Mau Hidup Mulia dan Tenang? Ternyata Kuncinya Ada di Alfiyah Ibnu Malik!

darulmaarif.net – Indramayu, 14 September 2025 | 21.00 WIB

Di tengah hiruk-pikuk zaman modern, manusia kerap kehilangan arah. Informasi bertebaran di mana-mana, teknologi kian canggih, tetapi tidak sedikit orang justru merasa kosong dan gelisah. Perselisihan sosial, polarisasi politik, bahkan perpecahan keluarga menjadi fenomena sehari-hari. Padahal, Islam telah menanamkan nilai-nilai kehidupan bukan hanya lewat ayat Al-Qur’an dan hadits, tetapi juga melalui khazanah keilmuan klasik yang sering kali kita abaikan.

Salah satunya adalah melalui karya agung Alfiyah Ibnu Malik—sebuah kitab nahwu berisi seribu bait syair yang hingga kini masih diajarkan di pesantren-pesantren. Meski tujuan utamanya adalah mengajarkan gramatika bahasa Arab, bait-bait di dalamnya ternyata menyimpan mutiara hikmah kehidupan jika kita mau menafsirkannya lebih luas.

Mari kita lihat salah satu bait yang begitu populer:

فارفع بضم وانصبن فتحا وجر # كسرا كذكر الله عبده يسر
واجزم بتسكين وغير ما ذكر. # ينوب نحو جاء أخو بني نمر
(ابن مالك)

Artinya: “Maka rafa’kanlah dengan dlommah, nashobkanlah dengan fathah ( عبدَه ), jarkan lah dengan kasrah ( ِذكر الله jazamkanlah dengan sukun. Selain yang empat adalah pengganti.” (Ibnu Malik)

Syair di atas sejatinya menerangkan tanda-tanda i‘rab dalam ilmu nahwu. Namun, jika dimaknai secara harfiah, ia justru memberi bekal hidup yang sangat mendalam. Mari kita uraikan makna filosofisnya.

فَارْفَعْ بِضَمٍّ — Jika Ingin Derajatmu Terangkat, Jagalah Persatuan

Dalam nahwu, rafa’ ditandai dengan ḍlommah. Namun, jika dibaca dengan kacamata kehidupan, “angkatlah dengan kebersamaan” berarti menjaga persatuan dan kesatuan. Hidup yang penuh pertengkaran hanya akan menjatuhkan derajat manusia, sedangkan menjaga ukhuwah akan meninggikan martabat. Sebagaimana sabda Nabi SAW:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

Artinya: “Seorang mukmin bagi mukmin lainnya bagaikan bangunan yang satu, saling menguatkan.” (HR. Bukhori dan Muslim)

وَانْصِبَنْ فَتْحًا — Jika Ingin Hidup Langgeng, Bersikaplah Terbuka

Dalam nahwu, naṣb biasanya dengan fatḥah. Makna tersiratnya adalah keterbukaan. Fatḥah secara harfiah berarti “membuka”. Maka hidup yang langgeng adalah hidup yang siap membuka diri terhadap perubahan, belajar hal baru, dan tidak kaku menghadapi dinamika zaman. Seperti pesan Imam al-Ghozali dalam kitab Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn:

مَنْ لَمْ يَزِدْ عَلَى عِلْمِهِ فَهُوَ فِي نُقْصَانٍ

Artinya: “Barangsiapa tidak menambah ilmunya, maka ia berada dalam kekurangan.” (al-Ghazali, Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, Juz 1, Beirut: Dār al-Ma‘rifah, hlm. 37)

وَجُرْ كَسْرًا — Jika Tidak Ingin Perpecahan, Rendahkan Hatimu

Dalam gramatika Arab, jarr ditandai dengan kasrah. Kata kasrah sendiri berarti “pecah” atau “retak”. Jika dimaknai dalam kehidupan, perpecahan bisa dihindari dengan kerendahan hati, mengalah, dan tawadhu‘.

Sikap rendah hati bukanlah kelemahan, justru menjadi kekuatan untuk merajut kebersamaan. Imam Nawawi dalam Riyādlus Ṣāliḥīn menyebutkan:

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

Artinya: “Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, kecuali Allah akan mengangkat derajatnya.” (Riyāḍlus Ṣāliḥīn, Beirut: Dār Ibn Kathīr, 1992, hlm. 255)

وَاجْزِمْ بِتَسْكِينٍ — Mantapkan Hati Agar Hidup Tenang

Dalam kaidah nahwu, jazm biasanya ditandai dengan sukun (ketenangan). Filosofinya jelas: kehidupan yang tenang hanya akan tercapai jika hati mantap dalam keyakinan. Banyak orang resah karena hatinya gamang, mudah goyah oleh ombak dunia.

Alloh ‘Azza wa Jalla menegaskan dalam Al-Qur’an:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. ar-Ra‘d Ayat 28)

Membaca Nahwu, Menyelami Hidup

Siapa sangka, sebuah bait dari kitab nahwu bisa menjadi cermin kehidupan yang penuh hikmah. Ibnu Malik mengajarkan bahwa hidup harus dibangun di atas persatuan, keterbukaan, kerendahan hati, dan keyakinan. Inilah bekal sejati agar manusia bisa menjalani kehidupan dengan berkah.

Namun, pertanyaan yang patut kita renungkan bersama adalah: sudahkah kita mempraktikkan “i‘rab kehidupan” ini dalam keseharian kita, ataukah kita masih sibuk berdebat tentang tanda-tanda zahir tanpa memahami makna batinnya?

Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share:

More Posts