Benarkah Segala Penyakit Bersumber dari Perut? Ini Jawabannya!

darulmaarif.net – Indramayu | 09 Januari 2025 | 13.00 WIB

Dalam tradisi pesantren, nasihat “berhentilah makan sebelum kenyang” bukan sekadar petuah etika, melainkan prinsip hidup yang berakar kuat pada ajaran Nabi Muhammad SAW, pengalaman para ulama, dan bahkan sejalan dengan temuan ilmu kesehatan modern. Perut, dalam pandangan Islam, bukan hanya ruang biologis, tetapi juga pintu yang dapat memengaruhi kesehatan jasmani, kejernihan akal, dan kebersihan hati.

Pertanyaan klasik pun mengemuka: benarkah segala penyakit bersumber dari perut? Untuk menjawabnya, kita perlu menengok salah satu hadits Nabi yang oleh para ulama disebut sebagai fondasi ilmu kesehatan.

Dalam Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam, Ibnu Rajab al-Ḥanbali menempatkan hadits berikut:

الحديث السابع والأربعون

عن المقدام بن معدي كرب قال سمعت رسول الله ﷺ يقول:
مَا مَلَأَ ابْنُ آدَمَ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ، بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ لُقَيْمَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ، فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ، وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ، وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ.
رواه الإمام أحمد والترمذي والنسائي وابن ماجه، وقال الترمذي: حديث حسن.

Artinya: “Tidaklah anak Adam memenuhi suatu wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suapan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Namun jika ia harus (makan lebih dari itu), maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk napasnya.” (HR. Imam Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasā’i, dan Ibnu Mājah. At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan; dikutip dari kitab Jami’ul ‘Ulum wal Hikam)

Ibnu Rajab menjelaskan bahwa hadits ini merupakan kaidah universal yang mencakup seluruh prinsip dasar pengobatan. Diriwayatkan, Ibnu Abī Māsawaih—seorang tabib terkenal—ketika membaca hadis ini dalam kitab Abū Khaithamah, berkata:

“Seandainya manusia mengamalkan kalimat-kalimat ini, niscaya mereka akan selamat dari berbagai penyakit dan gangguan kesehatan. Maka rumah sakit dan toko-toko obat akan menjadi sepi.”

Ucapan ini bukan berlebihan. Ia lahir dari kesimpulan para tabib klasik bahwa pangkal mayoritas penyakit adalah kekenyangan (at-tukhmah).

Sebagian ulama bahkan merumuskan ungkapan populer:

“Aṣlu kulli dā’in at-tukhmah”

“Pangkal dari setiap penyakit adalah perut yang penuh.”

Ungkapan ini memang pernah diriwayatkan secara marfū‘ (disandarkan kepada Nabi SAW), namun para ahli hadis menegaskan bahwa sanadnya tidak sahih. Meski demikian, maknanya diakui kebenarannya secara empiris dan pengalaman medis.

Al-Hārits bin Kaladah, tabib Arab yang masyhur pada masa awal Islam, berkata:

الحمية رأس الدواء، والبطنة رأس الداء

Artinya: ‘Menjaga pantangan makanan adalah pangkal pengobatan, sedangkan kekenyangan adalah pangkal penyakit.”

Ia juga menambahkan peringatan tajam:

“Yang membinasakan manusia dan memusnahkan banyak makhluk adalah memasukkan makanan di atas makanan sebelum yang sebelumnya tercerna.”

Ungkapan lain yang diriwayatkan para ulama bahkan lebih reflektif:

Artinya: “Seandainya ditanyakan kepada penghuni kubur: ‘Apakah penyebab ajal kalian?’ niscaya mereka akan menjawab: ‘Kekenyangan.’”

Semua ini menegaskan bahwa sedikit makan dan tidak memenuhi perut merupakan kunci kesehatan badan dan keselamatan hidup.

Al-Qur’an dan Larangan Isrāf

Prinsip ini sejatinya telah ditegaskan langsung oleh Alloh ‘Azza wa Jalla:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Artinya: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A‘rāf Ayat 31)

Konsep isrāf tidak hanya soal jumlah makanan, tetapi juga jenis, frekuensi, dan pola konsumsi. Prinsip ini bahkan sejalan dengan konsep kesehatan modern seperti B2SA (Beragam, Bergizi Seimbang, dan Aman) yang digaungkan Kementerian Kesehatan RI.

Perut, Setan, dan Kekerasan Hati

Dalam tradisi tasawuf dan pendidikan pesantren, perut juga dipandang sebagai pintu masuk pengaruh spiritual. Baginda Rosulullah SAW bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ، فَضَيِّقُوا مَجَارِيَهُ بِالْجُوعِ

Artinya: “Sesungguhnya setan berjalan dalam diri anak Adam melalui aliran darah. Maka persempitlah jalannya dengan lapar.”

Dalam riwayat lain, Nabi Muhammad SAW bersabda:

مَنْ أَجَاعَ بَطْنَهُ عَظُمَتْ فِكْرَتُهُ وَفَطَنَ قَلْبُهُ

Artinya: “Barangsiapa melaparkan perutnya, akan semakin tajam pikirannya dan semakin cerdas hatinya.” (Lihat Adab an-Nikāḥ wa Kasr asy-Syahwatayn, hlm. 205)

Abdullāh bin ‘Abbās ra. juga meriwayatkan sabda Nabi SAW:

مَنْ شَبَعَ وَنَامَ قَسَا قَلْبُهُ، ثُمَّ قَالَ: لِكُلِّ شَيْءٍ زَكَاةٌ، وَزَكَاةُ الْبَدَنِ الْجُوعُ

Artinya: “Barangsiapa yang kenyang lalu tidur, hatinya akan menjadi keras. Ketahuilah, setiap sesuatu memiliki zakat, dan zakatnya badan adalah lapar.”

Dari hadits, Al-Qur’an, hingga kesaksian para tabib dan ulama, kita memahami bahwa perut bukan sekadar alat makan, melainkan pusat keseimbangan kesehatan, akal, dan ruh. Karena itu, pesan para kiai agar berhenti makan sebelum kenyang bukanlah ajaran asketisme kosong, tetapi hikmah peradaban.

Maka, benarlah jika dikatakan: banyak penyakit bermula dari perut yang tidak dijaga, dan banyak kebaikan lahir dari perut yang dikendalikan. Di sinilah Islam menghadirkan keseimbangan—tidak melarang makan, tetapi mengajarkan adab, ukuran, dan kesadaran.

Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share:

More Posts