darulmaarif.net – Indramayu, 04 Agustus 2026 | 08.00 WIB
Oleh: Ust. Ade Reza Muhammad, Lc.
“Anak-anak tidak selalu mengingat apa yang kita ajarkan. Tetapi mereka hampir selalu mengingat bagaimana kita memperlakukan mereka.”
Jika Al-Qur’an meletakkan kasih sayang sebagai pondasi pendidikan, maka Rosululloh SAW adalah teladan nyata bagaimana kasih sayang itu diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari. Seluruh perjalanan hidup beliau menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan bukan hanya ditentukan oleh keluasan ilmu, melainkan oleh kemampuan seorang pendidik menyentuh hati peserta didiknya.
Bagi seorang musyrif atau ustadz di pesantren, sirah Nabi bukan sekadar kisah sejarah. Ia adalah manhaj tarbiyah—metode pendidikan—yang relevan sepanjang zaman, terutama ketika berhadapan dengan anak-anak yang membawa luka batin, kehilangan perhatian, atau sedang mencari tempat pulang.
Rosululloh SAW Memulai Pendidikan dengan Kedekatan Emosional
Ketika menyebut nama Rosululloh SAW, banyak orang langsung mengingat beliau sebagai guru, panglima perang, atau kepala negara. Namun sebelum semua itu, beliau adalah pribadi yang berhasil memenangkan hati manusia dengan kelembutan akhlaknya.
Alloh SWT berfirman,
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Artinya: “Sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas budi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qolam Ayat 4)
Imam Ibn Katsir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan pujian Alloh terhadap kesempurnaan akhlak Rosululloh SAW. Sayyidah Aisyah rodhiyallohu ‘anha bahkan menjelaskan akhlak Nabi dengan kalimat yang sangat singkat namun mendalam:
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
Artinya: “Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.” (HR. Imam Muslim)
Artinya, seluruh perilaku Rosululloh SAW merupakan pengejawantahan nilai-nilai Al-Qur’an. Ketika Al-Qur’an memerintahkan kasih sayang, Nabi menjadi orang yang paling penyayang. Ketika Al-Qur’an memerintahkan kelembutan, beliau menjadi pribadi yang paling lembut.
Inilah sebabnya mengapa pendidikan Nabi selalu dimulai dengan hubungan hati, bukan sekadar penyampaian ilmu.
Nabi SAW Tidak Pernah Meremehkan Dunia Anak-anak
Dalam banyak riwayat sahih, Rosululloh SAW justru mendekati anak-anak dengan cara yang sesuai dengan dunia mereka.
Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu menceritakan,
كان رسول الله ﷺ أحسن الناس خلقًا
Artinya: “Rosululloh SAW adalah manusia yang paling baik akhlaknya.” (HR. Imam Bukhori dan Muslim)
Anas telah menjadi pelayan Rosululloh SAW selama sepuluh tahun sejak masih kecil. Dalam riwayat lain ia berkata,
“Aku melayani Rosululloh SAW selama sepuluh tahun. Beliau tidak pernah sekalipun berkata kepadaku, ‘Ah!’ Tidak pula pernah berkata terhadap sesuatu yang kulakukan, ‘Mengapa kamu melakukannya?’ dan tidak pula terhadap sesuatu yang tidak kulakukan, ‘Mengapa tidak kamu lakukan?'” (HR. Imam Bukhori dan Muslim)
Hadits ini bukan berarti Nabi tidak pernah mendidik kesalahan. Yang ditunjukkan oleh Anas adalah cara Rosululloh SAW mengoreksi tanpa merendahkan harga diri anak.
Di sinilah letak perbedaan antara pendidikan yang membangun dengan pendidikan yang hanya melampiaskan emosi.
Memanggil Anak dengan Panggilan yang Menyenangkan
Salah satu metode Nabi yang sering luput diperhatikan adalah cara beliau memanggil anak-anak.
Suatu hari Rosululloh SAW melihat adik Anas yang masih kecil, Abu’Umair, sedang bersedih karena burung peliharaannya mati. Nabi tidak menganggap kesedihan itu remeh.
Beliau justru menghampiri sambil bercanda,
يَا أَبَا عُمَيْرٍ، مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ؟
Artinya: “Wahai Abu Umair, bagaimana kabar burung kecilmu?” (HR. Imam Bukhori dan Muslim)
Para ulama hadits menjelaskan bahwa Rosululloh SAW sengaja memasuki dunia anak-anak agar mereka merasa dihargai. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menerangkan bahwa hadits ini menjadi dalil bolehnya bercanda dengan anak-anak selama tetap dalam koridor adab serta menunjukkan pentingnya memperhatikan kondisi psikologis mereka.
Bagi seorang musyrif, hadis ini memberikan pelajaran besar.
Kadang seorang santri tidak membutuhkan nasihat panjang.
Ia hanya membutuhkan seseorang yang bertanya,
“Bagaimana kabarmu hari ini?”
“Sudah makan?”
“Kamu kelihatan capek, ada yang ingin diceritakan?”
Kalimat sederhana itu sering kali menjadi pintu terbukanya hati seorang anak.
Rosululloh SAW Mengungkapkan Kasih Sayang Secara Nyata
Masyarakat Arab saat itu menganggap mencium anak sebagai kelemahan.
Suatu hari Aqra’ bin Habits melihat Rosululloh SAW mencium Hasan bin Ali.
Ia berkata,
“Aku memiliki sepuluh anak, tetapi belum pernah sekalipun mencium mereka.”
Rosululloh SAW menjawab,
مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ
Artinya: “Siapa yang tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Imam Bukhori dan Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْزِعُ الرَّحْمَةَ إِلَّا مِنْ شَقِيٍّ
Artinya: “Alloh tidak mencabut sifat kasih sayang kecuali dari orang yang celaka.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)
Kasih sayang menurut Rosululloh SAW bukan sekadar perasaan yang disimpan dalam hati. Ia harus tampak dalam perilaku sehari-hari.
Senyuman.
Sapaan.
Pelukan.
Doa.
Perhatian.
Semuanya merupakan bagian dari pendidikan.
Rosululloh SAW Menghormati Harga Diri Anak
Dalam banyak kesempatan, Rosululloh SAW tidak mempermalukan anak-anak di depan orang lain.
Beliau lebih memilih menasihati dengan kalimat yang lembut.
Kepada Umar bin Abi Salamah yang masih kecil ketika makan, beliau bersabda,
يَا غُلَامُ، سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ
Artinya: “Wahai anakku, sebutlah nama Alloh, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari makanan yang berada di dekatmu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Perhatikan bagaimana Nabi membuka nasihat dengan panggilan yang penuh kasih: “Yā Ghulām” (Wahai anakku).
Beliau tidak memarahi.
Tidak membentak.
Tidak mempermalukan.
Namun nasihat itu tetap melekat hingga Umar dewasa.
Ini menunjukkan bahwa kelembutan bukan berarti membiarkan kesalahan. Sebaliknya, ia adalah cara agar nasihat dapat diterima oleh hati yang masih sedang bertumbuh.
Ketika Anak Melakukan Kesalahan
Dalam dunia pesantren, kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Tidak semua pelanggaran lahir dari niat buruk. Sebagian merupakan tanda bahwa seorang anak sedang mencari perhatian, belum matang dalam mengendalikan emosi, atau belum memahami akibat dari perbuatannya.
Sirah Nabawiyyah menunjukkan bahwa setiap kesalahan harus dilihat secara proporsional. Rosululloh SAW menegakkan disiplin, tetapi tidak menjadikan kesalahan sebagai identitas seseorang.
Beliau memisahkan antara perilaku yang salah dan martabat pelakunya.
Karena itu, seorang santri tetap harus merasa bahwa dirinya dicintai meskipun sedang dikoreksi.
Pendekatan seperti inilah yang kemudian banyak ditekankan oleh para ulama tarbiyah. Dalam karya-karya tentang pendidikan anak yang Anda jadikan rujukan, perhatian terhadap kondisi jiwa anak dan pendidikan melalui keteladanan, kelembutan, serta pembiasaan menjadi tema sentral.
Pelajaran bagi Musyrif dan Ustadz Pesantren
Sirah Rosululloh SAW memberikan pelajaran bahwa keberhasilan seorang pendidik tidak hanya diukur dari banyaknya kitab yang selesai diajarkan atau hafalan yang berhasil dicapai santri. Lebih dari itu, keberhasilan tarbiyah tampak ketika seorang anak merasa aman berada di dekat gurunya, berani mengakui kesalahan, dan yakin bahwa setiap teguran lahir dari kasih sayang, bukan kemarahan.
Bagi santri yang datang dari keluarga yang utuh, perhatian seorang ustadz mungkin menjadi pelengkap. Namun bagi santri yang kehilangan figur ayah, hidup jauh dari orang tua, atau tumbuh dalam konflik keluarga, perhatian yang tulus dapat menjadi titik balik yang mengubah jalan hidupnya.
Mungkin mereka tidak selalu mengingat isi pengajian yang disampaikan pada suatu malam. Namun mereka akan mengingat ustadz yang menyempatkan diri duduk di sampingnya ketika ia menangis, mengajak makan saat hari kunjungan orang tua, atau sekadar bertanya dengan tulus, “Nak, apa yang sedang kamu rasakan?”
Di situlah tarbiyah Rosululloh SAW menemukan relevansinya: mendidik bukan hanya dengan lisan, tetapi dengan kehadiran, keteladanan, dan kasih sayang yang nyata.
Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam.



