Sebuah Cerpen: Nama yang Tak Dicari Orang

darulmaarif.net – Indramayu, 08 Agustus 2026 | 09.00 WIB

Hujan baru saja berhenti ketika Sulkan turun dari angkot di depan sebuah gang sempit di pinggir Kota Cirebon. Ia membawa ransel hitam, sepasang sandal jepit, dan sebuah telepon genggam yang baterainya tinggal sebelas persen.

“Rumah Pak Mamduh di mana, ya, Bu?”

Perempuan penjual gorengan di ujung gang mengangkat wajah.

“Pak Mamduh yang mana?”

“Yang anaknya namanya Faris.”

Perempuan itu diam sejenak. Tangannya masih memegang sutil.

“Oh. Rumah paling ujung. Pintu hijau.”

“Terima kasih.”

“Mas.”

Sulkan menoleh.

“Kalau sudah ketemu, bilang saja dari Bu Yayah.”

Sulkan tersenyum.

“Baik, Bu.”

Ia berjalan menyusuri gang. Air hujan menggenang di antara batu-batu paving. Bau tanah basah bercampur dengan aroma minyak goreng dan asap kayu dari rumah-rumah yang pintunya terbuka.

Di ujung gang, ia menemukan pintu hijau.

Tok.

Tok.

“Assalamu’alaikum.”

Tidak ada jawaban.

Ia mengetuk lagi.

“Assalamu’alaikum.”

Dari dalam terdengar suara perempuan tua.

“Siapa?”

“Saya Sulkan, Bu. Dari pesantren.”

Pintu terbuka sedikit.

Seorang perempuan tua berdiri di baliknya. Tubuhnya kurus. Rambutnya hampir seluruhnya putih. Kain panjang menutup kakinya.

“Faris ada?”

“Tidak.”

“Ke mana, Bu?”

“Entah.”

Perempuan itu hendak menutup pintu.

“Tunggu, Bu.”

“Ada apa?”

“Saya membawa titipan dari ustadz.”

Perempuan itu memandang ransel Sulkan.

“Titipan apa?”

“Buku.”

“Buku?”

“Iya.”

“Faris tidak membaca buku lagi.”

Sulkan terdiam.

“Sejak kapan?”

“Sejak ayahnya meninggal.”

Perempuan itu membuka pintu lebih lebar.

“Masuklah.”

***

Di ruang tamu hanya ada sebuah kursi kayu, meja pendek, dan lemari kaca yang dipenuhi buku-buku lama.

“Duduk.”

Sulkan ikut duduk.

Perempuan itu mengambil segelas teh dari dapur.

“Namamu Sulkan?”

“Iya.”

“Santri?”

“Iya.”

“Pesantren mana?”

“Darul Ma’arif.”

Perempuan itu mengangguk.

“Faris dulu juga santri.”

“Dulu?”

“Sekarang katanya bukan.”

Sulkan menatap wajah perempuan keriput dan sayu matanya yang hampir tertutup kulit itu.

“Kenapa?”

“Dia bilang, menjadi santri tidak membuat ibunya sembuh.”

Kalimat itu jatuh begitu saja.

Sulkan tidak segera menjawab.

Perempuan itu duduk di kursi kayu.

“Faris anak baik,” katanya.

“Saya percaya.”

“Tapi terlalu banyak diam.”

“Bukankah diam itu kadang baik?”

“Tidak kalau diamnya karena kecewa.”

Sulkan menundukkan kepala.

“Faris kecewa kepada siapa?”

“Alloh!”

Sulkan mengangkat wajah.

Perempuan itu tersenyum pahit.

“Jangan kaget.”

“Saya tidak kaget, Bu.”

“Dulu dia rajin mengaji. Setiap subuh membangunkan saya. Setelah ayahnya meninggal, dia berhenti. Katanya, kalau Tuhan memang sayang, mengapa bapaknya diambil?”

Sulkan menghela napas.

“Faris sekarang bekerja?”

“Kadang.”

“Di mana?”

“Pasar. Angkat barang. Apa saja.”

“Pulang setiap hari?”

“Tidak.”

“Lalu Ibu sendirian?”

Perempuan itu tersenyum.

“Tidak. Ada Alloh.”

Sulkan menatap matanya.

Untuk pertama kali ia menyadari bahwa perempuan itu jauh lebih kuat daripada yang tampak.

“Bu…”

“Ya?”

“Kalau Faris pulang, boleh saya bicara dengannya?”

“Boleh.”

“Bagaimana kalau dia tidak mau?”

“Duduk saja di sampingnya.”

“Tidak perlu bicara?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Kadang orang yang sedang terluka tidak membutuhkan nasihat.”

Perempuan itu memandang ke arah jendela.

“Dia hanya membutuhkan seseorang yang tidak pergi.”

***

Faris pulang tiga hari kemudian.

Ia datang menjelang maghrib dengan kaus hitam dan celana panjang yang kotor oleh tanah. Ia berhenti ketika melihat Sulkan duduk di teras.

“Kamu?”

Sulkan berdiri.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam.”

“Kamu ingat saya?”

“Santri pondokan.”

“Benar.”

“Ada apa?”

“Menunggu.”

“Menunggu siapa?”

“Kamu.”

Faris tertawa pendek.

“Untuk apa?”

“Mengantar buku.”

“Sudah kubilang kepada Ibu, aku tidak membaca.”

“Buku ini bukan untuk dibaca.”

“Lalu?”

“Untuk disimpan.”

Faris memandang ransel Sulkan.

“Buku apa?”

Sulkan mengeluarkan sebuah kitab tipis bersampul cokelat.

Faris menerimanya.

“Ini?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Ustadz bilang, kamu pernah menyukainya.”

Faris membolak-balik kitab itu.

“Dulu.”

“Dulu kapan?”

“Ketika aku masih percaya bahwa semua kebaikan akan dibalas Tuhan.”

Sulkan tidak menjawab.

Faris memasukkan kitab itu ke dalam ransel.

“Sudah?”

“Belum.”

“Apa lagi?”

“Ibumu.”

Wajah Faris berubah.

“Ada apa dengan Ibu?”

“Tidak ada.”

“Lalu?”

“Dia menunggumu.”

“Aku juga menunggunya.”

“Setiap hari?”

Faris diam.

“Sulkan.”

“Ya?”

“Jangan mengajariku tentang ibu.”

Sulkan mengangguk.

“Baik.”

“Aku tahu apa yang harus kulakukan.”

“Baik.”

“Jangan datang lagi.”

Sulkan tersenyum tipis.

“Baik.”

Ia berdiri.

Faris memandang punggungnya.

“Sulkan.”

“Ya?”

“Kamu benar-benar tidak mau menasihatiku?”

Sulkan berhenti.

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena saya juga belum tentu lebih baik daripada kamu.”

Faris tidak berkata apa-apa.

Sulkan berjalan pergi.

***

Malam itu Faris menemukan ibunya sedang mencuci piring di dapur.

“Ibu.”

“Ya?”

“Apa Sulkan datang?”

“Sudah.”

“Dia bilang apa?”

“Tidak banyak.”

“Kenapa?”

“Dia bilang kamu tidak perlu dinasihati.”

Faris tertawa kecil.

“Anak aneh.”

“Iya.”

“Dia membawa buku.”

“Ibu tahu.”

“Buku lama.”

“Ibu tahu.”

Faris duduk.

“Ibu.”

“Ya?”

“Kenapa Ibu tidak pernah marah kepadaku?”

Perempuan itu berhenti mencuci.

“Untuk apa?”

“Aku meninggalkan pesantren.”

“Ibu tahu.”

“Aku jarang pulang.”

“Ibu tahu.”

“Aku sering menjawab Ibu dengan kasar.”

“Ibu tahu.”

“Aku…”

Suaranya berhenti.

Perempuan itu mengeringkan tangannya.

“Faris.”

“Ya?”

“Kalau seorang ibu menghitung semua kesalahan anaknya, kapan ia punya waktu untuk mencintainya?”

Faris menunduk.

“Ibu tidak pernah kecewa?”

“Pernah.”

“Kapan?”

“Ketika kamu tidak pulang.”

“Lalu?”

“Ibu tidur.”

“Tidak menangis?”

“Menangis.”

Faris memandang ibunya.

“Kenapa tidak bilang?”

“Supaya kamu pulang karena rindu, bukan karena kasihan.”

Faris menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Ibu…”

“Ya.”

“Maaf.”

Perempuan itu duduk di sampingnya.

“Sudah.”

“Aku banyak salah.”

“Sudah.”

“Aku marah kepada Alloh.”

“Sudah.”

“Aku…”

“Faris.”

“Ya?”

“Besok temani Ibu ke pasar.”

Faris mengangkat wajah.

“Untuk apa?”

“Membeli ikan.”

“Cuma itu?”

“Ya, cuma itu.”

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Faris tersenyum.

“Baik.”

***

Beberapa bulan berlalu.

Sulkan tidak pernah datang lagi.

Faris mulai kembali ke masjid.

Tidak banyak.

Hanya sholat maghrib dan isya.

Kadang subuh.

Ia kembali membuka kitab yang diberikan Sulkan.

Suatu malam ia menemukan sebuah kertas kecil terselip di halaman terakhir.

Tulisan tangan Sulkan.

Jangan mencari kemuliaan terlalu jauh. Kadang Alloh menyimpannya di rumahmu sendiri.

Faris membaca kalimat itu berkali-kali.

Kemudian ia bangkit.

“Ibu.”

“Ya?”

“Ibu sudah tidur?”

“Belum.”

“Boleh saya duduk di sini?”

“Boleh.”

Faris duduk di lantai dekat kaki ibunya.

“Ibu.”

“Ya?”

“Kalau nanti aku punya banyak uang, aku mau membelikan Ibu rumah.”

“Tidak usah.”

“Kenapa?”

“Rumah ini sudah cukup.”

“Nanti aku belikan mobil.”

“Untuk apa?”

“Supaya Ibu tidak naik angkot.”

“Ibu lebih suka naik angkot.”

“Kenapa?”

“Bisa ngobrol dengan orang.”

Faris tertawa.

“Kalau begitu aku belikan angkot.”

Perempuan itu ikut tertawa.

Lalu keduanya diam.

Hening.

Namun kali ini bukan hening yang menyakitkan.

***

Bertahun-tahun kemudian, Sulkan sudah menjadi guru di sebuah sekolah kecil di Indramayu.

Suatu sore seorang lelaki datang menemuinya.

“Masih ingat saya?”

Sulkan memandang wajah itu.

Faris.

Lebih tua. Rambutnya mulai beruban.

“Faris?”

“Masih ingat?”

“Tentu.”

Faris tertawa.

“Kukira kamu sudah lupa.”

“Tidak.”

Mereka duduk di sebuah warung kopi.

“Apa kabar ibumu?”

Faris menatap meja.

“Sudah meninggal.”

Sulkan terdiam.

“Kapan?”

“Dua tahun lalu.”

“Maaf.”

Faris mengangguk.

“Dia meninggal di pangkuanku.”

Sulkan menatapnya. Ada kegetiran yang mendadak mencecik lehernya, kelu.

“Innalillahi. Semoga Alloh merahmatinya.”

“Amin.”

Mereka kembali diam.

“Sulkan.”

“Ya?”

“Aku ingin mengatakan sesuatu.”

“Katakan.”

“Dulu aku kira hidupku akan berubah kalau aku bertemu orang besar.”

Sulkan tersenyum.

“Lalu?”

“Ternyata tidak.”

“Lalu apa yang mengubahmu?”

Faris menarik napas.

“Ibu.”

Sulkan mengangguk.

“Dan sebuah buku.”

“Buku?”

“Buku yang kamu bawa.”

Sulkan tertawa.

“Padahal saya bilang buku itu untuk disimpan.”

“Justru karena itu aku membacanya.”

“Masih kamu simpan?”

Faris mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

Kitab tua bersampul cokelat kekuningan.

Sudut-sudutnya telah lapuk, rusak.

“Masih.”

Sulkan menyentuh sampulnya.

“Kenapa?”

Faris memandang ke luar jendela.

“Karena di dalamnya ada kalimat yang membuatku pulang.”

“Apa?”

Faris tersenyum.

“Bahwa orang yang paling dekat dengan pintu surga kadang bukan orang yang paling dikenal manusia.”

Sulkan diam.

“Siapa yang bilang itu?”

“Entahlah.”

Faris tertawa.

“Mungkin kamu. Mungkin ibuku. Atau mungkin juga Tuhan.”

***

Beberapa saat kemudian Faris berdiri.

“Aku harus pulang.”

“Ke mana?”

“Rumah.”

“Masih rumah yang dulu?”

“Iya.”

“Sendiri?”

“Tidak.”

Sulkan memandangnya.

Faris tersenyum.

“Anakku menunggu.”

“Berapa usianya?”

“Lima tahun.”

“Laki-laki?”

“Ya, laki-laki.”

“Namanya?”

“Uwais Al-Qorni.”

Sulkan terdiam.

“Uwais?”

“Iya.”

“Kenapa nama itu?”

Faris tersenyum.

“Karena aku ingin dia tahu sejak kecil bahwa manusia tidak harus terkenal untuk menjadi baik, seperti sahabat Uwais Al-Qorni.”

Ia memasukkan kitab ke dalam tas.

“Aku ingin dia belajar satu hal.”

“Apa?”

“Kalau suatu hari dunia tidak mengenalnya, dia tidak perlu sedih.”

“Kenapa?”

“Karena mungkin namanya sedang dikenal di tempat yang jauh lebih penting.”

“Di mana?”

Faris menatap langit yang mulai kemerahan.

“Di hadapan Alloh.”

Ia berjalan meninggalkan warung.

Sulkan memperhatikannya sampai tubuh itu hilang di tikungan.

Angin sore membawa bau tanah dan daunan yang basah.

Di jalan, anak-anak berlarian mengejar layang-layang.

Sulkan teringat seorang pemuda dari Yaman yang dahulu tidak terkenal di tengah manusia, tetapi namanya disebut oleh Rosululloh.

Ia tersenyum.

Barangkali begitulah cara Tuhan menyimpan orang-orang baik.

Tidak selalu di atas panggung.

Tidak selalu di halaman depan surat kabar.

Tidak selalu di antara orang-orang yang bertepuk tangan.

Kadang di sebuah rumah kecil.

Di samping seorang ibu.

Di bawah lampu yang redup.

Di antara piring-piring yang belum dicuci.

Di balik pintu yang tidak pernah diberi nama.

Dan mungkin, justru di sanalah kemuliaan tumbuh tanpa suara.

Sebab ada orang-orang yang tidak perlu dikenal dunia untuk menjadi berarti.

Mereka cukup pulang.

Dan membuat seseorang yang mereka cintai merasa tidak sendirian.

Tamat.

script>
Info Pendaftaran Santri BaruAda pertanyaan? Chat kami sekarang! 😊