darulmaarif.net – Indramayu, 26 September 2026 | 08.00 WIB
Pernah merasa lelah padahal pekerjaan belum terlalu banyak? Pikiran penuh, notifikasi WhatsApp tidak berhenti, masalah orang lain ikut dipikirkan, sementara pekerjaan sendiri justru terbengkalai?
Bisa jadi masalahnya bukan hanya terlalu banyak pekerjaan, tetapi karena terlalu banyak energi dicurahkan untuk hal-hal yang sebenarnya tidak berada dalam kendali kita.
Stephen R. Covey dalam The 7 Habits of Highly Effective People memperkenalkan konsep Circle of Concern dan Circle of Influence. Gagasan ini dapat dipahami secara praktis melalui tiga lingkaran: lingkar kuasa, lingkar pengaruh, dan lingkar perhatian.
Menariknya, prinsip tersebut memiliki titik temu dengan ajaran kitab kuning tentang menjaga diri, meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat, dan menyerahkan hasil kepada Alloh.
Lingkar Kuasa: Fokus pada Apa yang Bisa Dikendalikan
Lingkar kuasa (Circle of Control) adalah segala sesuatu yang benar-benar berada dalam kendali diri kita.
Misalnya:
- cara merespons kritik;
- penggunaan waktu;
- pilihan bacaan dan tontonan;
- cara berbicara;
- kedisiplinan bekerja;
- penggunaan media sosial;
- sikap terhadap masalah.
Seorang guru tidak bisa memaksa semua santri langsung memahami pelajaran. Tetapi ia bisa mengendalikan persiapannya.
Musyrif tidak bisa menjamin semua santri selalu disiplin. Tetapi ia bisa memberikan teladan dan menjalankan pembinaan dengan konsisten.
Dalam Risalatul Mu’awanah, Imam Abdullah bin Alawi al-Haddad menekankan pentingnya memperbaiki niat sebelum melakukan pekerjaan:
وَعَلَيْكَ يَا أَخِي بِإِصْلَاحِ النِّيَّةِ وَإِخْلَاصِهَا وَتَفَقُّدِهَا وَالتَّفَكُّرِ فِيهَا قَبْلَ الدُّخُولِ فِي الْعَمَلِ
Artinya: “Wahai saudaraku, hendaknya engkau memperbaiki dan memurnikan niat, memeriksanya serta memikirkannya sebelum memasuki suatu pekerjaan.” (Abdullah bin Alawi al-Haddad, Risalatul Mu’awanah wal-Muzhaharoti wal-Mu’azarah, Darul Hawi, cet. II)
Pesannya sederhana: sebelum sibuk memperbaiki keadaan di luar diri, perbaiki dahulu sesuatu yang memang berada dalam kuasa kita: diri sendiri.
Lingkar Pengaruh: Ikhtiarkan, Jangan Memaksa Hasil
Lingkar kedua adalah Circle of Influence, yaitu sesuatu yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali kita, tetapi masih dapat dipengaruhi.
Contohnya:
- hubungan dengan teman;
- kedisiplinan santri;
- suasana kerja tim;
- komunikasi dengan wali santri;
- kesehatan tubuh;
- budaya organisasi.
Kita bisa memberikan nasihat, membuat program, memberi teladan, dan membangun komunikasi. Tetapi hasil akhirnya tetap tidak sepenuhnya berada di tangan kita.
Dalam Bidayatul Hidayah, Imam al-Ghozali mengingatkan pentingnya mengawasi hati dan anggota badan dalam menjalankan perintah Alloh:
وَلَنْ تَصِلَ أَيُّهَا الطَّالِبُ إِلَى الْقِيَامِ بِأَوَامِرِ اللهِ تَعَالَى إِلَّا بِمُرَاقَبَةِ قَلْبِكَ وَجَوَارِحِكَ
Artinya: “Wahai orang yang mencari (hidayah), engkau tidak akan sampai kepada kemampuan menjalankan perintah Allah Ta’ala kecuali dengan mengawasi hatimu dan anggota badanmu.” (Abu Hamid al-Ghozali, Bidayatul Hidayah, Maktabah Madbuli, Kairo, cet. I, 1413 H/1993 M)
Di sinilah kita belajar membedakan ikhtiar dan hasil.
Tugas kita adalah berusaha dengan benar. Hasil akhirnya adalah wilayah Alloh.
Lingkar Perhatian: Tidak Semua Harus Dipikirkan
Lingkar ketiga adalah Circle of Concern, yaitu segala sesuatu yang kita pedulikan tetapi tidak dapat kita kendalikan secara langsung.
Misalnya:
- pendapat orang lain;
- kondisi ekonomi;
- cuaca;
- keputusan orang lain;
- masa lalu;
- komentar warganet;
- berbagai persoalan yang terjadi di dunia.
Peduli itu baik. Tetapi jika semua perhatian berubah menjadi kecemasan, energi mental akan cepat habis.
Terlebih di era media sosial. Kita dapat mengetahui masalah orang lain hanya dalam hitungan detik. Akibatnya, kepala penuh dengan persoalan yang sebenarnya tidak pernah menjadi tanggung jawab kita.
Imam al-Ghozali mengutip hadits Nabi SAW:
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
Artinya: “Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak berguna baginya.” (Abu Hamid al-Ghozali, Ihya’ ‘Ulumiddin, Dar al-Kitab al-‘Arobi, Beirut, hlm. 20)
Kalimat ini terasa sangat relevan di zaman scrolling tanpa akhir.
Tidak semua komentar harus dijawab.
Tidak semua berita harus diikuti.
Tidak semua perdebatan membutuhkan kehadiran kita.
Tidak semua masalah orang lain harus kita bawa sampai ke tempat tidur.
Jangan Sampai Pikiran Burnout, Hati Ikut “Mendung”
Kadang seseorang bukan hanya mengalami burnout secara fisik, tetapi juga kelelahan secara spiritual.
Tubuh berhenti, tetapi pikiran terus bekerja.
Sedang makan memikirkan pekerjaan.
Di rumah memikirkan masalah kantor.
Hendak tidur masih memeriksa WhatsApp.
Bangun tidur langsung membuka media sosial.
Akhirnya, hati tidak memiliki ruang untuk benar-benar tenang.
Dalam kondisi seperti ini, kita perlu belajar memilah:
Apa yang bisa saya kendalikan?
Apa yang masih bisa saya pengaruhi?
Apa yang memang harus saya lepaskan?
Gunakan rumus sederhana:
Lingkar Kuasa → kerjakan.
Lingkar Pengaruh → ikhtiarkan.
Lingkar Perhatian → pedulikan seperlunya, lalu serahkan kepada Alloh.
Belajar Melepaskan, Bukan Berarti Tidak Peduli
Fokus pada lingkar kuasa bukan berarti menjadi apatis.
Islam tetap mengajarkan kepedulian kepada sesama. Kita tetap harus membantu, menasihati, memperbaiki keadaan, dan menjalankan tanggung jawab.
Namun kita tidak perlu memaksa diri mengendalikan sesuatu yang memang berada di luar kemampuan.
Seorang guru bertanggung jawab mengajar dengan baik, tetapi tidak dapat memaksa semua murid menyukai pelajarannya.
Seorang pengurus bertanggung jawab menjalankan amanah, tetapi tidak dapat mengendalikan semua komentar orang.
Seorang santri bertanggung jawab belajar sungguh-sungguh, tetapi tidak harus menghabiskan hidupnya membandingkan diri dengan pencapaian teman.
Kerjakan bagian kita. Serahkan hasilnya kepada Alloh.
Itulah salah satu cara menjaga produktivitas sekaligus kesehatan ruhani.
Hidup akan selalu menghadirkan perkara yang berada di luar kendali. Akan selalu ada komentar, masalah, kegagalan, perubahan keadaan, dan keputusan orang lain yang tidak sesuai harapan.
Namun kita tetap memiliki pilihan: memperbaiki diri, melakukan ikhtiar, menjaga adab, mengatur waktu, dan bertawakal kepada Alloh.
Ketika pikiran mulai penuh, coba tanyakan:
“Ini masuk lingkar kuasa, lingkar pengaruh, atau hanya lingkar perhatian?”
Jika bisa dikendalikan, kerjakan.
Jika masih bisa dipengaruhi, ikhtiarkan.
Jika tidak bisa diubah, serahkan kepada Alloh.
Sebab hidup terlalu berharga jika seluruh energi kita habiskan untuk memikirkan sesuatu yang bahkan tidak bisa kita ubah. Dan hati terlalu mulia jika seluruh ruangnya dipenuhi oleh perkara yang sebenarnya tidak perlu tinggal di sana.
Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam.



