Hukum Mencela Orang yang Sudah Wafat, Apakah Dibolehkan?

darulmaarif.net – Indramayu, 30 Januari 2026 | 14.00 WIB

Di era digital saat ini, ruang publik semakin terbuka lebar. Media sosial, portal berita, hingga forum diskusi menjadi ruang bebas untuk menyampaikan pendapat, kritik, bahkan penilaian terhadap tokoh-tokoh yang telah wafat. Tidak jarang, perbincangan tersebut berubah menjadi polemik: apakah diperbolehkan menyebut keburukan orang yang sudah meninggal dunia dalam Islam?

Sebagian masyarakat memahami hadits Nabi Muhammad SAW yang melarang mencela orang mati secara tekstual, sehingga setiap bentuk kritik terhadap tokoh yang telah wafat dianggap sebagai pelanggaran adab dan etika keislaman. Namun, para ulama klasik tidak memahami persoalan ini secara simplistik. Mereka membedakan antara celaan yang bersifat pribadi dan ghibah tercela, dengan penyebutan keburukan yang bertujuan edukatif, preventif, dan menjaga kemaslahatan umat.

Di sinilah pentingnya merujuk kepada khazanah keilmuan Islam klasik (turats), agar umat tidak terjebak pada pemahaman normatif yang kaku, tetapi juga tidak terjerumus dalam budaya hujat yang destruktif.

Imam Badruddin al-‘Aini rohimahulloh, dalam ‘Umdatut Qori Syarh Shohih Bukhori, menjelaskan secara tegas batasan larangan mencela orang yang sudah wafat. Redaksinya sebagai berikut:

فَإِنْ قِيلَ: كَيْفَ يَجُوزُ ذِكْرُ شَرِّ الْمَوْتَى مَعَ وُرُودِ الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ فِي النَّهْيِ عَنْ سَبِّ الْمَوْتَى وَذِكْرِهِمْ إِلَّا بِخَيْرٍ؟

وَأُجِيبَ: إِنَّ النَّهْيَ عَنْ سَبِّ الْمَوْتَى غَيْرُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِ وَالْمُجَاهِرِ بِالْفِسْقِ أَوِ الْبِدْعَةِ، فَإِنَّ هَؤُلَاءِ لَا يُحَرَّمُ ذِكْرُهُمْ بِالشَّرِّ لِلتَّحْذِيرِ مِنْ طَرِيقِهِمْ وَمِنَ الِاقْتِدَاءِ بِهِمْ

(الإمام بدر الدين العيني: عمدة القاري شرح صحيح البخاري)

Artinya: “Jika dikatakan (ditanyakan): Bagaimana mungkin diperbolehkan menyebut keburukan orang-orang yang telah meninggal dunia, padahal telah datang hadis sahih dari Zaid bin Arqam tentang larangan mencela orang mati dan larangan menyebut mereka kecuali dengan kebaikan?

Maka dijawab: ‘Sesungguhnya larangan mencela orang-orang yang telah wafat tidak berlaku bagi orang-orang munafik, orang kafir, serta orang yang terang-terangan melakukan kefasikan atau bid‘ah. Maka golongan-golongan ini tidak diharamkan untuk disebut keburukan mereka, dengan tujuan memberikan peringatan terhadap jalan mereka dan agar tidak diikuti (diteladani) perbuatan mereka.'” (Imam Badruddin al-‘Aini, ‘Umdatul Qori Syarh Shohih Bukhori)

Dari penjelasan tersebut, Imam Badruddin al-‘Aini menegaskan bahwa larangan mencela orang yang sudah meninggal dunia tidak berlaku secara mutlak. Larangan tersebut dikecualikan bagi:

  • orang munafik,
  • orang kafir,
  • orang yang terang-terangan berbuat fasik,
  • dan pelaku bid‘ah yang menyimpang secara terbuka.

Terhadap kelompok ini, penyebutan keburukan mereka tidak diharamkan, selama tujuannya adalah:

  1. Tahdzir (peringatan) kepada umat Islam;
  2. Proteksi akidah dan manhaj keislaman yang benar;
  3. Pencegahan peneladanan terhadap jalan hidup mereka;
  4. Menjaga kemurnian agama dari penyimpangan pemikiran dan praktik.

Dengan demikian, Islam membedakan secara tegas antara:

  • ghibah tercela yang bersifat personal, emosional, dan destruktif
    dengan
  • penyebutan keburukan yang bersifat edukatif, preventif, dan maslahat untuk umat.

Dalam konteks masyarakat modern, khususnya di era digital, prinsip ini menjadi sangat relevan. Kritik terhadap tokoh publik, pemimpin, atau figur agama yang telah wafat tidak boleh berubah menjadi budaya hujat dan caci maki. Namun, pada saat yang sama, sejarah tidak boleh dibungkam dari kritik ilmiah.

Islam mengajarkan etika keseimbangan:
tidak membangun peradaban di atas fitnah, tetapi juga tidak membiarkan kesesatan diwariskan tanpa klarifikasi. Inilah wajah Islam sebagai agama ilmu, bukan agama kultus individual.

Memahami hukum mencela orang yang sudah wafat tidak cukup hanya dengan potongan hadits atau kutipan sepihak, tetapi harus dirujukkan kepada penjelasan ulama mu’tabar dalam kitab-kitab turots. Dari sini kita belajar bahwa Islam bukan agama yang membenarkan budaya hujat, tetapi juga bukan agama yang membungkam kebenaran demi pencitraan sejarah.

Pesantren, sebagai pusat transmisi ilmu dan adab, memiliki peran penting dalam membangun literasi keislaman yang cerdas, beradab, dan berlandaskan ilmu. Dengan merujuk kepada khazanah Ulama Salaf, umat diajak untuk berpikir jernih, bersikap adil, dan menempatkan kritik dalam koridor maslahat, bukan emosi sesaat.

Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share:

More Posts