darulmaarif.net – Indramayu, 28 Januari 2026 | 16.00 WIB
Di tengah maraknya wacana kesetaraan gender, kritik terhadap agama, serta tudingan bahwa ajaran Islam mewarisi budaya patriarki, kisah Adam dan Hawa kembali diangkat sebagai “bukti historis” bahwa perempuan diposisikan sebagai sumber kesalahan manusia. Asumsi ini hidup kuat di masyarakat modern: bahwa sejak awal sejarah, perempuan—melalui sosok Hawa—telah dilabeli sebagai biang dosa, penggoda, dan penyebab kejatuhan laki-laki.
Narasi tersebut tidak hanya direproduksi dalam budaya populer dan literatur Barat, tetapi juga tanpa sadar diulang dalam ceramah, pengajaran agama, bahkan pola pikir umat Islam sendiri. Padahal, jika ditelusuri secara jernih dan tekstual, Al-Qur’an justru menawarkan kisah yang sangat berbeda—sebuah narasi teologis yang membongkar mitos lama, menantang prasangka kolektif, dan menegaskan tanggung jawab moral yang setara antara laki-laki dan perempuan.
Benarkah Hawa yang Bersalah?
Selama ribuan tahun, kita diajarkan bahwa wanita adalah sumber dosa karena buah terlarang. Narasi ini begitu kuat hingga membentuk cara pandang lintas generasi. Namun, Al-Qur’an justru menghadirkan kisah yang jauh lebih mengejutkan dan membebaskan.
Mari kita bedah ulang kisah kejatuhan manusia—kisah yang mungkin paling sering disalahpahami dalam sejarah pemikiran manusia.
Sebuah Kebohongan yang Indah
Tahukah kamu? Alloh tidak pernah menamai pohon itu sebagai “buah khuldi”. Istilah Syajaratul Khuld (pohon keabadian) justru merupakan narasi yang diciptakan oleh Iblis untuk menipu Adam.
Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullohu mengatakan,
نوع من أنواع شجر الجنة؛ اللّه أعلم بها، وإنما نهاهما عنها امتحانا وابتلاء
Artinya: “Pohon ini merupakan salah satu pohon surga. Allah yang lebih tahu tentang hal tersebut. Akan tetapi, yang jelas Alloh larang keduanya mendekati pohon tersebut sebagai bentuk ujian (patuh ataukah tidak).” (Tafsir As-Sa’diy, hal. 49)
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa setan berpura-pura menangis dengan tangisan yang menyayat sehingga mengundang iba keduanya. Iblis mengaku bersedih jika keduanya nanti tidak akan menjumpai nikmat seperti ini, sampai ia berkata:
يا آدم هَل أدلك على شجرة الخلد ومُلك لا يبلى؟ وقال: ما نهاكما ربكما عن هذه الشجرة إلا أن تكونا مَلَكين أو تكونا من الخالدين، وقاسمهما إني لكما لمن الناصحين
Artinya: “Wahai Adam, maukah kutunjukkan manfaat pohon Khuld yang nantinya kamu akan menjadi malaikat di sini yang tidak akan lenyap? Rabbmu melarangmu memakannya agar engkau tidak menjadi malaikat dan kekal di sini. (Bahkan setan sampai bersumpah) dan mengatakan bahwa, aku ini benar-benar memberi saran yang baik untukmu.” (Tafsir At-Thobari Juz 1, hal. 529)
Iblis melakukan rebranding atas buah kematian menjadi buah keabadian. Ironisnya, hingga hari ini kita masih menggunakan nama pemberian Iblis tersebut, bukan nama dari Tuhan—karena Alloh memang membiarkannya tanpa nama. Sejak hari pertama, manusia telah diperdaya oleh ilusi yang dibungkus dengan janji keindahan.
Mengapa Al-Qur’an Diam soal Jenis Buahnya?
Al-Qur’an secara sengaja tidak menjelaskan jenis buah yang dimakan Adam dan Hawa. Mengapa? Karena esensi ujian itu bukan pada zatnya—apakah beracun atau tidak—melainkan pada ketaatan.
Para ulama mengemukakan beberapa simbol menarik:
- Gandum: simbol kerja keras. Manusia harus mengolahnya menjadi roti—hidup di dunia menuntut keringat dan usaha.
- Anggur: simbol mabuk dan hilangnya kesadaran. Dosa bermula saat akal sehat dikalahkan oleh nafsu.
Apapun jenis buahnya, pesan utamanya satu: setiap manusia memiliki “buah terlarang” masing-masing. Bisa berupa harta, jabatan, kekuasaan, atau bahkan ego diri.
