darulmaarif.net – Indramayu, 21 Oktober 2026 | 16.00 WIB
Belajar bahasa Arab kerap dianggap sulit karena banyaknya kaidah yang harus dihafal, terutama dalam ilmu shorof. Padahal, memahami perubahan bentuk kata dalam bahasa Arab tidak semestinya berhenti pada hafalan. Ada pola, logika, dan makna yang dapat dipelajari dengan cara lebih menyenangkan.
Gagasan itulah yang diangkat dalam Talkshow Bedah Buku Mastering Shorof bersama Sulkan, M.Pd., penulis buku Mastering Shorof, dalam rangkaian Expo Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Pondok Pesantren Darul Ma’arif Kaplongan, Indramayu.
Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 21 Oktober 2026, pukul 14.00–16.00 WIB di Panggung Expo HSN tersebut menghadirkan Diah Safitri A.J. sebagai pemantik diskusi. Talkshow ini terbuka untuk umum dan mengusung tema “Shorof Is Fun: Seni Membaca Pikiran Bahasa Arab Tanpa Hafalan Buta.”
Melalui buku Mastering Shorof, Sulkan menawarkan pendekatan pembelajaran yang menekankan metode imajinatif, penyampaian yang kekinian dan santai, serta orientasi pada pemahaman makna. Pendekatan ini mengajak pembelajar melihat shorof bukan sekadar kumpulan rumus yang harus diingat, melainkan perangkat untuk memahami bagaimana sebuah kata terbentuk dan bagaimana perubahan bentuknya memengaruhi makna.
Dari Pengalaman Mondok Menuju Kecintaan pada Bahasa Arab
Bagi banyak santri, kitab kuning merupakan bagian penting dari kehidupan sehari-hari di pesantren. Mereka berhadapan dengan teks berbahasa Arab, mengikuti pengajian, mempelajari nahwu dan shorof, serta berusaha memahami penjelasan para kiai.
Namun, proses memahami teks Arab tidak selalu mudah. Perbedaan bentuk kata dapat menentukan makna kalimat, sementara penguasaan kaidah membutuhkan ketekunan dan latihan berulang.
Pengalaman semacam inilah yang membuat pembelajaran shorof menjadi relevan untuk terus dikembangkan. Ilmu yang selama ini kerap dipandang sebagai materi hafalan dapat disampaikan dengan pendekatan yang lebih dekat dengan cara berpikir dan pengalaman belajar santri.
Dalam perjalanan pendidikannya, pengalaman mondok dapat menjadi ruang pembentukan disiplin, ketekunan, dan kecintaan terhadap ilmu. Proses belajar yang panjang juga melatih seseorang untuk tidak cepat menyerah ketika berhadapan dengan materi yang sulit.
“Ketika mondok, kita belajar bahwa memahami kitab kuning tidak cukup hanya dengan membaca atau menghafal. Kita perlu memahami pola, mengenali perubahan kata, dan mengetahui maksud dari teks yang sedang dipelajari. Proses itulah yang mengajarkan saya bahwa belajar bahasa Arab seharusnya tidak berhenti pada hafalan, tetapi sampai pada pemahaman.”
Mastering Shorof: Memahami Pola, Bukan Sekadar Menghafal
Salah satu tantangan dalam mempelajari shorof adalah memahami hubungan antara perubahan bentuk kata dan perubahan maknanya. Bagi pembelajar pemula, banyaknya istilah dan pola terkadang membuat proses belajar terasa berat sebelum mereka benar-benar memahami kegunaannya.
Buku Mastering Shorof mengangkat pendekatan yang berupaya membuat proses tersebut lebih menarik. Melalui metode imajinatif dan penyampaian yang santai, pembelajaran diarahkan agar peserta didik dapat mengenali pola perubahan kata sekaligus memahami makna yang dihasilkannya.
Pendekatan ini penting karena penguasaan shorof memiliki peran mendasar dalam membaca kitab kuning. Ketika pola kata mulai dipahami, santri memiliki bekal yang lebih kuat untuk menelaah teks, mengikuti pengajian, dan mengembangkan kemampuan membaca literatur Islam berbahasa Arab.
“Bagi saya, shorof itu bukan sekadar menghafal perubahan kata. Kita perlu memahami logikanya. Ketika pola dan maknanya sudah dipahami, belajar bahasa Arab bisa terasa lebih menyenangkan karena kita tahu apa yang sedang kita pelajari dan mengapa bentuk sebuah kata bisa berubah.”
Pesantren Membentuk Karakter Pembelajar Sepanjang Hayat
Lebih dari sekadar membahas buku, talkshow ini juga menjadi ruang untuk merefleksikan peran pesantren dalam membentuk karakter seseorang. Kehidupan mondok mengajarkan kedisiplinan, kesabaran, kemandirian, dan penghormatan terhadap ilmu. Nilai-nilai tersebut dapat menjadi bekal dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dunia pendidikan dan pekerjaan profesional.
Pengalaman belajar di pesantren juga memperlihatkan bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari proses yang instan. Ada kebiasaan membaca, mengulang pelajaran, berdiskusi, dan meminta penjelasan kepada guru yang secara perlahan membentuk cara seseorang berpikir.
Dalam dunia kerja, kebiasaan tersebut dapat diterjemahkan menjadi kemampuan belajar hal baru, menyelesaikan persoalan secara sistematis, dan menjalankan tanggung jawab dengan konsisten. Sementara dalam bidang pendidikan, pengalaman tersebut dapat mendorong lahirnya metode pembelajaran yang lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
“Pengalaman mondok mengajarkan saya untuk terus belajar dan tidak mudah menyerah. Ilmu yang kita dapatkan bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga perlu dikembangkan agar bisa memberi manfaat kepada orang lain. Kalau dahulu kita belajar dari guru, sekarang kita juga memiliki tanggung jawab untuk membantu orang lain memahami ilmu dengan cara yang lebih baik.”
Expo HSN 2026, Ruang Bertemunya Tradisi dan Inovasi Pendidikan
Penyelenggaraan bedah buku Mastering Shorof dalam rangkaian Expo HSN 2026 menunjukkan bahwa peringatan Hari Santri dapat menjadi momentum untuk mengembangkan tradisi keilmuan pesantren sekaligus menghadirkan inovasi pembelajaran.
Pesantren memiliki warisan intelektual yang kuat melalui tradisi pengkajian kitab kuning. Tantangan berikutnya ialah memastikan warisan tersebut tetap dapat dipelajari secara mendalam, menarik, dan relevan bagi generasi santri masa kini.
Melalui forum ini, peserta diajak melihat bahwa inovasi tidak harus berarti meninggalkan tradisi. Metode pembelajaran yang kreatif justru dapat menjadi sarana untuk mendekatkan santri kepada khazanah keilmuan Islam.
Buku Mastering Shorof menjadi salah satu ikhtiar untuk menghadirkan pengalaman belajar bahasa Arab yang lebih menyenangkan, tanpa menghilangkan pentingnya ketelitian kaidah dan pemahaman makna.
Pada akhirnya, tujuan belajar shorof bukan semata-mata agar santri mampu menghafal pola perubahan kata, melainkan agar mereka semakin terampil memahami bahasa Arab dan mampu mengakses khazanah keilmuan Islam dengan lebih baik.
Dari pesantren, ilmu diwariskan. Melalui inovasi, ilmu dikembangkan. Dan lewat pembelajaran yang bermakna, tradisi keilmuan Islam dapat terus hidup serta menjangkau generasi berikutnya.
Semoga bermanfaat.



