Menempuh Jalan Ilmu: Dari Hadits Nabi hingga Peta Peradaban Dunia

darulmaarif.net – Indramayu, 22 Januari 2025 | 11.00 WIB

“Barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Alloh memudahkan untuknya jalan menuju surga.” – Al-Hadits

Hadits diatas kerap kita dengar, bahkan sering terpajang di dinding kelas, pesantren, dan ruang-ruang pengajian. Namun pertanyaannya: apakah kita benar-benar telah menempuh “jalan ilmu” sebagaimana dimaksud Nabi? Ataukah kita sekadar memujinya tanpa sungguh-sungguh melaluinya?

Imam Ibnu Ruslan dalam Syarah Sunan Abi Dawud, ketika menjelaskan makna hadits diatas:

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللِّهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Artinya: “Barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Alloh memudahkan untuknya jalan menuju surga.” (Sunan Abi Dawud; oleh Imam Abi Dawud Sulayman ibn al-Ash’ath al-Sijistani, tafsir oleh Izzat al-Da’as dan lain-lain, Dar Ibn Hazm, Beirut, Edisi Pertama, 1418 H)

‘Lafadz ‘lman secara gramatikal Arab berbentuk lafadz yang nakirah, sehingga memberikan makna yang bersifat umum, mencakup seluruh jenis ilmu. Baik ilmu agama yang bersifat fardhu ‘ain, seperti kewajiban-kewajiban ibadah, maupun ilmu-ilmu yang berkaitan dengan pekerjaan atau profesi yang hendak ditekuni. Termasuk pula ilmu yang bersifat fardhu kifayah, seperti kedokteran, matematika, pertanian, dan berbagai ilmu lainnya yang dibutuhkan untuk memakmurkan kehidupan dunia.’

Syekh Ahmad bin Husain bin Hasan bin ‘Ali bin Yusuf bin ‘Ali bin Ruslan Ar-Ramly As-Syafi’i menjelaskan:

قَوْلُهُ ﷺ: «يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا» نَكِرَةٌ، فَيَشْمَلُ كُلَّ عِلْمٍ يُتَقَرَّبُ بِهِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى، سَوَاءٌ كَانَ فَرْضَ عَيْنٍ كَعِلْمِ أُمُورِ الدِّينِ، أَوْ فَرْضَ كِفَايَةٍ كَالطِّبِّ وَالْحِسَابِ وَنَحْوِهِمَا مِمَّا تَحْتَاجُ إِلَيْهِ الْمَعَايِشُ وَنِظَامُ أَحْوَالِ النَّاسِ
(ابن رسلان الشافعي، شرح سنن أبي داود)

Artinya: “Sabda Nabi SAW: ‘(orang yang) mencari di dalamnya suatu ilmu’, kata ‘ilman berbentuk nakirah, sehingga mencakup setiap ilmu yang dapat dijadikan sarana untuk mendekatkan diri kepada Alloh Ta’ala. Baik ilmu yang berstatus fardhu ‘ain, seperti ilmu tentang urusan-urusan agama, maupun ilmu yang berstatus fardhu kifayah, seperti ilmu kedokteran, ilmu hisab (matematika), dan semisal keduanya, yaitu ilmu-ilmu yang dibutuhkan untuk menunjang penghidupan dan keteraturan kehidupan manusia.” (Ibnu Ruslan As-Syafi’i, Syarḥ Sunan Aby Dawud, Bab al-Ḥatstsu ‘alā Ṭholabil ‘iIlmi)

Dalam atsar Sahabat, Sayyidina Ali bin Abi Tholib menegaskan keutamaan ilmu diatas harta benda. Beliau berkata:

قال علي بن أبي طالب رضي الله عنه لكميل, ياَ كَمِيْلُ، اَلْعِلْمُ خَيْرٌ مِنَ اْلماَلِ، اَلْعِلْمُ يُحْرِسُكَ وَأَنْتَ تُحْرِسُ اْلماَلَ، وَالْعِلْمُ حَاكِمٌ وَالْمَالُ مَحْكُوْمٌ عَلَيْهِ، وَالْمَالُ تُنْقِصُهُ النَّفَقَةُ وَاْلعِلْمُ يَزْكُوْ بِالْإِنْفَاقِ

Artinya: “Sayyidina Ali bin Abi Tholib RA berkata kepada Kamil: ‘Wahai Kamil, Ilmu itu lebih bagus daripada harta, Ilmu akan menjagamu, sedangkan harta, engkau yang menjaganya. Ilmu adalah hakim, sedangkan harta yang dihakimi. Harta akan berkurang jika di nafkahkan, sedangkan ilmu akan bertambah jika di nafkahkan’.”

Ilmu dan Realitas Dunia Modern

Jika pemahaman ini kita bawa ke konteks hari ini, maka muncul sebuah kegelisahan: mengapa justru bangsa-bangsa non-Muslim yang paling serius menempuh jalan ilmu, sementara umat Islam sering tertinggal di belakang?