Berhenti Menyalahkan Wanita
Narasi lama sering memojokkan Hawa sebagai “penggoda” yang menjerumuskan Adam. Namun Al-Qur’an secara tegas menolak stigma tersebut dengan penggunaan kata ganti dua orang (huma):
فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطٰنُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وٗرِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْءٰتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهٰىكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هٰذِهِ الشَّجَرَةِ ِالَّآ اَنْ تَكُوْنَا مَلَكَيْنِ اَوْ تَكُوْنَا مِنَ الْخٰلِدِيْنَ
Artinya: “Maka, setan membisikkan (pikiran jahat) kepada keduanya yang berakibat tampak pada keduanya sesuatu yang tertutup dari aurat keduanya. Ia (setan) berkata, “Tuhanmu tidak melarang kamu berdua untuk mendekati pohon ini, kecuali (karena Dia tidak senang) kamu berdua menjadi malaikat atau kamu berdua termasuk orang-orang yang kekal (dalam surga).” (QS. Al-A’raf Ayat 20)
Dalam ayat lain, Alloh SWT berfirman:
فَاَزَلَّهُمَا الشَّيْطٰنُ عَنْهَا فَاَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيْهِۖ وَقُلْنَا اهْبِطُوْا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّۚ وَلَكُمْ فِى الْاَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَّمَتَاعٌ اِلٰى حِيْن
Artinya: “Lalu, setan menggelincirkan keduanya darinya sehingga keduanya dikeluarkan dari segala kenikmatan ketika keduanya ada di sana (surga). Kami berfirman, “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain serta bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan.” (QS. Al-Baqoroh Ayat 36)
Dalam Islam, wanita bukan sumber dosa. Adam dan Hawa sama-sama bersalah, sama-sama bertobat, dan sama-sama diampuni. Inilah manifestasi kesetaraan moral yang sering terlupakan dalam wacana keagamaan.
Memetik Hikmah dari Kisah Pohon Khuldi
Kisah Adam dan Pohon Khuldi bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan cermin bagi kehidupan manusia modern saat ini. Ada empat pelajaran mendalam yang bisa kita renungkan:
Jebakan Simulacra dan Keinginan Semu
Dalam khazanah sosial, kisah ini disebut sebagai Simulacra pertama. Adam sebenarnya sudah kenyang di surga dan tidak butuh makan, namun ia tergiur oleh Citra (Image) yang ditawarkan buah tersebut: “Kekuasaan” dan “Keabadian”.
Bukankah kita melakukan hal yang sama hari ini? Kita sering membeli barang yang tidak dibutuhkan demi status yang semu. Kita mengejar “Buah Khuldi” modern seperti flexing, validasi media sosial, dan jabatan, berharap semua itu membuat kita abadi di ingatan orang. Padahal, itu semua fana.
Pentingnya Manajemen Jarak
Tuhan memberikan perintah yang sangat presisi: “Janganlah kamu MENDEKATI pohon ini.” Bukan sekadar “jangan makan”, tapi jangan mendekat. Ini adalah pelajaran tentang Manajemen Jarak.
Dosa memiliki gravitasi; sekali kita mendekat, kita akan tersedot. Menjaga jarak dari pemicu dosa—seperti lingkungan yang toksik atau tontonan yang buruk—adalah separuh dari kemenangan kita dalam melawan nafsu. Jangan pernah bermain api di pinggir jurang.
Pakaian sebagai Pemulih Kehormatan
Begitu buah itu dimakan, yang pertama kali hilang bukanlah nyawa, melainkan Rasa Malu. Aurat mereka terbuka dan cahaya kesucian pun padam. Hal ini menjelaskan mengapa manusia adalah satu-satunya makhluk yang berpakaian.
Pakaian bukan sekadar pelindung fisik, melainkan upaya kita untuk menutupi kekurangan eksistensial pasca-dosa. Kita berpakaian untuk memulihkan kembali kehormatan yang sempat robek akibat kelalaian kita.
Jatuh untuk Bangkit: Menjadi Manusia Dewasa
Kisah ini tidak berakhir tragis. Berbeda dengan Iblis yang putus asa dan menyalahkan Tuhan, Nabi Adam ‘Alaihissalam memilih untuk Bertanggung Jawab. Ia berdoa,
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Artinya: “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS.Al-A’raf, 23)
Adam jatuh untuk bangkit. Ia turun dari Surga sebagai pendosa, namun diangkat derajatnya di bumi sebagai Khalifah. Ketahuilah bahwa kesalahanmu hari ini bukanlah akhir segalanya. Itu adalah awal perjalananmu menjadi manusia dewasa yang mengenal arti pertobatan (Taubat).
Seni Menahan Diri: Menemukan Bahagia dalam Batasan
Seringkali kita terjebak dalam rasa haus yang tak pernah tuntas, merasa bahwa kebebasan mutlak adalah kunci kebahagiaan. Namun, jika kita menilik kembali kisah awal mula manusia, surga mengajarkan kita satu pelajaran berharga: hidup bukan tentang memiliki segalanya, melainkan tentang kemampuan untuk menjaga diri.
Bayangkan, di tengah hamparan jutaan pohon yang buahnya halal dan manis, hanya ada satu pohon yang dilarang. Ujiannya bukan pada kekurangan, melainkan pada ketetapan hati untuk tidak menyentuh yang satu itu di tengah kelimpahan yang ada. Hidup akan terasa jauh lebih indah dan ringan saat kita mulai memahami kurva batas.
Seperti halnya rambu jalan yang menjaga kita tetap aman dalam perjalanan, batasan dalam hidup—baik itu moral, etika, maupun agama—hadir bukan untuk mengekang, melainkan untuk melindungi esensi kemanusiaan kita. Ketika kita mampu menahan diri dari godaan yang sesaat, kita sebenarnya sedang membebaskan diri dari perbudakan keinginan yang tak ada habisnya.
Pada akhirnya, pengendalian diri adalah kunci pembuka pintu ketenangan. Dengan menghargai garis pembatas, kita belajar untuk lebih bersyukur atas jutaan “pohon” nikmat yang sudah boleh kita nikmati, tanpa harus merusak diri demi satu hal yang memang bukan untuk kita.
Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam.