Lima Bahasa Cinta dalam Merawat Rumah Tangga di Era Digital

darulmaarif.net – Indramayu, 24 Agustus 2026 | 08.00 WIB

Di tengah kehidupan yang semakin terkoneksi dengan teknologi digital, sebuah paradoks mulai terasa dalam banyak rumah tangga: manusia semakin mudah berkomunikasi dengan orang yang jauh, tetapi justru semakin sulit memberikan perhatian kepada orang yang berada di dekatnya.

Suami dan istri dapat duduk berdampingan di ruang keluarga, tetapi perhatian masing-masing tersedot oleh telepon genggam. Percakapan yang semestinya berlangsung hangat terputus oleh notifikasi gawai. Makan bersama berubah menjadi aktivitas individual karena masing-masing sibuk dengan layar digitalnya masing-masing.

Fenomena semacam ini kerap disebut phubbing, yakni perilaku mengabaikan orang yang berada di hadapan kita karena lebih memperhatikan telepon atau perangkat digital.

Dalam psikologi populer, persoalan kebutuhan emosional dalam hubungan pasangan antara lain dibahas melalui konsep Five Love Languages yang dipopulerkan Gary Chapman. Ia membagi ekspresi kasih sayang ke dalam lima bentuk: words of affirmation, quality time, receiving gifts, acts of service, dan physical touch.

Konsep tersebut merupakan kerangka psikologi modern. Karena itu, tidak tepat jika dikatakan bahwa kitab-kitab klasik Islam telah mengenal teori Chapman dalam bentuk yang sama. Namun, sejumlah nilai yang terkandung di dalamnya memiliki titik temu dengan prinsip-prinsip akhlak dan adab pernikahan dalam khazanah keilmuan Islam.

Bahkan, fondasi hubungan suami istri dalam Islam jauh lebih mendasar. Al-Qur’an menyebut pernikahan sebagai jalan menuju ketenteraman, cinta, dan kasih sayang:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً

Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kamu rasa cinta dan kasih sayang.” (QS ar-Rum Ayat 21)

Alloh SWT juga memberikan prinsip penting dalam memperlakukan pasangan:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Artinya; “Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (QS an-Nisa’ Ayat 19)

Dari sinilah konsep kasih sayang dalam rumah tangga dapat dibaca. Bukan dengan mengatakan bahwa Islam mengadopsi teori psikologi modern, melainkan dengan melihat bagaimana kebutuhan untuk didengar, dihargai, ditemani, dilayani, dan disayangi memiliki padanan nilai dalam ajaran Islam.

  1. Kata-Kata Penegasan: Cinta Perlu Diungkapkan

Ada orang yang mencintai pasangannya, tetapi hampir tidak pernah mengatakannya.

Ia merasa bekerja keras, memenuhi kebutuhan rumah tangga, dan pulang ke rumah setiap hari sudah cukup menjadi bukti cinta. Namun, pasangan belum tentu menerjemahkan tindakan tersebut dengan cara yang sama.

Dalam hubungan manusia, cinta yang hanya disimpan dalam hati terkadang tidak cukup. Ia membutuhkan komunikasi.

Imam al-Bukhori meriwayatkan:

إِذَا أَحَبَّ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ، فَلْيُعْلِمْهُ أَنَّهُ أَحَبَّهُ

Artinya: “Apabila salah seorang di antara kalian mencintai saudaranya, hendaknya ia memberitahukan kepadanya bahwa ia mencintainya.” (HR. Imam Bukhori dalam Al-Adab al-Mufrod, no. 542)

Konteks hadits ini adalah kecintaan antarsesama Muslim, bukan secara khusus hubungan suami istri. Karena itu, hadis tersebut tidak boleh dipaksakan sebagai dalil khusus mengenai “bahasa cinta” dalam pernikahan.

Namun, prinsip komunikasinya tetap relevan: kasih sayang boleh dan bahkan dianjurkan untuk dikomunikasikan secara verbal.

Dalam kehidupan rumah tangga, bentuknya dapat sangat sederhana: “Terima kasih sudah menemani saya”, “Saya bangga kepadamu”, “Saya menghargai perjuanganmu”, atau “Saya mencintaimu.”

Kalimat-kalimat sederhana itu mungkin terdengar remeh bagi orang yang mengucapkannya. Tetapi bagi pasangan yang mendengarnya, ia bisa menjadi peneguhan bahwa dirinya masih dilihat, dihargai, dan dicintai.

Di tengah budaya digital yang membuat seseorang begitu mudah memberikan komentar positif kepada orang lain, pasangan justru jangan sampai menjadi orang yang paling jarang menerima apresiasi.

