darulmaarif.net – Indramayu, 26 Agustus 2026 | 16.00 WIB
Pernahkah Anda terbangun di pagi hari, langsung memeriksa notifikasi ponsel, dan seketika merasakan gelombang cemas karena merasa “tertinggal”?
Di era digital saat ini, generasi muda—khususnya Gen Z dan Milenial—sedang terjebak dalam pusaran global yang bernama hustle culture. Sebuah budaya yang mendewakan produktivitas tanpa henti, di mana waktu luang dianggap sebagai dosa eksistensial, dan rebahan dicap sebagai bentuk kemalasan.
Menariknya, healing atau liburan pun kini mengalami distorsi makna. Aktivitas istirahat tidak lagi menjadi momen ketenangan sejati, melainkan sekadar ritual “mengisi daya” mesin tubuh agar esok hari siap diperas kembali demi target-target yang lebih besar. Kita menghadapi sebuah paradoks besar: di zaman yang mengagungkan kebebasan individu, mengapa manusia modern justru merasa semakin tertekan, cemas, dan mengalami kelelahan mental massal (burnout)?
Untuk membedah fenomena ini secara akademis, pemikiran seorang filsuf kontemporer asal Korea Selatan, Byung-Chul Han, menjadi sangat relevan. Dalam karya monumentalnya yang berjudul The Burnout Society, Han menjelaskan bahwa struktur sosial dunia abad ke-21 telah bergeser secara radikal. Dahulu, menurut teori Michel Foucault, kita hidup di era Masyarakat Disipliner (Disciplinary Society), sebuah masa di mana manusia dikontrol oleh kekuatan eksternal berupa institusi seperti pabrik atau penjara dengan slogan utama: “Kamu tidak boleh”. Namun saat ini, kita telah memasuki era Masyarakat Prestasi (Achievement Society). Kontrol sosial tidak lagi berbentuk larangan, melainkan motivasi positif yang destruktif: “Yes, you can!” atau “Kamu pasti bisa!”.
Di sinilah letak tragedi kemanusiaan modern yang diungkap oleh Han. Rantai penjajahan itu tidak lagi tampak secara fisik. Ketika seseorang merasa “bebas” menentukan jam kerjanya sendiri—seperti para pekerja lepas (freelancer) atau pembuat konten (content creator)—mereka secara tidak sadar berubah menjadi mandor kejam sekaligus budak bagi dirinya sendiri. Han menyebut fenomena ini sebagai Eksploitasi Diri secara Sukarela (self-exploitation). Kita mencambuk diri kita sendiri demi mengejar ekspektasi ideal yang kita ciptakan, hingga akhirnya jiwa kita hancur dalam bentuk depresi dan kecemasan akut.
Islam sendiri adalah agama yang sangat memuliakan kerja keras dan menentang kepasrahan yang pasif. Mencari nafkah yang halal bahkan dinilai setara dengan jihad di jalan Alloh. Namun, Islam meletakkan garis batas yang sangat tegas antara ikhtiar yang proporsional dengan Eksploitasi Diri (Zhulmun Nafsi).
Islam tidak membenarkan manusia merusak ekosistem biologi dan psikologisnya hanya demi memuaskan ambisi akumulasi duniawi yang tidak ada habisnya. Dalam pandangan teologi Islam, tubuh dan jiwa manusia bukanlah milik pribadi yang boleh diperas tanpa batas, melainkan amanah sakral dari Sang Pangcipta yang memiliki hak-hak tertentu untuk dipenuhi. Batas suci ini terekam jelas dalam sebuah hadis sahih ketika Rosululloh SAW menegur sahabat Abdullah bin Amr bin Al-Ash yang berniat melakukan ibadah ritual secara spartan tanpa tidur dan tanpa istirahat melalui sabdanya:
فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا
Artinya: “Maka sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atas dirimu, dan matamu memiliki hak atas dirimu.” (HR. Imam Bukhori)
Hadits ini secara ilmiah-populer menegaskan bahwa memaksakan organ biologis untuk terus berproduksi tanpa memberikan hak istirahat merupakan bentuk pelanggaran syariat. Jika untuk urusan ibadah ritual saja Rosululloh SAW memberikan rem darurat, maka melampaui batas kemampuan tubuh demi urusan materi dan validasi sosial tentu jauh lebih dilarang.
