Pemimpin Adalah Pelayan: Teladan Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW yang Sering Disalahpahami

darulmaarif.net – Indramayu, 29 Januari 2026 | 07.00 WIB

“When leadership is great, success inevitably follows. Likewise, when leadership is poor, failure inevitably follows.”Adnan Jalali, Leadership Trainer

Di tengah zaman yang ditandai oleh kompetisi, ambisi, dan perebutan posisi, kepemimpinan sering kali dipahami secara keliru. Jabatan dikejar seolah-olah ia adalah simbol kehormatan, kekuasaan, dan keistimewaan. Mulai dari lingkungan sekolah, tempat kerja, hingga ranah pemerintahan, banyak orang berlomba menjadi pemimpin—namun tidak sedikit yang gagal memahami hakikat kepemimpinan itu sendiri.

Asumsi paling kuat yang hidup di masyarakat hari ini adalah bahwa pemimpin adalah sosok yang harus dilayani, ditaati tanpa syarat, dan berhak memerintah. Dari asumsi inilah lahir banyak figur kepemimpinan yang keras, arogan, bahkan menindas. Dunia modern menyaksikan betapa banyak pemimpin berubah menjadi tiran: lalim, diktator, megalomania, narsistik, hingga kehilangan empati sosial. Kita tidak perlu menoleh terlalu jauh ke masa lalu untuk menemukan contoh-contohnya—realitas hari ini sudah cukup menjadi saksi.

Padahal, Islam sejak awal menawarkan paradigma kepemimpinan yang sangat berbeda: pemimpin bukanlah penguasa, melainkan pelayan umat.

Mengapa Banyak Pemimpin Gagal?

Banyak orang masih memahami kepemimpinan sebagai kemampuan mengontrol orang lain. Pemimpin dianggap sebagai sosok yang “paling atas”, yang ucapannya tidak boleh dibantah, dan keputusannya harus diterima apa adanya. Cara pandang inilah yang melahirkan kepemimpinan yang kering nilai, miskin empati, dan jauh dari ruh kemanusiaan.

Akibatnya, jabatan bukan lagi amanah, melainkan alat legitimasi kekuasaan. Pemimpin merasa berhak dilayani, bukan berkewajiban melayani. Dari sinilah kegagalan kepemimpinan bermula.

Apa yang Membuat Seorang Pemimpin Menjadi Baik?

Leonard Pellicer dengan lugas menyatakan:

“Orang-orang menginginkan pemimpin yang mendengarkan mereka, dan memberdayakan mereka daripada mempraktikkan kekuasaan atas mereka.”
(Leonard Pellicer, Cukup Peduli untuk Memimpin)

Dalam perspektif Islam, konsep kepemimpinan terbaik tercermin secara utuh dalam sosok para nabi. Peran kenabian pada hakikatnya adalah kepemimpinan. Alloh memilih para nabi bukan untuk dilayani, melainkan untuk membimbing, membina, dan mengabdi kepada umatnya.

Ketika kita meneladani para nabi, terutama Baginda Nabi Muhammad SAW, kita menemukan satu prinsip mendasar: pemimpin sejati adalah pelayan umat—sebuah konsep yang bertolak belakang dengan logika kekuasaan modern.

Nabi Muhammad SAW: Pemimpin yang Melayani

Dalam peran beliau sebagai Rosul dan pemimpin umat, Nabi Muhammad Saw menunjukkan teladan kepemimpinan yang agung. Siapa pun yang membaca sirah Nabawiyah akan memahami bahwa beliau adalah hamba Alloh yang paling taat dan pelayan umat yang paling tulus.

Menurut Faiza Gonaim, Department of Educational Leadership Studies, University of Victoria, Canada, Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang:

“Menjadi pemimpin sambil tetap menjadi pelayan. Nabi selalu berada di antara umatnya: mengajar, membantu dan membimbing mereka. Dia tidak pernah mengejar kenyamanan atau posisi tinggi atas rakyatnya. Namun demikian, temannya terkadang menawarkan untuk membantunya, namun dia menolak dengan mengatakan, ‘Alloh tidak senang dengan budak yang membedakan antara dirinya dan temannya, dan menganggap dirinya lebih baik dari yang lain.”

Sepanjang hidupnya, Baginda Nabi Muhammad SAW hadir di tengah masyarakat: mendengarkan keluh kesah mereka, memahami penderitaan mereka, dan merespons kebutuhan mereka tanpa sekat sosial. Beliau berbicara dengan laki-laki dan perempuan, anak-anak dan orang dewasa, orang kaya dan miskin, budak dan pemimpin—semuanya diperlakukan dengan martabat yang sama.

Kepemimpinan yang Mendengar dan Bermusyawarah

Namun bagi Nabi Muhammad SAW, memimpin tidak cukup hanya dengan mendengar. Kepemimpinan sejati juga berarti bersedia menerima nasihat. Karena itu, beliau melibatkan umatnya dalam musyawarah, sebagaimana perintah langsung dari Alloh SWT:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (ال عمران ١٥٩)

Artinya: “Maka berkat rahmat Alloh, engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Alloh. Sungguh, Alloh mencintai orang yang bertawakal.” (QS. Ali Imron Ayat 159)

Ayat ini menegaskan bahwa kelembutan, musyawarah, dan tawakal adalah fondasi utama kepemimpinan dalam Islam.

Pemimpin sebagai Pendidik dan Teladan

Nabi Muhammad Saw mendedikasikan hidupnya untuk kemajuan umat di seluruh aspek kehidupan. Beliau adalah guru umat, yang menjadikan peristiwa sehari-hari sebagai sarana pendidikan, introspeksi, dan pembentukan karakter.

Beliau juga menanamkan semangat belajar sepanjang hayat:

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Artinya: “Barangsiapa menempuh jalan mencari ilmu, Alloh akan memudahkan jalannya menuju surga.” (H.R Imam Bukhori dan Muslim)

Namun puncak kepemimpinan beliau terletak pada keteladanan (أسوة حسنة). Nabi memimpin dengan contoh nyata: tutur kata yang lembut, wajah yang ramah, tangan yang dermawan, dan hati yang penuh kasih sayang.

Pemimpin yang Penyayang dan Berempati

Alloh SWT menggambarkan pribadi Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin yang penuh kasih:

لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Artinya: “Sungguh telah datang kepadamu seorang Utusan dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”
(Q.S Ar-Taubah Ayat 128)

Kita Semua Pemimpin, Kita Semua Pelayan

Rosululloh SAW menegaskan bahwa kepemimpinan bukan hanya milik penguasa:

كُلُّكُمْ راعٍ، وكُلُّكُمْ مسئولٌ عنْ رعِيَّتِهِ ، والأَمِيرُ رَاعٍ والرَّجُلُ راعٍ علَى أَهْلِ بَيْتِهِ، والمرْأَةُ راعِيةٌ على بيْتِ زَوْجِها وولَدِهِ، فَكُلُّكُمْ راعٍ ، وكُلُّكُمْ مسئولٌ عنْ رعِيَّتِهِ » متفقٌ عليه

Artinya: “Semua orang dari kalian itu adalah penggembala dan semuanya akan ditanya perihal pengembalaannya. Seorang amir (pemimpin) adalah pengembala, seorang lelaki juga pengembala pada keluarga rumahnya, perempuan pun pengembala pada rumah suaminya serta anaknya. Maka dari itu semua orang dari kalian adalah pengembala dan semua saja akan ditanya perihal penggembalaannya”. (HR. Muttafaqun ‘Alaih)

Setiap orang adalah pemimpin sesuai perannya: orang tua bagi anak, guru bagi murid, pengasuh bagi santri, pemimpin bagi komunitasnya. Maka, melayani adalah konsekuensi dari kepemimpinan itu sendiri.

Kepemimpinan sebagai Amanah Pelayanan

Pelayanan adalah inti dari kepemimpinan sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Pemimpin sejati bukanlah yang memerintah, melainkan yang mendengarkan; bukan yang menuntut dilayani, tetapi yang hadir untuk memperbaiki dan memberdayakan.

Dalam hadits, Rosululloh SAW bersabda:

خِيَارُ أئمتكم الذين تحبونهم ويحبونكم، وتُصَلون عليهم ويصلون عليكم. وشِرَارُ أئمتكم الذين تبُغضونهم ويبغضونكم، وتلعنونهم ويلعنونكم.

Artinya: “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian cintai dan mencintai kalian, kalian mendoakan mereka dan mereka pun mendoakan kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian benci dan membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.”

Lebih dari 1400 tahun setelah kerasulannya, Nabi Muhammad SAW tetap menjadi pemimpin paling dicintai di seluruh dunia. Dan setiap kali namanya disebut, kita berdoa:
Allohumma Sholli ‘Alaa Sayyidinaa Muhammad.

Seperti yang disampaikan Adnan Jalali:

“When leadership is great, success inevitably follows. Likewise, when leadership is poor, failure inevitably follows.”

Semoga tulisan ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan sejati bukan tentang kekuasaan, melainkan pengabdian. Semoga bermanfaat.

Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share:

More Posts