Dari Indramayu ke Yaman: Kisah Sukses Gufron Ashari, Lulusan Pondok Pesantren Darul Ma’arif Kaplongan Angkatan 2015

darulmaarif.net – Indramayu, 15 April 2026 | 09.00 WIB

Di tengah arus modernisasi yang kian deras, sosok pendidik yang mampu menjembatani tradisi keilmuan klasik dengan tuntutan zaman menjadi semakin langka. Profil ini menggambarkan perjalanan seorang tokoh muda yang meniti jalan panjang dalam dunia pendidikan Islam, pengabdian pesantren, hingga kepemimpinan organisasi keagamaan—sebuah perjalanan yang tidak hanya akademik, tetapi juga penuh dedikasi sosial. Penasaran dengan sosoknya siapa? Yuk baca sampai tuntas!

Awal Perjalanan: Fondasi Keilmuan (2012–2018)

Perjalanan intelektualnya dimulai dari lingkungan pesantren, tepatnya di Pondok Pesantren Darul Ma’arif Kaplongan, Indramayu (2012-2015). Di sinilah ia mendalami berbagai disiplin ilmu keislaman klasik, mulai dari Al-Qur’an, Fiqih, Tauhid, Nahwu Shorof, hingga kajian kitab-kutab turats (kitab kuning).

Lingkungan pesantren membentuk karakter dasar yang kuat: kedisiplinan, ketekunan, serta kecintaan terhadap ilmu. Fase ini menjadi fondasi penting yang kelak mengarahkan langkahnya ke jenjang akademik yang lebih tinggi.

Di antara sekian banyak kenangan yang terukir selama masa mondok di Pesantren Darul Ma’arif, ada satu momen yang hingga kini tetap hidup dalam ingatan: saat mengaji Juz ‘Amma bersama almarhum K.H. Muntaha—yang kami panggil dengan penuh hormat, Abah Mun. Beliau dikenal sebagai sosok yang tegas, bahkan terkesan keras dalam membimbing bacaan Al-Qur’an. Namun di balik ketegasan itu, tersimpan ketelitian luar biasa; setiap huruf harus dilafalkan sesuai makhroj (harfun biharfin, lafdzun bilafdzin, kalimatun bikalimatin, ayatun biayatin), setiap hukum tajwid dijaga tanpa kompromi.

Suatu ketika, Gufron mendapat bagian membaca surat Al-Falaq. Sepintas tampak sederhana, namun justru di situlah ujian kesabaran benar-benar dimulai. Berkali-kali ia mencoba, dan berkali-kali pula dinyatakan belum memenuhi standar. Perasaan malu, kecewa, dan lelah bercampur menjadi satu. Hingga pada akhirnya, saya tidak diikutsertakan dalam khataman Juz ‘Amma saat itu.

Namun waktu telah mengubah cara pandang. Apa yang dulu terasa sebagai kegagalan, kini ia pahami sebagai bentuk kasih sayang dalam didikan. Abah Mun tidak sekadar mengajarkan bacaan, melainkan menanamkan nilai kesungguhan, ketelitian, dan kesabaran dalam menuntut ilmu. Dari situlah Gufron belajar bahwa kualitas tidak lahir dari kemudahan, melainkan dari proses yang ditempa dengan disiplin panjang.

Kini, kenangan itu justru menjadi salah satu yang paling berharga. Sebab terkadang, kenangan yang paling pahitlah yang justru paling dalam meninggalkan jejak—dan pada akhirnya, paling dirindukan.

Menembus Dunia Internasional: Studi di Yaman (2019–2023)

Semangat keilmuan membawanya melanjutkan studi ke Timur Tengah, tepatnya di Al-Wasatia Al-Sharia University, Yaman. Di kampus ini, ia mengambil program Sarjana (S1) dalam bidang Syariah Islam.

Pengalaman belajar di Yaman tidak hanya memperkaya wawasan akademik, tetapi juga memperluas perspektif keislaman dalam konteks global. Ia mendalami kajian syariah secara lebih komprehensif, sekaligus berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai negara.

Periode ini menjadi titik penting dalam pembentukan kapasitas intelektual sekaligus jaringan keilmuan internasional.

Penguatan Akademik: Pascasarjana (2025–Sekarang)

Komitmennya terhadap pengembangan pendidikan Islam terus berlanjut. Ia kini tengah menempuh program Magister (S2) Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Islam Internasional Dalwa, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur.

Fokus studinya tidak hanya pada teori pendidikan, tetapi juga pada pengelolaan lembaga pendidikan Islam secara profesional. Ini menunjukkan visi jangka panjangnya: membangun sistem pendidikan pesantren yang adaptif, modern, namun tetap berakar pada nilai-nilai tradisional ala ulama mutaqoddimin.

Dedikasi di Dunia Pendidikan (2023–2024)

Sepulang dari Yaman, ia langsung terjun ke dunia pendidikan sebagai tenaga pendidik, menjadi salah satu ustadz di Pondok Pesantren Darul Ma’arif Kaplongan, Karangampel, Indramayu. Baginya, kembali mengabdi di pesantren bukan sekadar pilihan profesi, melainkan panggilan jiwa. Di tempat inilah ia pernah ditempa, dibentuk, dan dikenalkan pada makna kesungguhan dalam menuntut ilmu.