  1. Waktu Berkualitas: Hadir Bukan Sekadar Berada

Bahasa cinta kedua adalah quality time.

Persoalannya bukan sekadar apakah suami dan istri menghabiskan waktu di tempat yang sama. Pertanyaannya adalah: apakah mereka benar-benar hadir untuk satu sama lain?

Dua orang dapat duduk bersama selama dua jam, tetapi jika masing-masing sibuk dengan telepon genggam, secara emosional mereka sebenarnya tidak sedang bersama.

Khazanah Islam memberikan perhatian besar terhadap kualitas pergaulan suami istri.

Imam Abu Hamid Muhammad al-Ghozali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, Kitab Adab al-Nikah, ketika menjelaskan adab pergaulan dengan istri, menulis:

الأَدَبُ الثَّالِثُ: أَنْ يَزِيدَ عَلَى احْتِمَالِ الْأَذَى بِالْمُدَاعَبَةِ وَالْمَزَاحِ وَالْمُلَاعَبَةِ، فَهِيَ الَّتِي تُطَيِّبُ قُلُوبَ النِّسَاءِ، وَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْزَحُ مَعَهُنَّ، وَيَنْزِلُ إِلَى دَرَجَاتِ عُقُولِهِنَّ فِي الْأَعْمَالِ وَالْأَخْلَاقِ

Artinya: “Adab yang ketiga adalah menambahkan kesabaran menghadapi hal-hal yang kurang menyenangkan dengan senda gurau, humor, dan bermain bersama. Hal-hal tersebut dapat menyenangkan hati para perempuan. Rosululloh SAW juga biasa bercanda dengan istri-istrinya dan menyesuaikan diri dengan tingkat pemahaman mereka dalam perilaku dan akhlak.” (Ihya’ ‘Ulum al-Din, Kitab Adabun Nikah)

Pesan al-Ghozali cukup menarik jika dibaca dalam konteks kehidupan modern.

Rumah tangga tidak hanya membutuhkan nafkah dan pembagian tugas. Ia juga membutuhkan kebersamaan yang menyenangkan.

Suami tidak hanya dituntut menjadi pencari nafkah. Istri tidak hanya diposisikan sebagai pengelola rumah. Keduanya juga membutuhkan ruang untuk berbicara, bercanda, berjalan bersama, atau sekadar duduk tanpa tergesa-gesa.

Maka, dalam konteks era digital, quality time dapat dimulai dari kebiasaan sederhana: mematikan layar ketika pasangan sedang berbicara.

Sebab, memberikan waktu bukan hanya soal jumlah jam. Ia juga tentang kualitas perhatian.

  1. Memberi Hadiah: Mengirim Pesan “Aku Mengingatmu”

Bahasa cinta ketiga adalah receiving gifts atau menerima hadiah.

Dalam Islam, hadiah bukan semata-mata benda. Ia juga merupakan sarana mempererat hubungan sosial dan menumbuhkan kasih sayang.

Rosululloh SAW bersabda:

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ خَالِدٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا ضِمَامُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، قَالَ: سَمِعْتُ مُوسَى بْنَ وَرْدَانَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «تَهَادَوْا تَحَابُّوا»

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Khalid, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Dhamam bin Isma’il, ia berkata: aku mendengar Musa bin Wardan, dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, beliau bersabda: ‘Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.’”(HR. Imam al-Bukhori, Al-Adabul Mufrod)

Riwayat ini dinilai hasan oleh sejumlah ulama hadis; al-Hafizh Ibn Hajar juga menilainya memiliki sanad yang hasan.

Karena itu, hadiah dalam rumah tangga tidak harus mahal. Hadiah bisa berupa makanan kesukaan pasangan, buku yang ia inginkan, secangkir kopi, bunga, atau sesuatu yang sederhana tetapi menunjukkan bahwa kita mengingatnya.

Yang terpenting bukan nilai nominalnya, melainkan perhatian yang menyertainya.

Sayangnya, budaya media sosial terkadang membuat hadiah berubah menjadi ajang pamer. Barang mahal dibeli bukan karena pasangan membutuhkannya, melainkan karena ingin menunjukkan kehidupan rumah tangga yang tampak sempurna di depan kamera.

Padahal, hadiah yang paling bermakna bisa jadi justru hadiah yang tidak pernah diunggah ke media sosial.

  1. Tindakan Pelayanan: Cinta yang Menjadi Perbuatan

Bahasa cinta keempat adalah acts of service, yaitu menunjukkan kasih sayang melalui tindakan nyata.

Dalam rumah tangga, cinta tidak selalu berbentuk kata-kata. Kadang cinta hadir ketika seseorang mencuci piring karena melihat pasangannya kelelahan. Ia hadir ketika suami membantu mengurus anak. Ia hadir ketika istri menyiapkan kebutuhan suami. Ia juga hadir ketika salah satu pasangan mengambil alih pekerjaan rumah tanpa harus menunggu diminta.

Imam Bukhori meriwayatkan dari al-Aswad bahwa ia bertanya kepada Sayyidah ‘Aisyah RA tentang apa yang dilakukan Rosululloh SAW di rumah. ‘Aisyah menjawab:

كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ ـ تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ ـ فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ

Artinya: “Beliau biasa mengerjakan keperluan keluarganya—maksudnya, melayani atau membantu keluarganya—kemudian apabila waktu sholat tiba, beliau keluar untuk melaksanakan sholat.” (HR. Imam Bukhori)

Keterangan تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ dalam riwayat tersebut secara eksplisit menjelaskan makna mihanah ahlihi sebagai membantu atau melayani keluarganya.

Hadits tersebut memberikan gambaran bahwa Rosululloh SAW tidak menjadikan pekerjaan rumah sebagai sesuatu yang berada di luar martabat seorang laki-laki.

Beliau membantu keluarganya ketika berada di rumah. Ketika waktu salat tiba, beliau pergi menunaikan salat.

Teladan ini penting bagi keluarga modern yang menghadapi beban domestik semakin kompleks. Ketika suami dan istri sama-sama bekerja, persoalan rumah tangga tidak semestinya selalu dipandang melalui pertanyaan, “Ini tugas siapa?”

Yang lebih penting adalah: siapa yang saat itu lebih mampu membantu?

Cinta bukan hanya mengatakan “Aku mencintaimu”.

Cinta juga mengatakan melalui tindakan, “Aku tahu kamu lelah. Biar bagian ini aku yang mengerjakannya.”

  1. Sentuhan dan Kelembutan: Keintiman dalam Bingkai Pernikahan

Bahasa cinta kelima adalah physical touch, yaitu ekspresi kasih sayang melalui sentuhan fisik.

Dalam perspektif Islam, pembahasan mengenai keintiman suami istri harus ditempatkan dalam kerangka pernikahan yang sah, kehormatan pasangan, dan adab.

Selain itu, terdapat hadits dari Sayyidah ‘Aisyah RA bahwa Nabi SAW mencium dan bermesraan dengan istrinya ketika beliau sedang berpuasa:

عن عاشة رضى الله عنها قالت: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ، وَكَانَ أَمْلَكَكُمْ لِإِرْبِهِ

Artinya: “Dari Sayyidah ‘Aisyah RA bahwasanya ia berkata: ‘Nabi SAW pernah mencium dan bermesraan dengan istrinya ketika beliau sedang berpuasa, tetapi beliau paling kuat menahan syahwatnya diantara kalian.” (HR. Imam al-Bukhori dan Muslim)

Riwayat tersebut menunjukkan adanya bentuk kasih sayang fisik dalam kehidupan rumah tangga Rosululloh SAW, dengan tetap memperhatikan batas-batas syariat.

Dengan demikian, physical touch dalam perspektif Islam tidak boleh direduksi menjadi kebutuhan biologis belaka. Ia dapat menjadi bagian dari mawaddah dan rahmah yang Alloh SWT letakkan dalam kehidupan pernikahan.

Sentuhan, pelukan, ciuman, atau bentuk kelembutan antara suami dan istri harus dipahami dalam ruang privat pernikahan dan dengan memperhatikan kenyamanan serta kerelaan kedua belah pihak.

Islam tidak mengajarkan hubungan suami istri sebagai relasi yang dingin dan mekanis. Ia mengajarkan kasih sayang, kelembutan, dan penghormatan.

Dari “Lima Bahasa Cinta” Menuju Mu’asyaroh bil Ma’ruf

Jika lima bahasa cinta Gary Chapman dibaca berdampingan dengan khazanah Islam, terdapat sejumlah titik temu yang menarik.

Words of affirmation mengingatkan pentingnya mengungkapkan kasih sayang melalui kata-kata.

Quality time mengingatkan pentingnya hadir dan memberikan perhatian.

Receiving gifts menunjukkan bahwa hadiah dapat menjadi sarana menumbuhkan kasih sayang.

Acts of service mengajarkan bahwa cinta perlu diterjemahkan menjadi tindakan.

Physical touch mengingatkan pentingnya kelembutan dan keintiman dalam hubungan suami istri.

Tetapi Islam memberikan fondasi yang lebih luas melalui konsep mu’asyaroh bil ma’ruf.

Al-Ghozali menjelaskan makna pergaulan yang baik dengan istri:

وَالْمُعَاشَرَةُ بِالْمَعْرُوفِ تَكُونُ بِحُسْنِ الْخُلُقِ مَعَهَا، وَكَفِّ الْأَذَى عَنْهَا، بَلِ احْتِمَالِ الْأَذَى مِنْهَا، وَالْحِلْمِ عَنْ طَيْشِهَا وَغَضَبِهَا، اقْتِدَاءً بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Artinya: “Pergaulan yang baik diwujudkan dengan berakhlak baik kepadanya, menahan diri agar tidak menyakitinya, bahkan bersabar menghadapi sikap yang kurang menyenangkan darinya, serta bersikap lapang terhadap tindakan gegabah dan kemarahannya, dengan meneladani Rosululloh SAW.”

Al-Ghozali kemudian melanjutkan:

ثُمَّ يَزِيدُ عَلَى احْتِمَالِ الْأَذَى بِالْمُدَاعَبَةِ وَالْمَزَاحِ وَالْمُلَاعَبَةِ، فَهِيَ الَّتِي تُطَيِّبُ قُلُوبَ النِّسَاءِ

Artinya: “Kemudian hendaknya ia menambahkan kesabaran tersebut dengan bercengkerama, bersenda gurau, dan bermain bersama, karena hal itu dapat menyenangkan hati para perempuan.” (Ihya’ ‘Ulum al-Din, Kitab Adabun Nikah)

Di sinilah perbedaan sekaligus hubungan antara teori psikologi modern dan etika Islam menjadi jelas.

Islam tidak membutuhkan teori Five Love Languages untuk menetapkan kewajiban berbuat baik kepada pasangan. Namun, konsep psikologi modern tersebut dapat menjadi bahasa kontemporer untuk membantu sebagian orang memahami bagaimana kasih sayang dapat diterjemahkan ke dalam perilaku.

Jangan Sampai Ponsel Mengalahkan Pasangan

Masalah terbesar keluarga modern mungkin bukan hilangnya cinta.

Bisa jadi, masalahnya adalah cinta yang tidak lagi terasa.

Suami masih mencintai istrinya, tetapi tidak pernah mengatakannya.

Istri masih menyayangi suaminya, tetapi tidak lagi memiliki waktu untuk mendengarkannya.

Keduanya masih tinggal di rumah yang sama, tetapi masing-masing hidup dalam dunianya sendiri.

Ironisnya, media sosial membuat seseorang dapat mengetahui aktivitas orang yang berada ribuan kilometer jauhnya, tetapi tidak mengetahui apa yang sedang dirasakan pasangan yang tidur di sebelahnya.

Kita dapat memberikan like kepada unggahan orang lain, tetapi lupa memberikan apresiasi kepada orang yang setiap hari berjuang bersama kita.

Kita dapat membalas pesan orang lain dalam hitungan detik, tetapi menjawab pasangan dengan kalimat, “Nanti saja, aku sedang sibuk.”

Di sinilah pesan mu’asyaroh bil ma’ruf menjadi sangat relevan.

Rumah tangga bukan hanya tempat berbagi biaya hidup. Ia adalah ruang tempat dua manusia belajar saling memperhatikan, saling memahami, saling memaafkan, dan saling menumbuhkan ketenteraman.

Karena itu, mengisi “tangki cinta” pasangan tidak harus dimulai dengan sesuatu yang mahal.

Bisa dimulai dengan mematikan telepon ketika pasangan sedang berbicara.

Dengan mengucapkan terima kasih.

Dengan membawa pulang sesuatu yang membuatnya tersenyum.

Dengan membantu pekerjaan rumah ketika ia kelelahan.

Dengan duduk bersamanya tanpa terganggu layar.

Atau dengan memberikan sentuhan kasih sayang yang halal dan penuh penghormatan.

Semua itu mungkin tampak sederhana.

Namun, dalam kehidupan rumah tangga, justru hal-hal sederhana yang dilakukan berulang kali sering kali menjadi fondasi ketahanan hubungan.

Sebab cinta bukan hanya sesuatu yang dirasakan.

Cinta juga harus diucapkan, dihadirkan, diberikan, dikerjakan, dan dirawat.

Dan dalam perspektif Islam, seluruhnya bermuara pada satu prinsip: memperlakukan pasangan dengan cara yang baik (mu’asyarah bil ma’ruf) sebagai bagian dari akhlak dan tanggung jawab dalam pernikahan.

Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam.

script>
Info Pendaftaran Santri BaruAda pertanyaan? Chat kami sekarang! 😊