darulmaarif.net – Indramayu, 26 Januari 2026 | 08.00 WIB
Bulan Sya’ban merupakan salah satu bulan mulia dalam kalender Hijriyah yang sering luput dari perhatian umat Islam. Padahal, bulan ini memiliki keutamaan besar sebagai fase persiapan spiritual menuju Ramadhan.
Di bulan Sya’ban, Rosululloh SAW memperbanyak ibadah, terutama puasa sunnah, doa, dan amal kebajikan. Oleh sebab itu, memahami keutamaan bulan Sya’ban berdasarkan hadits Nabi menjadi penting agar kaum Muslimin dapat mengoptimalkan ibadah dan kesiapan ruhani sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.
Rosululloh SAW memberikan perhatian khusus pada bulan Sya’ban. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Usamah bin Zaid r.a., beliau bertanya kepada Nabi SAW:
عَنْ أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ قَالَ : قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ, لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ, قَالَ : ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ, وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ, فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
Artinya: Dari Usamah bin Zaid berkata: Aku bertanya: “Wahai Rosululloh SAW, aku tidak melihatmu berpuasa seperti engkau berpuasa di bulan Syaban (karena seringnya), beliau menjawab: “Bulan itu adalah bulan yang dilalaikan oleh banyak orang, yaitu antara Rajab dan Ramadan, di bulan itu diangkat amal-amal kepada Alloh Tuhan semesta alam, dan aku ingin amalku diangkat dalam keadaan aku berpuasa.” (HR. Imam An-Nasa’i)
Hadits ini menegaskan bahwa Sya’ban adalah bulan yang sering dilupakan, namun justru memiliki nilai spiritual tinggi. Rosululloh SAW memanfaatkannya untuk memperbanyak ibadah sebagai bentuk kesiapan menghadapi Ramadhan.
Berpuasa di bulan Sya’ban menjadi latihan spiritual agar tubuh dan jiwa terbiasa dengan ibadah puasa sebelum bulan Ramadhan tiba. Dari sisi fiqh, puasa sunnah di bulan Sya’ban termasuk ibadah yang sangat dianjurkan (mandûb), selama tidak menimbulkan mudharat bagi pelakunya.
Para ulama Salaf telah lama memberikan perhatian khusus terhadap bulan Sya’ban. Dalam khazanah kitab kuning, Sya’ban diposisikan sebagai bulan tamhîd (pengantar) dan i‘dâd (persiapan) menuju Ramadhan.
Menurut kalangan madzhab Syafi’i, puasa sunnah di bulan Sya’ban termasuk ibadah yang sangat dianjurkan. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahîh Muslim menjelaskan:
فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى اسْتِحْبَابِ كَثْرَةِ الصِّيَامِ فِي شَعْبَانَ
Artinya, hadits-hadits tentang puasa Rosululloh SAW di bulan Sya’ban menjadi dalil kuat atas kesunnahan memperbanyak puasa di bulan tersebut. (Syarh Shahîh Muslim, Juz 8)
Dalam kitab Lathâ’if al-Ma‘ârif, Imam Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan keutamaan bulan Sya’ban, khususnya terkait hadits tentang diangkatnya amal:
وَشَهْرُ شَعْبَانَ كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يُكْثِرُ فِيهِ الصِّيَامَ، وَقَالَ: هُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
Artinya: “Dan bulan Sya’ban adalah bulan di mana Rosululloh SAW memperbanyak puasa di dalamnya. Beliau bersabda: ‘Ia adalah bulan diangkatnya amal-amal. Maka aku suka apabila amalanku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa.” (Lathâ’iful Ma’ârif, hlm. 130)
Ibarot ini menegaskan bahwa Rosululloh SAW sengaja memperbanyak puasa di bulan Sya’ban karena keistimewaannya sebagai bulan pengangkatan amal. Dari sini, para ulama mengambil faidah bahwa memperbanyak ibadah di bulan Sya’ban juga memiliki nilai ibadah yang tinggi.
Selain berpuasa, memperbanyak sholat sunnah juga menjadi keutaman bulan Sya’ban. Sebagaimana keterangan Syekh Abdurrahman Ashshofuri berikut:
بَابُ فَضْلِ شَعْبَانَ وَفَضْلِ صَلَاةِ التَّسَابِيْحِ
عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَلَّى أَوَّلَ لَيْلَةٍ مِنْ شَعْبَانَ اِثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً يَقْرَأُ فِي الرَّكْعَةِ الْأُوْلَى فَاتِحَةَ الْكِتَابِ مَرَّةً وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ خَمْسَ مَرَّاتٍ أَعْطَاهُ اللهُ تَعَالَى ثَوَابَ اثْنَيْ عَشَرَ أَلْفَ شَهِيْدٍ وَكُتِبَ لَهُ ثَوَابُ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ سَنَةً وَخَرَجَ مِنْ ذُنُوْبِهِ كَيَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ وَلَا يُكْتَبُ عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ إِلَى ثَمَانِيْنَ يَوْمًا ذكره النسفي
Artinya: “Barang siapa melaksanakan shalat pada malam pertama bulan Sya’ban sebanyak dua belas rakaat, pada setiap rakaat pertama ia membaca Surah al-Fatihah satu kali dan membaca ‘Qul Huwallahu Ahad’ lima kali, maka Alloh Ta‘ala akan memberinya pahala seperti pahala dua belas ribu orang yang mati syahid. Dicatat baginya pahala ibadah selama dua belas tahun, dan ia keluar dari dosa-dosanya seperti hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya. Selain itu, tidak akan dicatat atas dirinya satu kesalahan pun selama delapan puluh hari.” (Syekh Abdurrahman Ashshofuri, Nuzhatul Majalis wa Muntakhabunnafa’is, hal. 182)
Dengan merujuk pada hadits Nabi Muhammad SAW dan penjelasan ulama dalam kitab-kitab turots, jelas bahwa bulan Sya’ban bukan sekadar bulan penghubung antara Rajab dan Ramadhan, tetapi bulan yang memiliki kedudukan istimewa dalam syariat. Menghidupkan Sya’ban berarti memuliakan sunnah Nabi SAW dan mempersiapkan diri menyambut Ramadhan dengan ilmu, amal, dan keikhlasan.
Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam.