it is, when you have roast meat or things like that before you, to keep in mind: This is a dead fish, a dead bird, a dead pig.” (Marcus Aurelius, Meditations, Book VI, 13, terj. Gregory Hays, Modern Library, New York, 2002)
Dalam catatan pribadinya, ia menulis trik mental untuk menolak budidaya kemewahan tersebut:
“Bagaimana baiknya, ketika kita menghadapi daging panggang, untuk menanamkan dalam pikiran bahwa ini adalah bangkai sebuah ikan, ini bangkai seekor burung atau babi; dan lagi, bahwa anggur Falernian yang mulia ini hanyalah perasan jus buah anggur yang membusuk!… Bagaimana persepsi ini berhasil menembus langsung ke jantung hal yang nyata dan mengupasnya, sehingga kamu bisa melihatnya apa adanya!” (Marcus Aurelius, Meditations, Buku VI, Ayat 13, Terjemahan Gregory Hays, Modern Library Edition – New York, Tahun 2002)
Marcus Aurelius melakukan dekonstruksi objektif. Ia menelanjangi prestise makanan mewah. Baginya, daging mahal hanyalah bangkai binatang, dan anggur terbaik di masanya hanyalah jus yang difermentasi. Dengan melihat realitas fisik terkecilnya, ia berhasil menjaga jiwanya agar tetap merdeka dan tidak diperbudak oleh rasa lezat yang semu.
Islam dan Stoikisme Menolak Diperbudak Makanan
Jika ditarik garis lurus, terdapat titik temu yang sangat kuat antara tradisi tasawuf Islam yang diajarkan di pesantren dengan filsafat Stoikisme terkait pengendalian makanan:
Menghancurkan Ilusi Kosmetik Dunia: Marcus Aurelius melihat daging sebagai “bangkai”. Di sisi lain, Imam Al-Ghozali dalam Ihya mengajak kita merenungkan proses biologis makanan yang awalnya bersih, lalu masuk ke perut, dan berakhir menjadi kotoran (najis) yang menjijikkan. Tujuannya sama: mematahkan syahwat dengan melihat hakikat akhir objek yang diinginkan.
Makanan sebagai Sarana, Bukan Tujuan: Keduanya sepakat perut yang sehat bukan perut yang dimanjakan. Islam pun mengajarkan bahwa makan hanyalah bahan bakar untuk menegakkan tulang punggung demi ibadah, sebagaimana sabda Nabi SAW:
مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ، بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ، فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ، وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ، وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ
Artinya: “Tidak ada wadah yang dipenuhi oleh anak Adam yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suapan yang dapat menegakkan tulang punggungnya…” (HR. Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, Jilid IV, Kitab az-Zuhd, [Beirut: Dar al-Ghkrb al-Islami], tt. 1998)
Kemerdekaan Jiwa yang Hakiki: Titik temu terbesar adalah pemaknaan tentang kebebasan. Budak sejati bukanlah orang yang dirantai fisiknya, melainkan orang yang tidak mampu mengendalikan apa yang masuk ke dalam mulutnya sendiri.
Seseorang mungkin tidak sedang dirantai, tetapi jika ia tidak mampu berkata “cukup” kepada keinginannya sendiri, ia sesungguhnya belum sepenuhnya merdeka.
Karena itu, di tengah budaya mukbang, flexing, wisata kuliner mewah, dan perlombaan gaya hidup di media sosial, nasihat Imam Al-Ghozali dan Kaisar Romawi ini terasa kembali menemukan relevansinya.
Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam.



