Talkshow Inspiratif di Expo HSN 2026: “Dari Belanja Sayur di Pondok hingga Menekuni Bisnis Jasa Migas”

Talkshow Inspiratif di Expo HSN 2026: “Dari Belanja Sayur di Pondok hingga Menekuni Bisnis Jasa Migas”

darulmaarif.net – Indramayu, 20 Oktober 2026 | 17.00 WIB

Pengalaman hidup di pesantren tidak selalu berhenti pada penguasaan ilmu agama dan rutinitas ibadah. Bagi sebagian alumni, kehidupan mondok justru menjadi ruang pembentukan karakter, kemandirian, dan mentalitas yang berguna ketika memasuki dunia profesional.

Semangat itulah yang diangkat dalam Talkshow Inspiratif bersama Chairul Anam, S.Fil., Founder CV. Sinom Banu Persada, dalam rangkaian Expo Hari Santri Nasional (HSN) 2026. Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 20 Oktober 2026, pukul 16.00–17.30 WIB tersebut digelar di panggung Expo HSN 2026, Kampus Hijau Pondok Pesantren Darul Ma’arif Kaplongan, Indramayu.

Mengusung tema Bedah Logika Gila Santri Sarjana Filsafat, talkshow ini terbuka untuk umum dan menghadirkan kisah perjalanan seorang santri yang menapaki dunia usaha hingga terjun ke sektor jasa minyak dan gas bumi (migas).

Slogan yang diangkat dalam publikasi acara, “Dulu belanja sayur di pondok, sekarang jualan jasa di migas!”, menggambarkan perubahan perjalanan hidup yang menarik untuk disimak. Dari aktivitas sederhana selama menjadi santri, Chairul Anam membangun perjalanan profesional yang membawanya memasuki dunia usaha dengan tantangan dan tuntutan yang berbeda.

Pesantren, Tempat Belajar Mandiri dan Menghadapi Kehidupan

Bagi seorang santri, kehidupan pesantren merupakan proses pendidikan yang berlangsung jauh melampaui ruang kelas. Bangun pagi, mengikuti pengajian, mengatur kebutuhan sehari-hari, hidup bersama teman dengan karakter berbeda, hingga menjalani disiplin kegiatan merupakan bagian dari pengalaman yang membentuk kepribadian.

Nilai-nilai tersebut dapat menjadi modal penting ketika seseorang menghadapi dunia kerja. Kedisiplinan membantu menjaga konsistensi, kebersamaan melatih kemampuan bekerja dalam tim, sedangkan keterbatasan selama mondok mengajarkan cara menyelesaikan persoalan dengan sumber daya yang tersedia.

Dalam konteks itulah, perjalanan Chairul Anam menjadi relevan untuk dibagikan kepada para santri. Kisahnya memperlihatkan bahwa latar belakang pendidikan pesantren dan gelar sarjana filsafat dapat menjadi bagian dari perjalanan menuju dunia profesional, termasuk sektor usaha yang membutuhkan kemampuan komunikasi, pemecahan masalah, dan kepercayaan.

“Dulu, saat mondok, urusan sederhana seperti belanja sayur menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dari hal-hal kecil itulah seorang santri belajar mengatur kebutuhan, berinteraksi dengan orang lain, dan bertanggung jawab. Ketika memasuki dunia kerja, pengalaman tersebut bisa menjadi bekal yang tidak selalu didapatkan dari bangku kuliah semata.” Ungkap Chairul Anam.

Dari Kehidupan Mondok Menuju Tantangan Dunia Migas

Menjalankan usaha di sektor jasa migas tentu bukan perkara sederhana. Dunia profesional menuntut ketepatan, kemampuan beradaptasi, komunikasi yang baik, serta komitmen dalam menjaga kepercayaan mitra kerja.

Perjalanan dari kehidupan pesantren menuju dunia bisnis juga membuka perspektif bahwa kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh bidang studi yang ditempuh seseorang. Kemauan untuk terus belajar, keberanian mengambil peluang, serta kemampuan membaca kebutuhan pasar turut berperan dalam membangun karier.

Gelar sarjana filsafat yang disandang Chairul Anam menjadi pintu masuk menarik untuk membahas hubungan antara cara berpikir kritis dan praktik bisnis. Filsafat melatih seseorang mengajukan pertanyaan, menguji asumsi, dan menimbang persoalan dari berbagai sudut pandang. Dalam dunia usaha, kemampuan semacam ini dapat membantu seseorang memahami persoalan sebelum mengambil keputusan.

“Ketika masuk ke dunia kerja, kita tidak cukup hanya mengandalkan ijazah. Kita perlu terus belajar, berani menghadapi tantangan, dan membangun kepercayaan. Pengalaman mondok mengajarkan bahwa setiap tanggung jawab harus dijalani dengan sungguh-sungguh, sekecil apa pun pekerjaan itu.”

Mengubah Cara Pandang Santri tentang Masa Depan

Talkshow ini menjadi ruang bagi para santri untuk melihat masa depan dari perspektif yang lebih luas. Menjadi santri tidak berarti membatasi pilihan karier pada bidang keagamaan semata. Dengan bekal nilai pesantren, pendidikan, keterampilan, dan kemauan untuk berkembang, alumni pesantren dapat berkiprah di berbagai bidang, termasuk kewirausahaan dan industri strategis.

Namun, inspirasi tersebut bukan sekadar tentang keberhasilan seseorang dalam merintis usaha. Hal yang lebih penting ialah memahami proses di baliknya: bagaimana seseorang membangun mentalitas, menghadapi perubahan, belajar dari kegagalan, dan menjaga integritas ketika berhadapan dengan tuntutan pekerjaan.

Melalui forum ini, para peserta diharapkan dapat memperoleh gambaran nyata tentang hubungan antara pengalaman hidup di pesantren dan tantangan kehidupan setelah lulus. Santri diajak untuk tidak meremehkan pengalaman sederhana selama mondok karena kebiasaan-kebiasaan itulah yang dapat menjadi fondasi karakter ketika menghadapi dunia yang lebih luas.

Expo HSN 2026, Ruang Pertemuan Santri dan Dunia Profesional

Kehadiran Talkshow Inspiratif dalam rangkaian Expo HSN 2026 memperkuat pesan bahwa peringatan Hari Santri tidak hanya menjadi momentum mengenang sejarah perjuangan ulama dan santri, tetapi juga kesempatan untuk mendorong pengembangan kapasitas generasi santri masa kini.

Di tengah perubahan dunia kerja dan perkembangan ekonomi, pesantren memiliki peluang untuk memperluas wawasan santri mengenai kewirausahaan, teknologi, profesionalisme, dan kemandirian ekonomi tanpa meninggalkan identitas keislaman.

Kisah perjalanan dari kehidupan sederhana di pondok menuju dunia bisnis migas menjadi pengingat bahwa masa depan tidak selalu dapat ditebak dari titik awal seseorang. Yang menentukan ialah bagaimana pengalaman diolah menjadi pelajaran, ilmu dikembangkan menjadi kemampuan, dan kesempatan dijawab dengan kerja nyata.

Pada akhirnya, santri tidak hanya dituntut untuk memiliki pengetahuan, tetapi juga kesiapan menghadapi kehidupan. Sebab, nilai-nilai yang dipelajari selama mondok akan semakin bermakna ketika mampu diterapkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat, dunia kerja, dan bangsa.

Hari Santri 2026: santri berilmu, berkarakter, mandiri, dan siap berkontribusi bagi Indonesia.

Semoga bermanfaat.

script>
Info Pendaftaran Santri BaruAda pertanyaan? Chat kami sekarang! 😊