Menerjemahkan Pendidikan Cinta, Ini Rahasia Tarbiyah Rosululloh SAW bagi Anak-anak yang Terluka (Bagian IV)

darulmaarif.net – Indramayu, 06 Agustus 2026 | 08.00 WIB

Oleh: Ust. Ade Reza Muhammad, Lc.

“Boleh jadi, yang paling dirindukan seorang santri setelah bertahun-tahun meninggalkan pesantren bukanlah bangunan asramanya, melainkan seorang ustadz yang pernah membuatnya merasa dicintai.”

Dalam tradisi Islam, pesantren tidak pernah dipahami hanya sebagai tempat mempelajari kitab kuning. Sejak masa para ulama Salaf, lembaga pendidikan Islam dibangun sebagai ruang pembentukan akhlak (tahdzīb al-akhlāq), penyucian jiwa (tazkiyatun nafs), dan penanaman adab (ta’dīb).

Karena itu, hubungan antara guru dan murid tidak berhenti pada relasi akademik semata. Hubungan tersebut berkembang menjadi hubungan ruhani yang dipenuhi rasa hormat, kasih sayang, dan tanggung jawab.

Bagi sebagian santri, terutama mereka yang berasal dari keluarga yang tidak utuh, kehilangan figur ayah, atau hidup jauh dari orang tua karena tuntutan ekonomi, pesantren perlahan berubah menjadi rumah kedua. Di tempat inilah mereka mencari rasa aman, belajar mempercayai orang lain, sekaligus menemukan keluarga baru.

Seorang ustadz mungkin tidak mampu menggantikan orang tua mereka. Namun ia dapat menjadi orang pertama yang membuat seorang anak percaya bahwa dirinya masih layak untuk dicintai.

Hari Sambangan: Ketika Senyum Menyembunyikan Kerinduan

Tidak ada hari yang lebih berat bagi sebagian santri selain hari kunjungan wali santri.

Di halaman pesantren terlihat para orang tua datang membawa makanan kesukaan anaknya. Ada yang memeluk putranya erat, ada yang menanyakan hafalan, ada yang diam-diam menyelipkan uang saku.

Namun, di sudut lain, ada beberapa santri yang hanya memperhatikan dari kejauhan.

Mereka berpura-pura sibuk.

Ada yang memilih mencuci pakaian.

Ada yang tidur di kamar.

Ada pula yang membantu panitia agar tidak terlalu memikirkan bahwa tak seorang pun datang menjenguknya.

Mungkin orang tuanya bekerja di luar negeri.

Mungkin keluarganya tinggal sangat jauh.

Mungkin mereka memang sudah tidak memiliki keluarga yang dapat datang.

Inilah saat ketika seorang musyrif dituntut memiliki kepekaan.

Bukan untuk mengasihani mereka.

Tetapi agar mereka tidak merasa sendirian.

Kadang perhatian yang paling sederhana justru paling bermakna.

Mengajak mereka makan bersama.

Menawarkan buah yang baru diterima.

Mengobrol tentang kegiatan pekan ini.

Atau sekadar bertanya,

“Nak, bagaimana kabarmu hari ini?”

Boleh jadi pertanyaan sederhana itu menjadi pelukan yang selama ini tidak pernah mereka rasakan.

Setelah Isya: Waktu yang Paling Sunyi

Siang hari membuat seorang santri sibuk.

Pelajaran.

Mengaji.

Olahraga.

Bercanda bersama teman.

Namun ketika malam tiba, suasana berubah.

Lampu kamar mulai dipadamkan.

Suara teman-teman mulai menghilang.

Di saat seperti itulah kerinduan kepada rumah sering muncul.

Tidak sedikit pengasuh pesantren menceritakan bahwa santri yang tampak ceria pada siang hari justru menangis diam-diam menjelang tidur.

Sebagian memandangi foto keluarganya.

Sebagian lagi memeluk bantal sambil menyembunyikan air mata.

