Mengapa Bulan Rajab Disebut Al-Ashomm? Ini Penjelasan Ulama dan Hikmahnya

darulmaarif.net – Indramayu, 22 Desember 2025 | 08.00 WIB

Bulan Rajab adalah salah satu bulan istimewa dalam kalender Hijriyah. Para kyai dan ulama sejak dulu sering mengingatkan agar umat Islam tidak melewatkan bulan ini begitu saja. Selain termasuk bulan haram, Rajab juga memiliki sebutan khas, yakni Syahrulloh al-Ashomm—bulan Alloh yang “tuli”.

Lalu, mengapa bulan Rajab disebut Al-Ashomm? Apa maksud “tuli” dalam konteks ini? Berikut penjelasannya sebagaimana diterangkan dalam kitab-kitab turats yang biasa dikaji di pesantren.

Dalam tradisi Islam dan jauh sebelum datangnya risalah Nabi Muhammad SAW, bangsa Arab telah mengenal empat bulan yang dimuliakan (الأشهر الحرم), yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Pada bulan-bulan ini, segala bentuk peperangan dihentikan.

Islam kemudian datang meneguhkan tradisi tersebut, bahkan memberinya dimensi ibadah dan spiritual yang lebih dalam. Rajab pun menjadi bulan yang benar-benar dijaga kehormatannya.

Mengapa Disebut Al-Ashomm (Yang Tuli)?

Secara bahasa, Al-Ashomm (الأصم) berarti tuli, tidak mendengar suara apa pun. Namun yang dimaksud di sini bukanlah tuli secara fisik, melainkan tuli dari suara peperangan.

Disebut demikian karena:

  • Tidak terdengar suara pedang beradu
  • Tidak ada gemerincing senjata
  • Tidak terdengar jeritan perang dan pertumpahan darah

Bulan Rajab seakan “tuli” dari hiruk-pikuk konflik manusia.

Dalam kitab Al-Hāwī al-Kabīr disebutkan:

الحاوى الكبير، ج ٣، ص ٤٧٤

وَمِنْ ذَلِكَ شَهْرُ رَجَبٍ، رُوِيَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَنَّهُ سُئِلَ:
أَيُّ الصَّوْمِ أَفْضَلُ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ؟
فَقَالَ: شَهْرُ اللَّهِ الْأَصَمُّ، وَرُوِيَ الْأَصَبُّ

Artinya: “Termasuk di antaranya adalah bulan Rajab. Diriwayatkan bahwa Rosululloh SAW ditanya: ‘Puasa apakah yang paling utama setelah Ramadhan?’ Beliau menjawab: ‘Puasa di bulan Alloh yang Al-Ashomm.’ Dan diriwayatkan pula disebut Al-Ashabb.” (Al-Hāwī al-Kabīr, Juz III, [Darul Fikr: Beirut], Hal. 474)

Imam Abu ‘Ubaid-dalam kitab yang sama-menjelaskan makna sebutan Al-Ashomm sebagaimana berikut:

يَعْنِي رَجَبًا، لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَصُبُّ فِيهِ الرَّحْمَةَ صَبًّا، وَسُمِّيَ أَصَمَّ لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى حَرَّمَ فِيهِ الْقِتَالَ، فَلَا يُسْمَعُ فِيهِ سَفْكُ دَمٍ، وَلَا حَرَكَةُ سِلَاحٍ

Artinya: “Yang dimaksud adalah bulan Rajab, karena Alloh menumpahkan rahmat-Nya dengan deras pada bulan ini. Dan dinamakan Al-Ashomm karena Alloh mengharamkan peperangan di dalamnya, sehingga tidak terdengar suara pertumpahan darah dan gerakan senjata.”

Penjelasan Makna Al-Ashomm Menurut Ulama

Imam Al-Jauhari misalnya, dalam kitab Ash-Shihah menuturkan:

فقد ذكر غير واحد أن سبب تسمية العرب رجبًا بالأصم أنه لا يسمع فيه صوت سلاح ولا حركة قتال؛ فقد قال الجوهري -رحمه الله- في الصحاح: وكان أهل الجاهلية يسمون رجبًا شهر الله الاصم

Artinya: “Telah disebutkan oleh tidak sedikit ulama bahwa sebab orang-orang Arab menamai bulan Rajab dengan sebutan al-Ashamm (yang tuli) adalah karena pada bulan itu tidak terdengar suara senjata dan tidak ada pergerakan peperangan. Imam Al-Jauhari berkata dalam kitab Ash-Shihah: ‘Orang-orang Arab pada masa jahiliah menamakan bulan Rajab sebagai Syahrullah al-Ashamm (bulan Alloh yang tuli).'”

Sementara Al-Khalil bin Ahmad menjelaskan:

إنما سمى بذلك لأنه لا يسمع فيه صوت مستغيث، ولا حركة قتال، ولا قعقعة سلاح، لأنه من الأشهر الحرم. انتهى

Artinya: “Bulan Rajab dinamakan demikian karena tidak terdengar suara orang meminta tolong akibat perang, tidak ada pergerakan peperangan, dan tidak ada gemerincing senjata, sebab ia termasuk bulan-bulan haram. Selesai.”

Imam Al-Munawi juga menegaskan dalam At-Taisir Syarh al-Jami‘ ash-Shaghir:

وقال المناوي -رحمه الله- في التيسير بشرح الجامع الصغير: (رجب) ويقال له الأصم؛ لأنهم كانوا يكفون فيه عن القتال، فلا يسمع فيه صوت سلاح. انتهى

Artinya: “Imam l-Manāwī Rohimahulloh berkata dalam kitab At-Taisīr bi Syarḥ al-Jāmi‘ aṣ-Ṣaghīr: ‘(Bulan) Rajab juga disebut al-Ashomm (yang tuli), karena pada bulan itu mereka menahan diri dari peperangan, sehingga tidak terdengar suara senjata.’ Selesai.”

Hikmah datangnya Bulan Rajab bagi Umat Islam

Bagi kalangan pesantren sendiri, Rajab adalah bulan ngadem-ngademi ati. Jika senjata saja diperintahkan untuk diam, maka lisan dan hati manusia lebih utama untuk dijaga.

Rajab mengajarkan kita untuk:

  • Menahan amarah
  • Mengurangi debat dan konflik
  • Memperbanyak istighfar dan membaca sholawat
  • Melatih diri sebagai sarana persiapan untuk menyambut bulan Ramadhan

Bulan ini menjadi waktu yang tepat untuk menenangkan jiwa, membersihkan niat, dan memperbaiki hubungan—baik dengan Alloh maupun sesama manusia.

Disebut Al-Ashomm, bukan karena Rajab kosong dari makna, tetapi justru karena ia dipenuhi rahmat yang tidak bising. Dalam diamnya peperangan, Alloh membuka pintu ampunan dan kasih sayang-Nya yang Maha Luas.

Maka, mari kita sambut bulan Rajab dengan adab santri: menundukkan ego, menenangkan hati, dan menghidupkan amal kebajikan. Semoga kita termasuk hamba yang mampu “diam dari dosa”, agar lebih ridlo dalam taat kepada Alloh SWT.

Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share:

More Posts