Kecemasan Wali Santri di Tengah Isu Bullying: Bagaimana Pesantren Menjawabnya?

darulmaarif.net – Indramayu, 13 April 2026 | 10.00 WIB

Akhir-akhir ini, keresahan wali santri dan calon wali santri semakin terasa. Bukan tanpa alasan. Berita-berita tentang perundungan (bullying) di lembaga pendidikan—termasuk pesantren—kerap muncul di media sosial dan pemberitaan nasional. Bahkan, data menunjukkan bahwa kasus kekerasan di satuan pendidikan meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir, dengan lonjakan signifikan hingga lebih dari enam kali lipat sejak 2020 hingga 2025.

Tak hanya itu, laporan menunjukkan bahwa sekitar 22% kasus kekerasan di dunia pendidikan berkaitan dengan bullying, sementara sebagian lainnya berupa kekerasan fisik dan seksual. Ini menjadi sinyal kuat bahwa persoalan ini bukan hal sepele, melainkan realitas yang perlu ditangani secara serius dan sistematis.

Wajar jika kemudian muncul pertanyaan dari para orang tua:
Apakah pesantren aman bagi anak saya?
Bagaimana jika anak saya menjadi korban?
Apakah ada sistem yang jelas untuk melindungi santri?

Pertanyaan-pertanyaan ini adalah bentuk kasih sayang dan tanggung jawab orang tua. Dan justru di sinilah pesantren dituntut untuk hadir—bukan hanya sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga sebagai ruang aman (safe space) bagi tumbuh kembang santri.

Pesantren dan Komitmen Lingkungan Aman

Pesantren sejatinya dibangun di atas nilai-nilai akhlak, adab, dan ukhuwah. Namun, sebagaimana lembaga lainnya, pesantren juga tidak luput dari tantangan zaman. Karena itu, banyak pesantren hari ini mulai berbenah dengan menghadirkan sistem penanganan bullying yang lebih profesional, transparan, dan terukur.

Bahkan, pemerintah bersama berbagai lembaga seperti UNICEF mendorong program Pesantren Ramah Anak dan pembentukan satuan tugas khusus untuk menangani kasus kekerasan di lingkungan pesantren. Transparansi dalam penanganan kasus juga dinilai penting untuk membangun kembali kepercayaan publik.

Ini menunjukkan bahwa pesantren tidak menutup mata—justru sedang bergerak menuju sistem yang lebih baik.

Bagaimana Pesantren Menangani Kasus Bullying?

Sebagai bentuk tanggung jawab moral dan kelembagaan, pondok pesantren Darul Ma’arif Kaplongan sendiri menerapkan alur penanganan yang sistematis dan berkeadilan. Berikut gambaran umumnya:

  1. Penerimaan Laporan secara Terbuka dan Rahasia

Setiap laporan dari korban atau pihak lain diterima dengan serius, disertai jaminan kerahasiaan identitas.

  1. Verifikasi dan Klarifikasi Awal (Tabayyun)

Pesantren tidak langsung menghakimi, tetapi melakukan pengecekan fakta secara objektif.

  1. Pengumpulan Keterangan Saksi

Saksi dipanggil untuk memberikan informasi secara jujur tanpa tekanan.

  1. Pemanggilan dan Pemeriksaan Pelaku

Pelaku diberi kesempatan menyampaikan klarifikasi sebagai bentuk keadilan.

  1. Mediasi dan Pendekatan Islah (Perdamaian)

Jika memungkinkan, dilakukan penyelesaian dengan pendekatan edukatif dan nilai-nilai Islam.

  1. Penetapan Sanksi Edukatif

Jika terbukti, pelaku diberikan sanksi yang mendidik, bukan sekadar menghukum.

  1. Pendampingan Korban dan Pembinaan Pelaku

Korban tidak dibiarkan sendiri, sementara pelaku dibina agar berubah.

  1. Monitoring dan Evaluasi Berkelanjutan

Pesantren memastikan kasus tidak terulang dan terus memperbaiki sistem.

Lebih dari Sekadar Penanganan: Pendidikan Akhlak

Yang membedakan pesantren dengan lembaga lain adalah pendekatannya. Penanganan bullying tidak hanya berhenti pada “menghukum pelaku”, tetapi lebih jauh—mendidik hati dan memperbaiki akhlak.

Karena pada akhirnya, bullying bukan hanya soal pelanggaran aturan, tetapi juga cerminan dari krisis empati, adab, dan kontrol diri. Dan pesantren hadir untuk membentuk itu semua.

Kekhawatiran orang tua adalah hal yang sangat manusiawi. Tidak ada yang lebih penting daripada keselamatan dan kenyamanan anak. Namun, penting juga untuk melihat bahwa pesantren hari ini tidak tinggal diam. Mereka berbenah, memperbaiki sistem, dan semakin terbuka dalam menangani persoalan.

Memilih pesantren bukan berarti menyerahkan anak tanpa kendali, tetapi justru mempercayakan mereka pada lingkungan yang terus berproses menjadi lebih baik—baik secara ilmu, akhlak, maupun sistem perlindungannya.

Karena pada akhirnya, pendidikan terbaik bukan hanya tentang apa yang dipelajari anak, tetapi juga tentang bagaimana mereka dijaga, dibimbing, dan diperlakukan sebagai manusia yang utuh—dengan rasa aman, dihargai, dan dicintai.

Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam.

Share:

More Posts

script>
Info Pendaftaran Santri BaruAda pertanyaan? Chat kami sekarang! 😊