Pada waktu-waktu seperti inilah kehadiran musyrif menjadi sangat berarti.

Bukan untuk memberikan ceramah panjang.

Tetapi cukup duduk sebentar.

Menyapa.

Mendengarkan.

Kadang anak tidak membutuhkan jawaban.

Ia hanya ingin didengar.

Rosululloh SAW sendiri dikenal sebagai pendengar yang baik. Beliau tidak memotong pembicaraan lawan bicara, tidak meremehkan keluhan, dan selalu memberikan perhatian penuh kepada orang yang sedang berbicara.

Sebagai contoh, Rosululloh SAW menjadi pendengar yang baik saat dialog dengan Utbah bin Robi’ah, salah satu elit pembesar Kafir Quraisy saat itu.

Utbah adalah salah seorang musuh Islam yang kemudian tertarik dan terpesona dengan gaya komunikasi beliau. Tak heran jika teman-temannya kemudian mengatakan kepadanya bahwa Utbah telah tersihir ucapan Muhammad.

Jika dihitung, ucapan Utbah jauh lebih banyak dari ucapan Rosululloh. Bahkan beliau hampir tidak berkapa apa-apa kecuali sekadar membacakan beberapa ayat suci al-Qur’an. Justru dengan berhemat bicara inilah akhirnya Utbah kepincut, dan akhirnya menyerah. (Dikutip dari buku Sirah Nabawiyah Syekh Shofiyyurrohman Al-Mubarokfuri, 2012).

Dalam satu riwayat, Atha’ bin Abi Rabah, seorang Ulama Tabi’in, mengatakan:

إِنَّ الرَّجُلَ يُحَدِّثُنِيْ بِالْحَدِيْثِ فَأَنْصِتُ لَهُ كَأَنِّيْ أَسْمَعُهُ وَقَدْ سَمِعْتُهُ قَبْلَ أَنْ يُوْلَدَ

Artinya: “Sungguh ada orang yang menyampaikan sebuah hadits. Akupun diam menyimak seakan aku baru pertama kali mendengar hadits tersebut padahal aku telah mendengar hadits tersebut sebelum dia lahir.” (Muhammad bin Ahmad bin Utsman ad-Dzahabi, Siyarul A’lam an-Nubala’, Juz V, hal. 86)

Salah satu tanda keluhuran budi adalah kemampuan kita untuk menyimak pembicaraan orang lain dengan perhatian penuh. Dengan menunjukkan antusiasme tinggi—seolah kisah itu baru pertama kali kita dengar—kita telah mempraktikkan etika berkomunikasi yang sangat mulia.

Sikap seperti ini menjadi teladan bahwa mendengar dengan empati merupakan bagian dari akhlak seorang pendidik.

Ketika Santri Melanggar Aturan

Setiap pesantren memiliki tata tertib.

Disiplin merupakan bagian penting dari pendidikan.

Namun Islam mengajarkan bahwa disiplin tidak boleh mematikan harapan.

Dalam Tafsir Ar-Razi dijelaskan:

وتواصوا أي : أوصى بعضهم بعضاً بلسان الحال والمقال (بالحق)

Artinya: “Dan mereka saling menasihati, yakni: antara satu dengan yang lain saling menasihati, baik dengan perbuatan dan ucapan, (untuk kebenaran).” (Khatib Asy-Syarbini, Tafsir Khatib Asy-Syarbini, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah: 1971], jilid IV, halaman 680).

Penjelasan Asy-Syirbini relevan dengan kapasitas manusia yang tidak luput dari salah dan lupa, sehingga diperintahkan untuk saling menasihati, mengoreksi dan memberi masukan. Namun, ada perbedaan besar antara mengoreksi kesalahan santri dengan memberi label buruk kepada pelakunya.

Seorang santri mungkin terlambat berjama’ah di masjid.

Tidak mengikuti piket.

Menyembunyikan telepon genggam.

Atau bahkan kabur dari pondok.

Semua itu tentu memerlukan pembinaan sesuai aturan yang berlaku.

Namun sebelum menjatuhkan hukuman, seorang pendidik juga perlu bertanya,

“Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada anak ini?”

Barangkali ia sedang mengalami konflik keluarga.

Barangkali ia sedang kehilangan semangat belajar.

Barangkali ia sedang mencari perhatian dengan cara yang keliru.

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak menghapus disiplin.

Justru membantu disiplin mencapai tujuannya, yaitu memperbaiki, bukan mempermalukan.

Ketika Santri Sedang Sakit

Tidak sedikit santri yang menahan sakit karena tidak ingin merepotkan orang lain.

Mereka terbiasa berkata,

“Tidak apa-apa, Ustadz.”

Padahal tubuhnya mulai demam.

Dalam situasi seperti ini, perhatian kecil memiliki nilai yang sangat besar.

Mengantar ke klinik.

Menyuapi makanan.

Menelepon orang tuanya.

Membacakan doa.

Menyelimuti ketika malam.

Semua itu adalah bentuk pendidikan.

Karena anak belajar tentang kasih sayang bukan hanya melalui teori, tetapi melalui pengalaman yang ia rasakan sendiri.

Menjenguk orang yang sedang sakit merupakan salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Landasan hukum ini bersumber dari riwayat sahabat Al-Barra bin Azib rodhiyallohu ‘anhu, yang menegaskan bahwa Rosululloh SAW secara langsung memerintahkan umatnya untuk mengiringi jenazah serta menyempatkan diri menjenguk saudara yang tengah jatuh sakit.

وَيُسْتَحَبُّ عِيَادَةُ الْمَرِيضِ لِمَا رَوَى البَرَّاءُ بْنُ عَازِبٍ قَالَ أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِاتِّبَاعِ الْجَنَائِزِ وَعِيَادَةِ الْمَرْضَى

Artinya: “Dan disunnahkan menjenguk orang sakit karena didasarkan pada hadits riwayat Al-Bara’ bin ‘Azib ia berkata, Rosululloh SAW telah memerintahkan kami untuk mengiringi jenazah dan menjenguk orang sakit (Lihat Abu Ishaq As-Syirazi, Al-Muhadzdzab fi Fiqhil Imamis Syafi’i, [Beirut, Darul Fikr], juz I, halaman 126)

Menghargai Hal-Hal Kecil

Sering kali seorang ustadz hanya memperhatikan santri yang berprestasi.

Juara lomba.

Hafalan terbanyak.

Nilai terbaik.

Padahal ada banyak keberhasilan kecil yang tidak pernah diumumkan.

Santri yang dahulu sering terlambat kini mulai tepat waktu.

Santri yang dahulu pemarah mulai mampu meminta maaf.

Santri yang dahulu malas berjama’ah kini tidak pernah absen.

Kemajuan seperti ini patut diapresiasi.

Dalam satu riwayat hadits, baginda Nabi SAW selalu mengajak bermain anak kecil dan berlemah lembut kepada mereka.
Dari sahabat Mahmud bin Ar-Rabi’ rodhiyallohu ‘anhu, ia mengisahkan;

عَقَلْتُ مِنَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم مَجَّةً مَجَّهَا فِي وَجْهِي، وَأَنَا ابْنُ خَمْسِ سِنِينَ مِنْ دَلْوٍ

Artinya: “Yang aku ingat sekali dari Rosululloh SAW adalah semburan air dari mulutnya ke wajahku, (air tersebut) beliau (semburkan dengan) mengambilnya dari sebuah ember, dan kala itu aku berumur lima tahun.” (HR. Imam Bukhori)

Para ulama menafsirkan, semburan yang dilakukan oleh Nabi SAW jaraknya jauh karena المج , artinya semburan air dari mulut. Dan tidak dikatakan المج , kecuali jika disamburkan dari jarak jauh.

