darulmaarif.net – Indramayu, 20 Juni 2026 | 23.00 WIB
Lapangan utama Pondok Pesantren Darul Ma’arif Kaplongan, Indramayu, tampak berbeda pada Selasa malam (23/6/2026). Ratusan santri, wali santri, dan para petinggi Yayasan Darul Ma’arif berkumpul dalam helatan sakral Haflah Khotmil Qur’an & Juz ‘Amma tahun ajaran 2025/2026.
Acara ini bukan sekadar seremoni kelulusan, melainkan wujud komitmen pesantren dalam menjaga keberlanjutan tradisi intelektual Islam di tengah arus modernisasi.
Sebanyak 88 santri dinyatakan khatam 30 juz, sementara 129 santri lainnya menuntaskan hafalan Juz ‘Amma. Prosesi ini menjadi klimaks dari rangkaian pendidikan intensif Al-Qur’an dan Juz ‘Amma di Pondok Pesantren Darul Ma’arif Kaplongan Indramayu.
Dalam sambutannya, pengasuh pondok, K.H. Hasbullah, Lc. menegaskan bahwa mengaji bukan sekadar aktivitas membaca teks, melainkan upaya memahami kalamulloh SWT secara mendalam. Beliau mengingatkan para santri bahwa penguasaan ilmu alat—seperti nahwu dan shorof—adalah prasyarat mutlak bagi mereka yang ingin mendalami tafsir Al-Qur’an secara bertanggung jawab.
“Al-Qur’an adalah kompas zaman. Tanpa fondasi ilmu yang kokoh, pemahaman terhadapnya bisa kehilangan arah,” ujar KH. Hasbullah, Lc. di hadapan ratusan orang wali santri yang hadir.
Salah satu pengasuh pesantren, KH. Hasbullah, Lc. dalam mauidzoh hasanah juga menyampaikan pesan yang mendalam. Beliau menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar teks bacaan yang mati, melainkan kalamulloh yang hidup dan mampu menggetarkan dunia. Namun, untuk menangkap pesan esensialnya, santri dituntut menguasai ilmu alat.
“Mengkaji Al-Qur’an tidak bisa instan. Diperlukan pemahaman ilmu nahwu dan shorof yang kuat melalui tradisi kajian kitab kuning di pesantren agar tafsirnya tidak melenceng,” ujar KH. Hasbullah di hadapan para hadirin semua.
Beliau juga menambahkan bahwa Al-Qur’an hanya akan menjadi pelita bagi manusia yang hatinya terbuka, bukan yang mati hatinya.
Puncaknya, KH. Hasbullah memaparkan rantai silsilah (sanad) keilmuan pesantren yang terjaga keasliannya dari generasi tabiin hingga bermuara pada ulama besar seperti Imam Bukhari dan Imam Nawawi.
Senada dengan itu, Ketua Pembina Yayasan Darul Ma’arif, KH. Dedi Wahidi, menyoroti pentingnya adaptasi pesantren menghadapi tantangan zaman. Ketua Prmbina Yayasan Darul Ma’arif sekaligus Anggota DPR RI tersebut menekankan bahwa pesantren kini dituntut untuk tidak hanya unggul dalam aspek spiritual, namun juga kompetitif dalam fasilitas dan metodologi pendidikan.
“Kami sedang memperkuat ekosistem pendidikan dengan memisahkan kelas santri putra dan putri guna menciptakan lingkungan belajar yang lebih fokus dan kondusif,” jelas KH. Dedi Wahidi.
Beliau juga memaparkan rencana pengembangan infrastruktur, termasuk pembangunan fasilitas olahraga sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhan santri yang menyeluruh.
Haflah tahun ini menjadi potret ketahanan Darul Ma’arif yang telah berdiri selama 19 tahun. Di tengah gempuran disrupsi informasi, pesantren ini tetap konsisten menanamkan nilai-nilai Aswaja (Ahlussunnah wal Jamaah) sebagai jangkar karakter santri.
Bagi para orang tua, keberhasilan anak-anak mereka menuntaskan hafalan bukan hanya soal pencapaian akademis, melainkan investasi moral untuk masa depan.
Acara ditutup dengan doa bersama yang dipanjatkan oleh Kyai Sanuri, S.Pd.I., membawa harapan agar dengan wasilah Khotmil Qur’an dan Juz ‘Amma ini, menjadi faktor keberkahan para santri, orang tua, dan seluruh civitas pondok pesantren. Amiin Ya Robbal ‘Aalamiin.
Semoga bermanfaat.



