darulmaarif.net — Indramayu, 27 Agustus 2026 | 22.00 WIB
Pondok Pesantren Darul Ma’arif Kaplongan, Indramayu, menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Aula Yayasan Darul Ma’arif, Rabu malam (25/08/2026). Kegiatan berlangsung mulai pukul 19.40 WIB hingga selesai dan diikuti jajaran pimpinan yayasan, pengasuh, dewan guru, serta keluarga besar pesantren.
Peringatan Maulid Nabi tersebut menjadi momentum bagi keluarga besar Darul Ma’arif untuk kembali menghidupkan kecintaan kepada Rosululloh SAW sekaligus meneladani akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Sejumlah tokoh hadir dalam kegiatan tersebut, antara lain Ketua Pembina Yayasan Darul Ma’arif, H. Dedi Wahidi; Ibu Nyai Ajeng Ayu Lestari, S.St., M.Kes.; pengasuh pesantren Kyai Sanuri, S.Pd.I.; KH. Hasbullah, Lc.; Pak Arsyad Hariri; Ustadz Ade Reza Muhammad, Lc., Wakil Direktur Pesantren; Ustadz B.A. Faisal Hasri, S.Kom., Direktur Pesantren; serta H. Asep Saefudin dan para petinggi Yayasan Darul Ma’arif lainnya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan rotiban setelah Magrib, kemudian dilanjutkan pra-acara berupa hadroh dan pembacaan maulid Barzanji. Suasana aula semakin semarak dengan lantunan shalawat yang dibawakan sebagai bentuk ekspresi kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.
Acara dipandu oleh Ustadzah Iin Yunianti dan Ustadzah Ratih Cumalasari. Setelah pra-acara selama kurang lebih 45 menit, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan Al-Qur’an dan shalawat oleh Ustadz Asep dan Ustadz Juedi.
Memasuki acara inti, Direktur Pesantren Darul Ma’arif, Ustadz Bobby Ahmad Faisal Hasri, S.Kom., menyampaikan sambutan. Setelah itu, sambutan dilanjutkan oleh H. Dedi Wahidi dan Ibu Nyai Ajeng Ayu Lestari.
Puncak peringatan Maulid Nabi diisi tausiyah oleh KH. Mohammad Yahya Abdullah, Lc., MA., dari Yayasan Pondok Pesantren Bapenpori Babakan Ciwaringin, Cirebon.
Dalam mau’idzohnya, KH. Mohammad Yahya Abdullah mengajak para santri dan seluruh jamaah untuk tidak berhenti mencintai Rosululloh SAW sebatas melalui perayaan Maulid, pembacaan shalawat, maupun pengagungan secara lisan. Menurutnya, kecintaan kepada Nabi harus dibuktikan melalui usaha meniru akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu kisah dalam sirah dan hadis yang relevan dengan pesan tersebut adalah kisah Anas bin Malik RA, yang sejak kecil menjadi pelayan Rosululloh SAW. Selama bertahun-tahun bersama Nabi, Anas menyaksikan secara langsung bagaimana Rasulullah memperlakukan orang-orang di sekitarnya.
Dalam hadits riwayat Imam Bukhori dan Muslim, Anas bin Malik RA berkata:
خَدَمْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عَشْرَ سِنِينَ، وَاللَّهِ مَا قَالَ لِي أُفًّا قَطُّ، وَلَا قَالَ لِي لِشَيْءٍ لِمَ فَعَلْتَ هَذَا؟ وَلَا لِشَيْءٍ تَرَكْتَهُ هَلَّا فَعَلْتَ هَذَا؟
“Aku melayani Rosululloh SAW selama sepuluh tahun. Demi Alloh, beliau tidak pernah mengatakan kepadaku ‘uff’ sekalipun. Beliau juga tidak pernah mengatakan kepadaku tentang sesuatu yang aku lakukan, ‘Mengapa engkau melakukan ini?’ dan tidak pula mengatakan tentang sesuatu yang aku tinggalkan, ‘Mengapa engkau tidak melakukan ini?’”
Kisah tersebut menggambarkan bagaimana kelembutan Rosululloh SAW tidak hanya terlihat dalam majelis atau ketika berhadapan dengan tokoh masyarakat, tetapi juga tercermin dalam interaksi sederhana bersama orang yang berada di sekitarnya.