Di riwayat hadits yang lain, sahabat Anas rodhiyallohu ‘anhu menceritakan,

رُبَّمَا قَالَ لِيَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: «يَا ذَا الأُذُنَيْنِ» يَعْنِي: يُمَازِحُهُ

Artinya: “Terkadang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (mencandaiku dengan) memanggilku, ‘Wahai Dzal Udzunain (si pemilik dua daun telinga).’ Abu Usamah (salah satu periwayat hadis) mengatakan, ‘Beliau bermaksud untuk bersenda gurau dengannya.” (HR. Imam At-Tirmidzi)

Nabi Muhammad SAW menggunakan berbagai cara untuk menggembirakan dan menyenangkan anak kecil, sembari melatih mereka untuk terbiasa berbicara dengan orang yang lebih dewasa.

Dalam pendidikan Islam, hal-hal kecil seperti yang dicontohkan Nabi bisa menjadi kenangan seorang ustadz yang tak terlupakan di mata santri.

Lima Menit yang Mengubah Hidup

Di tengah padatnya aktivitas pesantren, seorang ustadz mungkin merasa tidak memiliki banyak waktu.

Namun sering kali perubahan besar dimulai dari perhatian yang sangat kecil.

Lima menit setelah Subuh.

Lima menit setelah Isya.

Lima menit ketika ronda malam.

Lima menit saat berjalan menuju kelas.

Waktu yang singkat itu dapat digunakan untuk menyapa beberapa santri secara personal.

Memanggil nama mereka.

Menanyakan kabar.

Mendoakan.

Atau sekadar tersenyum.

Barangkali bagi seorang ustadz, semua itu tampak biasa.

Namun bagi seorang anak yang bertahun-tahun merasa tidak diperhatikan, lima menit tersebut dapat mengubah cara pandangnya terhadap dirinya sendiri.

Tarbiyah Dimulai dari Kehadiran

Di era digital, banyak orang berbicara tentang metode pendidikan modern.

Namun Rosululloh SAW mengajarkan satu hal yang tidak pernah lekang oleh waktu.

Hadir.

Hadir ketika anak membutuhkan.

Hadir ketika ia gagal.

Hadir ketika ia sakit.

Hadir ketika ia merasa sendiri.

Seorang musyrif mungkin tidak mampu menyelesaikan seluruh masalah santrinya.

Namun kehadirannya yang tulus sering kali menjadi jawaban pertama yang Alloh kirimkan sebelum pertolongan yang lain datang.

Renungan untuk Para Pengasuh Pesantren

Mungkin kita tidak akan pernah mengetahui seluruh luka yang dibawa setiap santri ketika pertama kali menginjakkan kaki di pesantren.

Namun kita dapat memastikan satu hal.

Jangan sampai mereka pulang membawa luka baru yang lahir dari lisan, sikap, atau perlakuan kita.

Sebaliknya, jadikanlah pesantren sebagai tempat di mana mereka belajar bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan ilmu sekaligus kasih sayang; tempat di mana setiap teguran lahir dari cinta, setiap disiplin disertai penghormatan terhadap martabat manusia, dan setiap ustadz hadir sebagai teladan akhlak Rosululloh SAW.

Boleh jadi, puluhan tahun setelah mereka meninggalkan pesantren, mereka tidak lagi mengingat seluruh isi pelajaran yang pernah diterima. Akan tetapi, mereka akan selalu mengingat seorang guru yang pernah menghampiri mereka pada malam yang sunyi, lalu berkata dengan penuh ketulusan,

“Nak, kalau ada yang sedang kamu rasakan, jangan dipendam sendirian. Kami di sini adalah keluargamu.”

Kalimat sederhana itu mungkin tidak tercatat dalam kitab mana pun, tetapi ia dapat menjadi awal dari pulihnya hati seorang anak. Dan hati yang pulih akan lebih mudah menerima ilmu, menumbuhkan adab, serta melahirkan generasi yang mencintai Alloh dan Rosul-Nya.

Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam.

script>
Info Pendaftaran Santri BaruAda pertanyaan? Chat kami sekarang! 😊