Tradisi keilmuan pesantren melalui Turats (Kitab Kuning) ternyata telah lama menyediakan perangkat hukum dan spiritual untuk membentengi manusia dari kegilaan hustle culture ini. Dalam fikih klasik bab Ijaroh (Sewa-Menyewa Tenaga Kerja) yang sering dikaji di pesantren, terdapat aturan ketat mengenai beban kerja. Sebagai contoh, dalam kitab Fiqhul Maisir disebutkan hukum membebani pekerja dengan pekerjaan yang tidak sanggup mereka pikul:
يحرم أن يكلف السيد مملوكه ما لا يطيقه وهو كل عمل يشق عليه ويقرب من العجز عنه (٣)؛ لحديث أبي ذر المتقدم: “ولا يكلف من العمل ما لا يطيق”، ولعموم حديث أبي سعيد الخدري -رضي الله عنه- أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – قال: “لا ضرر ولا ضرار من ضار ضاره الله ومن شاق شاق الله عليه
Artinya: “Diharamkan bagi seorang tuan untuk membebani budaknya dengan pekerjaan yang tidak disanggupinya, yaitu setiap pekerjaan yang berat baginya dan mendekati batas ketidakmampuannya; berdasarkan hadis Abu Dzar yang telah disebutkan sebelumnya: ‘Dan janganlah ia dibebani pekerjaan yang tidak ia sanggupi,’ serta berdasarkan keumuman hadis Abu Sa’id al-Khudri rodhiyallohu ‘anhu bahwa Rosululloh SAW bersabda: ‘Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain. Barangsiapa yang membahayakan orang lain, maka Alloh akan membalas bahaya kepadanya, dan barangsiapa yang menyusahkan orang lain, maka Alloh akan menyusahkan dirinya’.” (Fiqhul Maisir, Juz V, hal. 220)
Secara nalar teologis-filosofis, jika hukum Islam secara ketat melarang seorang majikan memeras tenaga buruhnya melampaui batas kesanggupan fisik, mengapa di era modern ini kita justru bertindak sebagai majikan yang zalim terhadap diri kita sendiri? Kita memaksa otak bekerja belasan jam, mengabaikan sinyal lelah dari tubuh, hanya demi memenuhi tuntutan gaya hidup digital. Budaya hustle culture telah membuat manusia melanggar prinsip dasar keadilan fikih terhadap jasmaninya sendiri.
Akar dari penyakit burnout dan kecemasan massal manusia modern sebenarnya adalah krisis tauhid—merasa bahwa diri kita adalah sutradara tunggal yang menentukan seluruh hasil akhir kehidupan. Dalam kondisi lelah mental inilah, mutiara hikmah dari Syekh Ibnu Atho’illah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam hadir sebagai penawar:
سَوَابِقُ الْهِمَمِ لَا تَخْرِقُ أَسْوَارَ الْأَقْدَارِ
Artinya: “Kekuatan ambisi yang menggebu-gebu tidak akan mampu menembus benteng-benteng takdir.” (Syekh Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman17)
Secara psikologis, hikmah ini meruntuhkan berhala produktivitas. Imam Ibnu ‘Athoillah As-Sakandary mengingatkan bahwa sekeras apa pun manusia melakukan hustle, sekencang apa pun ia berlari mengejar target, hasil akhir tetap berada dalam kuasa takdir Ilahi. Konsep ini tidak melatih santri menjadi malas, melainkan mengajarkan kepasrahan yang aktif (tawakkal). Kerja keras dipandang sebagai wilayah ibadah, sementara hasil akhir dipasrahkan kepada Alloh. Mentalitas tauhid inilah yang menjaga kesehatan jiwa seorang Muslim agar tidak mudah depresi saat target duniawinya gagal tercapai.
Sebagai jalan keluar dari krisis neuronal abad ke-21 ini, Byung-Chul Han menawarkan konsep Vita Contemplativa (Hidup yang Berkontemplasi). Manusia modern harus belajar kembali cara untuk diam, cara untuk merasa bosan, dan berani mematikan diri sejenak dari stimulasi konstan dunia digital melalui digital detox.
Kebosanan mendalam, menurut Han, adalah rahim dari lahirnya kreativitas budaya yang sejati. Di lingkungan pesantren, konsep Vita Contemplativa ini sebetulnya telah lama hidup dalam denyut nadi harian santri melalui tradisi tafakkur, khidmah, i’tikaf, serta wirid bersama setelah shalat. Aktivitas spiritual ini melatih pikiran untuk lepas dari hiruk-pikuk materi dan mengambil jarak dari bisingnya dunia luar untuk menyelami kedalaman batin tanpa ada tuntutan untuk memamerkannya di media sosial.
Pesantren mengajarkan kita untuk menggeser orientasi hidup dari yang semula mengejar Achievement (Prestasi Semu Duniawi) menuju pencapaian Al-Falah (Kebahagiaan dan Kemenangan Hakiki di Dunia dan Akhirat).
Produktif, berprestasi, dan mandiri secara finansial adalah hal yang baik dan dianjurkan dalam Islam. Namun, mengubah diri menjadi mesin produksi yang bekerja tanpa henti hingga merusak kesehatan mental adalah bentuk kenaifan eksistensial. Kita diciptakan untuk menjadi hamba Alloh (‘Abdulloh), bukan menjadi hamba dari ambisi dan ego kita sendiri. Bekerjalah dengan orientasi akhirat, lakukan ikhtiar secara maksimal, namun ingatlah untuk mengistirahatkan tubuh dan bersujud. Jangan sampai kita mati kelelahan mengejar dunia, sebelum ajal yang sebenarnya menjemput kita.
Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam.



