Slow Living dalam Islam: Menemukan Ketenangan di Tengah Pusaran Hidup yang Tergesa-gesa

darulmaarif.net – Indramayu, 04 Oktober 2025 | 17.00 WIB

Di era modern seperti sekarang, manusia hidup seolah sedang berlomba mengejar kecepatan. Setiap hari diburu target, angka, pencapaian, dan validasi sosial. Media sosial membuat kita membandingkan diri dengan kehidupan orang lain, sementara notifikasi kerja tak pernah berhenti. Akibatnya, banyak yang hidup tergesa-gesa, kelelahan, dan kehilangan arah dan tujuan hidup yang sejati.

Padahal, Islam tidak mengajarkan hidup yang terburu-buru dan penuh kegelisahan. Islam mengajarkan ketenangan, kesederhanaan, dan keseimbangan—sebuah konsep yang kini dikenal sebagai slow living, atau hidup yang lebih pelan, penuh kesadaran, dan menentramkan hati.

Alloh Ta’ala menggambarkan hal itu dalam firman-Nya:

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Artinya: “Dan, hamba-hamba Alloh Yang Maha Pengasih itu adalah mereka yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” QS. Al-Furqon Ayat 63)

Ayat ini menegaskan bahwa ketenangan hidup lahir dari sikap rendah hati dan kelembutan, bukan dari amarah atau kesombongan. Hidup tenang bukan berarti tanpa aktivitas, melainkan menjalani setiap langkah dengan hati yang lapang dan pikiran yang jernih.

Ujlah, atau tergesa-gesa merupakan pekerjaan yang tidak baik dan sembrono. Sifat ini dalam banyak hadits disebut sebagai bagian dari sifat setan. Dalam sebuah hadis dari sahabat Anas Bin Malik rodliyaLlohu ‘anhu:

عن أنس بن مالكٍ رضي اللّه عنه، عن النّبيّ صلّى اللّه عليه وسلّم قال: التَّأَنِّيُ مِنَ اللّهِ، وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ.” رواه أبو يعلى في مسنده

Artinya: “Dari sahabat Anas bin Malik r.a, dari Nabi SAW, beliau bersabda: ‘Sikap tenang (tidak tergesa-gesa) berasal dari Alloh, sedangkan tergesa-gesa berasal dari setan’.”(HR. Abū Ya‘lā dalam Musnadnya)

Hidup Sederhana, Bukan Berlebihan

Islam menuntun umatnya untuk hidup seimbang—tidak kekurangan, tetapi juga tidak berlebihan. Alloh Ta’ala berfirman:

كُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Artinya: “Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’rof Ayat 31)

Gaya hidup berlebihan sering kali justru melahirkan kecemasan: takut kehilangan, ingin selalu lebih, dan merasa tidak pernah cukup. Sementara hidup sederhana mengajarkan rasa syukur dan kecukupan.

Slow living bukan berarti pasif, tetapi hidup secukupnya. Makan ketika lapar, istirahat ketika lelah, bekerja dengan niat ibadah, dan menggunakan waktu dengan kesadaran penuh. Itulah cara hidup yang menenangkan dan penuh berkah.

Ketenangan Sejati Bersumber dari Dzikir dan Kesadaran Ilahi

Islam mengajarkan bahwa sumber ketenangan sejati bukan berasal dari materi atau waktu luang, melainkan dari hati yang selalu mengingat Alloh SWT.

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Alloh. Ingatlah, hanya dengan mengingat Alloh hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ro’du Ayat 28)

Ayat ini menegaskan bahwa slow living dalam Islam bukan semata urusan ritme hidup, tapi juga urusan batin. Hati yang tenang lahir dari dzikrullah—kesadaran bahwa setiap langkah hidup berada dalam pengawasan dan kasih sayang Alloh SWT.

Imam al-Ghozali menulis pesan berharga bagi siapa pun yang merasa lelah oleh hiruk-pikuk dunia:

لَا تُشْغِلْ قَلْبَكَ بِالدُّنْيَا فَإِنَّهَا تُتْعِبُكَ، وَلَكِنِ اشْغَلْ قَلْبَكَ بِاللَّهِ فَتَسْعَدَ وَتَسْتَرِيحَ.

Artinya: “Jangan sibukkan hatimu dengan dunia, karena dunia akan membuatmu letih; sibukkanlah hatimu dengan Alloh, maka engkau akan damai dan beristirahat.”

Pesan ini selaras dengan semangat slow living: berhenti mengejar semua hal sekaligus, dan mulai memusatkan perhatian pada yang benar-benar bermakna.

Sementara itu, Syekh Abu Hasan as-Syadzili berkata:

أَرِحْ قَلْبَكَ مِنْ هَمِّ تَدْبِيرِ الدُّنْيَا، فَإِنَّ مَا قُدِّرَ لَكَ يَأْتِيكَ لَا مَحَالَةَ

Artinya: “Istirahatkan hatimu dari kesibukan mengatur dunia, karena semua hal yang telah ditetapkan untukmu, pasti akan datang kepadamu.”

Kedua nasihat ulama ini menunjukkan bahwa ketenangan bukan hasil dari banyaknya pencapaian, melainkan dari sikap menyerah sepenuhnya kepada Alloh melalui tawakkal.

Slow Living Bukan Malas, Tapi Menata Jiwa

Slow living dalam Islam tidak berarti malas bekerja atau menolak kemajuan. Islam justru mendorong umatnya untuk bekerja keras, berusaha, dan mencari rezeki halal. Namun, semua itu dilakukan dengan niat yang benar, ritme yang sehat, dan hati yang tidak terikat oleh dunia.

Kekayaan bukanlah dosa, selama tidak membuat sombong atau melalaikan dzikir. Aktivitas bukanlah beban, selama diiringi niat ibadah. Hidup yang pelan bukan berarti berhenti, melainkan menapaki jalan dengan kesadaran penuh bahwa semua yang kita lakukan akan kembali kepada Alloh SWT.

Maka, slow living menurut Islam adalah seni menata jiwa: hidup rendah hati, sederhana tanpa berlebih-lebihan, menenangkan hati dengan dzikruLloh, dan menyerahkan hasil kepada Alloh melalui tawakkal.

Hidup modern memang menuntut kecepatan, tapi jiwa manusia diciptakan untuk kedamaian. Maka, berhentilah sejenak dan rasakan hidup dengan perlahan—dengan hati yang sadar akan nikmat Alloh, bukan sekadar langkah yang tergesa mengejar dunia.

apakah kita benar-benar hidup dengan kesadaran dan ketenangan, atau justru sibuk berlari tanpa tahu arah pulang?

Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share:

More Posts