Hari Santri Nasional 2026: Sejarah Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 dan Naskah Lengkapnya
darulmaarif.net – Indramayu, 07 Oktober 2026 | 10.00 WIB
Setiap 22 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri Nasional untuk mengenang peran ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan. Di balik peringatan ini, terdapat Resolusi Jihad yang dicetuskan pada 22 Oktober 1945 di Surabaya. Bagaimana sejarah, isi, dan pengaruhnya terhadap perjuangan bangsa Indonesia?
Hari Santri Nasional bukan sekadar peringatan tahunan bagi kalangan pesantren. Tanggal 22 Oktober menyimpan jejak sejarah tentang keberanian ulama, santri, dan umat Islam dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yang baru diproklamasikan.
Pada 22 Oktober 1945, para ulama Nahdlatul Ulama (NU) mengeluarkan Resolusi Jihad sebagai respons terhadap ancaman kembalinya kekuasaan kolonial Belanda melalui Netherlands Indies Civil Administration (NICA) yang membonceng kedatangan Sekutu. Seruan tersebut menegaskan kewajiban mempertahankan kemerdekaan dan mendorong mobilisasi umat Islam dalam perjuangan bersenjata.
Peristiwa ini menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah revolusi kemerdekaan Indonesia. Semangatnya berkaitan erat dengan perlawanan rakyat Surabaya pada November 1945, yang kemudian dikenang melalui peringatan Hari Pahlawan setiap 10 November.
Memasuki peringatan Hari Santri Nasional 2026, sejarah Resolusi Jihad kembali mengingatkan bahwa perjuangan santri tidak berhenti di medan pertempuran. Pada masa kini, semangat tersebut dapat diwujudkan melalui pendidikan, penguatan akhlak, kemandirian ekonomi, penguasaan ilmu pengetahuan, serta pengabdian kepada masyarakat dan bangsa.
Sejarah Resolusi Jihad 22 Oktober 1945
1. Kemerdekaan Telah Diproklamasikan, Ancaman Belum Berakhir
Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Namun, kemerdekaan yang telah dinyatakan secara politik belum sepenuhnya aman dari ancaman kekuatan asing.
Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada Agustus 1945, pasukan Sekutu datang ke Indonesia dengan tugas melucuti tentara Jepang, membebaskan tawanan perang, dan memulangkan pasukan Jepang. Kedatangan mereka juga disertai unsur NICA yang berupaya memulihkan kekuasaan kolonial Belanda.
Situasi tersebut menimbulkan ketegangan di berbagai daerah. Rakyat Indonesia yang baru meraih kemerdekaan menolak kembalinya penjajahan. Di Surabaya, ketegangan meningkat ketika kehadiran pasukan Sekutu dan aktivitas yang berkaitan dengan pemulihan kekuasaan Belanda memicu perlawanan rakyat.
Dalam situasi itulah para ulama memandang bahwa mempertahankan kemerdekaan bukan semata-mata persoalan politik, melainkan juga berkaitan dengan tanggung jawab keagamaan dan keselamatan masyarakat.
2. Peran KH Hasyim Asy’ari dan Para Ulama NU
Tokoh penting di balik Resolusi Jihad adalah Hardlrotussyekh KH. Hasyim Asy’ari, pendiri sekaligus Rais Akbar Nahdlatul Ulama. Beliau dikenal sebagai ulama yang memiliki pengaruh besar terhadap jaringan pesantren dan masyarakat Muslim di Jawa.
Menjelang akhir Oktober 1945, para ulama dan wakil NU dari berbagai daerah berkumpul di Surabaya. Pertemuan tersebut berlangsung pada 21–22 Oktober 1945 untuk membahas sikap umat Islam dalam menghadapi ancaman terhadap kemerdekaan Indonesia.
Hasil pertemuan itu melahirkan Resolusi Jihad yang ditetapkan pada 22 Oktober 1945. Dokumen tersebut berisi permohonan kepada pemerintah Republik Indonesia agar menentukan sikap dan tindakan yang tegas menghadapi ancaman terhadap kemerdekaan, sekaligus menyerukan kelanjutan perjuangan sabilillah.
Resolusi Jihad bukanlah pernyataan yang berdiri sendiri. Ia lahir dari situasi revolusi yang penuh ketidakpastian, ketika pemerintah Republik masih membangun kekuatan pertahanan dan masyarakat di berbagai daerah berusaha mempertahankan kemerdekaan yang baru diraih.
3 Apa Isi Pokok Resolusi Jihad?
Resolusi Jihad memuat dua keputusan utama.
Pertama, para ulama meminta pemerintah Republik Indonesia menentukan sikap dan tindakan nyata yang sepadan terhadap usaha-usaha yang membahayakan kemerdekaan agama dan negara, terutama yang dilakukan pihak Belanda dan kaki tangannya.
Kedua, resolusi menyerukan agar perjuangan bersifat sabilillah dilanjutkan demi tegaknya Negara Republik Indonesia yang merdeka dan agama Islam.
Dokumen tersebut juga menjelaskan bahwa mempertahankan dan menegakkan Republik Indonesia menurut hukum Islam dipandang sebagai kewajiban bagi umat Islam. Dengan demikian, perjuangan mempertahankan kemerdekaan memperoleh legitimasi keagamaan di tengah masyarakat Muslim.
Penting dipahami bahwa Resolusi Jihad lahir dalam konteks historis tertentu, yakni perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman kembalinya kolonialisme. Memahami konteks tersebut membantu kita melihatnya secara utuh sebagai bagian dari sejarah perjuangan bangsa.
Resolusi Jihad dan Pertempuran 10 November 1945
Pengaruh Resolusi Jihad paling sering dikaitkan dengan meletusnya Pertempuran Surabaya pada November 1945. Namun, hubungan keduanya perlu dipahami dalam rangkaian peristiwa yang lebih luas.
Sebelum Resolusi Jihad dikeluarkan, ketegangan antara rakyat Surabaya dan pasukan Sekutu telah meningkat. Pada 25 Oktober 1945, Brigade ke-49 Divisi Infanteri India Britania di bawah Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby mendarat di Surabaya.
Ketegangan berkembang menjadi bentrokan bersenjata. Pada 30 Oktober 1945, Mallaby tewas dalam insiden di Surabaya. Peristiwa itu kemudian diikuti ultimatum Sekutu kepada rakyat Surabaya agar menyerahkan senjata.
Pada 10 November 1945, pertempuran besar pecah setelah pasukan Sekutu melancarkan serangan ke Surabaya. Rakyat dari berbagai latar belakang ikut melakukan perlawanan, termasuk kelompok pemuda, laskar perjuangan, dan kalangan pesantren.
Di antara unsur perjuangan yang berperan ialah Laskar Hizbullah, yang banyak melibatkan pemuda Muslim dan santri. Selain itu, terdapat jaringan laskar dan kelompok perjuangan lain yang ikut mempertahankan kemerdekaan.
Resolusi Jihad turut memperkuat dorongan moral dan keagamaan bagi umat Islam untuk terlibat dalam perjuangan tersebut. Meski demikian, Pertempuran Surabaya tidak disebabkan oleh satu faktor saja. Peristiwa itu merupakan hasil akumulasi ketegangan politik, kedatangan pasukan Sekutu, upaya pemulihan kekuasaan Belanda, serta mobilisasi rakyat Indonesia.
Perlawanan Surabaya kemudian menjadi salah satu simbol paling kuat dari tekad bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan. Untuk mengenang pengorbanan para pejuang, tanggal 10 November ditetapkan sebagai Hari Pahlawan.
Naskah Lengkap Resolusi Jihad 22 Oktober 1945
Berikut naskah Resolusi Jihad yang secara luas dikutip dalam berbagai publikasi sejarah Nahdlatul Ulama. Ejaan dan tata letak dapat berbeda antarpublikasi; untuk kepentingan penelitian akademik, naskah perlu dicocokkan dengan reproduksi dokumen atau arsip aslinya.
Bismillahirrahmanirrahim
RESOLUSI
Rapat besar wakil-wakil daerah (Konsul-konsul) Perhimpunan Nahdlatul Ulama seluruh Jawa-Madura pada tanggal 21–22 Oktober 1945 di Surabaya.
Mendengar:
Bahwa di tiap-tiap daerah di seluruh Jawa-Madura ternyata betapa besarnya hasrat umat Islam dan Alim ulama di tempatnya masing-masing untuk mempertahankan dan menegakkan AGAMA, KEDAULATAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA MERDEKA.
Menimbang:
a. Bahwa untuk mempertahankan dan menegakkan Negara Republik Indonesia menurut hukum AGAMA ISLAM, termasuk sebagai suatu kewajiban bagi tiap-tiap orang Islam.
b. Bahwa di Indonesia ini warga Negaranya adalah sebagian besar terdiri dari Umat Islam.
Mengingat:
a. Bahwa oleh pihak Belanda (NICA) dan Jepang yang datang dan berada di sini telah banyak sekali dijalankan banyak kejahatan dan kekejaman yang mengganggu ketenteraman umum.
b. Bahwa semua yang dilakukan oleh semua mereka itu dengan maksud melanggar Kedaulatan Republik Indonesia dan Agama, dan ingin kembali menjajah di sini, maka di beberapa tempat telah terjadi pertempuran yang mengorbankan beberapa banyak jiwa manusia.
c. Bahwa pertempuran-pertempuran itu sebagian besar telah dilakukan umat Islam yang merasa wajib menurut hukum agamanya untuk mempertahankan Kemerdekaan Negara dan Agamanya.
d. Bahwa di dalam menghadapi sekalian kejadian-kejadian itu belum mendapat perintah dan tuntutan yang nyata dari Pemerintah Republik Indonesia yang sesuai dengan kejadian-kejadian tersebut.
Memutuskan:
- Memohon dengan sangat kepada Pemerintah Republik Indonesia supaya menentukan suatu sikap dan tindakan yang nyata serta sepadan terhadap usaha-usaha yang akan membahayakan kemerdekaan Agama dan Negara Indonesia, terutama terhadap pihak Belanda dan kaki tangan.
- Supaya memerintahkan melanjutkan perjuangan bersifat “sabilillah” untuk tegaknya Negara Republik Indonesia Merdeka dan Agama Islam.
Surabaya, 22 Oktober 1945
Mengapa 22 Oktober Ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional?
Penetapan Hari Santri Nasional berangkat dari pengakuan terhadap kontribusi ulama dan santri dalam perjuangan kemerdekaan serta pembangunan Indonesia.
Pada 15 Oktober 2015, Presiden Joko Widodo menandatangani Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri. Melalui keputusan tersebut, tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional.
Tanggal itu dipilih untuk mengenang Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, yang menjadi salah satu penanda penting keterlibatan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan.
Peringatan Hari Santri bukan berarti perjuangan kemerdekaan hanya dilakukan oleh kalangan pesantren. Sebaliknya, peringatan ini mengakui salah satu kontribusi penting dari beragam unsur bangsa yang bersama-sama berjuang mempertahankan Republik Indonesia.
Bagi pesantren, Hari Santri juga menjadi momentum untuk memperkenalkan sejarah perjuangan ulama kepada generasi muda, menumbuhkan rasa cinta tanah air, dan memperkuat komitmen terhadap nilai-nilai kebangsaan.
Makna Resolusi Jihad bagi Santri Masa Kini
Semangat Resolusi Jihad tetap relevan untuk dipelajari, meskipun tantangan yang dihadapi santri saat ini berbeda dengan situasi 1945.
Jika dahulu perjuangan diwujudkan melalui perlawanan terhadap upaya penjajahan kembali, kini pengabdian santri dapat diwujudkan melalui sejumlah langkah nyata.
Pertama, memperkuat ilmu dan akhlak. Santri perlu menguasai ilmu agama sekaligus mengembangkan wawasan umum, keterampilan, dan kemampuan berpikir kritis.
Kedua, menjaga persatuan bangsa. Semangat cinta tanah air perlu diwujudkan melalui sikap toleran, penghormatan terhadap perbedaan, dan partisipasi positif dalam kehidupan bermasyarakat.
Ketiga, membangun kemandirian. Pesantren dapat berperan dalam mengembangkan kewirausahaan, ekonomi umat, inovasi teknologi, serta pemberdayaan masyarakat.
Keempat, mengabdi kepada masyarakat. Nilai-nilai kepesantrenan tidak hanya dipelajari di ruang kelas atau masjid, tetapi juga diwujudkan melalui pelayanan sosial, pendidikan, kepedulian terhadap lingkungan, dan kontribusi bagi kemajuan bangsa.
Dengan demikian, mengenang Resolusi Jihad bukan sekadar mengulang peristiwa masa lalu. Lebih dari itu, peringatan Hari Santri menjadi ajakan untuk meneruskan nilai perjuangan melalui cara-cara yang sesuai dengan kebutuhan zaman.
Peringatan Hari Santri Nasional 2026 Tingkat Provinsi Jawa Barat di Darul Ma’arif Kaplongan
Semangat sejarah tersebut akan kembali dihidupkan melalui rangkaian Hari Santri Nasional 2026 Tingkat Provinsi Jawa Barat di Pondok Pesantren Darul Ma’arif Kaplongan, Indramayu.
Mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, rangkaian kegiatan dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026, dengan sejumlah agenda yang memadukan pendidikan, keagamaan, seni budaya, kreativitas, kewirausahaan, dan kepedulian sosial.
Kegiatan yang direncanakan meliputi perlombaan santri, istighotsah dan doa bersama, kirab santri, pertunjukan seni, HSN West Java Expo 2026 pada 20–22 Oktober, upacara puncak Hari Santri pada 22 Oktober, serta khitan massal. Melalui agenda tersebut, Darul Ma’arif berupaya menghadirkan ruang bagi santri, pesantren, pelaku UMKM, lembaga pendidikan, dan masyarakat untuk berkolaborasi.
Masyarakat, santri, dan lembaga yang ingin berpartisipasi dapat mengakses informasi melalui tautan berikut:
- Pendaftaran lomba HSN 2026: https://bit.ly/hsnjabar2026
- Pendaftaran tenant dan informasi Expo HSN 2026: https://hsn.darulmaarif.net/berita/expo-kemandirian-pesantren-hari-santri-nasional-hsn-2026-2
Pada akhirnya, Resolusi Jihad mengajarkan bahwa kecintaan kepada agama dan tanah air dapat berjalan beriringan dalam ikhtiar menjaga kemerdekaan, persatuan, dan martabat bangsa. Dari Surabaya pada 22 Oktober 1945 hingga Darul Ma’arif Kaplongan pada peringatan Hari Santri 2026, semangat perjuangan itu terus menemukan bentuknya: melahirkan santri yang berilmu, berakhlak, mandiri, dan siap memberikan manfaat bagi Indonesia.
Selamat Hari Santri Nasional 2026. Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.
Referensi:
Zainul Milal Bizawie. Laskar Ulama-Santri & Resolusi Jihad: Garda Depan Menegakkan Indonesia (1945–1949). Tangerang: Pustaka Compass, 2014.
Ensiklopedia
Riadi Ngasiran. Resolusi Jihad NU, Perang Sabil di Surabaya 1945. Surabaya: UNUSA Press. Buku ini mengulas Resolusi Jihad dan hubungannya dengan perjuangan rakyat Surabaya. Lihat katalog buku UNUSA Press.
NU Online. “Ternyata Ada Fatwa Jihad dan Resolusi Jihad.”
UIN Sunan Gunung Djati Bandung. “Isi Teks Resolusi Jihad.”
Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri.
Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam.