Pesan itu menjadi semakin relevan bagi kehidupan pesantren. Akhlak Nabi, dalam konteks pendidikan, bukan hanya tentang kemampuan menyampaikan nasihat, tetapi juga bagaimana seorang guru memperlakukan murid, bagaimana seorang senior memperlakukan junior, serta bagaimana seseorang menjaga tutur kata ketika menghadapi kesalahan orang lain.
“Keteladanan baginda Rosululloh bukan hanya untuk diceritakan, tetapi untuk dihadirkan dalam perilaku kita sehari-hari. Rosululloh mengajarkan bahwa kemuliaan akhlak terlihat ketika seseorang mampu bersikap lembut kepada orang yang berada di bawah tanggung jawabnya,” demikian pesan yang dapat ditarik dari kisah tersebut dalam mau’idzoh hasanah Maulid Nabi.
Kisah Anas bin Malik juga menunjukkan bahwa pendidikan Rosululloh SAW berlangsung melalui keteladanan. Nabi tidak sekadar mengajarkan akhlak dengan kata-kata, tetapi memperlihatkannya melalui perilaku yang dapat disaksikan langsung oleh para sahabat.
Dalam satu riwayat, salah satu kisah yang disampaikan dalam tausiyah dan mengundang senyum jama’ah adalah kisah Zaid bin Haritsah RA dan Ummu Aiman RA. Rosululloh SAW pernah menyampaikan kepada para sahabat tentang kemuliaan Ummu Aiman, perempuan yang sejak kecil merawat dan mendampingi beliau. Nabi SAW bersabda,
«مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَتَزَوَّجَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَلْيَتَزَوَّجْ أُمَّ أَيْمَن
“Barang siapa ingin menikahi perempuan dari penghuni surga, hendaklah ia menikahi Ummu Aiman.”
Para sahabat terdiam, sementara Zaid bin Haritsah RA justru maju dan bersedia menikahi Ummu Aiman. Padahal, Ummu Aiman saat itu telah berusia lanjut dan berstatus janda, sedangkan Zaid jauh lebih muda darinya.
Kisah tersebut menjadi bahan humor sekaligus pelajaran tentang bagaimana Rasulullah SAW mengajarkan para sahabat untuk melihat manusia bukan semata dari usia, rupa, keturunan, maupun status sosial, melainkan dari iman, ketakwaan dan kemuliaan akhlaknya. Pernikahan Zaid dan Ummu Aiman kemudian dikaruniai seorang putra bernama Usamah bin Zaid RA, sosok yang sangat dicintai Rasulullah SAW dan kelak dipercaya memimpin pasukan kaum Muslimin dalam usia yang masih muda.Dari kisah tersebut, jama’ah diajak memahami bahwa humor dalam majelis Nabi sekalipun tidak kehilangan nilai pendidikan.
Rosululloh SAW mampu menyampaikan pesan agama dengan cara yang dekat dengan kehidupan para sahabat. Bahkan dalam urusan pernikahan, beliau menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukanlah semata-mata kecantikan, usia, kekayaan atau kedudukan, melainkan kualitas iman dan akhlaknya.
Dalam konteks kehidupan santri, keteladanan tersebut dapat diterjemahkan melalui kebiasaan sederhana: menghormati guru, menyayangi teman, menjaga ucapan, tidak mudah merendahkan orang lain, serta mampu mengendalikan emosi ketika menghadapi persoalan. Kegiatan peringatan maulid Nabi SAW ditutup dengan pembacaan doa oleh KH. Hasbullah, Lc..
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Darul Ma’arif Kaplongan pun tidak sekadar menjadi agenda seremonial tahunan. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi bagi seluruh keluarga besar pesantren untuk menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam membangun kehidupan yang berlandaskan ilmu, adab, kasih sayang, dan akhlak mulia.
Bagi pesantren, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW pada akhirnya tidak cukup hanya diucapkan melalui shalawat. Ia harus tampak dalam cara seorang santri berbicara, belajar, menghormati guru, bergaul dengan sesama, dan menjalani kehidupan sehari-hari.
Semoga bermanfaat.



