Peringatan Maulid Nabi di Darul Ma’arif: Meneladani Rosululloh, Meraih Ridho Ilahi

darulmaarif.net – Indramayu, 04 September 2025 | 22.30 WIB

Pewarta: Usth. Putri Levia Septi Hidayati S.Pd.

Malam Jumat di Aula Yayasan Darul Ma’arif Kaplongan terasa berbeda. Ratusan santri, ustadz ustadzah, dan para petinggi Yayasan berkumpul untuk satu tujuan mulia: memperingati kelahiran manusia agung, Baginda Nabi Muhammad SAW. Peringatan Maulid Nabi tahun ini mengangkat tema “Mengikat Hati Pada Nabi untuk Mencari Ridlo Ilahi”, sebuah tema yang menggugah hati sekaligus mengajak umat untuk lebih dekat pada Rasulullah.

Acara dimulai dengan tawassul yang dipimpin oleh Ust. Juedi. Suasana hening menyelimuti ruangan saat doa-doa dipanjatkan, seolah menandai pembukaan pintu keberkahan. Setelah itu, lantunan Marhabanan yang dibawakan oleh grup hadroh santri Pondok Pesantren Darul Ma’arif Kaplongan menggema memenuhi aula. Irama tabuhan rebana berpadu dengan syair pujian kepada Nabi, menciptakan suasana penuh cinta kepada Baginda Rosululloh SAW.

Tidak berhenti di situ, santru dibuat terharu dengan bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an oleh Ust. Asep Saepudin, S.Pd.. Memasuki acara inti, tausyiah agama.

Guru sebagai Pahlawan Revolusi

Tausyiah disampaikan oleh KH. Hasbullah, Lc., salah satu pengasuh Pondok Pesantren Darul Ma’arif Kaplongan. Dalam ceramahnya, beliau menegaskan bahwa guru, ustadz, dan ustadzah adalah pahlawan revolusi di era modern. Mereka berjuang di garis terdepan dalam membimbing, mendidik, dan membentuk karakter santri agar tetap berada di jalan yang benar.

Beliau kemudian mengisahkan momen bersejarah kelahiran Nabi Muhammad SAW. Saat itu, ambisi Raja Abrahah yang ingin meruntuhkan Ka’bah gagal total. Pasukan bergajah yang gagah perkasa dihancurkan oleh burung Ababil dengan kerikil panas yang berasal dari neraka. Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa Alloh SWT menjaga rumah-Nya dan menyiapkan dunia untuk kedatangan Rosul terakhir, penutup para Nabi dan Rosul.

Implementasi Maulid: Dari Sholat hingga Menuntut Ilmu

KH. Hasbullah tidak hanya menyampaikan kisah sejarah, tetapi juga menekankan implementasi nyata dari peringatan Maulid Nabi. Menurut beliau, memperingati Maulid harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari dengan melaksanakan tiga hal utama: mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan menuntut ilmu.

“Apabila seorang muslim meninggalkan amal sholeh, maka neraka Sakhor akan menantinya. Ingatlah bahwa setiap amal, baik maupun buruk, akan tercatat oleh Malaikat Roqib dan ‘Atid, lalu ditampilkan pada hari kiamat,” tutur beliau dengan tegas.

Pesan ini seolah mengingatkan para hadirin bahwa Maulid bukan sekadar seremonial, melainkan ajakan untuk memperkuat keimanan. Sholat sebagai tiang agama, zakat sebagai wujud kepedulian sosial, dan ilmu sebagai bekal kehidupan dunia dan akhirat.

Kisah Hijrah dan Perang Uhud: Cermin Perjuangan Umat Islam

Lebih lanjut, KH. Hasbullah mengisahkan hijrah Rasulullah SAW ke Madinah. Peristiwa ini menjadi tonggak penting dalam sejarah Islam, karena hijrah bukan hanya perpindahan fisik, tetapi juga simbol perjuangan untuk menegakkan agama.

Beliau juga menyinggung tentang Perang Uhud, di mana umat Islam harus menghadapi kaum Quraisy dengan penuh pengorbanan. Kekalahan dalam perang tersebut justru menjadi pelajaran berharga: kesabaran, kesetiaan, dan kepatuhan terhadap perintah Rosululloh SAW adalah kunci kemenangan sejati.

Kisah-kisah tersebut disampaikan dengan gaya yang sederhana namun menyentuh hati, sehingga mudah dicerna oleh para santri maupun masyarakat yang hadir.

Menjelang akhir acara, Kyai Sanuri, S.Pd.I. memimpin doa penutup. Lantunan doa penuh harap dipanjatkan, memohon agar seluruh jamaah diberi keberkahan hidup, dijauhkan dari mara bahaya, serta diberikan kekuatan untuk meneladani akhlak Rosululloh SAW dalam kehidupan sehari-hari. Suasana haru menyelimuti aula ketika doa-doa itu bergema.

Maulid Nabi: Momentum Spiritual dan Sosial

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Darul Ma’arif bukan hanya kegiatan rutin tahunan, melainkan momentum penting untuk memperkokoh ukhuwah, memperdalam cinta kepada Rasulullah, dan mengingatkan kembali umat akan perjuangan serta pengorbanan beliau.

Di era modern yang penuh tantangan ini, tema “Mengikat Hati Pada Nabi untuk Mencari Ridlo Ilahi” seolah menjadi jawaban bagi kegelisahan umat. Dengan meneladani Rasulullah, umat Islam diharapkan mampu menjaga akidah, memperkuat amal sholeh, serta menapaki jalan menuju ridho Alloh SWT.

Acara ini juga menjadi ruang refleksi bagi para santri dan masyarakat untuk menyadari bahwa kecintaan kepada Nabi bukan hanya diungkapkan lewat perayaan, tetapi juga melalui pengamalan ajarannya. Sholat, zakat, dan ilmu pengetahuan adalah kunci membangun umat yang kuat, berakhlak mulia, dan siap menghadapi perkembangan zaman.

Peringatan Maulid Nabi di Darul Ma’arif tahun ini ditutup dengan penuh rasa syukur. Semangat yang lahir dari momen ini diharapkan menjadi energi baru untuk melahirkan generasi muslim yang tangguh, cerdas, serta selalu menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan utama. Dengan begitu, harapan mencari ridho Ilahi bukan sekadar wacana, melainkan cita-cita yang terus dihidupkan dalam setiap langkah kehidupan.

Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share:

More Posts