darulmaarif.net – Indramayu, 05 Agustus 2026 | 09.00 WIB
Oleh: Ust. Ade Reza Muhammad, Lc.
“Hati anak ibarat tanah yang subur. Apa pun yang ditanam di dalamnya akan tumbuh, baik berupa keimanan maupun luka.”
Setelah Al-Qur’an meletakkan kasih sayang sebagai fondasi pendidikan dan Rosululloh SAW menerjemahkannya dalam kehidupan nyata, para ulama kemudian merumuskan prinsip-prinsip pendidikan Islam yang berakar pada kasih sayang (tarbiyah bil-maḥabbah).
Dalam khazanah Islam, pendidikan bukan sekadar proses ta’līm (transfer ilmu), tetapi juga tarbiyah (menumbuhkan), ta’dīb* (membentuk adab), dan tazkiyah (menyucikan jiwa). Karena itu, seorang pendidik tidak cukup hanya menyampaikan materi, melainkan juga menghadirkan rasa aman agar ilmu mudah bersemayam di dalam hati.
Prinsip ini telah lama menjadi tradisi di pesantren. Para kyai terdahulu tidak hanya dikenang karena keluasan ilmunya, tetapi juga karena kasih sayang yang mereka berikan kepada para santri. Tidak sedikit santri yang bertahan menempuh pendidikan bertahun-tahun bukan semata-mata karena kitab yang dipelajari, tetapi karena merasa diterima sebagai bagian dari keluarga besar pesantren.
Anak Adalah Amanah, Bukan Beban
Salah satu prinsip yang banyak ditekankan dalam literatur tarbiyah Islam adalah bahwa anak merupakan amanah dari Alloh SWT.
Alloh berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Taḥrīm Ayat 6)
Imam Fakhruddin Ar-Rozi menafsirkan bahwa menjaga diri berarti menjauhi segala larangan Alloh Ta’ala. Selain keselamatan pribadi, kita juga berkewajiban melindungi keluarga dari api neraka. Langkah konkretnya adalah dengan mendidik anggota keluarga agar selalu patuh pada perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
قُوا أَنْفُسَكُمْ أَيْ بِالِانْتِهَاءِ عَمَّا نَهَاكُمُ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ، وَقَالَ مُقَاتِلٌ: أَنْ يُؤَدِّبَ الْمُسْلِمُ نَفْسَهُ وَأَهْلَهُ، فَيَأْمُرَهُمْ بِالْخَيْرِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الشَّرِّ،
Artinya: “Jagalah diri kalian dengan berhenti melakukan semua yang dilarang oleh Allah untuk dilakukan. Muqotil berkata: caranya dengan seorang Muslim mendidik dirinya beserta keluarganya dan memerintahkan mereka melakukan amal baik dan mencegah mereka melakukan amal buruk.” (Fakhruddin Ar-Rozi, Mafatihul Ghoib, [Beirut, Dar Ihya At-Turots Al-‘Arobi, 1420 H], juz XXX, hal 572).
Sedangkan Imam al-Qurṭubi ketika menafsirkan ayat ini menjelaskan bahwa menjaga keluarga bukan hanya memenuhi kebutuhan lahir mereka, tetapi juga mendidik, mengajarkan adab, serta membimbing mereka menuju ketaatan kepada Alloh. Tanggung jawab itu tidak berhenti pada orang tua. Dalam konteks pendidikan, amanah tersebut juga dipikul oleh guru dan pengasuh yang diberi kepercayaan membina anak-anak kaum Muslimin.
Bagi pesantren, amanah ini menjadi semakin besar ketika menerima santri yang tinggal jauh dari keluarga. Selama berada di lingkungan pondok, para ustadz dan musyrif menjadi orang-orang yang paling dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.
Pendidikan yang Menghidupkan Fitrah
Al-Qur’an menggambarkan manusia lahir dalam keadaan membawa potensi kebaikan.
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَـٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Artinya: “Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam sesuai) fitrah (dari) Alloh yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Alloh (tersebut). Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rūm: 30)
Menurut para mufassir seperti Imam At-Thobari, al-Qurthubi, dan al-Baghowi, ayat ini menunjukkan tentang fitrah agama sebagai bagian dari fitrah kemanusiaan. Kata fitrah sendiri berarti “asal kejadian” atau “bawaan sejak lahir”, penggunaan kata ini mengisyaratkan potensi keyakinan terhadap Tuhan dalam diri setiap manusia. Karena pada hakikatnya manusia adalah makhluk lemah yang membutuhkan Tuhan sebagai sandaran kehidupan.
Ayat ini juga sejalan dengan sabda Rosululloh SAW,
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Artinya: “Setiap anak yang dilahirkan itu dilahirkan atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau menjadikannya Nas-rani atau menjadikannya Majusi.” (HR. Imam Bukhori dan Muslim)
Para ulama memahami bahwa pendidikan tidak bertugas menciptakan fitrah baru, tetapi menjaga, menyuburkan, dan mengarahkannya. Ketika seorang anak menunjukkan perilaku menyimpang, pendidik tidak tergesa-gesa memberi cap buruk, melainkan berusaha mengembalikannya kepada fitrah yang Alloh tanamkan.
Pandangan ini mengajarkan bahwa seorang santri yang sering melanggar aturan tidak boleh dipandang sebagai “anak nakal” secara permanen. Yang perlu dibina adalah perilakunya, sementara martabatnya sebagai hamba Alloh tetap harus dijaga.
Kasih Sayang sebagai Jalan Masuk Pendidikan
Tradisi pendidikan Islam juga menempatkan kasih sayang sebagai pintu masuk dalam membentuk karakter.
Imam al-Ghozali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, khususnya pembahasan tentang adab pendidik, menekankan bahwa seorang guru hendaknya memperlakukan murid seperti anaknya sendiri, mengajar dengan niat mencari ridho Alloh, dan tidak menjadikan pendidikan sebagai sarana melampiaskan amarah.
فإن عود الخير وعلمه نشأ عليه وسعد في الدنيا والآخرة وشاركه في ثوابه أبوه وكل معلم له ومؤدب وإن عود الشر وأهمل إهمال البهائم شقي وهلك وكان الوزر في رقبة القيم عليه والوالي له
Artinya: “Jika orang tua membiasakan dan mengajarkan kebaikan, maka anak akan tumbuh dalam kebaikan dan bahagialah orang tuanya di dunia dan akhirat. Ia pun akan mendapat pahala dari amal sholeh yang dilakukan anaknya (tanpa mengurangi hak pahala anak). Demikian juga berlaku bagi setiap guru dan pendidik. Jika ia membiasakan keburukan dan membiarkan anaknya seperti membiarkan binatang ternak, maka ia akan celaka dan binasa. Sementara dosanya juga ditanggung pengasuh dan walinya.” (Imam Al-Ghazali, 2018 M/1439-1440 H: III/77)
Seorang guru yang baik tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga menunjukkan kelembutan, kesabaran, dan keteladanan sehingga murid terdorong mencintai ilmu dan menghormati gurunya.
Pesan ini sangat relevan bagi kehidupan pesantren. Seorang musyrif sering kali lebih banyak berinteraksi dengan santri daripada orang tua mereka sendiri. Dalam kondisi seperti itu, sikap kasar atau kata-kata yang merendahkan dapat meninggalkan bekas yang lama. Sebaliknya, perhatian kecil yang tulus mampu membangun rasa percaya dan memperkuat ikatan batin antara guru dan murid.
Keteladanan Lebih Tajam daripada Nasihat
Salah satu prinsip yang berulang dalam karya-karya pendidikan Islam adalah bahwa keteladanan lebih efektif daripada sekadar instruksi.
Al-Qur’an telah menegaskan,
..لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
Artinya: “Sungguh, pada diri Rasululloh terdapat teladan yang baik bagi kalian.” (QS. Al-Aḥzāb Ayat 21)
Saat Sayyidah Aisyah ditanya bagaimana akhlak Nabi, berikut beberapa riwayat yang menyebutkan keindahan teladan akhlak Rosululloh SAW:
سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنْ خُلُقِ رَسُوْلِ اللهِ فَقَالَتْ لَمْ يَكُنْ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا، وَلَا صَخَّابًا فِي الْأَسْوَاقِ، وَلَا يَجْزِي بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ، وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَصْفَحُ
Artinya: “Aku (‘Abdulloh
al-Jadali) bertanya kepada Sayyidah ‘Aisyah perihal akhlak Rasulullah, maka Siti Aisyah menjawab, Rosululloh bukanlah pribadi yang keji dan berbuat keji. Ia tidak pernah berteriak di pasar, ia (juga) tidak membalas keburukan dengan keburukan, akan tetapi memaafkan dan berlapang dada.” (HR. Imam At-Tirmidzi)
Ayat dan hadits diatas menunjukkan bahwa pendidikan Islam bertumpu pada contoh nyata. Seorang ustadz yang mengajarkan kesabaran harus terlebih dahulu bersabar. Seorang musyrif yang mengajak santri menjaga lisan harus lebih dahulu menjaga lisannya sendiri. Keteladanan seperti inilah yang secara perlahan membentuk karakter santri tanpa harus selalu diiringi banyak kata.
Mengapa Sebagian Anak Sulit Dibina?
Dalam praktik pengasuhan, tidak semua anak merespons pendidikan dengan cara yang sama. Ada yang mudah menerima nasihat, ada pula yang tampak keras, mudah marah, atau justru menutup diri.
Dalam banyak literatur tarbiyah Islam kontemporer, pentingnya guru memahami kondisi psikologis dan lingkungan anak sebelum menentukan metode pendidikan.
Secara umum, para ulama pendidikan Islam menekankan bahwa perilaku anak dipengaruhi oleh pembiasaan, keteladanan, suasana keluarga, lingkungan pergaulan, dan perhatian yang ia terima. Karena itu, solusi pendidikan tidak cukup dengan hukuman semata, melainkan harus menyentuh akar persoalan melalui bimbingan, pembiasaan yang baik, dan hubungan yang dilandasi kasih sayang.
Pesantren sebagai Lingkungan Tarbiyah
Di sinilah pesantren memiliki keistimewaan. Pendidikan berlangsung selama dua puluh empat jam. Santri belajar bukan hanya dari kitab yang dibaca, tetapi juga dari cara ustadz berbicara, cara musyrif menegur, cara kiai memaafkan, dan cara seluruh lingkungan pondok membangun budaya saling menghormati.
Bagi santri yang datang dengan hati yang pernah terluka, lingkungan seperti ini dapat menjadi ruang pemulihan. Mereka belajar bahwa disiplin tidak identik dengan kemarahan, dan ketegasan tidak harus menghilangkan kasih sayang. Sedikit demi sedikit, pengalaman hidup di pesantren dapat menumbuhkan kembali rasa percaya kepada orang lain dan kepada dirinya sendiri.
Pada akhirnya, pendidikan Islam tidak hanya bertujuan melahirkan santri yang cerdas, tetapi juga pribadi yang beriman, beradab, dan memiliki hati yang sehat. Jalan menuju tujuan itu tidak ditempuh melalui kekerasan atau penghinaan, melainkan melalui perpaduan ilmu, keteladanan, kesabaran, dan kasih sayang.
Sebagaimana benih memerlukan tanah yang subur agar dapat tumbuh, demikian pula ilmu memerlukan hati yang tenang agar dapat berbuah menjadi akhlak. Ketika seorang ustadz berhasil menghadirkan rasa aman di hati santrinya, sesungguhnya ia telah membuka pintu terbesar bagi keberhasilan tarbiyah.
Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam.



