darulmaarif.net – Indramayu, 12 September 2025 | 10.00 WIB
Di tengah kehidupan modern yang semakin terfragmentasi oleh teknologi, informasi instan, dan budaya konsumtif, manusia justru semakin haus akan figur teladan yang dapat memberikan arah hidup yang jelas. Kehidupan serba cepat membuat banyak orang kehilangan ruang refleksi: siapa kita, untuk apa kita hidup, dan ke mana arah tujuan hidup kita. Dalam konteks inilah, Siroh Nabawiyyah hadir sebagai lentera yang mampu menyingkap makna terdalam dari wahyu Ilahi, sekaligus menghadirkan teladan aplikatif dalam laku hidup manusia.
Namun, di tengah derasnya arus teknologi digital dan banjir informasi yang sering kali menyesatkan, muncul pertanyaan mendasar: apakah manusia modern masih sanggup berhenti sejenak untuk belajar dari sosok Nabi Muhammad SAW, ataukah kita lebih memilih terhanyut dalam gemerlap dunia yang serba cepat hingga kehilangan arah hidup yang sejati?
Al-Qur’an sebagai Dimensi Teoretis, Siroh sebagai Dimensi Aplikatif
Al-Qur’an adalah mukjizat agung yang menjadi fondasi teoretis peradaban Islam. Namun, bagaimana teks suci itu dapat dihidupkan dalam keseharian? Jawabannya adalah melalui Siroh Nabawiyyah, yaitu perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW yang mengekspresikan al-Qur’an dalam bentuk perilaku, ucapan, dan ketetapan. Sebagaimana ditegaskan Alloh SWT dalam firman-Nya:
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى. إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى
Artinya: “Dan tidaklah ia (Muhammad) berkata menurut hawa nafsunya. Ucapannya tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.” (QS. An-Najm Ayat 3–4)
Imam Ibn Katsir dalam Tafsir al-Qur’ān al-‘Aẓīm (Dar Ṭayyibah, 1999, Juz 7, hlm. 463) menegaskan bahwa ayat ini menunjukkan kesempurnaan otoritas kenabian, di mana setiap ucapan Rosululloh SAW merupakan bagian dari bimbingan Ilahi. Maka, Siroh tidak sekadar catatan sejarah, melainkan tafsir hidup terhadap al-Qur’an.
Nabi Muhammad SAW: Mukjizat Hidup di Tengah Manusia
Jika al-Qur’an adalah mukjizat tertulis, maka Nabi Muhammad SAW adalah mukjizat hidup yang berjalan di muka bumi. Ibnu Hajar al-‘Asqalani menulis dalam al-Iṣābah fī Tamyīz al-Ṣaḥābah (Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1415 H, Juz 1, hlm. 22):
إِنَّ سِيرَتَهُ وَأَحْوَالَهُ وَأَفْعَالَهُ وَأَقْوَالَهُ كُلُّهَا كَانَتْ مَأْخُوذَةً مِنَ الْوَحْيِ
Artinya: “Sesungguhnya seluruh perjalanan hidupnya, keadaan dirinya, perbuatannya, dan ucapannya, semuanya diambil dari wahyu.”
Dengan demikian, Siroh Nabawiyyah adalah manifestasi langsung dari al-Qur’an. Nabi Muhammad SAW adalah satu-satunya makhluk yang mampu memahami dan menerjemahkan seluruh isi al-Qur’an secara sempurna. Inilah mengapa peringatan Maulid Nabi tidak bisa dilepaskan dari kajian Siroh, karena di sanalah kita menemukan “Qur’an yang hidup” dalam sosok Nabi.
Mengikat Diri pada Teladan Agung
Perayaan Maulid Nabi SAW bukanlah sekadar romantisme sejarah atau ritual seremonial. Ia adalah momentum refleksi filosofis, untuk mengikat diri kembali kepada teladan agung yang telah membuktikan bahwa nilai-nilai Qur’ani dapat diwujudkan dalam realitas sosial, politik, ekonomi, dan spiritual.
Imam Jalaluddin al-Suyuthi dalam kitab Ḥusnul Maqṣid fī ‘Amalil Mawlid (Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1999, hlm. 62) menulis:
إِنَّ اتِّخَاذَ يَوْمِ مَوْلِدِهِ ﷺ مَوْسِمًا يُعْمَلُ فِيهِ الْخَيْرَاتُ وَإِظْهَارُ الْفَرَحِ وَالْمَسَرَّةِ مِنْ أَعْظَمِ الْقُرُبَاتِ
Artinya: “Sesungguhnya menjadikan hari kelahirannya Nabi SAW sebagai musim (peringatan) untuk beramal kebajikan, menampakkan kegembiraan dan rasa cinta, termasuk amal ibadah yang paling agung.”
Dengan kata lain, Maulid adalah bentuk praktik kecintaan yang melahirkan orientasi hidup baru: menjadikan Nabi SAW sebagai pusat imitasi moral dan spiritual di tengah krisis teladan zaman modern.
Nabi: Sang Kekasih di Atas Kekasih
Ungkapan sufistik tentang Nabi sebagai “kekasih di atas kekasih” menemukan resonansinya dalam karya-karya ulama klasik. Imam al-Būṣīrī dalam Qaṣīdat al-Burdah (Dar al-Minhāj, 2002, hlm. 14) memuji beliau dengan syair:
فَإِنَّ مِنْ جُودِكَ الدُّنْيَا وَضَرَّتَهَا # وَمِنْ عُلُومِكَ عِلْمَ اللَّوْحِ وَالْقَلَمِ
Artinya: “Sesungguhnya dari kemurahanmu tercipta dunia beserta isinya, dan dari ilmumu terpancar pengetahuan Lauḥ dan Qolam.”
Syair ini menegaskan kedudukan Nabi Muhammad SAW yang tak tertandingi oleh siapa pun di alam semesta. Beliau bukan hanya teladan, tetapi juga rahmat terbesar yang dikaruniakan Alloh SWT bagi seluruh alam.
Relevansi Filosofis Maulid di Era Modern
Dalam dunia modern yang sering kehilangan arah akibat dominasi materialisme, hedonisme, dan relativisme moral, Maulid dan Siroh Nabawiyyah menghadirkan kembali pusat gravitasi spiritual: keteladanan Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah bukti hidup bahwa al-Qur’an bukan teks yang abstrak, melainkan bisa diwujudkan dalam praksis kehidupan nyata.
Pertanyaannya kini: apakah manusia modern yang larut dalam gemerlap digital dan fragmentasi gaya hidup masih mampu menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan eksistensial, ataukah kita hanya merayakan Maulid sebatas seremoni tanpa menjiwai makna terdalam dari Sirohnya?
Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam.