Mengapa Nabi Muhammad SAW Dilahirkan pada Bulan Rabi’ul Awwal?

darulmaarif.net – Indramayu, 13 Januari 2025 | 08.00 WIB

Dalam khazanah keilmuan Islam, waktu bukanlah ruang kosong yang netral. Ia memiliki nilai, makna, dan hikmah yang disusun rapi oleh kehendak Ilahi. Karena itu, para ulama tidak pernah memandang peristiwa besar dalam sejarah Islam—terutama kelahiran Nabi Muhammad ﷺ—sebagai kejadian tanpa maksud. Pertanyaan “mengapa Nabi dilahirkan pada bulan Rabi‘ul Awwal dan hari Senin?” bukanlah sekadar rasa ingin tahu historis, tetapi pintu masuk untuk memahami cara Allah memuliakan zaman dengan manusia, dan memuliakan manusia dengan misi kenabian.

Al-Ḥāfiẓ Imam Jalāluddīn as-Suyūṭhy dalam al-Ḥāwī li al-Fatāwā mengutip penjelasan mendalam dari Ibnu al-Ḥājj mengenai hikmah pemilihan waktu kelahiran Rosululloh SAW. Penjelasan ini tidak hanya bersifat teologis, tetapi juga sarat makna simbolik, pedagogis, dan spiritual.

الحاوي للفتاوي للحافظ السيوطي

( فائدة ) قال ابن الحاج : فإن قيل : ما الحكمة في كونه عليه الصلاة والسلام خص مولده [ ص: 231 ] الكريم بشهر ربيع الأول ويوم الاثنين ولم يكن في شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن وفيه ليلة القدر ، ولا في الأشهر الحرم ولا في ليلة النصف من شعبان ولا في يوم الجمعة وليلتها ؟ فالجواب من أربعة أوجه :

الأول : ما ورد في الحديث من أن الله خلق الشجر يوم الاثنين ، وفي ذلك تنبيه عظيم ، وهو أن خلق الأقوات والأرزاق والفواكه والخيرات التي يمتد به بنو آدم ويحيون وتطيب بها نفوسهم

الثاني : أن في لفظة ربيع إشارة وتفاؤلا حسنا بالنسبة إلى اشتقاقه ، وقد قال أبو عبد الرحمن الصقلي : لكل إنسان من اسمه نصيب

الثالث : أن فصل الربيع أعدل الفصول وأحسنها ، وشريعته أعدل الشرائع وأسمحها

الرابع : أن الحكيم سبحانه أراد أن يشرف به الزمان الذي ولد فيه ، فلو ولد في الأوقات المتقدم ذكرها لكان قد يتوهم أنه يتشرف بها . تم الكتاب ، ولله الحمد والمنة

Artinya: “[Faedah]; Ibnu al-Ḥājj berkata:
“Jika ada yang bertanya: Apa hikmah Rosululloh SAW secara khusus dilahirkan pada bulan Rabi‘ul Awwal dan pada hari Senin, bukan pada bulan Ramadhan—bulan diturunkannya Al-Qur’an dan di dalamnya terdapat Lailatul Qodar—dan bukan pula pada bulan-bulan haram, bukan pada malam Nishfu Sya‘ban, serta bukan pada hari Jumat beserta malamnya?

Maka jawabannya ada empat sisi penjelasan:

Pertama, berdasarkan hadis yang menyebutkan bahwa Alloh menciptakan pepohonan pada hari Senin. Di dalamnya terdapat isyarat yang sangat agung, yaitu bahwa pada hari itu diciptakan berbagai bahan pangan, rezeki, buah-buahan, dan segala bentuk kebaikan yang dengannya manusia dapat bertahan hidup, melangsungkan kehidupan, dan menjadi tenteram jiwanya.

Kedua, pada kata Rabi’ (musim semi) terdapat isyarat dan pertanda optimisme yang baik ditinjau dari makna asal katanya. Sebagaimana dikatakan oleh Abu ‘Abdurrahman ash-Siqillī: ‘setiap manusia memiliki bagian dari namanya.'”

Ketiga, karena musim semi adalah musim yang paling seimbang dan paling indah. Demikian pula syariat beliau Nabi SAW adalah syariat yang paling adil dan paling lapang (penuh toleransi).

Keempat, karena Alloh Yang Maha Bijaksana berkehendak untuk memuliakan waktu kelahiran beliau dengan pribadi beliau sendiri. Sebab, seandainya beliau dilahirkan pada waktu-waktu mulia yang telah disebutkan sebelumnya, niscaya akan timbul anggapan bahwa kemuliaan beliau bersumber dari kemuliaan waktu-waktu tersebut.

Selesailah pembahasan ini. Segala puji bagi Alloh dengan segala anugerah dan karunia-Nya.” (Al-Ḥāwī li al-Fatāwā karya al-Ḥāfiẓ as-Suyūṭī)

Dalam tradisi pesantren, Maulid Nabi bukan sekadar peringatan kelahiran biologis, melainkan peringatan lahirnya akhlak, ilmu, dan peradaban. Rabi‘ul Awwal dipahami sebagai momentum menumbuhkan kembali nilai-nilai kenabian: keadilan, kasih sayang, kesederhanaan, dan keseimbangan hidup.

Sebagaimana musim semi menghidupkan alam, Maulid seharusnya menghidupkan hati dan perilaku umat Islam—bukan berhenti pada seremonial, tetapi berlanjut pada keteladanan.

Kelahiran Nabi Muhammad SAW pada bulan Rabi’ul Awwal bukanlah kebetulan sejarah, melainkan bagian dari tata hikmah Ilahi yang sarat makna. Waktu, musim, dan hari dipilih untuk mengajarkan bahwa Islam adalah agama keseimbangan, harapan, dan kehidupan.

Maka setiap datangnya Rabi’ul Awwal, pertanyaan terpenting bukanlah kapan Nabi dilahirkan, tetapi apakah nilai-nilai kenabian kembali lahir dalam diri kita—di rumah, di pesantren, dan di tengah-tengah masyarakat Muslim saat ini?

Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share:

More Posts