Mengajar di Darul Ma’arif ia jalani dengan penuh semangat pengabdian. Setiap langkahnya di ruang kelas seakan menjadi bentuk rasa syukur dan terima kasih yang mendalam kepada pesantren yang telah membentuk karakter dirinya hingga menjadi sosok Gufron hari ini. Ia tidak hanya mengajar, tetapi juga berusaha menghadirkan kembali nilai-nilai yang dahulu ia terima—keteladanan, kedisiplinan, dan keikhlasan—kepada para santri yang kini berada di posisi yang pernah ia jalani.

Dalam perannya sebagai pendidik, ia mengajar berbagai disiplin ilmu keislaman seperti:

  • Fiqih
  • Akidah
  • Tafsir
  • Akhlak

Lebih dari sekadar mengajar, ia juga aktif dalam:

  • Pembinaan karakter santri
  • Pengembangan kurikulum berbasis pesantren
  • Kegiatan ekstrakurikuler keagamaan

Perannya menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya transfer ilmu, tetapi juga pembentukan nilai-nilai kepribadian Islami.

Kepemimpinan Organisasi: Wakil Ketua MWC NU (2025–Sekarang)

Langkah pengabdiannya meluas ke ranah organisasi. Ia dipercaya sebagai Wakil Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU).

Dalam posisi ini, ia berperan aktif dalam:

  • Mengkoordinasikan program keagamaan dan sosial
  • Membina kader dan kepengurusan
  • Menginisiasi kegiatan dakwah dan penguatan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah

Peran ini menunjukkan kapasitas kepemimpinan sekaligus komitmen dalam menjaga nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat.

Profesionalisme di Dunia Kerja (2025–Sekarang)

Selain di bidang pendidikan dan organisasi, ia juga memiliki pengalaman profesional di sektor bisnis dan layanan:

Manajer Operasional – Alburoq Cargo (2025)

Ia bertanggung jawab atas:

  • Pencapaian target operasional
  • Koordinasi tim dan produktivitas kerja
  • Pengelolaan keuangan dan cashflow
  • Strategi efisiensi dan pertumbuhan bisnis

Administrasi Travel Umrah – Freelancer (2025-Sekarang)

Perannya meliputi:

  • Input dan verifikasi data jamaah
  • Koordinasi administrasi perjalanan
  • Mendukung kelancaran proses keberangkatan

Pengalaman ini menunjukkan fleksibilitas dan kemampuan adaptasi di berbagai bidang.

Kompetensi dan Keahlian

Sebagai sosok multidimensi, ia memiliki berbagai kompetensi, antara lain:

  • Teknis: Microsoft Word, Excel, PowerPoint
  • Bahasa: Arab (aktif), Bahasa Indonesia (aktif)
  • Keilmuan: Musabaqah Qiroatul Kutub
  • Prestasi: Mendalami kitab Kifayatul Akhyar Syarah Abi Syuja’ lil Khotib

Refleksi: Menyatukan Ilmu, Dakwah, dan Pengabdian

Perjalanan hidup tokoh ini memperlihatkan satu benang merah yang kuat: komitmen terhadap ilmu dan pengabdian. Dari pesantren, Yaman, hingga ruang kelas dan organisasi, ia terus bergerak membawa nilai-nilai keislaman yang moderat dan berakar.

Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, sosok seperti ini menjadi harapan—bahwa pendidikan Islam tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang dan memberi solusi.

Lebih dari sekadar perjalanan karier, ini adalah kisah tentang dedikasi sosok Gufron As’ari: bagaimana ilmu tetap dijaga, diamalkan, dan disebarkan untuk kemaslahatan umat.

Pada akhirnya, perjalanan hidup ini seakan merangkum satu pelajaran mendasar: bahwa kualitas seseorang tidak hanya ditentukan oleh apa yang ia pelajari, tetapi oleh seberapa dalam ia meyakini nilai-nilai yang ia pegang. Sebagaimana ungkapan bait nadzom ‘Imrothy yang Gufron yakini,

اِذِ الْفَتَى حَسْبَ اعْتِقَادِهِ رُفِعَ ۞ وَكُلُّ مَنْ لَمْ يَعْتَقِدْ لَمْ يَنْتَفِعْ

“Seorang pemuda akan diangkat derajatnya sesuai kadar keyakinannya, dan siapa yang tidak memiliki keyakinan, maka ia tidak akan memperoleh manfaat apa pun.”

Dalam konteks perjalanan ini, keyakinan itulah yang menjadi fondasi—yang menguatkan langkah, meneguhkan pengabdian, dan menjadikan setiap proses, seberat apa pun, bermakna hingga akhirnya berbuah keberkahan.

Kisah perjalanan Gufron Ashari menjadi bukti nyata bahwa lingkungan yang tepat mampu membentuk karakter, keilmuan, dan masa depan seorang anak.

Pondok Pesantren Darul Ma’arif Kaplongan bukan sekadar tempat belajar, tetapi ruang pembinaan yang menanamkan adab, kedisiplinan, dan kesungguhan dalam menuntut ilmu. Jika Anda sebagai wali santri menginginkan pendidikan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara akhlak dan spiritual, maka inilah saat yang tepat untuk mengambil langkah.

Daftarkan putra-putri Anda di Pondok Pesantren Darul Ma’arif Kaplongan, dan biarkan mereka tumbuh dalam lingkungan yang akan membimbingnya menjadi pribadi tangguh, berilmu, dan bermanfaat—sebagaimana jejak yang telah ditorehkan oleh Gufron Ashari.

Semoga bermanfaat.

Share:

More Posts

script>
Info Pendaftaran Santri BaruAda pertanyaan? Chat kami sekarang! 😊