Rahasia Orgasme Wanita dalam Kitab Nawadirul Aik Karya Imam As-Suyuthi: Mengapa Durasi Pria Jadi Kunci?

darulmaarif.net – Indramayu, 24 September 2026 | 16.00 WIB

Bicara soal kepuasan seksual dalam hubungan suami istri, perdebatan mengenai durasi bercinta dan bagaimana wanita mencapai puncak kenikmatan (orgasme) selalu menarik untuk dikaji. Menariknya, jauh sebelum dunia kedokteran modern menemukan istilah multiple orgasme, pemikiran Islam klasik ternyata telah mengupas tuntas fenomena biologis ini secara ilmiah dan terbuka.

Salah satu literatur kitab turots yang secara gamblang membedah anatomi gairah ini adalah kitab Nawadirul Aik fii Ma’rifatil Nayk karya ulama besar terkemuka, Al-‘Alim AL-‘allamah Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakar As-Suyuthi. Di dalam kitab ini, beliau merinci dinamika kepuasan seksual wanita serta mengapa durasi sanggama pria memegang kunci kebahagiaan bersama.

Memahami Dinamika Gairah Wanita dalam Kitab Nawadirul Aik

Dalam dunia medis modern, kita mengenal Sexual Response Cycle yang menjelaskan bahwa grafik respons seksual pria cenderung naik cepat lalu turun drastis setelah ejakulasi. Sebaliknya, wanita membutuhkan waktu warming up yang lebih lama, namun memiliki kapasitas untuk mempertahankan puncak kepuasan dalam durasi yang lebih panjang.

Formula biologis modern ini ternyata selaras dengan komparasi sains kuno yang dihadirkan oleh Imam As-Suyuthi dalam kitab Nawadirul Aik fii Ma’rifatin Nayk, hal. 58:

وَلَذَّةُ الرَّجُلِ: إِنَّمَا هِيَ فِي الإِنْزَالِ؛ بِدَلِيلِ أَنَّهُ إِذَا أَنْزَلَ؛ اِنْكَسَرَ مَا كَانَ فِيهِ مِنَ الشِّدَّةِ وَالقُوَّةِ وَفَتَرَ، وَتَنَحَّى عَنِ المَرْأَةِ. وَلَذَّةُ المَرْأَةِ: لَيْسَتْ فِي الإِنْزَالِ؛ بَلْ يَحْدُثُ لَهَا عِنْدَ الوَطْءِ حَكَّةٌ لَا يُذْهِبُهَا إِلَّا حَكَّةُ الذَّكَرِ بِالمُجَامَعَةِ

Artinya: “Adapun kenikmatan laki-laki: hanyalah terjadi saat inzal (klimaks/ejakulasi). Buktinya adalah bahwa apabila seorang laki-laki telah inzal, maka seketika sirnalah ketegangan dan kekuatan yang sebelumnya ia rasakan, ia menjadi lemas (fatur), lalu menjauh dari wanita. Sementara kenikmatan wanita: bukan terletak pada momen inzal-nya (saja); melainkan saat terjadi persetubuhan (wat’u), muncul rasa bergejolak (hasrat biologis) yang tidak bisa dihilangkan kecuali oleh gesekan kemaluan laki-laki melalui sanggama.” (As-Syuyuthi, Nawadirul Aik fii Ma’rifatin Nayk, hal. 58)

Melalui teks di atas, kitab ini menjelaskan bahwa pola kepuasan wanita bersifat berkelanjutan dan tidak langsung anjlok setelah cairan keluar, berbeda dengan pria yang langsung memasuki periode lemas (fatur).

Filosofi “Roda Penggilingan” & Multi-Klimaks Wanita

Bergeser ke lembar berikutnya, yaitu halaman 59, Imam As-Suyuthi memaparkan bagaimana kepuasan wanita bekerja secara bertahap. Beliau mengadopsi analisis sosiologis dan medis kuno dengan menganalogikannya secara sangat puitis mirip putaran roda alat penggiling batu kuno (al-raha):

وَالمَرْأَةُ إِذَا أَخَذَتْ فِي الإِنْزَالِ فِي وَسَطِ الوَطْءِ: لَمْ يَنْقَطِعْ فِي الحَالِ؛ بَلْ تَسْتَمِرُّ سَاعَةً طَوِيلَةً، وَهِيَ تُنْزِلُ إِنْزَالًا مُتَّصِلًا مُتَتَابِعًا… وَذَلِكَ كَالرَّحَى تَكُونُ فِي اِبْتِدَاءِ إِدَارَتِهَا ضَعِيفَةَ الدَّوَرَانِ بِقَدْرِ مَا حَرَّكَتْهَا، فَكُلَّمَا دَارَتْ اِزْدَادَتْ قُوَّةً إِلَى وَسَطِ أَمْرِهَا، ثُمَّ تَضْعُفُ فِي آخِرِ دَوْرَاتِهَا.

Artinya: “Dan wanita, apabila mulai mengalami inzal di tengah persetubuhan: momen itu tidak langsung berhenti saat itu juga. Melainkan terus berlanjut dalam waktu yang cukup lama, di mana ia mengalami inzal secara bersambung dan berturut-turut… Hal tersebut diibaratkan seperti alat penggilingan batu (al-raha): pada awal putarannya, gerakannya lemah sesuai dengan kadar dorongan yang menggerahkannya. Namun, semakin ia berputar, kekuatannya semakin bertambah hingga mencapai puncaknya di tengah-tengah putaran, kemudian melemah kembali pada putaran-putaran terakhirnya.” (Nawadirul Aik, Hal. 59)

Studi literatur ini membuktikan bahwa konsep multiple orgasme atau gelombang klimaks yang berturut-turut pada wanita sudah dipetakan dengan baik oleh para ulama terdahulu. Gairah wanita dimulai dari kelemahan, menanjak hebat ke puncak di tengah durasi hubungan, dan baru perlahan menurun di akhir sesi.

Mengapa Durasi Pria Sangat Penting untuk Kepuasan Wanita?

Salah satu problem seksual modern yang sering memicu ketidakharmonisan rumah tangga adalah ketidakmampuan pria mempertahankan performa (ejakulasi dini). Akibatnya, hubungan intim terhenti justru di saat gairah istri baru saja akan bergejolak naik menuju puncak.

Imam As-Suyuthi mencatat pandangan para filosof zaman dahulu yang menegaskan pentingnya durasi pria demi mengimbangi keunikan grafik biologis wanita tersebut:

وَلِهَذَا أَحَبُّ الرِّجَالِ فِي النِّسَاءِ أَطْوَلُهُمْ مُجَامَعَةً، وَأَبْطَأُهُمْ إِنْزَالًا؛ لِتَطُولَ لَذَّتُهُنَّ لِلْحَكَّةِ كَمَا فِي أَصْحَابِ الجَرَبِ

Artinya: “Oleh sebab itu, laki-laki yang paling disukai oleh wanita adalah mereka yang paling lama durasi sanggamanya dan paling lambat inzal-nya, agar kenikmatan wanita dapat berlangsung lama dalam menuntaskan hasrat bergejolak tersebut…” (As-Syuyuthi, Nawadirul Aik, Hal. 58)

Analogi “penderita gatal yang digaruk” dalam teks asli di atas—meski menggunakan diksi tradisional—secara fungsional menggambarkan dorongan biologis pelepasan ketegangan seksual (sexual tension release) yang dibutuhkan oleh tubuh wanita hingga mencapai kepuasan paripurna.

Relevansi Kitab dengan Hubungan Suami Istri Kekinian

Melalui kitab Nawadirul Aik, Imam As-Suyuthi sesungguhnya meninggalkan warisan pemikiran yang sangat visioner dan melintasi zaman. Ada beberapa pelajaran penting untuk kehidupan pernikahan modern saat ini:

  • Pentingnya Foreplay (Pemanasan): Karena gairah wanita dimulai dengan kelemahan dan kelesuan, pria modern wajib meluangkan waktu untuk melakukan stimulasi awal (foreplay) agar ritme gairah istri dapat terbangun dengan baik.
  • Pentingnya Komunikasi pasca-Klimaks (Aftercare): keterangan kitab ini mencatat bahwa setelah fase puncak berlalu, gairah wanita akan turun drastis hingga merasa lemas fisik. Ini memberikan isyarat bagi suami untuk peka memberikan ketenangan atau pelukan hangat (aftercare) dan tidak mengabaikan istri setelah hasrat terlampiaskan.
  • Mengatasi Masalah Durasi Bersama: Ketidakseimbangan durasi ejakulasi bukanlah hal tabu yang harus disembunyikan. Sains modern saat ini menyediakan solusi medis terpadu mulai dari terapi perilaku, senam kegel, hingga konseling seksologi guna menyelaraskan ritme pasutri demi kebahagiaan rumah tangga.

Kitab turots seperti Nawadirul Aik karya Imam Jalaluddin As-Suyuthi membuktikan bahwa khazanah keilmuan Islam sangat terbuka, ilmiah, dan berkeadilan dalam memandang hak kepuasan seksual wanita. Baik naskah ratusan tahun lalu maupun sains modern sepakat: memahami perbedaan biologis pasangan adalah kunci utama untuk menciptakan hubungan intim yang sehat, harmonis, dan membahagiakan kedua belah pihak.

Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam.

script>
Info Pendaftaran Santri BaruAda pertanyaan? Chat kami sekarang! 😊