Eropa dan negara-negara maju lainnya—Amerika, Jepang, Korea, bahkan Tiongkok—menjadikan ilmu pengetahuan dan riset sebagai poros peradaban. Teknologi medis berkembang pesat, kecerdasan buatan merambah hampir semua sektor, pertanian ditopang sains mutakhir, dan sistem sosial-ekonomi terus disempurnakan melalui penelitian.

Sejarah mencatat bahwa pemahaman komprehensif terhadap ilmu inilah yang melahirkan masa kejayaan Islam. Pada era Abbasiyah, Bayt al-Hikmah di Baghdad menjadi pusat penerjemahan, riset, dan pengembangan ilmu lintas peradaban. Para ilmuwan Muslim tidak alergi terhadap pengetahuan Yunani, Persia, dan India; mereka mengkritisi, mengembangkan, dan mengintegrasikannya dengan worldview Islam.

Al-Khawarizmi dalam matematika, Ibnu Sina dalam kedokteran, Al-Biruni dalam astronomi dan geografi, serta Ibnu Khaldun dalam ilmu sosial adalah bukti bahwa menuntut ilmu dipahami sebagai ibadah intelektual sekaligus fondasi peradaban. George Sarton, sejarawan sains Barat, bahkan menyebut periode ini sebagai “Golden Age of Islamic Science”.

Paradoks Dunia Modern: Barat Mewarisi Etos Ilmu, Islam Kehilangan Arah

Ironisnya, pada era modern, semangat keilmuan justru lebih hidup di Eropa dan negara-negara non-Muslim. Sejak Renaisans dan Revolusi Ilmiah, Barat menjadikan riset, eksperimen, dan rasionalitas sebagai basis kemajuan teknologi dan ekonomi. Negara-negara maju hari ini mengalokasikan anggaran besar untuk riset dan pengembangan (R&D), menjadikan universitas sebagai pusat inovasi, bukan sekadar lembaga pengajaran.

Sementara itu, sebagian besar dunia Islam tertinggal dalam indeks sains, teknologi, dan inovasi. Menurut laporan UNESCO, kontribusi negara-negara Muslim terhadap publikasi ilmiah global masih relatif kecil dibandingkan dengan potensi demografis dan historisnya.

Paradoks ini menimbulkan pertanyaan epistemologis dan teologis: bagaimana mungkin umat dengan wahyu pertama “Iqra’” justru tertinggal dalam budaya membaca, meneliti, dan berpikir kritis?

Dikotomi Ilmu dan Krisis Orientasi Umat

Salah satu sebab utama kemunduran ini adalah dikotomi sempit antara “ilmu agama” dan “ilmu dunia”. Sebagian umat memandang ilmu dunia sebagai sekuler dan tidak bernilai ibadah, sementara ilmu agama direduksi pada hafalan dan ritual, terlepas dari problem sosial dan kemanusiaan.

Padahal, hadits yang disyarahi Ibnu Ruslan justru menolak dikotomi tersebut. Ilmu apa pun—selama diniatkan untuk kebaikan dan kemaslahatan—adalah jalan menuju surga. Dalam perspektif maqashid al-shari‘ah (Al-Shatibi, al-Muwafaqat), ilmu yang menjaga jiwa, akal, harta, dan peradaban manusia adalah bagian dari tujuan syariat.

Menuju Reorientasi Ilmu sebagai Ibadah Peradaban

Oleh karena itu, umat Islam hari ini memerlukan reorientasi besar: menempatkan ilmu dan teknologi sebagai bagian integral dari ibadah kolektif. Pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi Islam tidak cukup hanya mencetak ahli ibadah, tetapi juga ilmuwan, teknolog, ekonom, dan pemikir sosial yang berakar pada nilai-nilai ketauhidan dan kemaslahatan umat.

Menuntut ilmu di era kecerdasan buatan, bioteknologi, dan krisis global bukan sekadar pilihan, melainkan kewajiban historis. Ketertinggalan dalam ilmu bukan hanya masalah duniawi, tetapi juga kegagalan memahami pesan Nabi SAW secara utuh.

Hadits tentang menuntut ilmu adalah undangan untuk membangun peradaban, bukan sekadar memperkaya kesalehan individual. Tafsir Ibnu Ruslan atas lafadz ‘ilman membuka cakrawala bahwa Islam menghendaki umat yang berilmu secara menyeluruh—agama, sains, teknologi, dan sosial.

Jika umat Islam ingin kembali berkontribusi pada sejarah, maka jalan menuju surga itu harus kembali ditempuh melalui laboratorium, perpustakaan, ruang riset, dan medan pengabdian ilmiah—sebagaimana pernah dilakukan oleh para pendahulu kita di masa kejayaan Islam.

Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *